Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Hantu di Tanjung Perak
15 Juni 1931. Pukul 12.00 waktu Surabaya.
Pelabuhan Tanjung Perak.
Matahari Surabaya tidak kenal ampun. Ia memanggang aspal dermaga, besi-besi kapal kargo, dan punggung-punggung telanjang para kuli angkut yang mengkilap oleh keringat dan minyak.
Di antara ratusan kuli yang memanggul karung goni berisi kopra dan rempah, ada satu sosok yang tampak sedikit berbeda.
Dia bertubuh tegap, namun kulitnya yang dulu kuning langsat kini terbakar cokelat gelap karena enam bulan dijemur matahari pesisir. Wajahnya yang dulu klimis khas priyayi Jawa kini tertutup kumis tebal yang melintang dan janggut yang tidak terawat. Dia mengenakan kacamata bulat dengan lensa tebal—bukan karena matanya rabun, tapi untuk menyamarkan sorot matanya yang tajam.
Namanya sekarang adalah Miko.
"Ayo, Miko! Jangan melamun! Kapal SS Van Der Wijck mau berangkat dua jam lagi!" teriak mandor pelabuhan yang galak, sambil mengacungkan rotan.
"Siap, Mandor!" jawab Miko dengan logat Jawa Timuran yang kasar, berusaha menutupi aksen halusnya.
Miko—atau Raden Mas Arya yang sudah "mati"—mengangkat karung seberat 50 kilogram itu ke bahunya. Otot-ototnya menegang. Rasa sakit di lengan kirinya (bekas sabetan golok di Lapangan Banteng dulu) kadang masih terasa ngilu saat mengangkat beban berat, menjadi pengingat abadi akan kehidupan lamanya.
Enam bulan.
Sudah setengah tahun dia menjadi hantu.
Malam itu di Ancol, rencananya berjalan mulus sekaligus nyaris fatal. Dia memang ditembak (meleset, mengenai bahu jaketnya), dia jatuh ke muara, dan kantong darahnya pecah sempurna. Tapi arus pasang malam itu jauh lebih ganas dari perkiraan Alina. Arya nyaris mati tenggelam, terseret hingga ke laut lepas sebelum akhirnya terdampar di jaring nelayan di Marunda dalam keadaan pingsan.
Setelah siuman dan bersembunyi selama seminggu di gubuk nelayan, dia menumpang kapal dagang Madura menuju Surabaya. Dia mengubur nama Arya di dasar Laut Jawa.
Sekarang, dia hidup di sebuah kamar petak kumuh di kawasan Ampel, bekerja sebagai kuli panggul di siang hari, dan menjadi hantu kesepian di malam hari.
Jam istirahat tiba. Arya duduk di tepi dermaga, membuka bungkusan nasi pecelnya. Tangannya yang kasar dan kapalan menyuapkan nasi.
Matanya menatap ke arah laut lepas. Ombak bergulung tenang.
"Apa kabar, Alina?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar di antara deru mesin kapal uap.
Enam bulan tanpa suara. Enam bulan tanpa ketikan. Enam bulan tanpa "Selamat pagi, Arya".
Dia merindukan Alina seperti paru-paru merindukan udara. Dia rindu perdebatan mereka, rindu ejekan Alina tentang sajaknya yang cengeng, rindu keberanian wanita itu melawan profesor Belanda.
Arya merogoh saku celananya yang kotor. Di sana, terlipat rapi dalam plastik minyak, ada satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan masa lalu: Kain Batik Sido Mukti pemberian Sarsinah.
Kain itu tidak dia pakai. Dia menyimpannya sebagai jimat. Pengingat bahwa ada orang-orang yang dia korbankan demi keselamatan ini.
"Hei, Miko. Bengong lagi," seorang kuli tua bernama Pak Dullah menepuk bahunya. "Mikirin utang apa mikirin wedokan (perempuan)?"
Arya tersenyum tipis di balik kumis palsunya. "Mikirin nasib, Pak. Kapan ya kita merdeka dari ngangkat karung goni ini?"
Pak Dullah tertawa, memperlihatkan giginya yang ompong. "Merdeka? Mimpi kamu ketinggian, Le. Londo itu kuat. Kita ini cuma semut."
Arya diam. Dulu, dia akan langsung mendebat Pak Dullah dengan teori nasionalisme, tentang Sumpah Pemuda, tentang ramalan Joyoboyo. Tapi sekarang dia harus diam. Miko si kuli panggul tidak boleh tahu soal politik.
