NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Pukulan Pertama

Huang segera menangkupkan kedua tangannya ke arah Tetua Mo. "Terima kasih, Tetua, karena bersedia..."

Kalimatnya belum selesai ketika sebuah suara tiba-tiba menggema dari luar aula.

"Tunggu!"

Langkah kaki terdengar cepat. Seorang pria muda berjubah murid dalam memasuki aula bersama dua orang rekannya. Wajahnya tampan, tetapi sorot matanya tajam dan dingin. Rambut panjangnya diikat tinggi dengan giok hijau di bagian kepala. Aura spiritual di tubuhnya jauh lebih kuat dibanding Luo Mei maupun Lei Shan.

Dhu Yan. Ranah Fondasi Tahap Kesempurnaan Agung.

Dhu Yan berjalan tenang menuju tengah aula, lalu memberi hormat kepada para tetua.

"Murid memberi salam kepada para Tetua."

Tetua Wushuang hanya mengangguk tipis.

"Apa keperluanmu datang kemari?"

Dhu Yan melirik Huang sekilas sebelum tersenyum samar. "Murid hanya merasa keputusan ini terlalu tergesa-gesa."

Tatapan seluruh aula langsung berubah.

Dhu Yan melanjutkan dengan suara tenang.

"Seorang murid luar yang baru saja masuk sekte tidak layak langsung mendapatkan bimbingan pribadi dari seorang tetua. Minimal dia harus menunjukkan kemampuan dan kesetiaannya selama beberapa bulan."

Luo Mei yang berdiri di sisi aula langsung berbicara dingin. "Dhu Yan, jangan keterlaluan. Jangan jadi pengganggu di sini."

Dhu Yan terkekeh pelan. "Luo Mei memang selalu tajam."

Dia kemudian melirik ke arah Tetua Wushuang. "Namun apa yang saya katakan memang benar. Aturan sekte juga mengatakan demikian."

Lei Shan menyilangkan tangan sambil mendengus.

"Namun aturan sekte juga mengatakan bahwa seseorang yang memberikan kontribusi besar pada sekte berhak mendapatkan perlakuan khusus." Tatapannya berubah tajam. "Dan Huang mendapatkan itu."

Dhu Yan tertawa kecil. "Hanya karena seekor beruang biru?"

Dia lalu memandang Huang dari atas ke bawah dengan sorot meremehkan. "Lagipula yang mengalahkan makhluk itu kalian berdua, bukan bocah ini."

Huang tetap diam. Dia bisa merasakan tekanan samar dari pria bernama Dhu Yan itu. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup membuat nalurinya waspada.

Tetua Wushuang akhirnya membuka suara dengan nada berat.

"Cukup."

Aura spiritualnya menyebar tipis di aula, membuat suasana langsung menegang.

"Ini aula para tetua. Jangan berdebat tanpa akhir."

Dhu Yan segera menangkupkan tangan.

"Murid hanya menyampaikan pendapat."

Tetua Mo yang sejak tadi duduk sambil meneguk arak mendadak berdiri. Dia berjalan sempoyongan menuju Huang lalu langsung menarik lengan bocah itu.

"Kalian terlalu merepotkan," gerutunya sambil melambaikan tangan malas. "Itulah mengapa aku malas bertemu orang-orang sekte ini."

Tidak ada yang berani menghentikannya. Para tetua hanya memasang wajah muram. Dhu Yan sendiri menyipitkan mata, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Sementara Lei Shan dan Luo Mei malah terkekeh pelan melihat tingkah Tetua Mo.

Huang bahkan belum sempat bereaksi ketika tubuhnya sudah diseret keluar aula.

Tetua Mo membawa Huang melintasi beberapa jalur batu di Sekte Yunwu. Semakin jauh mereka berjalan, semakin sunyi daerah itu. Bangunan-bangunan megah perlahan menghilang, digantikan jalan kecil penuh rumput liar dan pepohonan tua.

Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah kediaman tua di dekat tebing batu. Tempat itu sunyi, sepi, dan... kotor. Daun-daun kering menumpuk di halaman. Genting atap beberapa bagian retak. Bahkan kendi arak kosong berserakan di sekitar tangga batu.

Huang sedikit tertegun.

Tetua Mo masuk tanpa peduli lalu menjatuhkan tubuhnya di dipan kayu tua di ruang depan.

Huang memandang sekeliling beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut hati-hati.

"Tetua... kalau diizinkan, saya akan membersihkan tempat ini."

Tetua Mo meliriknya sekilas lalu menggeleng.

"Kau belum punya kemampuan untuk itu."

Huang terdiam. Dia tidak mengerti maksud perkataan itu. Namun sebelum sempat bertanya...

WHUSSH!

Tubuh Tetua Mo tiba-tiba menghilang dari tempatnya.

Mata Huang membelalak.

BUGH!

Sebuah pukulan keras menghantam pipinya. Tubuh Huang terpental hingga menabrak tiang kayu. Bahkan sebelum rasa sakitnya sepenuhnya terasa, Tetua Mo sudah muncul lagi di depannya.

DUAGH!

Tumit Tetua Mo menghantam perut Huang dengan brutal.

