NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: KEJUTAN DI GERBANG SEKOLAH

Pagi itu, suasana di depan gerbang SMA Merdeka jauh lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada razia rambut atau atribut, tapi karena sebuah motor sport hitam besar berhenti tepat di depan gerbang, dan penumpangnya adalah orang yang paling tidak disangka-sangka.

Alsya turun dari motor Samudera dengan perasaan campur aduk. Dia masih memakai jaket milik Samudera karena bajunya sendiri belum kering total akibat hujan kemarin. Begitu dia melepas helm, semua mata tertuju padanya. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api yang tersulut bensin.

"Gue bilang kan jam tujuh, loe telat dua menit," ucap Samudera sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah membuka helm.

Alsya mendengus, mencoba kembali ke mode "gadis galak"-nya. "Cuma dua menit doang, Sam! Lagian siapa suruh loe beneran jemput gue? Gue pikir loe cuma bercanda kemarin."

"Gue nggak pernah bercanda soal omongan gue," sahut Samudera datar.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di belakang mereka. Revaldi turun dari pintu kemudi, disusul oleh Eliza dari pintu sebelah. Langkah Revaldi terhenti saat melihat siapa yang berdiri di samping Samudera.

"Alsya?" Eliza mendekat dengan wajah bingung sekaligus khawatir yang—seperti biasa—terlihat sangat tulus. "Loe berangkat bareng Samudera? Motor loe mana? Terus itu... loe pakai jaket siapa?"

Belum sempat Alsya menjawab, Revaldi sudah menyela dengan nada sinis. "Wah, hebat banget ya. Kemarin ngejar-ngejar gue sampai kayak pengemis, sekarang sudah dapet mangsa baru? Anak baru pula. Hebat loe, Sya. Strategi baru buat cari perhatian?"

Dada Alsya berdenyut sakit. Setiap kata yang keluar dari mulut Revaldi selalu berhasil menancap tepat di lukanya.

"Bukan urusan loe, Val! Mau gue berangkat sama siapa pun, itu hak gue!" balas Alsya, meski suaranya sedikit bergetar.

Revaldi tertawa meremehkan. Dia menoleh ke arah Samudera. "Woi, anak baru. Gue kasih saran ya, mending loe jauh-jauh dari cewek ini. Dia itu tukang bully, bermasalah, dan cuma bakal bikin reputasi loe hancur di sekolah ini. Dia nggak sebanding sama Eliza."

Eliza memegang lengan Revaldi. "Reval, jangan gitu. Alsya itu saudara gue..."

"Saudara yang cuma bikin malu keluarga loe, kan?" potong Revaldi tajam.

Samudera yang sedari tadi diam sambil menyandarkan tubuhnya di motor, akhirnya bergerak. Dia melangkah maju, berdiri tepat di antara Revaldi dan Alsya. Aura dingin Samudera seketika membuat suasana di sekitar mereka menjadi tegang.

"Loe bilang dia nggak sebanding sama Eliza?" Samudera bertanya dengan suara rendah namun sangat jelas terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.

Revaldi menaikkan dagunya. "Iya. Semua orang juga tahu itu."

Samudera tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih mirip ejekan. "Menurut gue, loe yang nggak sebanding buat dia. Loe punya mata, tapi loe buta. Loe punya telinga, tapi loe cuma denger apa yang mau loe denger."

"Apa loe bilang?!" Revaldi mulai terpancing emosi.

"Loe terlalu sibuk memuja 'malaikat' sampai loe nggak sadar kalau loe baru aja nendang orang yang lagi berdarah-darah," lanjut Samudera, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Revaldi. "Dan soal siapa yang pantas gue temenin, itu urusan gue. Bukan urusan cowok baperan kayak loe."

Semua orang di gerbang sekolah terkesiap. Belum pernah ada yang berani bicara seberani itu pada Revaldi, sang kapten tim basket sekaligus anak emas sekolah.

Samudera berbalik menatap Alsya. "Ayo masuk. Motor loe masih di bengkel deket sini, nanti pulang gue anter ambil."

Tanpa menunggu jawaban, Samudera menarik pergelangan tangan Alsya, membawanya masuk melewati kerumunan siswa yang masih melongo. Alsya hanya bisa mengikuti langkah lebar Samudera, matanya sempat melirik ke arah Revaldi yang wajahnya sudah merah padam karena marah, dan Eliza yang tampak terpaku di tempatnya.

Begitu sampai di koridor yang agak sepi, Alsya melepaskan pegangan tangan Samudera.

"Loe... loe kenapa bela gue tadi?" tanya Alsya lirih. Keangkuhannya seolah menguap begitu saja.

Samudera berhenti, lalu berbalik menatap Alsya. "Gue nggak bela loe. Gue cuma nggak suka lihat orang sok jagoan nindas orang yang sebenernya lagi hancur."

"Gue nggak hancur!" sanggah Alsya cepat.

Samudera mendekat, mengikis jarak di antara mereka sampai Alsya harus mendongak untuk menatap wajahnya. "Sya, loe bisa bohongin seluruh sekolah, loe bisa bohongin Revaldi, bahkan loe bisa bohongin Eliza. Tapi loe nggak bisa bohongin gue."

Samudera menunjuk tepat ke arah jantung Alsya. "Di sini... loe lagi teriak minta tolong, kan?"

Alsya membeku. Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar "telanjang" di depan seseorang. Samudera tidak melihatnya sebagai Alsya si tukang bully, bukan juga Alsya si anak bermasalah. Samudera melihatnya sebagai Alsya yang penuh luka.

"Pulang sekolah, tunggu gue di parkiran. Jangan berani-berani kabur," ucap Samudera sebelum akhirnya berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Alsya yang masih berdiri terpaku dengan jantung yang berdegup tidak karuan.

Hari itu, untuk pertama kalinya, bayangan Revaldi tidak lagi mendominasi pikiran Alsya. Justru punggung lebar Samudera yang mulai memenuhi kepalanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!