NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Dunia di Luar Jeruji

Hari pertama di luar, Wei Mou Sha hampir mati karena kelaparan.

Bukan karena tidak ada makanan. Hutan di barat lembah penuh dengan sesuatu yang mungkin bisa dimakan. Tapi “mungkin” tidak cukup.

Ia berdiri di depan sebatang pohon. Jamur cokelat tumbuh di akarnya. Ia menatapnya cukup lama.

Ia hafal ratusan titik qi manusia. Tahu cara melumpuhkan tubuh dalam hitungan detik. Tapi ia tidak tahu mana jamur yang aman, dan mana yang bisa membunuhnya perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan dengan kemampuan nya.

Ia meninggalkan jamur itu dan terus berjalan.

Hari kedua, ia menemukan sungai yang lebih besar. Di tepinya tumbuh tanaman berakar putih di lumpur. Ia pernah melihat sketsa yang mirip di salah satu buku. Keterangan singkat. Bisa dimakan. Rasanya biasa.

Tidak yakin sepenuhnya. Tapi cukup untuk bisa di makan.

Ia mencabutnya kemudian membilasnya, lalu memakannya mentah mentah.

Rasanya emang sangat hambar.

Dan hari ketiga, ia bertemu manusia untuk pertama kalinya sebagai orang bebas.

Seorang petani tua sedang mendorong gerobak kayu di jalan setapak di tepi hutan. Isinya sayuran.

Petani itu melihat Wei Mou Sha.

Seorang remaja kurus, pakaian kebesaran, rambut berantakan, keluar dari arah hutan dengan wajah yang tenang.

Langkah petani itu berhenti dan menatapnya. Dan Wei Mou Sha pun menatap balik.

Petani itu ingin membuka mulutnya tetapi menutupnya lagi. Ragu sejenak sebelum akhirnya mencoba lagi.

“Anak muda, kamu baik-baik saja?”

Wei Mou Sha memikirkan pertanyaan itu.

“Ya,” jawabnya.

Petani itu melirik pakaiannya yang tipis, lalu ke arah hutan, lalu kembali lagi ke Wei Mou Sha.

“Kamu dari mana? Apakah punya keluarga?”

“Tidak.”

“Kamu tersesat?”

Wei Mou Sha diam sejenak.

Ia tahu arah. Tahu dari mana ia datang. Tapi ia tidak tahu nama tempat ini. Tidak tahu kota terdekat. Tidak tahu apa pun tentang dunia di sekitarnya.

“Tidak tersesat. Tapi tidak tahu di mana ini.”

Petani itu tertawa kecil.

“Kamu lapar nak?”

“Ya.”

“Naiklah. Aku sedang menuju ke Kota Pinghe. Tidak jauh dari sini.”

Wei Mou Sha mengamati gerobak itu, lalu orang di depannya. Tidak ada tanda qi. Tidak ada niat tersembunyi yang terlihat. Hanya seorang lelaki tua dengan sayuran dan rutinitas sederhananya.

Ia naik dan duduk di antara kubis dan wortel yang masih berbau tanah.

Kota Pinghe tidak besar. Tidak ada tanda tempat ini berhubungan dengan dunia kultivator. Tidak ada sekte. Tidak ada murid berseragam. Hanya rumah kayu dan batu, pasar kecil, dan orang-orang biasa.

Setelah sampai ia menghirup aroma makanan disekitar nya.

Aroma itu masuk ke hidungnya, tiba tiba perutnya langsung bereaksi. Petani itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Tua He, memberinya semangkuk bubur hangat sebelum mereka sampai ke pasar.

“Makan dulu ini. Kamu kelihatan seperti belum makan yang cukup lama.”

“Tiga hari,” kata Wei Mou Sha.

Pak Tua He mengangguk.

“Tiga hari juga sudah terlalu lama.”

Wei Mou Sha memakan bubur itu.

Rasanya panas, sedikit asin dan ada potongan jahe di dalamnya.

Ia tidak tahu harus menyebutnya enak atau tidak. Lidahnya tidak punya cukup pengalaman untuk menilai. Tapi perutnya berhenti menegang, dan itu sudah cukup.

Pak Tua He duduk di seberangnya. Mengawasinya dengan tenang, seperti orang yang punya banyak pertanyaan tapi tahu tidak semuanya perlu ditanyakan.

“Kamu seorang kultivator?” tanyanya akhirnya.

Wei Mou Sha tidak langsung menjawab.

Ia bisa merasakan qi, dan bisa menggunakannya. Ia tahu meridian lebih baik dari kebanyakan orang.

“Tidak tahu,” katanya.

Pak Tua He tertawa pelan. “Jawaban paling jujur yang pernah kudengar dari orang sepertimu.”

Wei Mou Sha menoleh. “Seperti apa?”

“Tadi di jalan. Kamu menghindari batu tanpa melihat.” Ia mengangguk kecil. “Itu bukan orang biasa.”

Wei Mou Sha diam sejenak.

