NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaf Fa Ro

Sosok itu mendekat. Rafiq merasakan udara di sekelilingnya berubah. Menjadi dingin. Dingin yang membekukan. Dingin yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri.

Sosok itu menunduk, mendekatkan wajahnya yang tidak berbentuk itu ke wajah Rafiq.

Dan kemudian ia menghembuskan napas.

Udara dingin menyapu wajah Rafiq. Dingin yang begitu pekat hingga ia merasakan kulitnya seperti terbakar.

Bukan terbakar api, tapi terbakar es. Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Rafiq menahan. Ia tidak bergerak. Ia tidak berkedip. Ia membiarkan napas dingin itu menyapunya, membiarkan dingin itu masuk ke dalam pori-porinya, masuk ke dalam paru-parunya, masuk ke dalam darahnya.

Dan ketika napas itu berhenti, Rafiq merasakan sesuatu yang berbeda.

Di dahinya, tepat di tengah, ada rasa panas. Panas yang tiba-tiba muncul, seperti ada setrika panas yang ditempelkan di kulitnya. Ia menahan rasa sakit itu. Giginya mengatup.

Tangannya mengepal di pangkuan. Tapi ia tidak berteriak. Ia tidak mengeluh. Rasa panas itu berlangsung lama. Terasa seperti berjam-jam, meskipun mungkin hanya beberapa detik.

Dan ketika panas itu mulai mereda, sosok hitam di depannya perlahan menurun. Gumpalan kegelapan itu mulai mencair, meresap kembali ke dalam tanah melalui retakan-retakan yang tadi membelah lantai lingkaran.

Mata merah itu mengecil, meredup, dan akhirnya padam. Mulut gelap itu menutup, menghilang bersama dengan bentuk tanduk yang menjulang.

Dalam hitungan detik, sosok itu lenyap. Tanah kembali padat. Lingkaran abu berhenti bersinar. Udara kembali normal. Hanya retakan-retakan halus di tanah yang menjadi bukti bahwa sesuatu baru saja terjadi di ruangan ini.

Rafiq terduduk lemas. Napasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kemeja putihnya menempel di kulitnya yang terasa dingin dan panas bergantian.

Mbah Jaya mendekat. Tangannya yang keriput menyentuh dahi Rafiq. Pria tua itu mengusap jemarinya di kulit dahi Rafiq, merasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.

"Wis rampung," kata Mbah Jaya. Suaranya lelah, seperti baru saja mengangkat beban yang sangat berat. "Saiki kowe wis duwe tandha."

Rafiq mengangkat wajahnya. "Tandha?"

Mbah Jaya tidak menjawab. Ia berbalik, mengambil sebuah cermin kecil dari balik tumpukan kain di sudut ruangan. Cermin itu kecil, hanya seukuran telapak tangan, dengan bingkai kayu yang sudah lapuk. Ia memberikannya pada Rafiq.

"Delengen."

Rafiq menerima cermin itu dengan tangan gemetar. Ia mengangkatnya, menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca yang buram.

Pada awalnya, ia tidak melihat apa-apa. Wajahnya sama seperti biasa—pucat, lelah, mata cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya. Tapi kemudian cahaya dari luar bergerak, menerpa cermin dari sudut yang berbeda, dan Rafiq melihatnya.

Di dahinya, tepat di tengah, ada tulisan. Samar. Sangat samar. Seperti bekas goresan di kulit yang baru mulai memudar.

Tapi ia bisa melihatnya. Huruf-huruf Arab. Tiga huruf.

ك ف ر

Kaf. Fa. Ro.

"Kafaro," bisik Rafiq.

Mbah Jaya mengangguk. "Kuwi stempel. Tandha nèk kowe saiki wis dadi kagungane. Sing ora bisa ilang. Sing ora bisa dibusak."

Rafiq menatap tulisan itu lama. Jarinya menyentuh dahinya, merasakan kulit yang sedikit lebih panas di area itu. Tidak sakit.

Tapi ada. Seperti ingatan yang tidak bisa dihapus. Seperti luka yang tidak akan pernah sembuh.

"Bakal ilang?" tanyanya.

Mbah Jaya tersenyum. Senyum yang tidak memberinya harapan.

