papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tugas sekolah
Pagi itu, cahaya matahari yang keemasan perlahan masuk lewat celah tirai jendela, menyinari seluruh sudut kamar yang masih sepi. Suara burung berkicau di luar terdengar lembut, seolah menjadi irama pembuka hari yang baru. Di atas kasur empuk yang masih berantakan, dua orang yang baru saja terbangun masih terbaring dalam posisi yang tak disangka-sangka. Zavira dan Elvaro sadar serentak, dan keduanya langsung membeku ketika menyadari keadaan mereka saat itu.
Elvaro ternyata tidur dengan nyaman sekali, bahkan kepalanya bersandar tepat di dada Zavira, sementara tubuhnya terbungkus erat di dalam dekapan lengan gadis itu. Posisi itu terlihat begitu akrab dan dekat, jauh dari sifat mereka yang biasanya sering bertengkar atau saling menjaga jarak satu sama lain. Detik itu juga, kesadaran Elvaro kembali sepenuhnya, dan rasa kaget yang luar biasa langsung menyergap hatinya.
“ASTAGA—APA INI?! KENAPA KITA BISA SEPERTI INI?!” teriaknya dengan suara yang meninggi, matanya melotot lebar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri. Ia langsung menarik tubuhnya dengan cepat sampai jatuh duduk di pinggir kasur, lalu memandangi seluruh tubuhnya dan sekeliling ruangan dengan pandangan yang bingung sekaligus malu.
Teriakan keras itu tentu saja membuat Zavira ikut terkejut. Ia langsung menarik tangannya yang semula memeluk tubuh Elvaro, lalu mengangkat kepalanya sambil mengucek mata yang masih sayup-sayup karena baru bangun tidur. Wajahnya sempat menampakkan ekspresi kaget sesaat, tapi tak lama kemudian ekspresi itu berubah menjadi sesuatu yang lain yang sulit dimengerti Elvaro.
Elvaro masih duduk termenung, tangannya terus mengacak-acak rambutnya yang berantakan, wajahnya memerah padam sampai ke bagian telinga. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya seolah berusaha mengingat kembali kejadian semalam, tapi yang ada di dalam pikirannya hanya rasa bingung yang semakin menjadi-jadi.
“Kenapa… kenapa bisa begini? ” gumamnya sambil menatap Zavira dengan tatapan penuh tanya. “gue ingat semalam, gue merasa ada yang tidak beres , Tiba-tiba gue merasakan rasa gatal yang luar biasa hebatnya, terasa di seluruh bagian tubuh sampai rasanya tak tertahankan sama sekali. gue ingat waktu berguling-guling tak karuan di atas kasur, berusaha menghilangkan rasa gatal itu tapi tak kunjung hilang. Bahkan gue sampai merengek kesakitan karena tak sanggup menahannya, Tapi bagaimana bisa pagi harinya gue malah tertidur nyaman di pelukan lo? Apa yang sebenarnya terjadi semalam? , Zavira!”
Ia terus bertanya berulang kali, suaranya terdengar cemas sekaligus penasaran yang tak tertahankan. Namun Zavira hanya diam saja mendengar semua ucapan dan pertanyaan itu. Ia sama sekali tak membuka mulutnya untuk menjawab, meski sebenarnya ia tahu persis apa yang terjadi semalam. Ia melihat sendiri bagaimana keadaan Elvaro yang biasanya terlihat gagah, berwibawa, dan seolah tak pernah lemah di hadapan siapa saja, semalam berubah menjadi sosok yang sangat berbeda.
Ia masih ingat jelas bagaimana Elvaro yang semula keras kepala itu, bagaimana tubuhnya yang kuat itu terlihat lemah tak berdaya, bagaimana suaranya yang biasanya tegas itu berubah menjadi lemah dan hampir menangis karena tak sanggup menahan rasa tak nyaman yang ia rasakan. Mengingat semua kejadian itu, Zavira sampai tak bisa menahan rasa geli yang menyelimuti hatinya. Sesekali ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan tawa yang hampir saja meledak keluar, bahunya bahkan sempat bergetar kecil karena menahan rasa lucu itu.