Namun, di dalam dadanya, api itu masih menyala. Terutama saat dia melihat mandor Belanda menendang seorang kuli muda yang terjatuh karena kelelahan.
Tangan Arya mengepal erat. Dia ingin menulis. Dia ingin berteriak lewat tulisan.
Tapi dia tidak punya mesin tik. Mesin tik Remington-nya tertinggal di Jakarta, mungkin sekarang sedang mendekam di gudang barang bukti polisi, menunggu waktu untuk "hilang" dan ditemukan lagi puluhan tahun kemudian.
"Sabar," batin Arya. "Belum waktunya."
15 Juni 2025. Pukul 13.00 WIB.
Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah).
Alina berjalan menyusuri lorong museum yang sepi. Dia baru saja kembali bekerja penuh setelah mengambil cuti panjang selama tiga bulan karena "depresi ringan"—begitu diagnosa psikolognya.
Kehilangan Arya secara tiba-tiba memberikan dampak mental yang berat baginya. Tidak ada mayat untuk ditangisi, tidak ada makam untuk ditaburi bunga. Hanya kesunyian abadi dari mesin tik.
Alina masuk ke Ruang Konservasi.
Mesin tik Remington NK-40992 itu masih ada di sana, di atas meja kerjanya. Bersih, terawat, dan bisu.
Alina sudah mencoba segalanya. Dia mencoba mengetik "Halo", "Arya", "Tolong jawab". Dia mencoba mengetik di jam yang sama, di tanggal yang sama.
Nihil. Kertas itu tetap putih. Tidak ada balasan hantu.
"Kamu masih hidup kan, Arya?" tanya Alina pada mesin tik itu, mengelus tombol spasinya.
Dia melirik cincin perak di jari manisnya. Cincin itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Dia tidak pernah melepaskannya, bahkan saat mandi.
Hari ini, Alina punya misi baru. Dia tidak lagi mencari "kematian" Arya di buku sejarah. Dia mencari "kehidupan" Arya.
Jika Arya selamat, dia pasti melakukan sesuatu. Orang secerdas dan seaktif Arya tidak mungkin diam saja seumur hidup. Dia pasti meninggalkan jejak, sekecil apa pun.
Alina membuka laptopnya. Dia mengakses arsip digital surat kabar periode 1931-1935.
Dia tidak mencari nama "Raden Mas Arya". Nama itu sudah mati.
Dia mencari pola. Gaya bahasa. Diksi.
Arya punya gaya tulisan yang khas: tajam, sarkas, tapi puitis. Dia suka menggunakan metafora tentang "cahaya" dan "ombak".
Alina mengetik kata kunci di mesin pencari arsip: Opini, Surat Pembaca, Selebaran Gelap, Surabaya (karena Arya pernah bilang dia suka rujak cingur, mungkin dia lari ke Jawa Timur?).
Ribuan hasil muncul.
Alina mulai membaca satu per satu. Koran Soerabaijasch Handelsblad, Pewarta Soerabaia, Sin Tit Po.
Berjam-jam berlalu. Matanya perih.
Tiba-tiba, dia menemukan sebuah potongan kolom kecil di koran "Penyebar Semangat" edisi Agustus 1931. Sebuah puisi pendek tanpa nama pengarang, hanya inisial "M".
> DI DERMAGA PERAK
> Besi panas membakar punggung,
> Tapi dingin di hati tak terbendung.
> Aku memanggul beban tuan-tuan,
> Sambil merindu Nona di masa depan.
> Tunggu aku di ujung waktu,
> Saat hantu kembali menjadi satu.
>
Jantung Alina berhenti berdetak sesaat.
Nona di masa depan.
Hantu.
Alina menutup mulutnya, menahan jeritan.
Itu dia. Itu Arya.
Dia hidup! Dia ada di Surabaya! Dia menjadi kuli (memanggul beban)! Dan dia masih merindukan Alina!
"Kamu gila, Arya. Kamu kirim kode lewat puisi koran," Alina tertawa sambil menangis. Air mata kebahagiaan membasahi pipinya.
Ini adalah tanda kehidupan pertama yang dia dapatkan dalam 6 bulan. Arya tidak bisa menggunakan mesin tik, jadi dia menggunakan media massa, berharap Alina di masa depan cukup jeli untuk menemukannya.
Dan Alina menemukannya.
"Surabaya..." Alina menatap peta Indonesia di dinding. "Kamu di Surabaya."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan