NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Bayang Bayang yang retak

Di dalam ruangan yang hening, setelah tabib kekaisaran selesai mengobati luka-luka di tubuh kecil itu dan berpamitan keluar, hanya tersisa Raze dan Rubellite. Raze masih berusaha mengatur napasnya; dadanya sesak dan air matanya masih tersisa di sudut mata setelah mendengar betapa pahitnya masa lalu yang diceritakan anak sekecil itu.

Raze menunduk secara perlahan,dan mendekati Rubellite yang baru saja menceritakan masa kelamnya, Raze dengan nada lembut dan penuh rasa hangat bertanya.

"Nona... maafkan atas kelancangan hamba yang berani meminta hal ini. Namun, jika Anda berkenan, bisakah Anda memberitahukan nama Anda? Hamba ingin mengenal Anda lebih dari sekadar tugas, agar hamba dapat menjaga Anda dengan sepenuh hati."

Mendengar permintaan tulus itu, gadis kecil berusia delapan tahun tersebut melangkah perlahan ke arah Raze. Meski langkahnya nampak hati-hati, ia tetap menunjukkan keanggunan seorang bangsawan muda. Ia berhenti tepat di hadapan Raze, lalu menatapnya dengan binar mata yang polos namun dalam, dihiasi senyum tipis yang tulus.

Dengan nada bicara yang begitu lembut, ia berkata, "Namaku adalah Rubellite. Nama yang cantik, bukan? Kuharap mulai sekarang, kita bisa terus bersama-sama sampai akhir nanti, Raze."

Raze tertegun sejenak, menatap sosok kecil di hadapannya yang begitu tegar namun tetap memancarkan kelembutan seorang anak berusia delapan tahun. Ia perlahan berlutut dengan satu kaki agar tinggi mereka sejajar, sebuah tanda penghormatan sekaligus upaya untuk memberikan rasa nyaman kepada sang nona kecil.

"Tentu saja, Nona Rubellite. Nama itu seindah dan sekuat makna yang terkandung di dalamnya," sahut Raze dengan suara yang direndahkan agar terdengar menenangkan. "Hamba merasa sangat terhormat karena Anda telah memercayakan nama itu kepada hamba."

Raze mengulurkan tangannya sedikit, memberikan isyarat siap membantu jika Rubellite membutuhkannya untuk berjalan. "Mulai detik ini, janji Anda adalah perintah bagi hamba. Kita akan melangkah bersama, menempuh waktu yang panjang itu. Hamba tidak akan membiarkan satu pun duri mengganggu jalan yang Anda lalui."

Rubellite kembali tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar, seolah merasa lega karena telah menemukan seseorang yang bisa ia percaya. Ia mengangguk kecil, menerima kehadiran Raze di sisinya sebagai lebih dari sekadar pelayan.

"Aku pegang janji itu, Raze," bisik Rubellite pelan sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya dengan lebih tenang.

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam di mana sumpah setia itu diucapkan. Di bawah naungan kekuasaan yang mulai bergeser pelan, banyak hal telah berubah. Salah satunya adalah Rubellite; gadis kecil itu kini tidak lagi meringis saat melangkah. Luka di kakinya telah sembuh total, meninggalkan kulit yang mulus tanpa bekas, seolah rasa sakit yang dulu pernah menyiksanya hanyalah mimpi buruk yang jauh. Namun, meski kakinya sudah kuat untuk berdiri sendiri, ia masih membiarkan Raze tetap berada di sisinya—bukan lagi sebagai penopang fisik, melainkan sebagai satu-satunya jangkar di dunia yang asing ini.

Siang itu, matahari bersinar sangat terik, memantulkan cahaya pada lantai batu koridor istana yang kaku. Raze berjalan dengan langkah tegap menuju kantor pribadi Kaisar. Tangannya kosong, namun pundaknya terasa sangat berat karena ia membawa informasi lisan yang sangat sensitif untuk dilaporkan.

