NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Lampu indikator di atas pintu lift bergerak perlahan, menampilkan angka lantai yang semakin meninggi menuju lantai 25. Di dalam kotak besi yang berlapis cermin mengkilap itu, suasana terasa begitu kontras. Sheila berdiri dengan kaku, merapikan rok span hitamnya berkali-kali, sementara Jeremy berdiri di sampingnya dengan aura yang begitu santai namun posesif.

Tiba-tiba, tangan besar Jeremy menyusup di sela jemari Sheila. Ia menyatukan telapak tangan mereka dan menggenggamnya dengan tenaga yang tidak main-main. Remasan itu begitu kuat, seolah Jeremy sedang menancapkan klaim kepemilikan yang absolut.

"Sakit ih! Jangan kencang-kencang, Jeremy!" bisik Sheila setengah memekik. Ia mencoba menarik tangannya, namun tenaga Jeremy jauh lebih besar.

"Biarin," jawab Jeremy pendek. Wajahnya lurus menatap pintu lift, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menyebalkan. "Nanti habis ini kan aku harus jaga jarak dari kamu. Di luar sana kamu asistenku, di sini kamu milikku. Aku mau tabungan genggaman dulu buat seharian nanti."

"Kamu gila ya? Kalau ada yang lihat di CCTV gimana? Terus kalau tiba-tiba pintu terbuka dan ada staf lain yang masuk?" Sheila menoleh ke arah kamera pengawas di pojok atas dengan wajah panik. "Ingat janji kamu semalam, Jer. Rahasiakan ini dari semua orang. Termasuk... terutama dari Papa kamu."

Jeremy mendengus pelan, ekspresinya sedikit berubah mendung saat nama ayahnya disebut. Ia menarik tangan Sheila lebih dekat ke tubuhnya, memaksa gadis itu untuk berdiri nyaris menempel pada bahunya. "Papa nggak akan tahu kalau kamu nggak keceplosan, Shei. Tapi jujur saja, aku benci harus pura-pura nggak kenal kamu di depan umum. Rasanya kayak punya harta karun tapi harus dipajang pakai bungkus koran bekas."

"Ini demi kebaikan kita, Jeremy. Kamu tahu sendiri Papa kamu kayak gimana. Dia bisa saja mecat aku atau lebih parah lagi kalau tahu kita... kita ada hubungan," suara Sheila melemah di kalimat terakhir. Bayangan tatapan menghina Tuan Nasution beberapa hari lalu masih menyisakan trauma kecil di hatinya.

Jeremy menghela napas panjang, ia membawa punggung tangan Sheila ke bibirnya dan mengecupnya lama. Kecupan yang terasa hangat namun penuh janji proteksi. "Aku nggak akan biarkan dia menyentuh seujung kuku kamu pun, Sheila. Tapi oke, aku hargai keputusanmu buat backstreet. Tapi ada syaratnya."

"Syarat apa lagi?!"

"Jam makan siang, kamu makan di ruanganku. Pintu terkunci. Nggak ada interupsi," ucap Jeremy dengan nada CEO-nya yang otoriter.

"Itu namanya bukan rahasia, itu namanya bunuh diri! Orang-orang bakal curiga kalau asistennya nggak keluar-keluar dari ruangan bosnya berjam-jam!"

"Bilang saja kita lagi bahas strategi perang melawan vendor. Beres, kan?" Jeremy mengedipkan sebelah matanya, kembali ke mode tengilnya yang biasa.

TING!

Bunyi denting lift bergema, menandakan mereka telah sampai di lantai tujuan. Lampu indikator menyala terang, dan pintu lift mulai bergeser terbuka perlahan. Dalam hitungan detik, dunia privat mereka akan kembali menjadi dunia korporat yang dingin dan penuh mata-mata.

Sheila beraksi secepat kilat. Ia menyentak tangannya hingga genggaman Jeremy terlepas. Ia melompat mundur satu langkah, menciptakan jarak aman sekitar tiga puluh sentimeter dari sang bos. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan memasang wajah sedingin es, wajah "Asisten Profesional" yang sudah ia latih di depan cermin pagi tadi.

Jeremy hanya bisa mendesah pasrah, memasukkan tangannya ke dalam saku celana kainnya yang mahal, mencoba menetralisir rasa kehilangan kehangatan tangan Sheila yang mendadak.

Begitu pintu terbuka sempurna, Nilam dan beberapa staf administrasi sudah berdiri di depan lift sambil memegang tumpukan berkas.