Melihat Zavira yang hanya diam dan malah terlihat menahan tawa, Elvaro semakin bingung dan merasa tak nyaman. “Kenapa lo diam aja? , apa yang sebenarnya terjadi?” desaknya lagi dengan nada yang sedikit meninggi, tapi di balik nada bicaranya yang terdengar marah itu, sebenarnya ada rasa malu yang semakin menumpuk di dalam hatinya.
Namun Zavira sama sekali tak menghiraukan semua perkataan Elvaro. Ia akhirnya bangkit berdiri, merapikan sedikit pakaiannya yang kusut karena tidur, lalu berjalan perlahan menuju pintu kamar seolah tak ada yang terjadi. Ia sama sekali tak berniat menceritakan apa yang ia lihat dan alami semalam, karena baginya, melihat Elvaro yang lemah itu adalah pemandangan yang cukup berharga untuk ia simpan sendiri sebagai kenangan yang tak akan ia lupakan.
Sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari kamar itu, Zavira tiba-tiba berbalik badan. Ia menatap Elvaro yang masih duduk termenung dengan pandangan yang menggoda, lalu menjulurkan lidahnya sebentar sambil menyeringai lebar, membuat wajahnya terlihat semakin jahil dan menyenangkan.
“Singa di luar, kucing di dalam,” ucapnya dengan suara yang lembut tapi penuh makna, lalu ia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kau itu benar-benar orang yang unik, Elvaro. Di depan orang lain kau terlihat sekuat singa yang berani menghadapi apa saja, tapi begitu ada masalah yang membuatmu tak berdaya, sifat aslimu yang lemah dan manja itu langsung keluar seperti anak kucing yang tak bisa apa-apa. Ingatlah baik-baik apa yang terjadi semalam, jangan lupa ya,” tambahnya lagi sambil tersenyum miring, lalu ia segera berbalik dan keluar dari kamar sambil meninggalkan Elvaro yang masih duduk terpaku dengan wajah yang semakin memerah karena campuran antara rasa malu, kesal, dan rasa tak nyaman yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
...****************...
Suasana sekolah terasa ramai dan penuh semangat saat bel masuk berbunyi. Para siswa bergegas menuju kelas masing-masing, membawa buku-buku pelajaran dan alat tulis yang mereka butuhkan. Hari itu, jadwal pelajaran yang menanti mereka adalah mata pelajaran Kimia — pelajaran yang dikenal paling sulit dan memusingkan bagi sebagian besar siswa, karena penuh dengan rumus, konsep yang abstrak, dan perhitungan yang memerlukan ketelitian tinggi. Begitu guru masuk ke dalam kelas, ia segera menyampaikan rencana pembelajaran hari itu yang membuat sebagian siswa menghela napas lega dan sebagian lagi merasa khawatir.
“Anak-anak, hari ini kita akan mengerjakan tugas kelompok. Tugas ini cukup berat karena materinya cukup rumit, jadi saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan saling membantu satu sama lain,” kata guru itu sambil menuliskan pembagian kelompok di papan tulis. “Saya bagi menjadi empat kelompok. Silakan duduk bersama dengan teman satu kelompok kalian.”
Semua siswa segera bergerak mengatur tempat duduk sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan. Di kelompok pertama, tercatat nama-nama Youjin, Zavira, Nadin, Freya, dan Kevin. Mereka segera berkumpul di sudut kelas yang agak luas, membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Sedangkan di kelompok kedua, terdapat Elvaro, Bara, Gio, dan Ednan — keempat pemuda yang sudah bersahabat sejak lama, meskipun belakangan ini hubungan Elvaro dengan Youjin memang sedang tidak berjalan baik karena perbedaan pendapat dan kesalahpahaman yang belum terselesaikan.
Begitu tugas dibagikan, suasana kelas menjadi hening seketika, hanya terdengar suara pena yang bergerak di atas kertas dan suara bisikan-bisikan kecil antar teman sekelompok. Seperti yang diperkirakan, materi yang harus mereka bahas memang sangat rumit, membuat banyak siswa mengerutkan kening karena bingung harus mulai dari mana.
