Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan Adalah Raja
Pintu kafe baru saja dibuka, namun lonceng di atas pintu sudah berdenting dengan keras. Eleanor, yang sedang merapikan toples kue di konter, bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum sandalwood dan aura dominan itu sudah cukup menjadi penanda.
"Tuan Zollern," suara Eleanor terdengar datar, nyaris seperti gumaman malas. Ia berbalik dan mendapati Edward sudah berdiri di sana, menatapnya dengan intensitas yang berlebihan. "Kenapa Anda datang lagi ke sini? Apa kopi di mansion Anda mendadak rasanya seperti air keran?"
Edward menarik kursi di depan konter, duduk dengan keangkuhan yang alami. "Kopi di rumahku terlalu sempurna, Eleanor. Aku butuh sesuatu yang sedikit... menantang. Sama seperti pelayannya."
Eleanor memutar bola matanya, sebuah tindakan yang jika dilakukan di depan ayahnya pasti akan berakhir dengan ceramah etiket selama tiga jam. "Sayangnya, kami tidak menjual tantangan di sini. Kami menjual kafein. Jadi, mau pesan apa?"
"Kopi hitam. Tanpa gula. Dan aku ingin kau yang mengaduknya," ucap Edward santai.
Eleanor menghentikan kegiatannya, menatap Edward dengan alis bertaut. "Saya punya banyak pekerjaan, Tuan. Jika Anda hanya butuh seseorang untuk mengaduk kopi, asisten Anda yang malang itu sepertinya cukup kompeten."
Rey, yang berdiri dua langkah di belakang Edward, hanya bisa menatap langit-langit kafe, berpura-pura tidak mendengar namanya disebut.
"Rey sedang sibuk menghitung berapa kerugian perusahaanku karena aku menghabiskan waktu di sini," balas Edward tanpa melepaskan pandangannya dari Eleanor. "Sekarang, buatkan kopinya."
Eleanor mendengus, namun ia tetap membuatkan kopi itu. Saat ia meletakkannya di depan Edward, ia sengaja menaruhnya dengan sedikit hentakan.
"Ini. Hati-hati, panas. Sama seperti emosi saya sekarang," ketus Eleanor.
Edward menyesap kopinya, matanya masih mengunci Eleanor. "Meja ini kelihatannya berdebu, Eleanor. Bersihkan."
Eleanor mengambil kain lap dengan gerakan kasar. Ia mulai menggosok meja tepat di depan Edward. "Anda tahu, Tuan Zollern? Untuk pria yang katanya menguasai ekonomi Inggris, Anda punya terlalu banyak waktu luang untuk mengurusi debu di kafe pinggiran."
"Aku hanya memastikan investasiku terjaga," sahut Edward.
"Investasi? Anda bahkan bukan pemilik tempat ini!"
"Belum," Edward mencondongkan tubuh, membuat Eleanor refleks memundurkan wajahnya. "Tapi jika aku mau, aku bisa membeli seluruh garis pantai ini hanya agar kau tidak punya pilihan selain melayaniku setiap hari."
Eleanor tersenyum sinis, tidak terlihat takut sama sekali. "Oh, kedengarannya sangat romantis... dalam film horor tentang penguntit. Anda tahu, Tuan? Kejeniusan Anda di bursa saham sepertinya tidak sebanding dengan kemampuan sosial Anda. Apa Anda selalu menindas wanita hanya karena Anda tidak tahu cara mengajak mereka bicara dengan normal?"
Edward tertegun sejenak. Lidah tajam Eleanor selalu berhasil menembus pertahanan dinginnya. Ia justru merasa tertantang. "Aku tidak menindasmu, Eleanor. Aku sedang memberimu perhatian khusus."
"Simpan saja perhatian Anda untuk para pemegang saham Anda yang mungkin sekarang sedang menangis karena CEO mereka hobi nongkrong di kafe," balas Eleanor sambil membalikkan badan untuk melayani pelanggan lain. "Dan tolong, jangan panggil saya Eleanor seolah-olah kita pernah berbagi teh di sore hari. Gunakan 'Nona' atau jangan panggil sama sekali."
Edward menyeringai tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat Rey terkejut. "Kita lihat saja nanti, Nona Eleanor. Aku sangat sabar dalam hal berburu."
Eleanor hanya membalas dengan gumaman tak acuh, namun di dalam hati, ia mulai merasa waspada. Pria ini tidak hanya terobsesi, dia mulai masuk ke wilayah yang berbahaya—wilayah di mana identitas aslinya sebagai seorang Lichtenzell bisa terancam terbongkar.