NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gejolak Hati

Malam itu Adam berjuang mati-matian mengendalikan pikirannya. Ia kembali terjaga tanpa bisa memejamkan mata sedikit pun, hingga jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Tubuhnya terasa gemetar, panas merambat dari dalam, kepalanya berdenyut hebat, sementara tengkuknya terasa berat seolah dipasung beban tak kasatmata. Setiap tarikan napas terasa pendek dan menyakitkan.

Dengan sisa tenaga yang ada, Adam meraih ponsel di sisi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menekan nomor asisten keduanya, Felix, pria asal Australia.

(Percakapan menggunakan bahasa inggris)

“Felix… tolong segera datang ke apartemenku,” suara Adam parau dan nyaris tak terdengar. “Aku sangat sekarat… rasanya seperti hampir mati.”

Di seberang sana, Felix langsung siaga.

“Baik, Adam. Aku segera ke sana. Apakah aku perlu memanggil tim medis?”

“Tidak… tidak… jangan panggil siapa pun!” Adam menyela panik.

“Oke. Aku berangkat sekarang.”

Tak lama kemudian, Felix tiba di apartemen Adam. Begitu pintu kamar terbuka, Felix terkejut. Adam terbaring terlentang di atas kasur, kepalanya menggantung ke belakang dengan posisi yang tak wajar. Kelopak matanya menghitam pekat, matanya merah menyala, dan pada wajahnya terpancar kelelahan ekstrem. Bahkan, ia tampak menahan kelopak matanya dengan benda penyangga seadanya agar tidak terpejam.

Felix berlari menghampir.

“Apa yang terjadi denganmu, Adam?!”

Adam hanya terkulai lemas, tubuhnya membara oleh demam tinggi. Panik menguasai Felix. Tanpa berpikir panjang, ia melanggar perintah Adam dan segera menghubungi ambulans.

Tim medis datang dengan sigap. Infus dipasang, kompres dingin ditempelkan, dan berbagai tindakan cepat dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh Adam yang tinggi.

“Jangan beri aku obat tidur!” Adam tiba-tiba membentak dokter dengan mata melotot. “Aku tidak ingin tidur!”

“Pak, Anda sangat butuh istirahat. Tanpa tidur, demam ini tidak akan turun,” ujar dokter mencoba menenangkan.

Namun Adam justru menyambar obat tidur itu dan melemparkannya. Felix dan para perawat saling berpandangan kebingungan.

Akhirnya, demi keselamatan Adam, mereka terpaksa memegangi tubuhnya yang terus meronta-ronta hebat. Suntikan obat tidur pun diberikan.

“TIDAK! AKU TIDAK INGIN TIDUR!!!” jerit Adam histeris.

Tidur adalah gerbang baginya menuju mimpi buruk tempat arwah sang kakek kembali hadir, menyiksanya tanpa ampun.

Beberapa saat setelah suntikan masuk, Adam terlelap. Namun ketenangan itu hanya berlangsung singkat. Ia kembali terjaga sambil menjerit-jerit, memohon ampun, memanggil nama sang kakek dengan suara parau dan penuh ketakutan.

Felix dan tim dokter mulai berkeringat dingin. Mereka benar-benar tak memahami penyakit apa yang sebenarnya menyerang Adam.

“Feliix!!!” jerit Adam tiba-tiba.

Felix berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Dengan tenaga yang tersisa, Adam menarik kerah kemeja Felix.

“Katakan pada dokter tolol itu,” ucap Adam penuh amarah, “jangan pernah menyuntikkan atau memberi aku obat tidur! Aku tidak ingin tidur!”

“Tapi, Adam… tidur bisa menyembuhkanmu,” kata Felix dengan suara gemetar.

“DIAM!” bentak Adam keras.

Ia memerintahkan semua tim medis keluar dari kamarnya. Felix hanya bisa menurut, meski hatinya diliputi kecemasan. Ia mondar-mandir di depan Adam, gelisah tak karuan.

“Katakan padaku… apa yang sebenarnya terjadi padamu, Adam?” tanya Felix pelan saat kembali mendekat.

