NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suasana di ruang makan mansion Karadağ terasa begitu mencekam, jauh lebih dingin daripada suhu udara di luar.

Onur duduk di ujung meja panjang, tidak menyentuh makanan mewahnya sedikit pun.

Matanya yang tajam dan sarat akan kecurigaan menatap lurus ke arah dua wanita yang duduk di hadapannya.

Keheningan yang menyesakkan itu pecah saat Onur meletakkan gelas kristalnya dengan dentingan yang keras.

"Apa kalian tahu siapa yang melakukannya?" tanya Onur, suaranya berat dan penuh penekanan.

"Siapa yang cukup gila memasukkan racun bunga langka itu ke dalam minuman Aliya?"

Zaenab, dengan wajah yang tampak tenang namun tangan yang disembunyikan di bawah meja, segera menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu apa-apa, Onur. Kami semua terkejut mendengar kabar itu. Siapa yang tega melakukan hal sekeji itu pada gadis malang seperti dia?"

Laura pun mengikuti ibunya. Ia memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, meski batinnya bergejolak ketakutan setiap kali mengingat detail kejadian di kantin sekolah.

"Aku juga tidak tahu, Paman," ucap Laura dengan suara yang diusahakan terdengar tulus.

"Aku memang tidak menyukainya, tapi aku tidak mungkin berbuat sejauh itu. Mungkin dia punya musuh lain di sekolahnya?"

Onur tidak mengalihkan pandangannya. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Laura, mulai dari caranya menghindari kontak mata hingga nada suaranya yang sedikit bergetar.

"Dokter bilang racun itu sangat spesifik. Tidak sembarang orang bisa mendapatkannya," Onur berdiri perlahan, membuat kursi makannya berderit nyaring.

"Jika aku menemukan bahwa pelakunya berasal dari dalam rumah ini, aku tidak akan peduli pada hubungan darah atau status. Pelakunya akan membusuk di penjara."

Zaenab menelan salivanya dengan susah payah, sementara Laura menunduk semakin dalam, berpura-pura sedih padahal jantungnya berdegup kencang.

Mereka tahu, Onur tidak sedang menggertak. Di saat yang sama, Emirhan di rumah sakit sedang menyusun bukti yang bisa meruntuhkan kebohongan mereka dalam sekejap.

Suasana di mansion Karadağ yang tegang mendadak pecah oleh derap langkah sepatu bot yang berat.

Tanpa peringatan, pintu depan terbuka lebar, dan sekawanan pria berpakaian serba hitam—pasukan keamanan pribadi kepercayaan Emirhan—masuk dengan wajah tanpa ekspresi.

Mereka dipimpin oleh asisten pribadi Emirhan yang paling dingin.

Melihat mereka langsung melesat menuju tangga lantai dua, Zaenab yang baru saja bangkit dari meja makan langsung berteriak dengan nada tinggi.

"Apa-apaan ini?! Siapa yang memberi kalian izin masuk ke sini dengan cara seperti ini?" tanya Zaenab, wajahnya memerah karena merasa martabatnya diinjak-injak.

Asisten Emirhan berhenti sejenak, namun sorot matanya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

"Ini perintah langsung dari Tuan Muda Emirhan, Nyonya Besar. Kami memiliki tugas untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh di setiap sudut rumah ini."

"Pemeriksaan apa? Ini rumahku!" bentak Zaenab lagi.

Tanpa memedulikan protes Zaenab, para anak buah Emirhan itu berpencar.

Sebagian masuk ke kamar Zaenab, dan sebagian lagi mendobrak pintu kamar Laura.

Suara barang-barang yang digeser dan pintu lemari yang dibuka paksa terdengar hingga ke lantai bawah.

"Paman! Hentikan mereka!" teriak Laura sambil menatap Onur, berharap sang paman akan membela mereka.

"Ini keterlaluan! Mereka menggeledah kamar pribadiku!"

Onur hanya berdiri diam, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap tajam ke arah keponakannya itu.

"Jika kalian tidak menyembunyikan apa pun, maka kalian tidak perlu takut. Biarkan mereka bekerja."

Di dalam kamar Laura, para petugas dengan teliti memeriksa setiap laci, kotak rias, hingga ke sela-sela baju sutra milik gadis itu.

