NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Lompatan Maut di Atas Langit Kota Mati

​Angin pagi di ketinggian lantai lima belas ini berhembus lebih kencang dari yang kuduga. Suaranya menderu di telingaku, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seolah-olah alam sendiri sedang memperingatkan kami untuk tidak melangkah lebih jauh. Aku berdiri tepat di tepian beton atap toko buku, ujung sepatu botku sudah menggantung di udara. Di bawah sana, dunia tampak seperti maket mainan yang rusak—ribuan zombi yang hanya terlihat seperti titik-titik hitam kecil terus merayap di sela-sela bangkai mobil.

​"Zidan... ini gila. Ini benar-benar gila," suara Kurumi bergetar di belakangku. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak teratur. "Jaraknya lebih dari tiga meter. Kalau kita tidak sampai..."

​"Kalau tidak sampai, gravitasi akan menyelesaikan urusan kita dalam tiga detik. Tapi kalau kita tetap di sini, zombi-zombi di bawah akan mencabikmu perlahan selama berjam-jam. Pilih mana?" tanyaku tanpa menoleh. Mataku tetap fokus menatap tepian gedung perkantoran di depan kami.

​Gedung itu sedikit lebih rendah, sekitar satu meter di bawah level atap ini. Itu keuntungan bagi kami karena gravitasi akan membantu momentum lompatan. Tapi, tepiannya sempit dan dipenuhi tumpukan kerikil. Jika mendarat di titik yang salah, kaki kami akan tergelincir.

​"Aku... aku pilih hidup," bisik Kurumi. Aku merasakan tangannya mencengkeram ujung kemejaku yang kotor.

​"Bagus. Buang rasa takutmu. Ketakutan itu berat, Kurumi. Dia akan menarikmu jatuh ke bawah," kataku dingin. Aku melepas tas logistikku sejenak, mengencangkan talinya agar tidak bergoyang saat aku melayang nanti. Aku juga memastikan shotgun pompa milikku tersampir erat di punggung.

​Aku berbalik, menatap mata Kurumi yang berkaca-kaca. Wajahnya yang kotor karena debu dan noda darah kering tampak sangat rapuh. Tapi aku tidak punya waktu untuk mengasihani dia. Di dunia ini, belas kasihan adalah racun.

​"Dengarkan aku. Aku akan melompat duluan. Begitu aku sampai di sana, aku akan segera berbalik dan bersiap menangkapmu. Kamu harus lari sekencang mungkin, jangan berhenti di tepian, dan jangan sekali-kali melihat ke bawah. Fokus hanya pada tanganku. Mengerti?"

​Kurumi mengangguk pelan. Bibirnya pucat, tapi dia menggenggam sekopnya kuat-kuat.

​"Satu lagi," tambahku, menatapnya tajam. "Jika aku jatuh... jangan coba-coba menolongku. Teruskan perjalananmu ke markas militer sendiri. Itu logika paling efisien."

​"Zidan, jangan bicara begitu!" serunya.

​Aku tidak membalas. Aku mengambil ancang-ancang sekitar sepuluh meter dari tepian. Aku mengatur napas, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku. Dalam hitungan detik, logikaku sudah menghitung kecepatan angin, sudut kemiringan, dan kekuatan otot kakiku.

​Sekarang!

​Aku berlari. Sepatu botku menghantam beton atap dengan irama yang mantap. Tap! Tap! Tap! Setiap langkah meningkatkan momentumku. Begitu ujung beton terlihat, aku menolakkan kaki kananku sekuat tenaga.

​Untuk sesaat, aku merasa seringan bulu. Suara angin di telingaku berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Aku melayang di atas jurang kematian, di bawahku adalah ribuan makhluk yang siap mengunyah dagingku jika aku gagal. Pandanganku terkunci pada tepian gedung di depan.

​BUGH!

​Dada dan perutku menghantam beton dengan keras. Rasa sakit menjalur ke seluruh tubuhku saat aku terseret beberapa senti di atas kerikil tajam. Tanganku segera mencengkeram tepian beton dengan kuku yang seolah ingin menembus semen. Nafasku memburu, jantungku berdegup kencang seperti mesin pacu yang rusak.

