INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kediaman keluarga Suradinata nampak berdiri megah.
Di balik pagar tinggi dan penjagaan ketat, rumah itu nampak terlihat seperti benteng daripada hunian biasa.
Dinding marmer, dengan kamera di setiap sudut, dan penjaga memegang senapan di tangannya.
Di lantai dua, dengan kamar yang luas dinding berwarna abu-abu gelap dan jendela besar menghadap taman belakang.
Nayla Malika duduk di kursi kayu dengan bantalan berwarna sage, di depannya ada monitor untuk memantau perkembangan bisnis.
Hari ini Rania mengenakan atasan warna biru magenta lengan pendek dengan kerah, celana hitam pendek di atas lutut memperlihatkan perban yang telah melilit di betisnya.
Lengan kirinya juga di balut perban putih bersih yang baru di ganti, dan untuk jahitan besok sudah bisa di lepas.
Rambutnya tergerai bebas, lurus panjang sampai bahu dengan ikal di bawahnya.
Laptop dan beberapa layar monitor tambahan menyala menampilkan grafik transaksi, jalur pengiriman, dan laporan keuangan.
Di belakangnya Yuka Anandi berdiri perempuan berambut lurus sampai bahu mengenakan kemeja putih, dan rok warna hitam.
Ekspresinya serius menatap layar dan berusaha mengikuti ritme kerja.
Dialah yang kini mengambil alih sebagian besar operasional bisnis selama Nayla sedang pemulihan.
Sementara di sebelahnya, Gani berdiri santai, wajahnya khas Austronesia, hidung bulat dan bibir penuh.
Gani mengenakan kaos lengan pendek biru tua dan celana panjang warna hitam, lengan kanan dan kirinya sebagian dada di penuhi tato hitam tebal, dengan pola naga dan tengkorak.
"Gila, Kak...kok bisa sampai luka lu. Anjirrlah kagak jelas tuh aparat," ucap Gani.
"Ya kalo mau duit, tinggal ngomong sih, pasti di kasih. Tapi dendam ama Pedro lu yang kena," lanjutnya.
Yuka tak menatap Gani, matanya fokus pada layar.
"Tiga jalur aman, yang Bali masih beku. Terus di UEA ama ke Jepang bekuin juga perintah Boss," ucap Yuka.
"Tahu ah Gan, emang aparat sialan gua di tembakin coo!" dengus Nayla.
Yuka hanya menggelengkan kepala, dirinya juga ingin menceplos---Nayla lu kok bego, bisa-bisa kebocoran kagak di tangani.
Karena Yuka tak mau cari ribut, gadis ini lebih memilih diam.
Nada bicara Gani dan Nayla santai selayaknya kakak dan adik.
Gani terkekeh pelan, sambil menepuk bahu Nayla.
"Makannya Kak, lain kali kalo mau bisnis pake kawalan lengkap. Sok-sok main solo, game over 'kan lu," ledek Gani.
Nayla melirik tajam ke arah Gani.
"Lu kira gua hobi di tembak? meski nyawa gua sembilan, gua ogah di tembak."
"Sakit," lanjutnya.
Gani tertawa dengan keras, sementara Yuka menahan tawa.
"Sok paling bisa sih lu, Kak."
Gani tertawa lalu tangannya masuk ke dalam saku, dan kembali memantau monitor.
"Udah jangan ribut fokus dulu kita lagi panas, nih presiden baru bener-bener mau sikat habis mafia," ujar Yuka.
Nayla memutar kursinya sedikit, menyilangkan kakinya dengan hati-hati karena pegal.
Perban di betisnya masih terasa nyeri.
"Ya gua mau aja bikin orang yang nindas gua dulu si Fidia tuh----" ucapnya hendak melanjutkan ekspansi dan rencana baru.
Kalimat mendadak terhenti.
Suara telivisi di dinding otomatis menyala menampilkan berita, dengan logo CNN muncul di sudut kiri.
Di susul siaran lainnya BBC dan portal antara yang menampilkan berita serupa.
Suara wartawan terdengar tegas dalam menampilkan berita.
