NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Pertemuan Seseorang

Nama itu semakin sering terdengar di dalam Akademi Arvandor. Eryndor Kaelis tidak lagi sekadar murid berbakat yang dibicarakan di sudut-sudut kelas, melainkan sudah menjadi tolok ukur baru yang diam-diam diakui banyak orang. Setiap kali namanya disebut, selalu ada tambahan cerita yang membuatnya terdengar semakin jauh dari jangkauan murid biasa, seolah batas antara kenyataan dan rumor mulai menipis.

Sebagian cerita terdengar masuk akal, seperti keberhasilannya menyelesaikan misi yang bahkan murid tingkat atas enggan ambil. Namun sebagian lain terasa berlebihan, seperti desas-desus bahwa beberapa instruktur mulai memberi perhatian khusus yang tidak mereka tunjukkan kepada siapa pun. Tidak sedikit pula yang percaya bahwa pihak akademi sendiri sudah mulai mengincarnya untuk sesuatu yang lebih besar.

Alverion Dastan tidak pernah benar-benar mencari tahu semua itu, tetapi ia juga tidak bisa menghindarinya. Informasi seperti itu menyebar dengan cara yang sulit dijelaskan, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, hingga akhirnya sampai tanpa diminta. Ia hanya mendengarkan seperlunya, menyaring mana yang berguna dan mana yang hanya sekadar kebisingan.

Pagi itu, latihan Kelas Elite dimulai lebih awal dari biasanya. Udara masih membawa sisa dingin malam, sementara embun tipis menempel di permukaan batu yang menjadi lantai lapangan utama. Para murid sudah berkumpul sejak beberapa saat lalu, sebagian melakukan pemanasan ringan, sebagian lagi memilih diam sambil mengamati sekitar.

Instruktur berdiri di depan dengan sikap tegak dan ekspresi yang sulit ditebak. Tatapannya menyapu seluruh barisan seolah memastikan tidak ada yang lengah, sebelum akhirnya ia membuka suara dengan nada yang tidak terlalu keras tetapi cukup untuk menjangkau semua orang.

“Hari ini kita akan melakukan simulasi pertarungan berpasangan. Penilaian tidak hanya berdasarkan kekuatan, tetapi juga kemampuan membaca lawan dan mengambil keputusan dalam waktu singkat.”

Beberapa murid langsung saling melirik, memahami arti di balik instruksi itu tanpa perlu penjelasan tambahan. Ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang mungkin selama ini tidak terlihat. Di sisi lain, kesalahan kecil pun bisa menjadi bahan penilaian yang sulit diperbaiki.

Nama-nama mulai dipanggil satu per satu dengan ritme yang stabil. Setiap pasangan yang terbentuk segera mengambil posisi, sementara yang lain mundur sedikit untuk memberi ruang. Suasana yang tadinya relatif santai perlahan berubah menjadi lebih fokus, bahkan cenderung tegang di beberapa titik.

Ketika nama Eryndor Kaelis disebut, perubahan itu terasa lebih jelas. Beberapa murid yang sebelumnya tampak tenang mulai memperhatikan dengan lebih serius, sementara yang lain justru terlihat berharap tidak dipasangkan dengannya. Reputasi yang ia bangun telah menciptakan jarak yang tidak terlihat, tetapi cukup kuat untuk memengaruhi suasana.

Eryndor melangkah maju tanpa terburu-buru, seolah tidak ada yang perlu dikejar. Gerakannya rapi, napasnya teratur, dan tidak ada tanda-tanda ketegangan pada wajahnya. Ia berhenti di posisi yang ditentukan dengan sikap yang hampir terlalu santai untuk seseorang yang menjadi pusat perhatian.

“Eryndor Kaelis melawan Seran Vireth.”

Seran maju dengan langkah yang sedikit lebih cepat, meskipun ia berusaha menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Posturnya cukup baik, dan dari cara ia mengatur posisi, terlihat bahwa ia memiliki dasar yang kuat. Ia tidak menunggu lama setelah aba-aba dimulai, langsung mengambil inisiatif dengan serangan yang terukur.