Namun, langkahnya terpaksa terhenti di persimpangan koridor.

"Oi, Raze! Berhenti di sana!" teriak Kaelen memanggilnya dengan nada santai. Raze menghampiri sekumpulan ksatria itu dan berbincang sejenak, berusaha tetap sopan meski pikirannya terbagi. Namun, saat ia hendak berpamitan, Jaxen menimpali dengan nada mengejek yang sangat pedas.

"Kau sangat berbakat, Raze, tapi pekerjaanmu sekarang benar-benar konyol. Menghabiskan waktu untuk bermain boneka dan membacakan dongeng untuk anak buangan seperti itu hanya akan merusak reputasimu sebagai ksatria."

Raze terdiam, kedua tangannya mengepal sangat keras hingga buku jarinya memutih dan bergetar hebat di sisi tubuhnya. Ia menahan ledakan emosi sebelum akhirnya mendongak tajam.

"Tutup mulut kalian! Rubellite memiliki martabat yang jauh lebih tinggi daripada kalian semua! Jika sekali lagi aku mendengar kalian menghinanya, aku tidak akan segan bertindak lancang pada kalian, bahkan jika harus menghunuskan pedang pada rekan sendiri!"

Para ksatria terdiam seketika melihat amarah Raze yang luar biasa. Namun, di tengah keheningan itu, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari menjauh dari balik pilar koridor. Jantung Raze mencelos, firasatnya memburuk, namun sosok itu sudah menghilang dengan cepat. Rubellite lari sekuat tenaga ke arah perpustakaan, tempat ia selalu menyepi.

Beberapa waktu kemudian, saat Raze berhasil menemukan Rubellite, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi beku. Rubellite hanya terdiam dan melakukan kegiatannya seolah Raze tidak ada di sana. Tidak ada lagi sapaan hangat, hanya keheningan yang menyesakkan.

Raze melangkah maju dengan perlahan, suaranya bergetar penuh kecemasan. Ia berdiri mematung di hadapan Rubellite, tidak membawa apa pun selain rasa gelisah yang memuncak. "Nona... apakah saya membuat sesuatu yang salah?"

Rubellite tetap diam tanpa melirik sedikit pun, seolah-olah Raze adalah dinding yang tak kasat mata. Raze tiba-tiba tersentak saat potongan ingatan di koridor tadi muncul kembali. "Langkah kaki itu... Nona, apakah Anda mendengar perbincangan saya dengan Kaelen dan Jaxen di koridor kantor Kaisar waktu itu?"

Rubellite dengan nada gemetar lalu berkata, "Kaelen... Jaxen... Aku tidak memahami apa yang Anda maksudkan, Raze." Nada suaranya sangat dingin hingga membuat suasana di dalam ruangan itu terasa sangat sunyi dan mencekam.

Raze tertegun, lidahnya mendadak kelu melihat binar di mata Rubellite yang seolah telah mati. "Nona... hamba mohon jangan menyiksa diri Anda sendiri. Tatapan Anda tidak mampu menyembunyikan luka yang tengah Anda rasakan. Benar adanya hamba berada di sana, namun demi kehormatan hamba, tak satu pun kata nista mereka yang hamba benarkan. Bagi hamba, melindungi Anda bukanlah sebuah gurauan tentang boneka maupun dongeng belaka. Keberadaan Anda adalah satu-satunya alasan hamba tetap berdiri di sini."

"Cukup, Raze!" potong Rubellite dengan nada tegas. Air mata mulai meluncur deras dari pipinya yang mungil. Gadis kecil itu menatapnya dengan kekecewaan yang sangat mendalam. "Betapa naifnya aku yang sempat memercayaimu, sementara kau hanyalah salah satu dari mereka yang menertawakanku. Kau berdiri di sana, menjadi bagian dari lingkaran mereka!"

Terpukul oleh kalimat tersebut, Raze tidak mampu lagi membela diri. Ia membalikkan badan dan segera berlari meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan hancur. Ia terus berlari menyusuri lorong kekaisaran hingga akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di dalam kesunyian perpustakaan kekaisaran yang megah, mencoba meredam badai di dalam dadanya.