"Pagi, Pak Jeremy. Pagi, Sheila," sapa Nilam dengan nada sopan namun matanya melirik curiga ke arah mereka berdua.

"Pagi," jawab Jeremy singkat dan datar. Ia melangkah keluar dengan langkah lebar yang angkuh, melewati kerumunan staf itu tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah Sheila hanyalah bayangan yang kebetulan searah dengannya.

Sheila mengekor di belakang dengan jarak yang tepat. "Pagi, Lam. Pak Jeremy minta laporan tender segera di atas mejanya dalam sepuluh menit, jadi aku duluan ya!" ucap Sheila cepat-cepat untuk menghindari pertanyaan Nilam.

Ia berjalan menuju mejanya, merasakan tatapan tajam Jeremy dari balik pundaknya saat pria itu masuk ke ruangan CEO. Sheila duduk di kursinya, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih menggila. Di bawah meja, ia meraba telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan sensasi remasan kuat dari Jeremy tadi.

Sakit, memang. Tapi entah kenapa, rasa sakit itu kini terasa seperti pengingat bahwa di tengah sandiwara besar ini, ada seseorang yang memegang hatinya dengan sangat erat, menjaganya agar tidak lagi hancur seperti saat ia bersama Malik.

Baru saja ia membuka laptop, sebuah pesan masuk di ponsel kantornya.

Bapak CEO Sengklek: "Tangan kamu masih sakit? Maaf ya. Nanti jam 12 aku obati pakai ciuman di ruangan. Jangan telat."

Sheila memutar bola matanya, menyembunyikan senyum yang hampir meledak di wajahnya. Perang dimulai, dan kali ini, ia tahu ia akan memenangkannya.

***

Tepat pukul dua belas siang, suasana kantor mendadak lengang saat para karyawan berhamburan menuju kantin atau masjid. Sheila melirik kanan-kiri, memastikan Nilam sudah pergi bersama Sari dan Alena, sebelum ia berdiri dan melangkah cepat menuju pintu jati besar bertuliskan Chief Executive Officer.

Dengan satu gerakan tangkas, ia masuk dan mengunci pintu dari dalam. Klik.

Jeremy sudah menunggu di sana. Ia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di balik meja kerja mahoninya, sudah menanggalkan jas dan melonggarkan dasi sutranya. Begitu melihat Sheila, tatapan predatornya kembali muncul—tatapan yang hanya ia tunjukkan saat mereka sedang berdua.

"Tepat waktu," gumam Jeremy, suaranya rendah dan serak.

Tanpa basa-basi, Jeremy melangkah mendekat, menarik pinggang Sheila hingga tubuh mereka bertabrakan. Ia mengangkat Sheila ke atas meja kerjanya yang luas, menyingkirkan beberapa tumpukan dokumen tender seolah-olah kertas berharga miliaran rupiah itu hanyalah sampah yang mengganggu.

"Sakit tangan kamu tadi pagi... harus diobati sekarang," bisik Jeremy di ceruk leher Sheila, memberikan kecupan-kecupan panas yang membuat Sheila memejamkan mata dan meremas bahu kokoh pria itu.

Suasana di ruangan itu memanas dengan cepat. Napas mereka yang memburu bersahutan dengan detak jantung yang menggila. Jeremy memberikan ciuman-ciuman menuntut yang seolah ingin menghapus sisa-sisa kenangan pahit Sheila. Di atas meja kerja itu, di tengah kemewahan kantor pusat Nasution Property Group, mereka terjebak dalam gairah yang terlarang namun begitu memabukkan.

Sentuhan Jeremy yang ahli mulai merambat, memberikan sensasi terbakar di kulit Sheila. Sheila pun tidak tinggal diam, ia membalas setiap perlakuan Jeremy dengan keberanian yang baru ia temukan. Dunia di luar sana seolah lenyap, hanya ada mereka berdua dalam gelembung privasi yang sangat rapi.

Namun, tepat saat Jeremy sedang menyesap bibir bawah Sheila dengan intens, sebuah suara keras menghancurkan segalanya.

TOK! TOK! TOK!

"Jeremy! Buka pintunya! Papa tahu kamu di dalam!"

Suara bariton Tuan Nasution menggelegar dari balik pintu, diikuti oleh guncangan pada knop pintu yang terkunci.

Sheila tersentak hebat, matanya membelalak kaget. Ia hampir saja terjatuh dari meja jika Jeremy tidak sigap menahannya. Adrenalin yang tadinya karena gairah, kini berubah menjadi ketakutan murni.