Gerakannya cepat dan bersih, menunjukkan latihan yang tidak main-main. Namun di hadapan Eryndor, setiap langkah itu seolah sudah terbaca sebelum benar-benar terjadi. Eryndor hanya bergeser sedikit, menghindari serangan dengan gerakan minimal yang hampir tidak terlihat berusaha.

Satu langkah ke samping, satu putaran kecil pada bahu, lalu jarak kembali terbentuk tanpa benturan berarti. Seran mencoba menyesuaikan ritme, meningkatkan tekanan dengan kombinasi yang lebih cepat, tetapi hasilnya tidak banyak berubah. Eryndor tetap berada satu langkah di depan, seolah ia sudah memahami pola sejak awal.

Momen itu berakhir dengan satu serangan balik yang singkat namun tepat. Tidak ada gerakan besar atau teknik mencolok, hanya pukulan yang ditempatkan pada waktu yang tidak bisa dihindari. Keseimbangan Seran langsung hilang, dan ia jatuh sebelum sempat memperbaiki posisinya.

Lapangan sempat terdiam sejenak, bukan karena kejutan yang berlebihan, melainkan karena hasil yang terasa terlalu jelas. Beberapa murid mulai berbisik pelan, membandingkan apa yang mereka lihat dengan ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya. Sebagian terlihat kagum, sebagian lagi hanya menghela napas kecil.

Eryndor menurunkan tangannya tanpa perubahan ekspresi. Ia tidak menunjukkan kepuasan atau kelelahan, hanya kembali ke tempatnya seolah semua itu adalah bagian dari rutinitas yang sudah biasa ia jalani. Saat melewati barisan, langkahnya tetap sama, tidak terpengaruh oleh perhatian yang mengikutinya.

Alverion memperhatikan tanpa mengalihkan fokus. Ia tidak tertarik pada hasil akhirnya, melainkan pada detail kecil yang mungkin luput dari yang lain. Cara Eryndor mengatur jarak, cara ia membaca arah bahu lawan, hingga keputusan untuk menyerang di momen yang hampir tidak terlihat.

Ia tidak melihat tekanan yang biasanya muncul dari seseorang yang kuat. Yang ia lihat justru kendali yang stabil, sesuatu yang lebih sulit dicapai daripada sekadar kekuatan mentah. Hal itu membuatnya lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan.

Pertarungan berikutnya terus berjalan dengan ritme yang sama. Beberapa berlangsung cukup lama, sementara yang lain selesai dalam hitungan detik. Instruktur sesekali memberi catatan singkat, tetapi lebih banyak membiarkan para murid memahami kesalahan mereka sendiri.

Hingga akhirnya, nama Alverion dipanggil.

“Alverion Dastan melawan Kaelion Vareth.”

Kaelion maju dengan ekspresi yang lebih santai dibanding kebanyakan peserta lain. Ia tersenyum tipis, seolah situasi ini bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu dalam. Namun dari cara ia berdiri, terlihat bahwa ia tetap waspada.

“Sepertinya kita sering bertemu di situasi seperti ini.”

Alverion mengangguk ringan tanpa banyak perubahan pada wajahnya. Ia mengambil posisi dengan jarak yang cukup, memastikan tidak memberi celah yang terlalu mudah.

“Lebih mudah daripada menghadapi orang lain.”

Pertarungan dimulai tanpa jeda panjang. Kaelion bergerak lebih dulu dengan ritme yang stabil, tidak terlalu cepat tetapi cukup untuk menekan. Ia tidak terburu-buru, memilih untuk menguji reaksi Alverion daripada langsung mencari celah besar.

Alverion merespons dengan hati-hati, menjaga gerakannya tetap dalam batas yang ia tentukan sendiri. Ia menghindari serangan dengan margin tipis, cukup untuk lolos tanpa menunjukkan kecepatan sebenarnya. Setiap langkahnya terukur, seolah ia sudah menentukan seberapa jauh ia ingin terlihat.

