NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puputan Bali

Mbah Sidik tersenyum tipis, matanya menerawang teringat kehangatan rakyat Bali yang tak pernah ia lupakan. Ia mengelus jenggotnya yang mulai memutih, mengenang sebuah malam di mana maut dan keindahan menari bersama di bawah sinar rembulan Banjar Ole.

"Ahmad, jangan kau kira kami bisa bertahan hanya dengan senjata rampasan," suara Mbah Sidik melembut,

"Kekuatan kami yang sebenarnya adalah rakyat Bali. Di mata NICA, kami hanyalah pemberontak yang bersembunyi di hutan. Tapi di mata rakyat, kami adalah anak-anak mereka yang pulang untuk menjaga rumah."

Sidik menceritakan bagaimana setiap keluarga di banjar-banjar menyembunyikan mereka dengan sangat rapi. Ada pejuang yang disembunyikan di balik dinding pura, di dalam lumbung padi, hingga di bawah tumpukan janur.

Rakyat Bali rela mempertaruhkan nyawa;

jika satu pejuang ketahuan, satu desa siap menanggung risikonya.

Mereka punya prinsip yang sama dengan kita di Jawa: Merdeka atau Mati bukan cuma slogan, tapi nafas sehari-hari."

"Malam itu di Banjar Ole, suasana sungguh ajaib," kenang Mbah Sidik,

"Kami lelah, raga kami remuk setelah berhari-hari gerilya. Lalu, rakyat desa datang. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa gamelan dan penari. Mereka mementaskan Tari Jangger khusus untuk kami."

Sidik duduk bersila di tanah, menyaksikan para pemuda dan pemudi desa menari dengan lincah. Suara nyanyian mereka seolah menjadi penawar luka bagi para prajurit Ciung Wanara. Di tengah kepungan NICA, seni menjadi cara mereka untuk tetap merasa sebagai manusia yang merdeka. "Bapak sempat melihat Komandan Ngurah Rai tersenyum malam itu. Beliau tahu, inilah yang kita bela: budaya, harga diri, dan senyum rakyat kita."

**

Usai pementasan, semangat pasukan kembali penuh. Tengah malam itu juga, Ciung Wanara bergerak dalam kesunyian menuju Desa Kelaci.

Langkah kaki puluhan pejuang itu hampir tak terdengar, menyatu dengan suara jangkrik dan desir angin malam.

"Sesampainya di Kelaci, Komandan memerintahkan kami untuk beristirahat. Tapi, itu bukan istirahat biasa. Kami tidur dengan satu mata terbuka dan tangan tetap memegang hulu keris atau gagang senapan," ucap Mbah Sidik dengan nada waspada. "Bapak bertugas di garda depan, mengawasi setiap pergerakan semak. Kami tahu, NICA sedang mencari kami seperti anjing pelacak yang lapar. Kelaci menjadi saksi ketenangan kami sebelum badai besar Margarana meledak."

Gamelan bertalu di sela nafas yang memburu,

Menghapus lelah di bawah langit yang biru.

Rakyat Bali menari dengan ketulusan yang murni,

Memberi kekuatan pada kami yang rindu akan sunyi.

Jangger menjadi kidung terakhir di Banjar Ole,

Sebelum kami melangkah menembus malam yang bertele.

Kelaci menyambut dengan perlindungan yang hangat,

Tempat kami menjaga nyala api semangat.

Ahmad, itulah keajaiban persatuan kita,

Seni dan perjuangan menyatu dalam satu karsa.

Kami bukan lagi orang Jawa atau Bali yang terpisah,

Tapi satu jiwa yang menolak untuk kembali dijajah.

Mbah Sidik menarik napas dalam-dalam, merasakan kembali kedamaian singkat di Desa Kelaci,

"Malam itu adalah ketenangan terakhir, Ahmad. Kami semua tahu bahwa perjalanan menuju Margarana sudah di depan mata. Rakyat telah memberikan segalanya—makanan, tempat tidur, bahkan tarian. Sekarang, giliran kami yang memberikan nyawa untuk mereka."

Ahmad terdiam, terhanyut dalam suasana romantis sekaligus mencekam yang diceritakan bapaknya. "Lalu, apakah NICA tahu kalau Bapak dan pasukan ada di Kelaci, Pak?"

"Ssssh..." Mbah Sidik meletakkan telunjuk di bibirnya. "Musuh punya mata di mana-mana, tapi kami punya doa rakyat di setiap langkah. Tunggulah, saat fajar menyingsing di Margarana, kau akan tahu apa artinya sebuah pengorbanan total."

