Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya mahkota dan persahabatan
Suasana di SMA Kencana pagi itu terasa mencekam bagi Cassia. Berita putusnya dia dengan Zidane sudah menyebar secepat wabah. Cassia berjalan menyusuri koridor dengan kepala tegak, namun tangannya mencengkeram tali tasnya dengan sangat kuat. Wig hitam panjang yang dipakainya terasa sangat berat, seolah setiap helai rambut palsu itu adalah duri yang menusuk kulit kepalanya.
Saat ia sampai di depan kelas, ia melihat pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar. Di sana, di depan loker, Zidane tengah tertawa sambil merangkul pinggang seorang gadis yang sangat Cassia kenal.
Elara Diah Adiratna.
Gadis yang selama ini ia anggap sebagai tempat berbagi rahasia, gadis yang selalu memuji keindahan rambutnya, kini sedang menyandarkan kepala di bahu pria yang menghancurkan hati Cassia semalam.
"Oh, lihat siapa yang datang," sindir Elara saat melihat kehadiran Cassia. Ia tidak tampak merasa bersalah sedikit pun. "Tuan Putri yang malang sudah datang."
"Elara... kenapa?" suara Cassia bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang memuncak di ubun-ubun.
"Kenapa?" Elara tertawa sinis, melangkah mendekat ke arah Cassia. "Karena aku bosan melihatmu dipuja semua orang hanya karena kamu cantik dan punya rambut panjang yang indah. Kamu itu membosankan, Cassie. Terlalu polos, terlalu 'manis'. Zidane butuh seseorang yang berani, seseorang yang punya nyali, bukan manekin hidup sepertimu."
Zidane hanya diam, menatap Cassia dengan pandangan meremehkan. "Dengar, Cassie. Sudah saatnya kamu sadar kalau kita sudah berakhir. Dan jangan ganggu Elara, karena dia jauh lebih berharga daripada kamu sekarang."
Cassia merasakan sesuatu di dalam dirinya patah. Namun, di saat yang sama, rasa takutnya menguap. Sebelum ia sempat membalas, Talishia dan Zelene datang berlari, langsung berdiri di depan Cassia seolah menjadi perisai.
"Tutup mulutmu, Elara!" teriak Talishia. "Kamu benar-benar sampah! Menusuk sahabat sendiri dari belakang demi cowok berengsek seperti Zidane?"
"Sahabat?" Elara mencibir. "Aku tidak pernah merasa menjadi sahabat gadis lemah ini."
"Sudah cukup," sela Zelene dengan nada dingin yang mematikan. "Ayo pergi dari sini, Cassie. Tempat ini berbau sampah."
Mereka bertiga naik ke atap sekolah, tempat paling sunyi di SMA Kencana. Begitu pintu atap tertutup, Cassia luruh ke lantai. Bahunya berguncang. Talishia dan Zelene segera memeluknya.
"Cassie, jangan menangis untuk mereka. Mereka nggak pantas," bisik Talishia emosional.
"Aku nggak menangis karena mereka," ucap Cassia tiba-tiba. Ia mendongak, matanya yang tadi berkaca-kaca kini berubah menjadi tajam dan kering. "Aku menangis karena aku terlalu bodoh sudah mempercayai ular seperti dia."
Dengan gerakan yang mengejutkan kedua sahabatnya, Cassia meraih bagian depan wignya dan menariknya hingga lepas.
Talishia dan Zelene terkesiap, mundur satu langkah dengan mata membelalak. Di depan mereka, Cassia tidak lagi memiliki rambut panjang yang indah. Rambut aslinya kini pendek di bawah telinga, dipotong dengan gaya yang sangat kasar dan berantakan—sebuah pernyataan perang terhadap masa lalunya.
"Cassie... rambutmu..." Zelene menutup mulut dengan tangannya.
"Ini identitasku yang sebenarnya mulai sekarang," ucap Cassia sambil melempar wig mahal itu ke sudut atap yang kotor. "Aku bukan lagi Cassia si 'Bunga Sekolah'. Malam ini, di lintasan, aku adalah Phantom. Dan aku tidak akan membiarkan Elara atau Zidane menginjak-injakku lagi."
Cassia kemudian menceritakan semuanya—tentang motor hitamnya, tentang balapan semalam di kawasan industri, dan tentang bagaimana ia menang melawan geng Vipers.
"Aku butuh kalian," Cassia menatap Talishia dan Zelene bergantian. "Bukan untuk menghiburku, tapi untuk bertarung bersamaku. Aku ingin membuat mereka menyesal karena pernah menganggap kita lemah."
Zelene, yang merupakan otak dari grup itu, mulai tersenyum tipis. "Elara pikir dia punya segalanya karena dia dekat dengan anak-anak Vipers. Dia tidak tahu kalau dia sedang berurusan dengan Oracle."
Talishia mengepalkan tinjunya. "Dan dia tidak tahu kalau dia akan segera berhadapan dengan Vesta di lintasan. Aku ikut, Cassie. Ajari aku cara membawa motor itu sepertimu."
Di bawah langit yang mendung, di atas atap sekolah itu, persahabatan mereka yang tulus melahirkan sesuatu yang baru. Sebuah aliansi yang akan segera menggetarkan jalanan kota. Tanpa mereka sadari, dari balik celah pintu atap yang sedikit terbuka, Arsheq Zhafran Galaksi mendengarkan setiap kata dengan senyuman miring yang misterius.
"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Little Valkyries," gumam Galaksi sebelum berbalik pergi dengan langkah yang ringan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...