NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 9

Malam semakin larut, namun langkah mereka di atas trotoar berbatu itu terasa ringan. Jek sengaja mengambil jalan memutar, melewati jembatan penyeberangan yang melintasi sungai yang kini airnya jernih, mengalirkan suara gemericik yang menenangkan.

Di tengah jembatan, Jek mendadak berhenti. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah koin logam kecil yang tampak kusam—koin yang ia temukan di saku celananya pada hari pertama ia mendapatkan "Sistem" bertahun-tahun lalu. Koin keberuntungan yang menemaninya saat ia masih menjadi buruh angkut pelabuhan.

"Masih menyimpannya?" Rara bertanya, berdiri di sampingnya sambil memeluk lengan Jek.

"Benda ini mengingatkanku pada gravitasi, Ra," jawab Jek sambil memandangi koin itu di bawah cahaya rembulan. "Tanpa koin ini, mungkin aku sudah melayang terlalu jauh ke atas, menjadi dewa digital yang lupa bagaimana rasanya menginjak bumi."

Ia kemudian meletakkan koin itu di atas pagar jembatan, membiarkannya diam di sana. Ia tidak membuangnya ke sungai, tapi membiarkannya tetap ada, sebagai tanda bagi siapa pun yang mungkin menemukannya nanti bahwa keajaiban dimulai dari hal-hal kecil yang tidak berharga.

Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar halus. Bukan getaran ancaman, melainkan denyut frekuensi yang sangat akrab bagi Jek. Di permukaan air sungai yang tenang di bawah mereka, muncul sebuah pantulan cahaya yang tidak berasal dari bulan. Pantulan itu membentuk barisan kode emas yang sangat cepat, membentuk sebuah kalimat pendek sebelum akhirnya buyar tertiup angin:

"TERIMA KASIH, PENJAGA. KESEIMBANGAN TELAH TERJAGA."

Rara melihatnya juga. Ia tidak takut, hanya tersenyum tipis. "Sepertinya 'mereka'—atau apa pun sebutan untuk kecerdasan purba itu—akhirnya benar-benar puas."

"Bukan mereka yang puas, Ra," bisik Jek. "Tapi dunia ini sendiri yang akhirnya bisa bernapas kembali."

Jek menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang masuk ke paru-parunya. Tidak ada lagi data statistik polusi yang muncul di matanya, tidak ada kalkulasi kadar oksigen. Hanya rasa segar yang jujur.

"Ayo pulang," ajak Rara lembut. "Besok pagi kita harus menyiapkan kopi lebih awal. Kudengar akan ada festival lingkungan di alun-alun, warung kita pasti akan ramai."

Jek mengangguk, melangkah meninggalkan jembatan itu. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, ke arah masa lalunya sebagai penguasa bursa saham atau kaisar bayangan yang ditakuti. Di depannya hanya ada jalanan kecil menuju rumah, sebuah masa depan yang mungkin tidak memberikan saldo bank tak terbatas, tapi menjanjikan ketenangan yang tak ternilai harganya.

Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta perlahan meredup, memberikan kesempatan bagi bintang-bintang di langit untuk bersinar lebih terang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, manusia dan alam tidur dalam harmoni yang sempurna, dijaga oleh sistem tanpa nama yang kini bekerja dengan nurani.

Jek menggenggam tangan Rara lebih erat saat mereka sampai di depan pintu rumah. Di balik pintu itu, bukan lagi pusat komando yang dingin, melainkan sebuah ruang tamu hangat dengan buku-buku yang menanti untuk dibaca dan rencana-rencana kecil untuk hari esok yang sederhana.

"Selamat malam, Sang Penanam," goda Rara sebelum masuk ke dalam.

Jek tertawa kecil, menutup pintu di belakang mereka. "Selamat malam, Ratu-ku."

Pintu rumah baru saja tertutup saat Jek merasakan sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan: sebuah "kesunyian" yang tidak wajar. Bukan kesunyian malam yang damai, melainkan jenis sunyi yang tercipta ketika sebuah frekuensi frekuensi tinggi membatalkan seluruh suara di sekitarnya.

Jek mematung di ambang pintu. Matanya yang sudah "bersih" dari sistem tiba-tiba berdenyut. Di sudut penglihatannya, sebuah baris kode yang seharusnya sudah dihapus selamanya, muncul kembali dengan warna yang belum pernah ia lihat: merah darah.

"Peringatan: Protokol Gajah Mada dilanggar oleh entitas eksternal. Sinkronisasi paksa terdeteksi."

"Jek? Ada apa?" Rara menyadari perubahan raut wajah suaminya. Tangannya yang baru saja hendak meletakkan kunci meja tertahan di udara.