"Mampus... Papa kamu, Jer!" bisik Sheila panik, wajahnya pucat pasi. Ia segera meloncat turun dari meja, merapikan blus dan rok spannya yang sudah sedikit berantakan dengan tangan gemetar.

"Jeremy! Buka! Kenapa jam makan siang pintu dikunci?!" teriak Tuan Nasution lagi, kali ini suaranya terdengar makin tidak sabar.

Jeremy mendesis kesal, ia membetulkan letak dasinya dan menyugar rambutnya yang tadi sempat diacak-acak Sheila agar kembali rapi. "Duh kamu sih... sudah aku bilangin juga ini di kantor, jangan aneh-aneh!" omel Sheila dengan suara tertahan sambil menunjuk-nunjuk Jeremy dengan telunjuknya yang gemetar.

"Kok aku? Yang tadi kunci pintu duluan siapa?" balas Jeremy sewot, meski ia juga terlihat sedikit panik. Ia segera memberikan kode pada Sheila untuk bersembunyi di balik sofa besar atau berpura-pura sedang merapikan lemari berkas di pojok ruangan.

Sheila langsung menyambar sebuah map besar dan berdiri di depan lemari arsip, memunggungi pintu dan berpura-pura sangat sibuk mencari dokumen. Sementara itu, Jeremy menarik napas panjang, menetralkan napasnya yang masih sedikit tersengal, lalu melangkah menuju pintu.

Begitu kunci dibuka, Tuan Nasution masuk dengan wajah merah padam, matanya menyapu seluruh ruangan dengan curiga.

"Kenapa dikunci?" tanya sang Papa tajam, matanya tertuju pada Jeremy yang kini bersedekap, mencoba terlihat berwibawa meski hatinya sedang dag-dig-dug.

"Lagi fokus bahas draf rahasia buat tender besok, Pa. Aku nggak mau ada staf yang tiba-tiba masuk tanpa izin," jawab Jeremy dengan nada sedingin mungkin, kembali ke mode CEO-nya yang tak tersentuh.

Tuan Nasution melirik ke arah pojok ruangan, di mana Sheila sedang berdiri kaku memegang map terbalik. "Dan asisten kamu ini? Kenapa dia nggak ikut makan siang?"

"Saya sedang mengecek arsip tahun lalu yang diminta Pak Jeremy, Pak," jawab Sheila tanpa menoleh, suaranya bergetar sedikit namun ia berusaha keras untuk tetap tenang.

Tuan Nasution menyipitkan matanya, ia melangkah mendekati meja kerja Jeremy. Ia melihat beberapa dokumen yang berantakan di lantai—hasil dari ulah Jeremy tadi. Beliau mengambil salah satu kertas itu, lalu menatap putranya dengan tatapan menyelidik yang mematikan.

"Sejak kapan asisten pribadi mengecek arsip di ruangan CEO saat jam istirahat?" Tuan Nasution meletakkan kertas itu kembali. "Jeremy, ingat posisi kamu. Jangan biarkan 'hobi' kamu merusak integritas kantor ini. Papa nggak suka ada rahasia di gedung Papa sendiri."

Jeremy hanya diam, menatap Papanya dengan sorot mata yang menantang namun tetap tenang. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Tuan Nasution akhirnya mendengus dan keluar dari ruangan tanpa mengucapkan kata pamit.

Begitu pintu tertutup kembali, Sheila langsung lemas dan terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya di lemari arsip. "Jantungku mau copot, Jer... Sumpah, ini nggak lucu!"

Jeremy mendekat, ia ikut berjongkok di depan Sheila dan mengusap wajah asistennya itu dengan lembut. "Maaf ya. Tapi seru kan, main petak umpet sama singa tua itu?"

"Seru gundulmu! Habis ini aku mau makan di luar saja sama Nilam, nggak mau lagi makan di sini!" Sheila memukul bahu Jeremy kesal, namun akhirnya ia tertawa kecil karena situasi absurd yang baru saja mereka alami.

Jeremy terkekeh, ia membantu Sheila berdiri dan mengecup keningnya sekilas. "Oke, besok kita cari tempat lain. Tapi hari ini... selesaikan dulu makannya. Tadi baru pemanasan, kan?"

"Jeremy! Kerja!" bentak Sheila sambil mendorong wajah Jeremy, membuat pria itu tertawa puas di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!