Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Pesan Terakhir
Jauh dari keramaian desa, di sebuah rumah kayu tua yang nyaris tersembunyi di antara pepohonan liar, Ye Chen duduk berhadapan dengan seorang pria berambut perak.
Rumah itu tampak rapuh dari luar, seolah bisa roboh kapan saja jika diterpa angin kencang. Namun begitu masuk ke dalam, suasananya terasa sangat berbeda.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Seperti tempat itu menyimpan banyak rahasia lama yang belum sempat dikubur.
Di tengah ruangan, pria berambut perak itu duduk sambil mengasah pedang pendeknya dengan gerakan lambat dan teratur. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam seperti bilah yang sedang ia poles.
Dialah Ling.
Salah satu anggota dari kelompok Tujuh Pendekar Pedang Legendaris.
“Sudah lama sekali, Ye Chen,” ucap Ling tanpa mengalihkan pandangan dari pedangnya. “Terakhir kali kita bertemu, kau masih dipenuhi ambisi untuk menyatukan dunia.”
Ye Chen duduk diam dengan ekspresi datar.
“Waktu mengubah banyak hal,” jawabnya pendek.
Ling mendengus pelan.
“Atau mungkin dunia yang mengubahmu.”
Ye Chen tidak membantah.
Karena di lubuk hatinya, ia tahu ucapan itu tidak sepenuhnya salah.
Ia tidak lagi datang ke tempat ini sebagai pria yang mengejar kejayaan.
Ia datang sebagai seseorang yang sedang berusaha melindungi sisa harapan terakhir dari masa lalu.
“Aku datang bukan untuk mengenang masa lalu,” kata Ye Chen akhirnya. “Aku datang untuk memberitahumu sesuatu yang penting.”
Ling akhirnya berhenti mengasah pedangnya dan mengangkat pandangannya.
“Apa itu?”
“Moonlight Shadow Guild sudah mulai bergerak.”
Kalimat itu langsung mengubah suasana di dalam ruangan.
Wajah Ling yang semula tenang menjadi sedikit lebih serius.
“Mereka memburu siapa pun yang menunjukkan potensi kekuatan petir,” lanjut Ye Chen. “Dan turnamen dua bulan lagi akan menjadi tempat yang sempurna bagi mereka untuk berburu.”
Ling terdiam sejenak.
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanyanya dingin. “Kau tahu aku sudah lama keluar dari urusan dunia.”
Ye Chen menatapnya lurus.
“Aku ingin kau melatih seorang anak.”
Ling mengangkat alis tipis.
“Anak?”
“Namanya Cang Li. Dia tinggal di Desa Jianxin.”
Ling menatap Ye Chen selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pendek.
Bukan tawa ramah.
Lebih seperti ejekan halus.
“Aku ini pendekar pedang, bukan pengasuh anak kecil,” katanya santai. “Kalau kau mencari guru dasar, kau salah tempat.”
Namun Ye Chen tidak bereaksi.
Ia hanya mengucapkan satu kalimat dengan suara rendah.
“Dia adalah putra Kaisar Dinasti Leiting yang tewas enam belas tahun lalu.”
Pedang di tangan Ling langsung berhenti bergerak.
Ruangan itu seolah membeku dalam sekejap.
Tatapan Ling berubah tajam.
Untuk pertama kalinya sejak awal pertemuan, ekspresinya benar-benar terguncang.
“Maksudmu...” suaranya merendah, “bayi yang dibawa Lu Feng malam itu?”
Ye Chen mengangguk perlahan.
“Dia masih hidup.”
Ling menatapnya tanpa berkedip.
Dan untuk beberapa saat, tidak ada suara lain di ruangan itu selain hembusan angin dari celah dinding kayu.
Ye Chen lalu menceritakan semuanya.
Tentang malam berdarah di Dinasti Leiting.
Tentang kematian kaisar dan permaisuri.
Tentang pengorbanan Lu Feng.
Tentang bayi kecil yang dibawanya kabur di tengah perang.
Tentang segel kekuatan yang dipasang untuk menyembunyikan aura Petir Kuning.
Dan tentang tanggung jawab yang selama ini ia pikul seorang diri.
“Aku tidak bisa menjaganya lebih lama,” ucap Ye Chen pada akhirnya. “Aku harus pergi ke Benua Jue Wang untuk memata-matai pergerakan Dinasti Cangmo. Jika aku tetap berada di dekatnya, justru aku akan membawa bahaya kepadanya.”
Ling menatap meja di antara mereka.
Wajahnya tampak rumit.
“Aku tidak datang untuk memerintahmu,” lanjut Ye Chen. “Aku datang untuk memohon.”
Kalimat itu membuat Ling perlahan mengangkat kepalanya.
Karena ia tahu betul—
Ye Chen bukan tipe orang yang mudah memohon kepada siapa pun.
“Latih dia,” kata Ye Chen. “Ajari dia cara bertahan hidup. Ajari dia cara tetap hidup ketika dunia berusaha membunuhnya.”
Suasana menjadi hening sangat lama.
Ling menutup matanya sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam hati.
Lalu akhirnya, ia menghela napas panjang.
Pedang pendek itu ia sarungkan kembali ke pinggangnya.
“Baiklah.”
Ye Chen menatapnya.
Ling membuka mata dan menatap balik dengan serius.
“Demi persahabatan kita,” katanya pelan, “dan demi hutang lama pada Dinasti Leiting... aku akan melatih anak itu.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di dada Ye Chen terasa sedikit berkurang.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Ling mendengus.