“Yes,​Aku berhasil”ucapku

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku bangkit berdiri meski lututku berdarah. Aku segera berbalik dan merentangkan tanganku ke arah gedung sebelah.

​"Kurumi! Sekarang! Lari!" teriakku, suaraku membelah keheningan pagi.

​Kurumi tampak ragu sesaat. Dia menatap jurang di antara kami dengan wajah horor. Tapi kemudian, dia melihatku. Dia melihat tanganku yang terulur. Entah apa yang dia pikirkan, tapi dia mulai berlari.

​Langkah kakinya tidak secepat langkahku. Dia tampak canggung membawa sekopnya. Saat dia melompat, aku bisa melihat matanya terpejam karena takut. Lompatannya pendek. Terlalu pendek!

​"Kurumi!"

​Ujung sepatunya hampir tidak mencapai tepian. Tubuhnya terayun ke belakang, gravitasi mulai menariknya ke bawah. Dia menjerit, sebuah teriakan melengking yang penuh keputusasaan. Tangannya menggapai-gapai udara dengan liar.

​Dengan refleks yang dipicu adrenalin murni, aku menjatuhkan diriku ke depan, perutku menekan tepian beton. Aku menjulurkan tangan kananku sejauh mungkin.

​SRET!

​Aku berhasil menangkap pergelangan tangannya tepat sebelum dia merosot jatuh. Sentakan berat dari tubuhnya membuat bahuku terasa seperti mau lepas dari engselnya. Aku mengerang menahan sakit, gigiku gemeretak.

​"Zidan! Tolong! Jangan lepas!" Kurumi menangis histeris. Dia tergantung di udara, kakinya menendang-nendang dinding gedung yang dingin. Di bawahnya, para zombi mulai berkerumun, tertarik oleh suaranya. Mereka mengangkat tangan mereka, seolah-olah sedang menunggu buah jatuh dari pohon.

​"Diam! Jangan bergerak liar, atau kita berdua akan jatuh!" bentakku. Peluh dingin mengucur di dahiku. Cengkeramanku pada pergelangan tangannya sangat kuat, sampai-sampai aku yakin itu akan meninggalkan bekas memar. Tapi lebih baik memar daripada mati.

​Aku menggunakan seluruh kekuatan otot punggung dan lenganku. Perlahan tapi pasti, aku menariknya ke atas. Otot-ototku bergetar hebat, pembuluh darah di leherku menegang. Ini adalah perjuangan melawan gravitasi yang tidak kenal ampun.

​"Pegang tanganku yang satu lagi! Cepat!"

​Kurumi meraih lenganku dengan tangan kirinya yang gemetar. Dengan satu sentakan terakhir yang menghabiskan sisa tenagaku, aku menariknya melewati tepian beton. Kami berdua jatuh terguling di atas atap gedung perkantoran, terengah-engah seperti ikan yang ditarik keluar dari air.

​Kurumi langsung memelukku, menangis sesenggukan di dadaku. Tubuhnya gemetar hebat karena syok. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang liar menembus kemejaku yang tipis.

​Sejenak, aku terdiam. Logikaku menyuruhku untuk segera mendorongnya menjauh karena kami harus tetap siaga. Tapi, ada sesuatu di dalam diriku yang menahan. Mungkin ini yang mereka sebut kemanusiaan? Ataukah ini hanya bagian dari strategi agar mental partnerku tidak hancur sepenuhnya?

​Aku mengangkat tanganku yang gemetar, lalu menepuk punggungnya pelan. Hanya dua kali. Itu adalah batas maksimal "kelembutan" yang bisa kuberikan sebagai seorang yang anti-naif.

​"Sudah cukup. Berhenti menangis. Kita masih hidup, tapi kita belum aman," kataku dengan suara yang sudah kembali datar.

​Kurumi melepaskan pelukannya, menyeka air mata dengan punggung tangannya yang kotor. Dia menatapku, matanya merah. "Terima kasih, Zidan. Kamu... kamu menyelamatkanku lagi. Padahal kamu bilang kalau kamu jatuh, aku harus pergi."

​"Itu karena aku belum jatuh. Kalau aku jatuh, ceritanya beda lagi," jawabku sambil bangkit berdiri dan memeriksa shotgun-ku. "Ayo. Jangan manja. Kita harus menyusuri atap ini sebelum matahari semakin tinggi. Panas akan membuat zombi-zombi di bawah semakin aktif."