Di dalam ruangan yang kini terasa begitu luas dan dingin, Raze masih berdiri mematung di posisi yang sama saat Rubellite membentaknya. Keheningan yang mengikuti kepergian gadis kecil itu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pedang manapun. Kata-kata "Kau hanyalah salah satu dari mereka" terus berputar di kepalanya, menghancurkan martabatnya sebagai seorang ksatria yang telah bersumpah setia.

Raze menatap tangannya yang tadi terkepal keras. Ia merasa gagal. Ia merasa kotor karena meskipun ia membela Rubellite, ia tetap berdiri di sana, menjadi bagian dari lingkungan yang menyakiti nonanya.

Sementara itu, di dalam kesunyian perpustakaan kekaisaran yang megah, Rubellite meringkuk di sudut rak buku yang paling tersembunyi. Ia memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Ruangan yang penuh dengan ilmu pengetahuan itu tidak mampu memberikannya jawaban mengapa dunia begitu kejam pada anak seusianya.

"Pembohong..." bisik Rubellite pelan, suaranya teredam oleh isakannya sendiri. "Semua orang dewasa adalah pembohong."

Langkah kaki Valerius De Vermilion terhenti di lorong perpustakaan yang remang. Bocah laki-laki berusia sepuluh tahun itu sebenarnya sedang mencari literatur sejarah untuk tugas dari gurunya, namun telinganya yang tajam menangkap suara yang tidak asing.

Isakan kecil yang tertahan.

Valerius melangkah pelan, melewati deretan buku tebal hingga menemukan seorang gadis kecil meringkuk di sudut rak. Gaunnya yang indah tampak kusut, dan ia membenamkan wajahnya di antara lutut.

"Menangis di tempat seperti ini hanya akan membuat bukunya lembap," ucap Valerius dengan suara yang berusaha dibuat sedatar mungkin, khas didikan bangsawan tinggi.

Gadis kecil itu tersentak. Ia mendongak dengan mata besar yang basah oleh air mata. Bibirnya gemetar, terkejut melihat bocah laki-laki asing dengan pakaian formal yang sangat rapi berdiri di hadapannya.

"S-siapa kau? Pergi!" seru gadis itu kecil, suaranya serak.

Valerius tidak pergi. Alih-alih merasa terusir, ia justru mendekat dan duduk bersila di atas lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan gadis itu. Jarak usia mereka yang hanya dua tahun membuat posisi duduk mereka terasa sejajar.

"Aku Valerius. Ayahku Duke Vermilion," jawabnya singkat sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya. Ia mengulurkannya pada gadis itu. "Dan kau? Kenapa kau menangis sendirian di sini? Apa ada ksatria bodoh yang mengganggumu lagi?"

Gadis itu terdiam, menatap sapu tangan yang diulurkan Valerius. "Mereka bilang aku... aku hanya anak buangan. Boneka yang tidak ada gunanya."

Valerius mendengus pelan, sebuah ekspresi ketidaksukaan yang jarang ia tunjukkan. "Kata-kata pelayan dan ksatria rendahan tidak ada harganya. Ayahku bilang, orang yang menghina orang lain sebenarnya hanya sedang menutupi ketakutan mereka sendiri."

Ia menatap gadis itu dengan binar mata yang lebih lembut. "Kau punya nama? Aku tidak bisa terus memanggilmu 'gadis yang menangis di pojokan'."

Gadis itu ragu sejenak, lalu meraih sapu tangan Valerius dan menghapus air matanya. "Namaku... Rubellite."

"Rubellite," Valerius mengulangi nama itu seolah sedang mengingatnya baik-baik. "Seperti batu permata merah. Nama yang bagus."

