NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mencari kontrakan

“Kita harus cari, Bu,” jawab Amira tenang. Dia tidak bisa lagi membiarkan anak-anaknya tinggal di jembatan lagi.

“Mending kita tinggal di jembatan saja, Amira, bisa sambil mencari ikan,” jawab Nanda. Dia masih berharap akan mendapatkan ikan cana.

“Jangan menggantungkan hidup pada keajaiban, Bu. Kemarin kita hanya beruntung dapat ikan cana.”

“Baiklah, kalau begitu kamu mau cari kontrakan seperti apa?”

“Maunya sih yang di pinggir jalan, ada halaman yang lumayan luas buat jualan. Kita jadikan tempat usaha sekaligus tempat tinggal,” jawab Amira.

“Yah, kalau itu sih ruko, Amira. Biasanya mereka enggak mau dibayar bulanan, mereka maunya dibayar tahunan dan harganya tidak murah, Amira.”

“Benar juga ya. Kalau begitu cari untuk tempat tinggal saja, Bu. Masalah jualan kita bisa jualan keliling,” ucap Amira.

Amira memanggil anak-anaknya, memberi minum Dewi, kemudian menyeka bibirnya yang belepotan habis makan.

“Mau ke mana kita, Mah?” tanya Dewi.

“Kita cari tempat tinggal dulu,” jawab Amira.

Mereka berempat berjalan kaki menyusuri jalan. Di pemukiman padat penduduk, mereka berhenti.

“Bu, apa di sini ada rumah kosan?” tanya Nanda pada seorang pria paruh baya, sebut saja namanya Parto.

“Buat berapa orang?” tanya Parto. Dia melihat Amira dan Nanda berpakaian lusuh dan membawa beberapa plastik yang pasti isinya adalah pakaian. Mereka benar-benar membutuhkan tempat tinggal.

“Empat orang saja,” jawab Nanda.

“Yah, kalau empat orang harganya dua kali lipat. Di sini biasanya harganya satu juta per bulan.”

“Di mana rumahnya?” tanya Amira.

“Ikut saya.” Orang itu berjalan memasuki gang sempit. Amira dan Nanda mengikuti dari belakang.

“Ini dia kontrakannya, ini sudah paling murah,” ucap Parto setelah sampai di sebuah kontrakan dua lantai. Total ada sepuluh kamar. Di bawahnya ada bangunan seperti kamar mandi umum. Setiap kontrakan ada meteran listrik dekat pintu.

Amira mengamati lingkungan yang cukup ramai itu. Nanda juga mengamati. Nanda antusias karena banyaknya orang yang tinggal.

“Listrik siapa yang bayar?” tanya Amira.

“Kami yang bayar,” jawab orang itu mantap. “Pokoknya tinggal tidur saja, listrik, air semua gratis.”

“Kamar mandinya di dalam apa di luar?” tanya Amira.

“Di dalam, dong, masa di luar. Malu-maluin saja.”

“Saya bisa cek dulu yang kosongnya?” ucap Amira.

“Oh, tidak bisa. Anda harus bayar uang muka dulu baru boleh.”

“Anak-anak sudah lelah, Amira mau istirahat,” ucap Nanda.

“Begini saja, Anda bayar dulu saja setengahnya, nanti sisanya lusa atau minggu depan,” ucap orang itu.

“Saya harus cek dulu tempatnya,” ucap Amira tanpa ragu.

“Sebenarnya kamu punya uang, enggak?” ucap Parto kesal.

Amira mengeluarkan sebagian uang. “Kalau 300.000 ada, sisanya minggu depan, tapi saya harus cek dulu.”

“Baiklah, uangnya dulu berikan ke saya,” ucap Parto.

Amira menatap tajam pada Parto.

“Dasar penipu,” ucap Amira.

Muka Parto langsung merah. “Bilang apa kamu? Kenapa kamu menuduh saya?”

Amira tersenyum menyeringai. “Kamu bukan pemilik kontrakan, kan?”

“Aku pemilik kontrakan! Kalau enggak jadi ngontrak, jangan nuduh saya!”

“Sebaiknya kamu pergi sebelum saya teriaki kamu maling.”

“Kamu mengancamku?” geram Parto.

Amira akan berteriak.

Namun Parto segera lari tunggang-langgang.

“Amira, dari mana kamu tahu dia seorang penipu?” tanya Nanda penasaran.