​Kami mulai berjalan menyusuri atap gedung perkantoran ini. Berbeda dengan toko buku tadi, atap ini lebih luas dan dipenuhi oleh unit outdoor AC yang besar dan berkarat. Di tengah perjalanan, aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku.

​Sebuah pintu akses ke dalam gedung ini terbuka sedikit, dan ada noda darah segar di gagangnya.

​Aku memberi isyarat pada Kurumi untuk diam. Aku mendekati pintu itu dengan langkah tanpa suara, moncong shotgun mengarah ke depan. Bau busuk yang sangat menyengat keluar dari dalam. Bukan bau zombi biasa, ini bau daging yang sudah membusuk selama berhari-hari di ruangan tertutup.

​Aku mengintip ke dalam. Di sana, di tangga darurat, aku melihat pemandangan yang membuat perutku sedikit bergejolak. Ada beberapa mayat manusia—bukan zombi—yang tercabik-cabik. Mereka tampaknya adalah penyintas yang mencoba bersembunyi di sini, tapi gagal.

​Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Di tangan salah satu mayat, ada sebuah radio panggil (handy talky) yang masih menyala, mengeluarkan suara statis yang lemah.

​"...sttt... ada yang mendengar? Markas... sektor 4... kami butuh evakuasi... koordinat... sttt..."

​Mataku berkilat. Ini adalah informasi berharga.

​"Zidan, ada apa?" Kurumi berbisik dari belakangku, wajahnya kembali pucat saat melihat mayat-mayat itu.

​"Diam," kataku pelan. Aku mengambil radio itu dari tangan mayat yang sudah dingin. Aku memutar tombol volumenya.

​Radio ini berarti markas militer yang kita tuju mungkin masih berfungsi. Tapi itu juga berarti daerah ini sudah tidak aman karena militer sendiri kewalahan.

​Tiba-tiba, dari kegelapan tangga di bawah, terdengar suara geraman yang berbeda. Bukan suara geraman serak zombi biasa. Suara ini lebih berat, lebih dalam, dan terdengar seperti ada sesuatu yang besar sedang merayap di dinding.

​"Kurumi, mundur ke arah atap. Sekarang!" perintahku dengan nada mendesak.

​"Kenapa? Apa itu?"

​Belum sempat aku menjawab, sesosok makhluk melompat dari kegelapan tangga. Bentuknya masih seperti manusia, tapi kulitnya sudah terkelupas habis, menyisakan otot-otot merah yang basah. Jari-jarinya memanjang menjadi cakar yang tajam, dan matanya tidak ada, digantikan oleh lubang hitam yang pekat. Ia merayap di langit-langit dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​"Zombi Lari? Bukan... ini evolusi," bisikku.

​Makhluk itu meraung, sebuah suara yang terdengar seperti logam beradu. Ia meluncur ke arah kami.

​Aku segera menarik pelatuk shotgun-ku. DOR! Peluru sebar menghantam bahu makhluk itu, membuatnya terpental jatuh ke lantai. Tapi dia tidak mati. Dia segera bangkit dengan gerakan patah-patah yang mengerikan.

​"Lari ke arah gedung berikutnya, Kurumi! Jangan menoleh!" teriakku sambil mengisi ulang peluru dengan gerakan cepat yang sudah terlatih.

​Inilah dunia baru yang sebenarnya. Bukan hanya mayat hidup yang bodoh, tapi monster yang berevolusi dari kegagalan manusia. Dan aku, Zidan, tidak akan membiarkan makhluk jelek ini menghentikan langkahku menuju markas militer.

​Logikaku sudah terkunci pada satu target: Bertahan Hidup. Apapun harganya. Termasuk jika aku harus meledakkan gedung ini sekalipun.

Catatan Penulis:

Chapter 11 ditutup dengan pertemuan pertama Zidan dan Kurumi dengan jenis zombi baru yang lebih berbahaya: 'The Crawler'. Di tengah ketinggian dan keterbatasan peluru, mampukah Zidan melindungi Kurumi sekaligus egonya yang dingin? Berikan dukungan kalian dengan Like dan Komen agar Zidan makin bersemangat membantai monster-monster ini!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!