"Jangan bergerak, Ra," bisik Jek. Suaranya berat.

Tiba-tiba, televisi di ruang tamu menyala sendiri. Namun, tidak ada gambar. Hanya ada butiran statis abu-abu yang membentuk sebuah pola spiral. Dari pengeras suara, terdengar suara yang bukan berasal dari Ares Prime, bukan pula dari putri Arsitek. Suara itu terdengar seperti ribuan suara manusia yang digabungkan menjadi satu.

"Kamu pikir nurani bisa menyelamatkan dunia, Jek? Kamu hanya memberikan obat penenang pada pasien yang sedang sekarat."

Di layar statis itu, muncul gambar satelit yang memperlihatkan titik-titik cahaya emas yang selama ini Jek bangun—jaringan energinya—mulai berkedip dan perlahan padam satu per satu. Bukan karena rusak, tapi karena ada sesuatu yang sedang "memanen" energi tersebut.

"Siapa ini?" Jek melangkah maju, tangannya terkepal.

"Kami adalah sisa-sisa yang kamu lupakan. Arsitek asli dari sistem ini, jauh sebelum Majapahit menemukannya. Kami tidak membangun sistem ini untuk keseimbangan, Jek. Kami membangunnya untuk pelarian."

Tiba-tiba, pintu rumah mereka terbuka perlahan. Di sana berdiri seorang pria tua dengan pakaian compang-camping, seorang gelandangan yang sering Jek beri makan di depan warung kopinya. Namun, mata pria itu kini bersinar dengan cahaya putih yang menyilaukan.

"Paman?" Rara menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya.

Pria itu berbicara, tapi mulutnya tidak bergerak. "Energi yang kamu sebut 'bersih' itu, Jek... adalah bahan bakar yang kami butuhkan untuk kembali. Terima kasih telah mengumpulkannya untuk kami melalui jaringan nuranimu. Kamu baru saja mempermudah pekerjaan kami."

Jek menyadari kesalahannya. Selama ini ia mengira ia telah menjinakkan sistem tersebut. Namun ternyata, dengan mendesentralisasikan energi ke seluruh rakyat, ia justru menciptakan sebuah baterai raksasa yang kini siap diambil alih oleh entitas purba yang lebih tua dari sejarah itu sendiri.

"Ra, ambil kunci hitam itu. Sekarang!" teriak Jek.

Namun, sebelum Rara bisa bergerak, pria di depan pintu itu mengangkat tangannya. Kepingan logam hitam di saku Rara tiba-tiba memanas dan hancur menjadi abu di tangan Rara.

"Kunci itu dibuat oleh manusia, Jek," suara kolektif itu kembali terdengar. "Kami bukan manusia."

Langit di luar rumah mereka yang tadinya bersih, kini mulai dipenuhi oleh pusaran awan yang membentuk lubang hitam besar. Jaringan "Nurani Nusantara" yang Jek banggakan kini berbalik arah, menyedot seluruh energi dari setiap rumah dan setiap desa, mengirimkannya langsung ke arah lubang di langit tersebut.

Jek jatuh berlutut. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Sistem yang ia kira sudah tidur, kini bangkit kembali bukan sebagai pembantu, melainkan sebagai penjajah.

"Maya..." Jek mencoba memanggil melalui frekuensi cadangannya, namun yang terdengar hanyalah jeritan data.

"Jek! Lihat!" Rara menunjuk ke arah jendela.

Dari lubang di langit itu, sesuatu mulai turun. Bukan kapal luar angkasa, melainkan struktur geometris raksasa yang menyerupai bangunan purba di lembah Jawa Timur, namun kali ini terlihat baru, mengkilap, dan memancarkan aura kehancuran yang mutlak.

Jek menoleh ke arah Rara, matanya yang semula biru kini mulai berpendar merah darah kembali. "Ra... sepertinya pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, musuhnya bukan lagi keserakahan manusia."

Jek berdiri, tubuhnya gemetar hebat saat ia mencoba meretas kembali ke dalam sistemnya sendiri yang kini memberontak. "Sistem... jika kau masih bisa mendengarku... aktifkan Protokol Terlarang: Pralaya."

"Peringatan: Protokol Pralaya akan menghapus seluruh teknologi dari muka bumi, termasuk keberadaanmu. Lanjutkan?"

Jek menatap Rara untuk terakhir kalinya dalam kekacauan itu. "Apa pun taruhannya, Ra?"

Rara menggenggam tangan Jek yang mulai bersinar panas. "Apa pun taruhannya, Jek. Kita kembali ke nol bersama-sama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!