Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Tak Jelas Marissa
'Ting!'
'Selamat! misi di peluk Jay Pradana berhasil! Hadiah Peningkatan Sensitivitas telah di kirim otomatis ke penyimpanan sistem!'
'Cek Status untuk mengetahui lebih lanjut!' suara robotik menggema di pendengaran Marissa.
'Cek Status!' Marissa yang kini di pelukan Jay memusatkan fikiran nya untuk memberi perintah pada sistem yang di miliki nya.
'Ting!'
'Status Sistem Wanita Pujaan pria'
- Nama : Marissa
- Umur : 27 tahun
- Tinggi : 172 cm
- Berat Badan : 61 kg
- Ras : Manusia
- Kekayaan : 154.000.000
- Pesona : Level dua 4/10
- Kekuatan : Level satu 3/10
- Fisik : level 3 1/10
- Kemampuan Khusus : Daya tarik lawan jenis level 2, Sensitivitas level 2.
"Ibu oke?" Ucap Jay lembut bertanya pada Marissa.
Membuyarkan pendengaran Marissa dari suara robotik yang baru saja menyelesaikan dalam menguraikan status sistem yang di miliki nya.
Marissa menegakkan tubuh nya sembari mengusap matanya yang menguarkan buliran air bening. Sementara tangan kanan Jay dirasakan nya masih melingkar di bahu kanan nya.
"Sekali lagi, aku minta maaf yah bu!" Bisik Jay di telinga kiri Marissa. Tangan kiri nya dengan perlahan melepaskan pegangan nya di bahu kiri wanita tersebut.
"Nggak apa-apa. Lagian, nggak ada yang salah kok, sama kata-kata mu tadi?" Marissa beringsut ke kanan, menggeser tubuh nya untuk memberi jarak dengan pemuda itu.
Merasakan pergerakan itu, dengan perlahan Jay melepaskan rangkulan tangannya pada bahu kanan Marissa. "Ini kopi buat aku, Bu?" Ucap nya guna menetralisir keadaan canggung nya.
Marissa mengangguk pelan, tangan nya bergerak merapikan kembali tali tanktop nya. "Diminum gih! Udah dingin nih." Ajak nya meraih satu gelas kopi yang sudah sedari tadi diatas meja itu.
"Baik lah." Tanpa sungkan lagi Jay pun meraih gelas yang satunya. Menyesap kopi yang sudah terasa dingin itu.
'Nih anak emang nya nggak tertarik sama bentuk tubuh gue ya?' Fikir Marissa sembari melirik ke arah dimana tombak Jay berada. 'Apa masih ada yang kurang?' lanjut nya bertanya-tanya.
Melihat Marissa dari tadi membisu, Jay semakin merasa tak enak. Takut sekali jika hukuman nya itu di tambah lagi oleh Guru BK nya itu.
"Kenapa kamu tidak ikut upacara tadi pagi?" Tanya Marissa membuyarkan keheningan. Nada nya kali ini terdengar lembut, tak setegas beberapa waktu yang lalu.
"Ehm, anu bu. Aku tadi kelaparan, tadi pagi nggak sempat sarapan di rumah." Jawab Jay dengan cengengesan.
Marissa meraih kemeja yang di taruh Jay diatas meja sebelum nya, lalu dia mengenakannya kembali. "Rahasia kan kejadian yang terjadi hari ini, oke!" Ucap nya kembali dengan suara tegas nya.
Jay hanya mengangguk, dia juga nggak akan membicarakan hal ini pada orang lain.
"Kamu jangan salah paham, jangan berfikir yang tidak-tidak dengan apa yang ibu lakukan tadi." Jemari lentiknya dengan telaten mengancingkan kemeja nya.
"Enggak kok bu, di sini emang panas kayaknya. Aku aja yang hanya sebentar disini jadi keringatan." Jay memperlihatkan bulir keringat di kedua pergelangan tangannya ke hadapan Marissa.
Marissa menghembuskan nafas lega mendengar penuturan Jay. "Sudah sore, Area Sofa ini biar ibu saja yang beresin. Kamu pulang gih,!" Ucap nya setelah melihat jarum pendek jam dinding di ruangan itu sudah hampir menyentuh angka tiga.
Jay tersenyum mendengar tutur kata dari guru BK nya itu. Sudah di pastikan, bahwa hukuman nya tidak akan di tambah lagi. "Makasih bu. Kalau begitu aku pamit ya." Ucapnya sembari meraih telapak tangan kanan Marissa untuk di salimnya. Namun,
"Chup!"