Suasana semakin mencekam saat salah satu dari mereka keluar dari kamar Laura dengan membawa sebuah selendang bermotif unik yang tersembunyi di balik tumpukan pakaian, serta sebuah botol kaca kecil kosong yang terjatuh di bawah ranjang.

"Tuan," lapor salah satu anak buah Emirhan sambil menunjukkan bukti itu kepada Onur.

Wajah Laura seketika pucat pasi. Ia memandang selendang itu—selendang yang sama dengan yang dideskripsikan oleh Leyla kepada Emirhan di rumah sakit.

Zaenab pun terdiam, menyadari bahwa tembok pertahanan yang ia bangun mulai retak tepat di hadapan suaminya sendiri.

Emirhan telah memulai perangnya, dan kali ini, ia tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk pengampunan.

Suasana di ruang tengah mansion Karadağ mendadak menjadi hening yang mematikan.

Onur berdiri mematung di depan meja jati, matanya tertuju pada selendang sutra bermotif mawar hitam dan botol kaca kecil yang diletakkan anak buah Emirhan di atas meja.

"Apa ini?" suara Onur terdengar rendah, namun mengandung ancaman yang sangat nyata.

Zaenab mencoba melangkah maju, tangannya sedikit gemetar.

"Itu... itu hanya selendang biasa, Onur. Dan botol itu mungkin milik pelayan yang tertinggal saat membersihkan kamar Laura—"

"JAWAB!!" bentak Onur dengan suara menggelegar yang membuat kaca-kaca di ruangan itu seolah bergetar.

Laura tersentak, bahunya menciut ketakutan. Ia belum pernah melihat pamannya semarah ini.

Onur mencengkeram botol kecil itu dan mengangkatnya di depan wajah Laura.

"Dokter bilang racun itu langka. Dan botol ini ditemukan tersembunyi di bawah ranjangmu! Jelaskan padaku, sebelum aku sendiri yang menyeretmu ke kantor polisi!"

"Aku, tidak tahu, Paman! Aku bersumpah!" tangis Laura pecah, namun sorot matanya yang gelisah mengkhianati ucapannya sendiri.

Onur membuang napas kasar, rasa muak memuncak di dadanya.

Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Emirhan yang masih berada di rumah sakit.

"Emirhan," ucap Onur saat telepon diangkat.

"Pulanglah sebentar. Ada sesuatu yang ditemukan di sini. Aku ingin kamu sendiri yang memutuskan apa yang harus kita lakukan pada mereka."

Di seberang telepon, suara Emirhan terdengar sangat dingin.

"Aku segera ke sana, Ayah. Pastikan mereka tidak meninggalkan ruangan itu satu inci pun."

Setengah jam kemudian, deru mesin mobil sport Emirhan terdengar memasuki halaman mansion.

Ia melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap, masih mengenakan kemeja yang sama saat ia mendekap tubuh Aliya yang sekarat.

Emirhan berhenti tepat di depan meja, menatap selendang dan botol itu.

Ia kemudian beralih menatap Laura dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Selendang ini..." Emirhan menarik kain sutra itu dengan kasar.

"Teman Aliya melihat seseorang memakai ini saat menuangkan racun ke minumannya. Dan botol ini..."

Ia menatap botol itu dengan pedih, membayangkan cairan di dalamnya yang hampir saja merenggut nyawa wanita yang ia cintai.

Emirhan mendekati Laura, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter.

"Kamu benar-benar melakukannya, Laura? Kamu mencoba membunuhnya di sekolah, di tempat yang seharusnya dia merasa aman?"

"Emir, dengarkan aku—" Zaenab mencoba menengahi.

"Diam, Ibu!" bentak Emirhan tanpa menoleh.

Matanya tetap terkunci pada Laura. "Jika Aliya tidak bangun tadi, aku pastikan kamu sudah menjadi mayat sekarang. Tapi kematian terlalu mudah bagimu."

Emirhan berbalik menatap Onur. "Ayah, aku ingin mereka berdua keluar dari rumah ini sekarang juga. Dan aku akan membawa bukti ini ke jalur hukum. Tidak ada lagi keluarga Karadağ untuk mereka."

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!