NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Menunggu di Pelukan Hujan

Dulu:

"Angga, kuliah yuk," kata Adea sambil menyuap es krim cokelat di pinggir lapangan.

"Kuliah? Lu masih SMA, Dea." Angga memandangnya dengan sebelah mata, tetap sibuk dengan ponselnya.

"Ya kan bentar lagi lulus. Gue serius, nih. Gue mau ikut lu kuliah."

Angga meletakkan ponselnya. Menatap Adea yang saat itu masih duduk di bangku kelas 11. Rambutnya diikat dua, pipinya chubby, dan matanya selalu berbinar setiap kali bicara soal masa depan.

"Yaudah, gue tunggu lu sampe lulus."

"Kenapa gak langsung aja? Kan gue bisa ikut tahun depan?"

Angga menggeleng sambil tersenyum kecil. "Nggak asik ah, kalo kuliah sendirian mah."

"Kan nanti bisa punya temen baru."

"Pokoknya gue tunggu lu sampe lulus." Angga menatapnya tajam, dengan nada yang tidak bisa ditawar.

Adea menghela napas. "Yaudah."

Dia tidak tahu bahwa Angga sudah diterima di Universitas Mataram setahun lalu. Tapi dia memilih menunda. Memilih menunggu.

Untuk apa? Adea tidak pernah bertanya lebih lanjut.

 

Sekarang:

Hujan menggantung di langit Mataram. Mendung kelabu menutupi Gunung Rinjani dari kejauhan.

"Dea, lu dimana?" suara Angga terdengar berat dari seberang telepon.

"Ah, bentar! Gue masih di kelas. Tunggu di luar aja."

"Iya beres."

Adea mematikan panggilan. Di luar ruangan, ia bisa melihat bayangan motor besar berwarna hitam legam terparkir di depan gerbang fakultas. Kawasaki Ninja ZX. Motor itu sudah tidak asing lagi baginya.

Ia bergegas keluar, tapi bukan dengan semangat.

Wajah Adea tertekuk. Bibirnya mengerucut kesal. Alisnya menyatu. Angga yang sudah berdiri di samping motor langsung menyadari suasana hati gadis itu. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, rambutnya sedikit basah oleh gerimis tipis. Di tangannya, helm biru kesayangan Adea.

"Lu kenape, ege?" tegur Angga sambil menyodorkan helm.

Adea mendekat, menerima helm itu tanpa membukanya. "Tau tuh, tadi ada dosen baru. Namanya Pak Angga."

Angga mengernyit.

"Namanya sama kayak lu, tapi kelakuannya beda!" Adea mulai meledak. "Cuma gara-gara gue telat masuk kelas lima menit, gue disuruh duduk di dekat dia sepanjang pelajaran. Sebelah meja dia, Bangsad! Jadi tontonan lah gue di sana. Malu-maluin banget, sumpah."

Angga melirik curiga. Matanya menyipit. Tapi kemudian ia terkekeh kecil. "Dia naksir kali ama lu."

"Kurang ajar mulut lu ye!" Adea meninju lengan Angga pelan.

"Lagian kok bisa telat sih, anjir." Angga menggeleng.

Adea terdiam sejenak. Suaranya melembut. "Tadi... Sebelum ke kelas gue mampir UKS. Eli tiba-tiba sakit, dia pucet banget. Gue anterin dia ke UKS karena dia butuh pertolongan."

Angga menatapnya lurus. Pria itu tahu kapan Adea jujur. Matanya tidak berkedip. Hidungnya tidak bergerak. Bibirnya tidak gemetar. Gadis itu jujur.

Tapi Angga juga tahu bahwa Adea selalu mengutamakan orang lain. Bahkan saat dirinya sendiri yang rugi.

Ia diam. Lalu menyerahkan helm biru itu sekali lagi.

"Udah yuk. Naik." Angga menunjuk ke langit. "Bentar lagi ujan. Gue gak mau lu sakit nanti trus gak masuk kelas besok pagi."

"Iyaa~" Adea akhirnya tersenyum kecil.

Ia maju selangkah. Tingginya hanya sampai dagu Angga. Dengan lembut, Angga membuka kaca helm dan memasangkannya ke kepala Adea. Lalu ia menepuk pelan helm gadis itu. Bunyi tok terdengar ringan.

"Udah yuk. Keburu hujan."

Angga memegang pinggang Adea dan mengangkatnya naik ke jok belakang motor. Tubuh gadis itu terlalu kecil, terlalu ringan. Kakinya bahkan hampir tidak menggapai footstep dengan nyaman. "Cute" adalah kata yang tepat. Tapi Angga tidak akan pernah mengatakannya langsung.

Setelah Adea duduk dengan aman, Angga mengambil tas ransel merah muda milik Adea dan mengenakannya di depan dadanya sendiri. Tas itu kekecilan untuk tubuh bidangnya, tapi ia tidak peduli. Sementara Adea memeluk tas besar Angga yang berisi laptop dan buku-buku ekonomi. Tas itu hampir sebesar tubuhnya.

"Peluk gue yang bener, Dea. Jangan cuma megang jaket."

Adea menurut. Ia merapatkan tubuhnya ke punggung Angga. Tangannya melingkar di perut pria itu. Dan disitulah ia merasakannya, tubuh Angga keras dan atletis. Otot-ototnya padat, hasil dari bertahun-tahun nge-gym dan naik gunung. Meski kulitnya kecoklatan karena matahari, tapi wajahnya... wajahnya manis. Misterius.

Adea sering berpikir, kenapa Angga tidak punya pacar? Dia tampan, populer, punya motor mahal, kuliah di ekonomi, badannya kekar. Banyak cewek yang suka.

Tapi Angga selalu ada untuknya.

Sejak kecil. Sejak SD. Sejak SMP. Sejak SMA. Dan sekarang di universitas yang sama.

Adea tidak memahami perasaan pria itu padanya. Yang ia tahu, Angga hanyalah sahabat baik yang telah bersamanya sejak lama.

Atau... mungkinkah ada yang lebih?

Mesin motor menyala. Gerimis mulai turun lebih deras.

Angga melaju pelan, cukup aman untuk seorang gadis kecil di belakangnya yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Adea," panggil Angga tanpa menoleh.

"Hm?"

"Besok jangan telat lagi. Gue gak suka liat lu dihukum."

"Terserah gue dong."

"Bukan itu." Angga berhenti di lampu merah. Hujan membasahi visor helmnya. "Gue gak suka liat lu duduk dekat laki-laki lain. Apalagi yang namanya sama kayak gue."

Adea membeku di belakangnya.

Angga tidak mengatakan apa-apa lagi. Lampu merah berubah hijau. Motor melaju kembali meninggalkan persimpangan, meninggalkan kalimat terakhir yang menggantung di udara dingin sore Mataram.

Jantung Adea berdegup lebih kencang dari putaran mesin Ninja di bawahnya.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!