"Aparat gabungan berhasil meringkus jaringan mafia internasional yang hendak menyelundupkan narkoba ke Filipina. Kelompok tersebut diduga bagian dari sindikat Jekbla yang dipimpin oleh Hutajaya."
Gani langsung menegakkan badan dan menelan salivanya.
"Lah ini kan geng Jekbla. Pimpinan Hutajaya. Kok bisa ketangkep?” ucap Gani dengan kaget.
Yuka meraih remote televisi, mengecilkan volume lalu mendekat ke layar.
Di telivisi menampilkan beberapa pria di borgol, wajahnya di sensor dengan barang bukti Narkoba berupa ganja dan sabu di meja konferensi pers.
Nayla menatap layar tanpa berkedip, Hutajaya bukan pemain kecil---dan jaringannya sudah sampai Italia.
Kenapa bisa tertangkap.
Jekbla adalah salah satu jaringan paling rapi dan disiplin. Mereka jarang ceroboh.
“Ini nggak masuk akal,” gumam Yuka.
“Jalur Filipina itu biasanya paling aman di Asia tenggara, kecuali kalo mau masuk Malaysia.”
Nayla berdiri menatap layar televisi di dinding, meninggalkan monitornya.
Gani menggaruk kepalanya meski tak gatal.
“Apa jangan-jangan aparat lagi bersih-bersih besar?” tanya Gani dengan menggaruk kepalanya.
"Sejak ke pilihnya presiden baru, anjirlah. Makin susah bisnis kita," gerutu Nayla.
Nayla tak langsung menjawab. Matanya menyipit tipis, menganalisis.
Beberapa hari lalu ia juga di sergap oleh sejumlah aparat, sekarang jekbla tumbang.
"Bukan kebetulan," ucap Nayla pelan.
"Maksud lu?" tanya Yuka menoleh.
Nayla menatap Yuka dan mendekat, dirinya mengatakan ada operasi besar dari pemerintah.
“Mereka lagi nyapu jaringan satu-satu.”
“Kalau Jekbla aja bisa tumbang, berarti kita juga masuk radar, anjirrlah." Gani berdiri memasukan kedua tangannya ke kantong celana.
Gani menghela napas panjang.
Televisi masih menampilkan konferensi pers aparat.
"Kami tidak akan berhenti sampai semua jaringan sindikat internasional ini diberantas." Nayla meraih remote dan mematikan televisi.
"Wah gawat sih, gua harus stop ke Filipina dan lebih fokus ke Osenia sih," ucap Yuka.
Nayla memejamkan mata tangannya terlipat di depan dada, lalu memejamkan matanya.
"Hutajaya bukan orang bodoh, kalo dia ketangkep berarti ada orang dalem yang khianat," kata Nayla.
"Kaya gua kemarin hampir, game over," lanjutnya.
Yuka memejamkan matanya, dirinya kali ini harus hati-hati dan jangan sampai ke bocoran seperti Nayla.
Nayla terkenal cerdas, tapi bagaimana bisa Aparat menciduknya.
Pikiran Nayla kembali berputar saat subuh hari itu, kejar-kejaran dan baku tembak tak terelakan.
Dengan penangkapan geng jekbla, apakah ini hanya operasi hukum biasa atau pemerintah dan presiden yang baru sedang mengatur sebuah catur permainan baru.
Nayla duduk kembali di kursinya, tubuhnya menjadi sedikit kaku ada rasa khawatir di dadanya.
Entah mengapa di tengah kekacauan ini, bayangan wajah pria berbaju koko putih dengan peci hitam muncul lagi.
Berita tentang mafia yang di tangkap, sindikat yang runtuh, aparat yang makin agresif, semuanya terasa seperti tanda bahwa dunia tak sekuat dulu.
Nayla rela meninggalkan orangtuanya hanya demi menjadi bagian geng Keihn, dan untuk balas dendam.
Sekaligus meraih kekayaan, teguran dan nasihat sang orangtuanya tentang agama, haram dan dosa. Dianggap Nayla hanya angin lalu.
Namun semenjak adzan dengan darah tempo hari, pikiran Nayla justru memikirkan pria agamis yang dirinya tak tahu namanya.
Gani menatap Nayla yang senyum sendiri belakangan ini.
*