Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Pagi itu, Mansion Mahendra tampak sibuk luar biasa. Para pelayan berlarian kesana-kemari menyiapkan dekorasi untuk konferensi pers kecil yang akan diadakan di taman samping. Karpet merah dibentangkan, dan bunga-bunga lili putih segar didatangkan langsung dari Belanda. Namun, kemewahan itu tidak ditujukan untuk merayakan kembalinya sang putri kandung, melainkan untuk membungkus sebuah kebohongan besar.
Adel berdiri di depan cermin kecil yang retak di kamar paviliunnya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna abu-abu pucat pemberian Nyonya Siska. Gaun itu indah, namun desainnya sangat sederhana, sengaja dipilih agar ia tidak menonjol di samping Clarissa yang akan mengenakan gaun merah menyala bertabur kristal.
*Tok, tok.*
Pintu kamar terbuka tanpa menunggu jawaban. Clarissa melangkah masuk dengan keanggunan yang dipaksakan. Ia tampak sangat cantik dengan riasan wajah yang tebal, menyembunyikan sisa-sisa kegilaannya di atap sekolah kemarin.
"Masih di sini, 'Adik Angkat'?" Clarissa berjalan mengelilingi kamar Adel yang sempit, menatap jijik pada dinding yang mulai berjamur. "Ibu bilang kau harus segera ke depan. Para wartawan sudah datang. Jangan sampai kau terlihat lesu dan memalukan citra Ayah."
Adel tidak menoleh. Ia sibuk memasang anting peraknya. "Kau tampak sangat bahagia, Clarissa. Padahal tanganmu masih gemetar saat memegang botol parfum tadi pagi, bukan?"
Senyum Clarissa membeku sejenak, namun ia segera tertawa kecil yang terdengar merdu namun beracun. "Gemetar? Oh, itu hanya sisa adrenalin, sayang. Aku hanya tidak menyangka bahwa Ibu akan sebegitu mencintaiku. Kau lihat sendiri kan kemarin? Meskipun Ayah membawa kertas DNA itu di depan hidungnya, Ibu tetap memelukku. Dia bahkan memohon pada Ayah agar kau yang meminta maaf padaku."
Clarissa mendekat, berdiri tepat di belakang Adel sehingga bayangan mereka berdua terpantul di cermin. "Darah memang tidak pernah bisa mengalahkan kenangan tujuh belas tahun, Adel. Kau mungkin lahir dari rahimnya, tapi akulah yang tertanam di hatinya. Kau hanyalah pengganggu yang sekarang dipelihara karena rasa iba."
Adel akhirnya berbalik, menatap langsung ke mata Clarissa. "Rasa iba adalah fondasi yang sangat rapuh untuk sebuah kekuasaan, Clarissa. Nikmatilah senyummu hari ini. Karena sebuah senyuman yang dibangun di atas kebohongan biasanya berakhir dengan tangisan yang sangat keras."
"Kita lihat saja siapa yang akan menangis," sahut Clarissa ketus sebelum melenggang pergi dengan langkah angkuh.
---
Konferensi pers berjalan sesuai rencana kotor Tuan Mahendra. Di depan puluhan kamera dan wartawan media elit, Tuan Mahendra merangkul bahu Clarissa di sisi kiri dan Adel di sisi kanan.
"Keluarga Mahendra dengan bangga mengumumkan bahwa kami telah mengadopsi Adelard secara resmi," ucap Tuan Mahendra dengan suara mantap yang sudah dilatih berkali-kali. "Adelard adalah sosok yang sangat berjasa bagi putri kami, Clarissa. Kami merasa ia sudah seperti bagian dari darah daging kami sendiri. Mulai hari ini, ia akan menyandang nama Mahendra sebagai anak angkat resmi kami."
Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar. Para wartawan mulai melontarkan pertanyaan, namun Tuan Mahendra dengan lihai mengalihkan pembicaraan ke arah kerja sama bisnis baru yang akan dilakukan perusahaannya. Di sampingnya, Nyonya Siska terus memegang tangan Clarissa, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa itulah putrinya yang sesungguhnya.
Adel hanya berdiri diam, memasang senyum tipis yang sopan—sebuah topeng yang sempurna. Namun, matanya tidak fokus pada kamera. Ia sedang memperhatikan seseorang di kerumunan staf humas keluarga. Pak Hardi, asisten kepercayaan Tuan Mahendra yang sudah bekerja selama dua puluh tahun.
Setelah acara selesai dan para tamu mulai menikmati hidangan, Adel melihat Pak Hardi berjalan menuju perpustakaan untuk menyimpan dokumen kontrak yang baru saja ditandatangani. Dengan langkah tenang, Adel membuntutinya.