Beberapa serangan Kaelion hampir mengenai, tetapi selalu berhenti di jarak yang nyaris. Hal itu membuat pertarungan terlihat seimbang di mata sebagian orang, meskipun ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya cocok bagi mereka yang memperhatikan lebih dalam.

“Kalau kamu terus seperti ini, kamu tidak akan berkembang.”

Suara Kaelion terdengar ringan, tetapi maksudnya jelas. Ia meningkatkan tekanan sedikit, mencoba memaksa perubahan dari lawannya.

“Aku berkembang. Hanya tidak terlihat.”

Jawaban itu datang tanpa nada defensif. Alverion tetap menjaga ritme, tidak terpancing untuk membuka lebih banyak dari yang diperlukan.

Kaelion tertawa kecil sambil melanjutkan serangan dengan pola yang sedikit berubah. Ia mencoba membaca lebih dalam, tetapi tidak menemukan celah yang cukup jelas untuk dimanfaatkan.

“Kalimat yang berbahaya.”

Pertarungan berlanjut beberapa saat hingga instruktur memberi tanda untuk berhenti. Tidak ada pemenang yang ditentukan, dan keduanya mundur tanpa keberatan. Hasil seperti itu cukup untuk tujuan latihan, meskipun meninggalkan ruang untuk penilaian yang lebih subjektif.

Saat kembali ke barisan, Alverion merasakan perubahan yang tidak terlihat. Tatapan yang mengarah kepadanya lebih berat dibanding sebelumnya, seolah ada sesuatu yang mulai disadari oleh orang lain. Ia tidak perlu menoleh untuk menebak sumbernya, tetapi kali ini ia memilih untuk memastikan.

Eryndor berdiri beberapa langkah darinya, menatap tanpa menyembunyikan perhatian. Tidak ada ekspresi mencolok pada wajahnya, tetapi fokus itu terasa lebih jelas dibanding sebelumnya. Tatapan tersebut tidak mengandung permusuhan, namun juga tidak bisa dianggap netral.

Setelah latihan selesai, para murid mulai meninggalkan lapangan dengan kelompok masing-masing. Percakapan kecil kembali terdengar, sebagian membahas pertarungan yang baru saja terjadi, sebagian lagi membicarakan hal lain yang tidak berkaitan langsung.

Alverion memilih jalur yang lebih sepi, berniat kembali tanpa menarik perhatian tambahan. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri di depannya, menghalangi jalur tanpa kesan memaksa.

Eryndor Kaelis.

Jarak di antara mereka cukup dekat untuk membuat suasana berubah, tetapi tidak sampai menimbulkan ketegangan yang berlebihan. Beberapa murid yang lewat memperlambat langkah, mencoba terlihat biasa meskipun jelas memperhatikan.

“Kamu menyembunyikan sesuatu.”

Kalimat itu diucapkan tanpa pengantar, langsung menuju inti yang tidak banyak orang berani singgung. Nada suaranya tetap tenang, seolah ini hanyalah pengamatan biasa.

“Apa maksudmu?”

Alverion tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Ia membalas dengan nada yang sama, menjaga percakapan tetap datar.

“Gerakanmu tidak sesuai dengan hasil yang kamu tunjukkan.”

Eryndor melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk memperjelas bahwa ia tidak sekadar menebak. Tatapannya tidak lepas, seolah mencari konfirmasi dari detail sekecil apa pun.

“Orang lain mungkin tidak melihatnya, tapi aku melihat pola.”

Alverion menatap balik tanpa menghindar. Ia tidak terburu-buru menjawab, memberi jeda yang cukup sebelum akhirnya membuka suara.

“Kalau kamu sudah melihatnya, kenapa bertanya?”

Eryndor diam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Ekspresi itu tidak sepenuhnya ramah, tetapi juga tidak mengandung ejekan.