Marissa tersentak, Jay tidak menempel kan punggung tangan itu ke dahi nya, melainkan pemuda itu mencium punggung tangan seperti sebuah kecupan. Ada sengatan listrik yang berasal dari punggung tangan itu menjalar ke seluruh tubuh nya. "Jay, kamu!"
Jay gegas melangkah keluar sebelum mendengar amukan yang mungkin saja keluar dari bibir pedas Marissa. Pemuda itu tersenyum sinis setelah menutup pintu.
Marissa membuka mulutnya dengan lebar, mata nya membola melihat ke arah punggung tangannya. Beberapa menit berlalu, namun dia masih mematung dengan kejadian yang baru saja terjadi.
ce klek
"Jay kamu kenapa tadi ci.." Marissa tidak melanjutkan bentakannya, setelah melihat orang yang telah membuka pintu ruangan nya.
"Jay kenapa bu?" Tanya Tomi yang baru saja membuka pintu ruangan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Eh! Kamu Tom!" Marissa gugup melihat kearah pintu yang sudah terbuka sepenuhnya. "Kenapa nggak ketuk pintu dulu!" lanjut nya dengan nada sedikit membentak.
"Ma-maaf bu, aku kira ibu udah pulang." Tomi tergagap menjawab perkataan Marissa. "Jay nya mana, bu?" Lanjut nya menanyakan temannya itu.
"Dia sudah pulang." Ucap Marissa kembali dalam mode Guru BK yang garang. "Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Tanyanya kemudian mengalihkan pandangannya untuk meraih buku yang ada di atas meja.
"su-sudah bu!" Jawab Tomi yang masih tergagap. "Bu, itu buku nya terbalik." Lanjut nya sambil menunjuk buku yang terkembang di hadapan Marissa.
Marissa menoleh ke arah buku di hadapan nya. Sungguh! Ucapan siswanya itu benar adanya. "Ibu belum membacanya. Sudah lah, kalau kamu sudah menyelesaikan pekerjaannya kamu boleh pulang." Ucap nya dengan sedikit berteriak. Melampiaskan tingkah konyol nya yang memalukan itu di hadapan siswa yang di hukum nya itu.
"Apa ibu tidak ingin melihat nya terlebih dahulu?" Tanya Tomi lagi. Niatnya untuk menemui Guru BK itu sudah jelas. Karena siswa-siswi yang telah selesai mengerjakan hukuman nya, harus lah melapor terlebih dahulu pada guru BK yang memberikan hukuman sebagai konfirmasi. setelah mendapat persetujuan dan dinyatakan lolos, barulah siswa-siswi itu di perbolehkan untuk pulang.
"Tidak perlu. Karena ruangan itu juga tidak terlalu berantakan." Ucap Marissa dengan penuh penekanan, menahan amarah nya yang mungkin saja akan meledak.
Tomi yang tidak tahu apa-apa itu masih keukeuh. "Tapi bu."
"Sudah! Kamu boleh pulang Sekarang!" Bentak Marissa sembari membanting buku yang di pegang nya ke atas meja. "Kamu mau nambah hukuman?" Lanjut nya dengan geraman yang menakutkan.
"Eh tidak bu! Kalau begitu aku pulang." Ucap nya kemudian. Namun melangkah kan kakinya ke arah Marissa.
"Nggak usah salim, pulang lah!" Tolak Marissa, mengira Tomi akan menyaliminya untuk berpamitan sembari mengibaskan tangannya.
Namun Tomi yang sudah terlanjur melangkah pun, tak menghentikan langkah kaki nya.
Melihat itu wajah Marissa semakin memerah. Dadanya naik turun, menahan sesak amarah yang benar-benar akan meledak.
"Saya cuma mau ambil gelas kosong ini saja, bu." Ucap Tomi dengan polos. Menoleh kearah Marissa sejenak, dengan rasa tak berdosa dia pun akhirnya membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Marissa seorang diri di ruangan nya.
"Aa arrrggghhh!"
Marissa memekik meluapkan amarah nya yang entah kenapa saja tiba-tiba tak terkontrol saat ini. Setelah meredakan kemarahan yang tidak tau penyebab nya itu, dia pun membenahi penampilan nya yang sedikit berantakan, mengambil tas nya di atas meja kerja nya diapun melangkah ke arah pintu keluar.
Ce klek
"Lho! Bu Marissa!" Tegur Aida yang sedang jalan di Koridor tepat di depan pintu ruangan Marissa.
*****