Di kelompok pertama, situasi terlihat sangat kondusif dan teratur. Youjin yang dikenal sebagai siswa paling cerdas dan pandai dalam pelajaran apapun, termasuk Kimia, segera mengambil peran sebagai sumber pengetahuan utama bagi kelompoknya. Semua orang menunggu penjelasannya dengan penuh perhatian, karena apa yang diucapkan Youjin selalu mudah dipahami dan terstruktur dengan baik.
“Baiklah, mari kita bagi tugasnya. gue akan menjelaskan konsep-konsep dasarnya dan mengerjakan bagian perhitungan yang paling sulit, sedangkan Zavira, lo bersedia menuliskan semua hasil pembahasan kita dan menyusunnya menjadi laporan yang rapi dan jelas?” tanya Youjin dengan nada lembut, matanya menatap tepat ke arah Zavira seolah orang lain di dalam kelompok itu tidak ada.
Zavira mengangguk setuju. “Baiklah, gue bersedia. Nanti kalau ada bagian yang kurang jelas atau perlu diperbaiki, katakan saja ya.”
Sejak saat itu, seolah-olah dunia kelompok pertama hanya berisi dua orang saja — Youjin dan Zavira. Setiap kali Youjin menjelaskan sesuatu, ia selalu menatap mata Zavira dengan pandangan yang dalam dan penuh perhatian, seolah hanya gadis itulah yang penting baginya. Ketika Zavira mencatat atau menjelaskan kembali bagian yang ia pahami, Youjin akan tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Ia bahkan sering kali berbicara hanya kepada Zavira, meskipun sebenarnya yang mendengarkan ada banyak orang. Freya dan Kevin yang lain hanya bisa mengikuti saja dan sesekali berbicara ketika diminta, sedangkan Nadin… Nadin hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya, perasaannya terasa perih dan tidak nyaman.
Sudah sejak lama Nadin menyimpan perasaan suka kepada Youjin. Ia selalu berusaha dekat dengan pemuda itu, selalu memperhatikan apa yang disukai dan tidak disukainya, bahkan sering kali rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan perhatian sedikit saja dari orang yang ia cintai. Namun hari ini, ia menyadari bahwa semua usahanya sia-sia belaka. Perhatian yang selama ini ia harapkan, sepenuhnya diberikan kepada Zavira. Ia merasa seperti orang yang tidak ada artinya di dalam kelompoknya sendiri, diabaikan dan tidak dianggap sama sekali. Rasa cemburu dan kecewa bercampur menjadi satu, membuatnya ingin segera pergi dari tempat itu.
Zavira yang peka tentu saja menyadari perubahan sikap Nadin. Ia melihat bagaimana gadis itu hanya diam saja, jarang berbicara, dan senyum yang biasanya menghiasi wajahnya kini hilang sama sekali. Zavira merasa tidak enak hati, ia tidak bermaksud membuat orang lain merasa tersisihkan. Beberapa kali ia mencoba mengajak Nadin berbicara atau meminta pendapatnya, tapi Nadin hanya menjawab dengan suara yang pendek dan dingin, seolah-olah ia sedang marah. Zavira hanya bisa menghela napas dalam hati, berharap suasana bisa segera membaik.
Sementara itu, di kelompok kedua, semua tugas dan tanggung jawab sepenuhnya diserahkan kepada Elvaro. Seperti biasa, ketiga temannya itu sangat percaya dengan kemampuan Elvaro yang cerdas dan cepat memahami segala hal.
“El,kita serahkan semuanya ke kamu saja ya. Kamu kan paling paham, nanti kami hanya perlu menyalin saja hasil kerja lo,” kata Bara sambil tersenyum santai.
“Iya benar, kami cuma bantu cari referensi saja kalau perlu. Sisanya urusan kamu,” tambah Gio sambil mengangguk setuju.
Elvaro hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, ia memang sudah terbiasa dengan sikap ketiga sahabatnya itu. Namun hari ini, pikirannya seolah-olah terbagi dua. Matanya tidak bisa berhenti menatap ke arah kelompok pertama, tepatnya ke arah dua orang yang sedang asyik berbicara — Youjin dan Zavira.