"Ora," katanya. "Malah bakal tambah cetho. Saben dina, saben wengi, saben kowe nggunake kekuatan iki, tandhane bakal tambah katon. Nganti kowe ora bisa ndhelike maneh."

Rafiq menurunkan cermin itu. Ia tidak takut. Tidak cemas. "Biarlah," katanya pelan. "Aku tidak perlu menyembunyikan siapa diriku sekarang."

---

Tiga hari berlalu seperti mimpi buruk yang mengalir tanpa arah. Rafiq menghabiskan waktunya di rumah orang tuanya, melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan—membersihkan debu-debu yang mengendap bertahun-tahun, memperbaiki atap seng yang bocor di beberapa bagian, mengganti papan-papan kayu yang lapuk dimakan usia.

Tangannya yang dulu terbiasa memegang pena untuk menandatangani kontrak senilai miliaran rupiah, kini memegang palu dan paku. Keringat membasahi kemeja putihnya, mengotori ujung lengan dengan serbuk kayu dan tanah.

Pekerjaan fisik itu membantunya menenangkan pikiran. Atau setidaknya itulah yang ia ingin yakini pada dirinya sendiri.

Karena kenyataannya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Setiap kali ia berhenti bergerak, setiap kali tubuhnya diam, gambaran-gambaran itu muncul lagi.

Fatih di kursi belakang mobil dengan darah di pelipisnya. Aisyah dan Tono di atas tempat tidur dengan desahan nikmat yang masih terngiang di telinganya. Dokumen-dokumen pengalihan aset yang ia tanda tangani dengan penuh kepercayaan bodoh.

Tapi ada yang berbeda dari tiga hari ini. Ada sesuatu yang baru, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Setiap malam, ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang ia letakkan di kamar tidur, ia melihat tulisan di dahinya. Dan setiap malam, tulisan itu berubah.

Hari pertama, tulisan itu masih samar. Seperti bekas terbakar sinar matahari yang mulai pudar. Rafiq masih bisa menutupinya dengan rambutnya yang mulai panjang. Ia tidak perlu melihatnya jika tidak ingin.

Tapi ia ingin. Ia menatapnya lama, seperti sedang mempelajari peta dari wilayah baru yang belum pernah ia jelajahi. ك ف ر. Tiga huruf yang tidak membentuk kata yang ia kenal. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat dadanya terasa sesak.

Hari kedua, tulisan itu mulai menggelap. Warnanya berubah dari merah pucat menjadi coklat tua, seperti darah yang mengering. Batas-batas hurufnya mulai jelas, tajam, seolah ada pisau tipis yang menggores kulitnya dan mengisi goresan itu dengan tinta hitam.

Rafiq mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar bekas ritual. Ini adalah sesuatu yang hidup. Setiap hari, ia bisa merasakan sensasi hangat di dahinya, seperti ada yang menulis ulang huruf-huruf itu dengan pena yang panas.

Hari ketiga, tulisan itu berwarna hitam pekat. Hitam seperti arang. Hitam seperti bara yang terbakar. Huruf-hurufnya jelas, terbaca sempurna oleh siapa pun yang menatap dahinya. ك ف ر. Kafaro.

Rafiq berdiri di depan cermin pagi itu. Jendela kamar terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dalam semburat jingga keemasan. Di bawah sinar itu, tulisan di dahinya terlihat jelas. Hitam mencolok di kulitnya yang pucat, seperti luka bakar yang tidak pernah sembuh.

Ia menyentuhnya. Masih terasa hangat. Tidak sakit. Tapi hangat yang konstan, seperti demam yang hanya ada di satu titik. Seperti ada api kecil yang menyala di bawah kulitnya, tidak pernah padam, tidak pernah mereda.

"Kafaro," gumamnya. Ia mengulang kata itu, merasakan getarannya di lidahnya. Dan di dalam getaran itu, ia merasakan sesuatu. Makna yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, tapi ia pahami dengan seluruh tubuhnya.

Milik kegelapan.

Lupa dengan cahaya.

Tertutup kebenaran.

Ia menurunkan tangannya. Di luar, suara azan Subuh mulai berkumandang.

Rafiq membeku.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!