Mbah Sidik meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras, otot-otot rahangnya menonjol seolah ia kembali merasakan ketegangan yang mencekam di pagi buta itu.

"Itulah fajar yang paling merah dalam hidup Bapak, Ahmad," suaranya merendah, berat oleh beban ingatan,

"Tanggal 20 November 1946. Udara Desa Kelaci yang dingin mendadak terasa panas oleh desing kabar yang dibawa para pengintai."

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah di sekitar Desa Marga. Namun, di balik kabut itu, maut sedang mengintai.

Kabar masuk ke telinga I Gusti Ngurah Rai dengan cepat: NICA telah mengunci Desa Marga dari arah selatan dengan kekuatan 60 personel bersenjata otomatis. Belum sempat kami mengatur napas, laporan lain masuk bahwa pasukan musuh dari arah utara mulai merayap masuk.

Sidik berdiri di samping I Gusti Ngurah Rai, menggenggam senapan rampasannya erat-erat. Desa Kelaci, tempat mereka berada, terjepit di tengah-tengah antara Tunjuk dan Marga. Di jalanan Desa Tunjuk, kendaraan lapis baja NICA mulai hilir mudik, suaranya menderu-deru seperti raungan serigala yang sedang mengepung mangsa.

"Kita sudah terkunci, Komandan," lapor Sidik dengan tenang namun waspada.

I Gusti Ngurah Rai tidak tampak gentar. Beliau hanya mengangguk kecil, matanya menatap tajam ke arah pergerakan musuh. "Biarkan mereka datang, Letnan. Kita akan buat tanah ini menjadi saksi bahwa Ciung Wanara tidak tahu cara untuk mundur."

Tanpa perlu perintah panjang, seluruh anggota Ciung Wanara—termasuk anak buah Sidik yang sudah berpengalaman dalam perang kota di Surabaya—langsung mengambil posisi Steling.

Sidik memposisikan anak buahnya di titik-titik strategis di antara pepohonan kelapa dan pematang sawah yang tinggi. Mereka menghilang ke dalam alam, menyatu dengan hijaunya daun dan cokelatnya tanah Bali.

"Jangan ada yang membuang peluru!" instruksi Sidik kepada anak buahnya dengan suara berbisik. "Tunggu sampai kau bisa melihat warna mata mereka. Kita akan bertarung demi setiap jengkal tanah suci ini."

Suasana mendadak sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung para pejuang terdengar jelas. Hanya suara gesekan daun dan deru mesin kendaraan NICA di kejauhan yang memecah keheningan. Ini adalah kesunyian sebelum badai besar meluluhlantakkan Margarana.

Mbah Sidik menatap Ahmad dengan mata yang berkaca-kaca. "Ahmad, saat itu kami tahu, kemungkinan untuk pulang ke Jepara atau melihat kedua anak bapak lagi, sangatlah kecil. Tapi di sana, di bawah langit Bali, rasa takut itu kalah oleh rasa bangga."

Sidik melihat I Gusti Ngurah Rai mencabut kerisnya, sebuah isyarat bahwa pertempuran ini bukan lagi sekadar soal strategi militer, tapi soal kehormatan dan pengabdian total. Mereka terjepit, terkepung, namun jiwa mereka telah merdeka jauh sebelum peluru pertama meledak.

Fajar menyingsing membawa kabar duka,

Saat Marga dikepung oleh angkara murka.

Enam puluh moncong senapan mengarah dari selatan,

Membungkam pagi yang seharusnya penuh ketenangan.

Tunjuk dan Marga menjadi garis kematian,

Di tengah Kelaci, kami berdiri penuh keyakinan.

Sikap steling diambil dalam sunyi yang mencekam,

Menunggu saat yang tepat untuk memberi hantaman.

Ahmad, lihatlah bapakmu di balik pematang sawah,

Berjanji pada bumi takkan membiarkan Merah Putih jatuh ke tanah.

Biar baja musuh mengepung dari segala penjuru,

Ciung Wanara tetap tegak, takkan pernah ragu.

Mbah Sidik menghela napas panjang, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme yang teratur. "Itu adalah menit-menit terakhir sebelum kontak senjata pecah, Ahmad. Detik-detik di mana doa dan keberanian menyatu menjadi satu kekuatan dahsyat. Kau ingin tahu apa yang terjadi saat tembakan pertama meletus?"

Ahmad hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering membayangkan ketegangan yang dialami bapaknya di tanah Margarana.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!