"UGHK!"

Huang langsung memuntahkan air liur bercampur darah. Tubuhnya terlipat karena sakit.

Namun serangan itu belum berhenti. Tetua Mo menendang dada Huang hingga tubuh bocah itu meluncur menghantam lantai batu.

BRAK!

Belum sempat Huang bangkit, pukulan lain kembali datang. Tetua Mo menghajarnya tanpa memberi kesempatan bernapas.

Pukulan ke wajah.

Tendangan ke bahu.

Sikut ke rusuk.

Tubuh Huang berguling di lantai seperti kain rusak. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Tulang-tulangnya terasa nyeri luar biasa. Namun Tetua Mo tidak berhenti.

BUGH!

Pukulan lain menghantam rahang Huang sampai pandangannya bergetar.

"UGH...!"

Huang bahkan tidak mampu mengangkat tangan untuk melindungi diri. Perbedaan kekuatan mereka terlalu besar.

Tetua Mo akhirnya berhenti setelah tubuh Huang hampir tidak mampu bergerak lagi. Darah menetes dari mulut Huang ke lantai batu tua. Napasnya berat dan kacau. Setiap tarikan udara terasa seperti pisau menusuk dadanya.

Tetua Mo berdiri membelakanginya sambil memandang ke arah tebing luar kediaman. Wajah tuanya tampak melankolis.

"Begitulah Dhu Yan akan memperlakukanmu jika memiliki kesempatan."

Huang sedikit tertegun mendengar itu.

Tetua Mo menghela napas panjang lalu meneguk araknya lagi.

"Bedanya... dia tidak akan menahan diri."

Suasana menjadi sunyi beberapa saat. Huang perlahan berusaha duduk meskipun tubuhnya terasa remuk.

Tetua Mo masih memandang tebing batu.

"Bocah itu memiliki banyak koneksi." Suaranya rendah dan berat. "Latar belakangnya kuat. Bahkan para tetua tertentu mendukungnya."

"Kalau dia ingin menyiksamu..." Tetua Mo melanjutkan sambil tertawa pahit. "Maka semua yang baru saja kulakukan padamu hanyalah permainan kecil."

Huang mengusap darah di bibirnya perlahan.

Tetua Mo akhirnya menoleh. "Dia berada di Ranah Fondasi Tahap Kesempurnaan Agung. Sedangkan kau..."

Tatapannya menyapu tubuh Huang. "Baru Ranah Fana Tahap Akhir. Perbedaan itu terlalu jauh."

Huang menunduk diam.

Dia akhirnya mulai memahami sesuatu. Dunia kultivasi memang kejam. Tidak cukup hanya hidup hati-hati. Tidak cukup hanya bersikap baik. Kalau lemah... maka seseorang bahkan tidak perlu alasan untuk menginjakmu.

Tetua Mo berjalan mendekat lalu melemparkan sebuah botol pil kecil ke arah Huang.

"Minum."

Huang menangkap botol itu perlahan.

"Terima kasih, Tetua."

Dia membuka botol lalu menelan satu pil di dalamnya. Rasa hangat langsung menyebar ke tubuhnya. Luka-luka di wajah dan dadanya mulai terasa lebih ringan.

Tetua Mo duduk di tangga kayu sambil menatap langit senja.

"Kau tahu kenapa aku memukulmu?"

Huang menggeleng pelan.

Tetua Mo tertawa kecil. "Karena aku ingin kau mengingat rasa sakit ini. Kalau nanti seseorang mencoba menyiksamu... tubuhmu tidak akan terlalu terkejut."

Huang terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya pelan.

"Tetua... apakah semua tempat di dunia kultivasi seperti ini?"

Tetua Mo tidak langsung menjawab. Dia meneguk araknya perlahan sebelum akhirnya membuka mulut.

"Lebih buruk."

Angin pagi mulai bergerak melewati halaman tua kediaman itu. Daun-daun kering berdesir pelan di tanah batu.

Tetua Mo memandang Huang dengan tatapan berat.

"Kultivasi bukan jalan mulia seperti cerita para pendongeng. Ini jalan penuh darah. Penuh tipu muslihat. Dan penuh orang-orang yang akan tersenyum sambil menusukmu dari belakang."

Huang mengepalkan tangannya perlahan. Pikirannya tanpa sadar kembali pada dua kuburan di bawah pohon beringin. Pada darah di lantai rumah kecilnya. Pada leher ayah dan ibunya yang terbelah rapi.

Tetua Mo memperhatikan perubahan tatapan Huang lalu menyipitkan mata sedikit.

"Kau punya dendam?"

Huang terdiam sesaat sebelum menjawab pelan. "Saya ingin menemukan orang yang membunuh ayah dan ibu saya."

Tetua Mo tidak tertawa. Tidak juga menghibur. Dia hanya mengangguk kecil seolah sudah menduga.

"Kalau begitu..." katanya pelan. "Kau lebih baik belajar cepat sebelum dendam membunuhmu lebih dulu."

Huang perlahan menangkupkan kedua tangannya meski tubuhnya masih gemetar kesakitan.

"Murid akan mengingat ajaran Tetua."

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!