“Aku pernah belajar,” katanya akhirnya.

Pak Tua He tidak bertanya lagi.

Wei Mou Sha tinggal di Kota Pinghe selama dua hari.

Bukan karena ia ingin menetap. Dua hari itu cukup untuk mengumpulkan informasi yang ia butuhkan.

Tentang kultivator: tingkatan, sekte, hubungan antara yang besar dan kecil. Tentang uang: keping perak, emas, cara orang menukar barang. Tentang cara orang berbicara: dari nadanya, jeda, hal-hal yang tidak diucapkan tapi tetap dimengerti.

Wei Mou Sha menyerap semuanya seperti ia mempelajari teknik bertarung.

Apa yang berguna, ia simpan. Sisanya ia abaikan.

Hari kedua, ia melihat sesuatu di alun-alun pasar. Tiba tiba ada dua murid sekte datang kesini dan berdiri di depan seorang pedagang tua. Seragam abu-abu, lambang pedang di dada. Salah satunya menendang meja dagangan.

Barang-barang itu jatuh berantakan.

“Sudah kubilang. Pajak bulan ini harus di bayar, atau dagangan kalian aku tutup.”

“Tapi Tuan, saya sudah bayar minggu lalu...”

“Itu minggu lalu. Sekarang beda.”

Orang-orang di sekitar hanya menonton.

Tidak ada yang maju.

Wei Mou Sha mengenali ekspresi itu. Bukan sekadar takut. Lebih ke sadar diri bahwa mereka tidak punya apa pun untuk melawan.

Ia mengamati dari jauh, sementara cangkir teh masih di tangannya.

Ia tidak bergerak. Bukan karena ia memilih untuk tidak peduli. Ia memang tidak merasakan apa yang orang lain rasakan dalam situasi seperti ini.

Pedagang itu akhirnya menyerah. Tangannya gemetar saat menyerahkan uang.

Dua murid itu pergi sambil tertawa.

Wei Mou Sha menghabiskan tehnya, lalu menaruh cangkir teh itu dengan tenang.

Pak Tua He menemukan Wei Mou Sha sore itu. Ia sedang duduk di tangga sebuah toko yang sudah tutup. Matanya tertuju ke deretan papan nama di seberang jalan.

Ia membaca satu per satu.

Cara tercepat untuk menyesuaikan diri dengan tulisan di wilayah ini.

“Besok kamu akan pergi?” tanya Pak Tua He, sambil duduk di sampingnya.

“Ya.”

“Ke mana?”

“Barat.”

Pak Tua He mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh.

“Di barat ada Kota Wanhua. Lima hari jalan kaki. Tiga hari kalau kamu bisa terbang.”

Ia melirik ke arah Wei Mou Sha.

“Kamu bisa terbang?”

“Belum.”

“Kota Wanhua itu besar. Segala macam orang ada di sana. Termasuk yang berbahaya.”

Pak Tua He berhenti sejenak, menatapnya.

“Kamu tahu cara menjaga diri?”

“Ya.”

“Kamu yakin?”

Wei Mou Sha menatap balik.

“Dua belas penjaga. Satu malam. Sendirian.”

Pak Tua He diam cukup lama. Ia mengerti maksudnya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kamu memang bisa menjaga diri.”

***

Malam sebelum pergi, Wei Mou Sha berbaring di atas jerami di gudang belakang toko Pak Tua He.

Tempat itu ditawarkan tanpa biaya. Ia menerima karena praktis.

Langit-langitnya terbuat dari kayu. Bau jerami dan debu memenuhi udara. Berbeda dari batu abu-abu yang selama ini ia lihat.

Ia menatap ke atas dalam gelap.

Mendengarkan suara kota kecil yang perlahan mereda. Pedagang menutup lapak. Anak-anak dipanggil pulang. Seekor anjing menggonggong sekali, lalu diam.

Suara-suara yang asing.

Ia mencoba memahaminya. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang membuat segel di dadanya berdenyut pelan.

Bukan rasa sakit.

Lebih seperti pertanyaan tanpa bentuk.

Wei Mou Sha menutup matanya.

Empat belas tahun.

Dan ini baru hari ketiga di luar.

Dunia jauh lebih luas dari apa yang bisa diajarkan buku.

Di barat sana, di Kota Wanhua sinyal qi itu masih terasa samar dan stabil. Seperti penunjuk arah yang tidak pernah bergeser.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya.

Di Kota Pinghe yang mulai sunyi, Pak Tua He duduk di beranda rumahnya.

Tatapannya mengarah ke gudang belakang.

Wajahnya tenang, tapi pikirannya tidak.

Ia sudah cukup tua untuk mengenali beban yang terlalu berat untuk usia seseorang.

Dan cukup tahu bahwa beban seperti itu tidak bisa diambil alih.

Hanya bisa dijalani.

Ia berharap anak itu selamat. Lalu ia masuk ke dalam. Karena berharap adalah satu-satunya hal yang tersisa.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!