“Karena aku ingin tahu seberapa jauh kamu akan pergi dengan cara itu.”

Suasana di sekitar mereka terasa lebih sunyi meskipun tidak benar-benar sepi. Perhatian yang tadinya tersebar kini perlahan terfokus, menciptakan ruang yang seolah terpisah dari keramaian.

“Aku hanya melakukan apa yang perlu.”

Jawaban itu tetap sederhana, tanpa usaha untuk memperjelas atau menyembunyikan lebih jauh.

“Semua orang melakukan itu, tapi tidak semua orang melakukannya dengan rapi.”

Eryndor mengangguk pelan, seolah mengakui sesuatu yang tidak perlu dijelaskan. Ia berbalik sedikit, tampak hendak mengakhiri percakapan.

“Berhati-hatilah, Alverion.”

Nada suaranya tidak berubah, tetapi maknanya lebih berat dari kalimat sebelumnya.

“Orang yang berusaha terlihat biasa biasanya menyimpan sesuatu yang tidak biasa.”

Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Kerumunan yang sempat melambat kembali bergerak, tetapi bisikan mulai muncul dengan arah yang jelas.

Alverion tetap diam beberapa saat sebelum melanjutkan langkahnya. Ekspresinya tidak berubah, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat, menyusun ulang apa yang perlu ia lakukan setelah ini.

Malam itu, ia kembali ke lapangan latihan yang sepi. Tidak ada murid lain di sana, hanya suara angin yang bergerak pelan di antara bangunan. Ia mulai bergerak tanpa banyak persiapan, membiarkan tubuhnya mengikuti pola yang sudah ia bangun.

Gerakannya lebih cepat dari biasanya, tetapi tetap terkendali. Setiap langkah memiliki tujuan, setiap perubahan arah dilakukan tanpa ragu. Energi yang ia gunakan sedikit lebih besar, cukup untuk menguji batas tanpa melewatinya.

Ia berhenti setelah beberapa waktu, menarik napas dalam sambil menatap tangannya sendiri. Kata-kata Eryndor kembali teringat, bukan sebagai ancaman yang harus dihindari, melainkan sebagai tanda bahwa situasi telah berubah.

Permainannya tidak lagi sepenuhnya tersembunyi.

Di sisi lain akademi, di sebuah ruangan yang lebih tinggi, Eryndor berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke area latihan. Cahaya malam tidak banyak membantu, tetapi itu tidak menghalanginya untuk tetap memperhatikan.

Seorang pria dewasa berdiri di belakangnya dengan sikap tenang. Jubah yang ia kenakan menunjukkan status yang tidak biasa, sesuatu yang jarang terlihat di antara murid.

“Ada sesuatu yang menarik?”

Eryndor tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke luar, seolah memastikan pikirannya tersusun dengan benar sebelum berbicara.

“Ada satu orang.”

Pria itu mengangkat alis, menunggu penjelasan yang tidak langsung datang.

“Siapa?”

“Alverion Dastan.”

Nama itu diucapkan tanpa tekanan, tetapi cukup untuk menarik perhatian penuh.

“Dia mencoba menyembunyikan dirinya, dan itu membuatnya berbeda.”

Pria itu terdiam sejenak, menimbang informasi yang ia dengar. Ia tidak langsung memberi penilaian, memilih untuk mendengar lebih jauh.

“Apakah dia ancaman?”

“Belum.”

Eryndor akhirnya menoleh sedikit, sorot matanya lebih tajam dibanding sebelumnya.

“Tapi dia layak diamati.”

Percakapan itu berakhir tanpa banyak tambahan. Di luar, angin malam terus bergerak melewati dinding akademi yang tinggi, membawa suasana yang tetap tenang di permukaan.

Tanpa banyak yang menyadari, satu perubahan kecil telah terjadi. Alverion tidak lagi berada di posisi yang sama seperti sebelumnya, dan perhatian yang ia terima bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!