“Semua penjelasan dia salah semua. Kontrakan ini listrik yang bayar penghuni kontrakan. Kalau pemilik kontrakan yang bayar, enggak mungkin dia pasang meteran listrik di setiap kontrakan. Dan kamar mandi pasti di luar,” jelas Amira.

Nanda manggut-manggut. “Terus dari mana kamu tahu kalau kamar mandinya di luar?”

“Itu ada kamar mandi umum di depan kontrakan. Itu milik pribadi, bukan milik pemerintah. Buat apa coba dia buat kamar mandi terpisah kalau setiap kontrakan ada kamar mandi?” ucap Amira.

“Pintar sekali kamu, Amira,” puji Nanda. “Jadi kita harus tinggal di mana, dong?”

“Lingkungan ini enggak sehat. Sebaiknya kita cari saja tempat yang lain.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Lihat saja sampah di mana-mana.”

“Sampah banyak bukan berarti mereka orang tidak baik,” ucap Nanda.

“Di sini kebersamaan warganya kurang. Kalau warganya guyub, harusnya orang yang tadi tidak bisa berkeliaran di tempat ini. Dan saat kita jalan tidak ada satu pun yang menegur dia. Jelas sekali dia orang asing di sini.”

Amira menghela napas panjang.

“Baiklah, kalau begitu kita cari lagi tempat yang lain. Tadinya aku suka tempat ini karena banyak orang. Jualan apa pun pasti akan laku,” keluh Nanda.

“Banyak orang memang peluang, namun kadang-kadang juga malah jadi masalah. Sebaiknya kita segera pergi,” ajak Amira.

Mereka keluar dari pemukiman padat penduduk itu.

Dewi dan Arjuna mengikuti dari belakang. Arjuna selalu mengedarkan pandangan ke semua tempat, sedangkan Dewi selalu melangkah dengan ceria. Amira bersyukur anak-anaknya tidak ada yang mengeluh satu pun.

Hingga sampai di jalan besar, di sebuah pertokoan lantai dua, tempat strategis, namun ada satu ruko di pojok yang kosong.

“Kita istirahat di sana,” ucap Amira sambil menunjuk ke sebuah tempat.

Mereka duduk di depan ruko. Amira mengeluarkan air minum dan memberikan pada Arjuna dan Dewi.

“Amira, enak sekali ya kalau kita bisa tinggal di sini,” ucap Nanda. Dia melihat-lihat ruko itu.

Amira melihat ruko itu dengan saksama. Cat folding gate kusam, namun tidak ada yang terkelupas.

Amira menyentuh folding gate itu, ternyata tebal oleh debu. Amira mendenguskan hidungnya.

“Bau pesing campur minuman keras,” ucapnya.

Di tembok ruko banyak coretan vandalisme. Di depan kontrakan ada tulisan “Disewakan”.

Spanduk itu bersih, tidak ada debu seperti dibersihkan setiap hari, kontras dengan kondisi ruko.

Seorang lelaki datang melihat Amira.

“Kalian mau apa?” tanyanya.

Amira melihat orang itu dari atas ke bawah. Kantung celananya tebal, saat jalan mengeluarkan bunyi.

“Saya mau sewa ruko ini,” ucap Amira.

“Amira, jangan-jangan dia penipu seperti orang tadi.”

“Bukan, Bu. Bapak ini adalah pemilik ruko ini.”

Lelaki itu tampak antusias. “Dari mana kamu tahu kalau saya pemilik kontrakan?”

“Rambut Anda klimis, kaos Anda sederhana, tapi itu jelas dari merek terkenal. Parfum Anda premium, sandal Anda sederhana tapi itu merek terkenal dan orisinal. Kulit Anda juga terawat,” tebak Amira.

Lelaki itu tersenyum. “Tapi apa yang kamu sebutkan tidak ada hubungannya dengan ruko ini.”

“Awalnya saya menduga Anda penjaga ruko, tapi setelah saya teliti dari dekat dan saat Anda berjalan, di kantong celana Anda ada bunyi bising. Tebakan saya itu adalah kunci-kunci ruko.”

Lelaki itu tertawa. “Kamu anak pintar. Saya memang pemilik ruko ini. Ruko ini strategis, lihatlah semua ruko saya sudah ada yang isi. Karena ini satu-satunya ruko yang belum terisi, saya kasih sewa bulanan saja, satu bulan dua juta.”

“500.000 saja, Pak. Anda sudah sangat beruntung dengan harga segitu,” jawab Amira.

Lelaki pemilik ruko terdiam.

Nanda juga heran dalam hati bertanya, “Ada apa dengan otak anakku ini?”

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!