“Jangan berterima kasih dulu. Kalau anak itu lemah, aku sendiri yang akan melemparkannya dari tebing saat latihan.”
Ye Chen justru tersenyum tipis.
Sangat tipis.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia percaya pilihannya tidak salah.
Malam harinya, angin berembus dingin di atas atap rumah Ye Ruoxi.
Langit malam tampak cerah, dipenuhi bintang-bintang yang berkilau samar di atas Desa Jianxin yang mulai terlelap.
Di tempat yang tinggi itu, Ye Chen berdiri diam dengan jubah hitamnya yang berkibar pelan diterpa angin.
Di sampingnya, Ye Ruoxi berdiri dengan wajah yang tidak tenang.
Ia sudah tahu.
Tatapan Ye Chen malam ini adalah tatapan seseorang yang sedang bersiap pergi jauh.
“Aku akan kembali ke Benua Jue Wang,” ucap Ye Chen akhirnya, memecah kesunyian malam.
Ye Ruoxi langsung menoleh.
“Kau akan pergi lagi?”
Ye Chen mengangguk pelan.
“Kali ini aku akan masuk lebih dalam ke wilayah Dinasti Cangmo,” katanya. “Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya mereka rencanakan.”
Ruoxi menatap adiknya dalam diam.
Ia sudah terlalu mengenal Ye Chen.
Jika nada suaranya sudah seperti itu, maka keputusan itu hampir mustahil diubah.
Namun tetap saja, rasa takut di dalam hatinya tidak bisa ia tahan.
“Ye Chen...” suaranya melemah, “kau tahu sendiri tempat itu bukan wilayah biasa.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau masuk terlalu jauh...” Ruoxi menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang mulai naik. “Kau mungkin tidak akan bisa kembali.”
Ye Chen tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap langit sejenak sebelum akhirnya berkata dengan sangat tenang,
“Aku tahu.”
Jawaban itu justru membuat dada Ye Ruoxi terasa lebih sesak.
“Jangan bicara seperti itu,” katanya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Jangan seolah-olah kau sedang meninggalkan pesan terakhir.”
Ye Chen tersenyum tipis.
Senyum yang sangat jarang muncul di wajahnya.
“Aku hanya ingin kau tahu kemungkinan terburuknya.”
Ruoxi menunduk, berusaha menahan air matanya.
Beberapa saat kemudian, Ye Chen kembali berbicara.
“Cang Li akan mengikuti turnamen dua bulan lagi.”
Ruoxi mengangkat wajahnya lagi.
“Aku sudah mengatur seseorang untuk melatihnya,” lanjut Ye Chen. “Namanya Ling. Dia tinggal di Desa Sura, tidak terlalu jauh dari sini.”
“Ling...?” ulang Ruoxi pelan.
“Dia salah satu rekanku dari masa lalu. Jika Cang Li ingin bertahan di turnamen itu... dan jika dia ingin tetap hidup setelahnya, maka dia harus dilatih oleh seseorang seperti Ling.”
Ruoxi terdiam.
Ye Chen lalu mengalihkan pandangannya ke jendela kamar Cang Li yang masih menyala di bawah sana.
Lampu kecil di dalam kamar itu membuat siluet samar anak itu terlihat dari balik tirai.
Tatapan Ye Chen sedikit melunak.
Sangat sedikit.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa di balik semua ketegasannya, ia tetap menyimpan rasa sayang yang begitu dalam.
“Sampaikan padanya,” ucap Ye Chen pelan, “bahwa jika dia ingin menjadi lebih kuat... dia harus pergi menemui Ling.”
Ruoxi menatap profil wajah adiknya.
“Kau tidak ingin mengatakannya sendiri padanya?”
Ye Chen terdiam.
Lama.
Lalu ia menjawab dengan suara rendah,
“Kalau aku menemuinya sekarang... aku mungkin tidak akan bisa pergi.”
Kalimat itu membuat hati Ruoxi bergetar.
Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa melihat beban yang selama ini dipendam Ye Chen seorang diri.
Ia bukan tidak peduli.
Ia hanya terlalu takut jika kedekatannya justru akan membawa malapetaka bagi anak yang selama ini ia lindungi.
Ye Chen perlahan berdiri lebih tegak.
Jubah hitamnya bergerak pelan ditiup angin malam.
“Jaga dirimu baik-baik, Kak,” katanya pelan.
Ruoxi menatapnya dengan mata yang semakin basah.
Ye Chen menoleh sekali lagi ke arah kamar Cang Li, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti bisikan,
“Sampaikan salamku untuknya... suatu hari nanti.”
Sebelum Ruoxi sempat mengatakan apa pun, tubuh Ye Chen sudah melompat turun dari atap.
Dalam sekejap, sosoknya menghilang ke dalam kegelapan malam.
Hanya suara angin yang tersisa.
Ye Ruoxi berdiri diam di tempatnya, menatap ke arah hilangnya bayangan adiknya.
Dadanya terasa sesak.
Karena ia tahu—
perjalanan kali ini bukan sekadar perjalanan biasa.
Ye Chen sedang melangkah menuju tempat yang mungkin tidak akan mengizinkannya pulang.
Dan di saat yang sama, tanpa disadari siapa pun, roda takdir juga mulai bergerak semakin cepat menuju Cang Li.
Turnamen.
Musuh tersembunyi.
Warisan yang terkubur.
Semua itu perlahan mulai mendekat ke arahnya.
Dan dua bulan dari sekarang...
hidup Cang Li mungkin tidak akan pernah sama lagi.
End Chapter 18