Valerius berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Rubellite yang masih terduduk di lantai. "Dengar, Rubellite. Aku akan sering datang ke istana ini mengikuti Ayah. Jadi, jika mereka mengganggumu lagi, kau cari saja aku. Keluarga Vermilion tidak suka melihat permatanya diinjak-injak oleh orang yang tidak punya martabat."

Rubellite menatap tangan mungil namun kokoh milik Valerius. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada seseorang yang berdiri di pihaknya bukan karena kasihan, melainkan karena mereka setara.

Perlahan, Rubellite menyambut tangan Valerius. "Terima kasih... Valerius."

Di sudut perpustakaan yang remang, Valerius awalnya hanya duduk dalam diam di sebelah Rubellite. Ia tidak banyak bicara, memberikan ruang bagi gadis itu untuk menenangkan diri. Namun, setelah isak tangis Rubellite mulai mereda menjadi hela napas yang berat, Valerius memutuskan bahwa keheningan ini harus diakhiri.

Ia bangkit berdiri perlahan, merapikan jas mewahnya yang sedikit kusut akibat duduk di lantai, lalu berbalik menghadap Rubellite. Tatapannya tenang, namun ada ketegasan di sana yang seolah menuntut Rubellite untuk berhenti melarikan diri dari kenyataan.

"Kalau kamu ada masalah pada ksatriamu itu, sebaiknya kamu segera berbaikan. Kamu tidak ingin terus-menerus terjebak dalam kesedihan seperti ini, kan?" ucap Valerius dengan suara rendah yang menenangkan.

Rubellite mendongak dengan mata sembab. "Tapi Valerius... dia berdiri di sana bersama orang-orang jahat itu."

Valerius menggelengkan kepalanya. "Aku juga ada di sana, Rubellite. Kau hanya melihat punggungnya, tapi aku melihat tangannya. Dia mengepal tinjunya begitu keras sampai bergetar karena menahan amarah demi membelamu. Dia tidak tertawa; dia justru sedang bertarung sendirian untuk martabatmu di depan orang-orang dewasa itu."

Valerius menyandarkan punggungnya di rak buku, menatap pintu perpustakaan di mana Raze masih setia menunggu di luar.

"Jangan jadi anak kecil yang keras kepala. Jika kau mengusirnya sekarang hanya karena salah paham, kau akan kehilangan satu-satunya orang yang rela mati demi namamu. Pergilah, bicaralah padanya," tutup Valerius sambil memberikan dorongan kecil di bahu Rubellite.

Setelah memberikan dorongan terakhir pada Rubellite, Valerius melangkah dengan tenang menuju pintu besar perpustakaan. Ia membukanya perlahan, keluar lebih dulu untuk memberikan ruang bagi Rubellite untuk berpikir sejenak.

Di luar, suasana koridor terasa mencekam. Raze masih di sana, berdiri mematung dengan kepala tertunduk dalam. Bahunya yang tegap tampak layu, menunjukkan beban rasa bersalah yang luar biasa. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Raze tersentak. Namun, bukannya sosok kecil sang Nona yang muncul, melainkan putra sang Duke.

Raze segera memperbaiki posisinya. Ia berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada pewaris keluarga Vermilion.

"Tuan Muda Valerius De Vermilion," sapa Raze dengan suara rendah dan penuh hormat. "Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba yang masih berada di sini."

Valerius berhenti tepat di depan Raze. Ia menatap ksatria itu dengan pandangan dingin yang sulit dibaca—khas tatapan seorang penguasa. "Berdirilah, Ksatria. Nona di dalam sudah lebih tenang. Aku sudah mengatakan apa yang perlu ia dengar."

Tanpa menunggu balasan dari Raze, Valerius berjalan melewati ksatria itu dengan langkah angkuh namun elegan. "Jangan buat dia menangis lagi, atau kau akan berurusan dengan pedang keluarga Vermilion," tambahnya pelan sebelum menghilang di belokan koridor.