Ia melihat bagaimana Youjin menatap Zavira dengan pandangan yang begitu lembut dan dalam, pandangan yang seolah-olah ada makna khusus di baliknya. Ia melihat bagaimana Youjin tersenyum setiap kali Zavira berbicara atau menjelaskan sesuatu, senyum yang terlihat tulus dan penuh rasa suka. Setiap kali melihat hal itu, ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya. Ia tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa perasaan itu — apakah itu kesal, marah, atau justru rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul? Yang jelas, ia merasa tidak nyaman melihat kedekatan kedua orang itu. Perasaan itu begitu kuat sampai ia benar-benar lupa dengan tugas kelompok yang seharusnya sedang ia kerjakan. Kertas dan alat tulis yang ada di hadapannya dibiarkan begitu saja kosong, pikirannya hanya terfokus pada pemandangan yang ada di hadapannya.
Melihat Elvaro yang melamun dan matanya terus menatap ke satu arah saja, Ednan yang duduk di sampingnya segera mendapat ide untuk menggodanya. Ia perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah Elvaro, lalu tiba-tiba berteriak pelan sambil menepuk pundak sahabatnya itu dengan cukup keras.
“HUAAAA!”
Elvaro terkejut bukan main, tubuhnya langsung tersentak dan napasnya terhenti sejenak karena kaget. Ia segera menoleh ke arah Ednan dengan wajah yang kesal.
" lo gila ya?! !” bentak Elvaro dengan suara yang rendah agar tidak didengar oleh orang lain.
Ednan hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi sahabatnya itu. Ia kemudian menyeringai sambil menunjuk-nunjuk ke arah kelompok pertama dengan tatapan yang penuh makna.
“Hayo… hayo… tadi lo liatin siapa sih? Dari tadi matanya gx berkedip-kedip . Jangan-jangan… yang lolihat itu Zavira ya? Wah, jangan-jangan lo naksir sama dia, ya?” goda Ednan sambil terus tertawa, membuat Bara dan Gio yang lain ikut menoleh dan penasaran.
Mendengar perkataan itu, wajah Elvaro seketika memerah padam. Ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu menampar ringan lengan Ednan yang masih terus menggodanya.
“lo ngomong apa sih?! Siapa yang liatin Zavira? gue cuma lagi memikirkan tugas kita yang rumit ini, makanya guediam . Jangan bikin-bikin cerita yang gx benar ya!” bantah Elvaro dengan nada yang sedikit tinggi, meskipun hatinya sebenarnya berdebar kencang karena ketahuan sedang memperhatikan gadis itu.
Bara yang sejak tadi memperhatikan suasana kemudian berbicara dengan nada yang lebih serius, seolah-olah ia sedang memberikan nasihat kepada sahabatnya sendiri.
“Dengar El, saran gue lo jangan memendam perasaan seperti itu atau malah mendekatinya. Kalau dilihat-lihat, kayaknya Youjin memang suka sama Zavira. Cara dia menatap dan memperlakukannya saja sudah jelas sekali. Jangan sampai persahabatan kita yang sudah terjalin lama ini hancur hanya karena satu orang perempuan saja. Lagian, hubungan lo dengan Youjin juga saat ini sedang tidak baik-baik saja, kan? Kalau sampai ada masalah soal perasaan, nanti pasti semuanya akan menjadi semakin rumit dan parah,” kata Bara dengan suara yang tenang tapi tegas.
Perkataan Bara membuat Elvaro terdiam sejenak. Ia tahu apa yang dikatakan sahabatnya itu benar, tapi perasaan yang muncul di dalam hatinya itu sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sesuka hati. Namun demi menyelamatkan hubungan baik di antara mereka semua, ia berusaha bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Ia kembali memasang wajah datar dan mencoba mengelak dari semua pembicaraan itu.
“Siapa juga yang suka atau naksir sama dia? gue peduli sama sekali dengan mereka berdua. kalian aja yang terlalu banyak berimajinasi. Sekarang kita kerjakan tugas ini, daripada nanti tidak selesai dan kita dapat nilai jelek,” kata Elvaro sambil memalingkan wajahnya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap ke arah Zavira dan Youjin lagi, meskipun di dalam hatinya ia masih merasa tidak tenang dan penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab..
di tunggu up berikutnya 🙏🏼
Wkwkwkwk 😁