"Pak Hardi," panggil Adel lembut di koridor yang sepi.
Pria paruh baya itu berhenti dan membungkuk hormat. "Ya, Nona Adel? Eh, maksud saya, Nona Muda."
Adel tersenyum tulus, satu-satunya senyuman asli yang ia berikan hari itu. "Tidak apa-apa, Pak. Saya tahu posisi saya di sini. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda adalah satu-satunya orang yang tidak menatap saya dengan pandangan menghina tadi."
Pak Hardi tampak tersentuh. Sebagai orang lama, ia sebenarnya tahu kebenaran DNA itu, namun ia tidak punya kuasa untuk bicara. "Anda adalah gadis yang hebat, Nona. Saya sangat menyayangkan keputusan Tuan, tapi saya tidak bisa berbuat banyak."
"Saya tahu. Karena itu, saya ingin meminta bantuan kecil," Adel mendekat, suaranya menjadi sangat rendah. "Saya dengar Mahendra Group sedang mengalami masalah dengan proyek pembangunan di Jakarta Utara. Ada kebocoran dana yang disembunyikan oleh manajer keuangan. Benar begitu?"
Pak Hardi terbelalak. "Bagaimana Anda bisa tahu? Itu rahasia tingkat tinggi perusahaan."
"Saya tidak sengaja melihat beberapa draf audit di meja Ayah kemarin," bohong Adel. Sebenarnya, ia telah menganalisisnya dari sisa-sisa dokumen yang dibuang di ruang kerja. "Saya bisa membantu Ayah menemukan pelakunya sebelum investor tahu. Tapi saya butuh akses ke database transaksi bulan lalu. Bisakah Anda memberikannya pada saya secara diam-diam? Jangan katakan pada Ayah. Saya ingin memberikannya sebagai kejutan agar Ayah tahu saya berguna sebagai 'anak angkat'."
Pak Hardi ragu sejenak. Namun, melihat sorot mata Adel yang cerdas dan tulus, ia merasa ini adalah caranya menebus rasa bersalahnya pada putri kandung tuannya itu. "Baiklah, Nona. Saya akan mengirimkan salinannya ke email pribadi Anda malam ini. Tapi tolong, berhati-hatilah."
"Terima kasih, Pak Hardi. Anda tidak akan menyesal."
---
Malam harinya, di kamar paviliun yang remang-remang, Adel tidak tidur. Di layar laptop tuanya yang sudah mulai lambat, ribuan baris data transaksi keuangan Mahendra Group terpampang. Jari-jarinya menari di atas *keyboard* dengan kecepatan luar biasa.
Berkat bantuan Devan yang tadi sore diam-diam memberikan nomor kontak seorang peretas etis, Adel berhasil masuk lebih dalam ke sistem yang tidak bisa diakses Pak Hardi.
"Ketemu," bisik Adel.
Matanya berkilat melihat sebuah nama yang sering muncul di balik transaksi fiktif tersebut. Bukan manajer keuangan, melainkan sebuah perusahaan cangkang atas nama paman dari pihak Nyonya Siska—orang yang sangat dekat dengan Clarissa.
"Jadi kau menggunakan uang perusahaan Ayah untuk membiayai gaya hidup mewahmu, Clarissa?" Adel menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang keras.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Devan.
*“Data sudah di tanganmu? Ingat, jangan terburu-buru. Biarkan dia merasa menang lebih lama lagi. Semakin tinggi dia terbang, semakin hancur dia saat kau mematahkan sayapnya.”*
Adel membalas singkat: *“Aku tahu. Aku sedang menikmati pemandangan dari bawah sini. Sangat menarik melihat mereka merayakan kebohongan mereka sendiri.”*
Adel menutup laptopnya. Ia berjalan menuju jendela, menatap gedung utama mansion yang lampu-lampunya masih menyala terang, tempat di mana pesta pribadi keluarga sedang berlangsung. Ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa Clarissa dan musik klasik yang diputar di sana.
"Tertawalah sepuasmu, Clarissa," gumam Adel. "Kau pikir kau menang karena memiliki Ibu dan status itu. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah orang yang tumbuh di jalanan. Aku tahu bagaimana cara menjebak mangsa tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah masuk ke dalam lubang kematian."
Adel memejamkan matanya, membayangkan hari di mana ia tidak lagi berdiri di paviliun belakang, melainkan di puncak gedung Mahendra Group, melihat Clarissa dan Nyonya Siska memohon ampun padanya. Senyum kemenangan yang sesungguhnya bukanlah yang ditunjukkan Clarissa pagi tadi, melainkan senyum yang sedang terukir di wajah Adel saat ini—dingin, tenang, dan mematikan.