Raze tertegun mendengar peringatan itu. Namun, fokusnya segera teralih saat ia mendengar langkah kaki kecil yang ragu-ragu dari arah dalam perpustakaan. Ia segera berbalik dan mendapati Rubellite berdiri di ambang pintu. Mata gadis itu masih sedikit merah, namun binar kemarahan yang tadi menyala kini telah padam.

Raze hendak bersujud kembali untuk memohon ampun, namun sebelum lututnya menyentuh lantai, Rubellite sudah melangkah maju dan menghampirinya.

"Raze..." panggilnya pelan.

"Nona... hamba sungguh—"

"Maafkan aku," potong Rubellite cepat. Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Valerius memberitahuku segalanya. Aku... aku terlalu egois dan tidak melihat usahamu untuk membelaku. Aku malah menuduhmu yang bukan-bukan."

Raze terpaku. Ia tidak menyangka akan mendengar kata maaf dari mulut sang Nona. Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya seolah menguap begitu saja. Ia perlahan meraih tangan kecil Rubellite dan menggenggamnya dengan sangat hati-hati.

"Nona tidak perlu meminta maaf kepada hamba," bisik Raze dengan mata yang berkaca-kaca karena lega. "Bagi hamba, bisa kembali berdiri di sisi Anda adalah anugerah terbesar. Hamba bersumpah tidak akan membiarkan keraguan seperti ini muncul lagi di antara kita."

Rubellite mendongak dan memberikan senyum tipis, sebuah senyum yang menandakan bahwa ikatan di antara ksatria dan nonanya itu kini telah pulih, bahkan menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Setelah ketegangan di perpustakaan mereda, Raze menepati janjinya. Ia mengantar Rubellite menuju taman rahasia di sayap barat istana, tempat di mana bunga-bunga Camellia putih mekar dengan cantik. Matahari sore yang mulai berwarna oranye keemasan menyirami rerumputan, menciptakan suasana yang jauh dari dinginnya dinding batu kekaisaran.

Raze membentangkan kain bersih di bawah pohon rindang, lalu duduk dengan jarak yang penuh hormat di samping Rubellite. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tebal bersampul kulit tua tentang Ensiklopedia Batu Permata Dunia.

"Nona, seperti permintaan Anda... hamba akan membacakan bagian tentang batu yang menjadi nama Anda," ucap Raze lembut.

Rubellite menyandarkan kepalanya di batang pohon, matanya terpejam ringan saat suara rendah Raze mulai membacakan baris demi baris.

"Rubellite," baca Raze, suaranya mengalir seperti air tenang. "Adalah varietas paling berharga dari keluarga Turmalin. Warnanya melambangkan kekuatan cinta dan keberanian yang tak tergoyahkan. Konon, batu ini tidak hanya indah di permukaan, tetapi semakin kuat strukturnya saat ditempa oleh panas yang ekstrem..."

Rubellite membuka matanya perlahan, menatap profil samping Raze yang sedang membacakan buku dengan sangat serius. "Panas yang ekstrem... seperti luka-lukaku, ya?"

Raze berhenti membaca. Ia menutup buku itu perlahan dan menatap Rubellite dengan binar mata yang penuh pengabdian. "Bukan hanya lukanya, Nona. Tapi bagaimana Anda bertahan dan tetap bersinar meskipun dunia mencoba menghancurkan Anda. Itulah alasan mengapa nama Anda begitu indah."

Rubellite tersenyum tulus. Ia mengambil setangkai bunga yang jatuh di pangkuannya dan memberikannya kepada Raze. "Kalau aku adalah permata, maka kau adalah wadahnya, Raze. Tanpamu, permata ini mungkin sudah pecah dan hilang tertimbun tanah."

Raze menerima bunga itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. "Hamba akan menjaga permata ini dengan nyawa hamba, sampai akhir nanti."

Sore itu di taman, di bawah saksi langit yang mulai meredup, tidak ada lagi sekat antara pelayan dan majikan. Hanya ada dua jiwa yang saling menguatkan, berjanji untuk terus bersama menantang dunia yang kejam.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!