Adam hanya diam, bersandar murung pada bantal, menatap kosong ke arah langit-langit.

“Apa aku harus menghubungi Harun?” Felix mencoba lagi.

“Jangan!” sahut Adam cepat.

Dengan suara lemah namun penuh tekanan, Adam memerintahkan Felix menghubungi beberapa wanita yang selama ini dekat dengannya (gebetan), meminta mereka datang, menemaninya berbincang agar ia tetap terjaga. Namun satu per satu menolak dengan alasan sibuk, hanya sanggup menelepon sebentar.

“Brug!”

Adam membanting ponselnya ke lantai dengan emosi meledak.

“Dasar wanita sial!” gumamnya penuh kekecewaan. “Aku sudah memberi mereka uang, kesenangan… tapi saat aku sakit, tak satu pun peduli!” gerutu Adam.

Dokter kembali menyarankan agar Adam segera menemui psikiater. Namun Adam menolak mentah-mentah. Ia tahu betul, masalah ini bukan sekadar urusan pikiran. melainkan sesuatu rahasia yang tidak diungkapkan atau disembuhkan oleh obat atau terapi biasa.

Tak terasa hari-hari berlalu begitu saja.

Suatu pagi, Hawa terbangun dari tidurnya dengan perasaan tetap bersemangat, Ia duduk di tepi ranjang sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melirik ponselnya yang tergeletak di atas bufet kecil di samping tempat tidur.

Dengan harapan yang sama setelah dua hari berlalu, Hawa meraih ponsel itu. Berharap pagi ini Harun akhirnya mengirim pesan. mengabarkan agar segera pulang. Namun, setelah layar ponselnya menyala, harapan itu kembali runtuh. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan tak terjawab. Hening.

Hawa mengembuskan napas pelan. Rasa lesu kembali merayap di dadanya. Ia hendak meletakkan ponsel itu kembali ketika tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar.

Notifikasi e-banking.

Kening Hawa berkerut. Tangannya refleks membuka aplikasi tersebut. Detik berikutnya, matanya membelalak.

Saldo di rekeningnya bertambah lima puluh juta rupiah.

“Apa…?” gumamnya pelan.

Hawa mengucek kedua matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Ia mengecek ulang riwayat transaksi, membaca detailnya perlahan. Uang itu benar-benar masuk ke rekeningnya pagi ini.

Nama pengirimnya membuat jantung Hawa berdegup lebih kencang.

Adam Haykal.

“Ke… kenapa Mas Adam mengirim uang sebanyak ini kepadaku?” batin Hawa kacau. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. “Apa dia salah kirim?”

Semakin bingung, Hawa memutuskan menelpon Harun.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, Harun tengah bersiap berangkat ke kantor. Ia berdiri di depan cermin, merapikan jasnya, sementara Raisa di dapur sibuk menyiapkan sarapan. Sudah berhari-hari Harun menikmati kebersamaan mereka, seakan melupakan dunia di luar apartemen itu.

“Dret.”

Ponsel Harun berdering. Ia melirik layar, lalu berjalan mendekati jendela dan menjauh sedikit agar suaranya tak terdengar Raisa.

“Halo?” jawabnya singkat.

“Mas, kapan kamu pulang?” suara Hawa terdengar pelan, namun jelas menyimpan rindu dan lelah.

“Aku usahakan nanti malam,” jawab Harun cepat.

“Maaf… ada yang ingin aku tanyakan.”

“Ada apa?”

“Mas Adam mentransfer uang ke rekening Hawa sebesar lima puluh juta. Apa dia salah kirim?”

Harun terdiam sesaat, seolah menyusun kata-kata yang tepat.

“Ehm… tidak salah kirim,” jawabnya akhirnya. “Sebenarnya aku mau membicarakan ini nanti setelah sampai rumah. Tapi karena kamu mendesak, ya sudah, aku jelaskan sekarang.”

Hawa menegakkan tubuhnya.

“Lima puluh juta itu uang bulanan kamu.”

“Maksudnya?” tanya Hawa, suaranya bergetar.

“Anggap saja itu uang nafkah khusus untukmu,” jawab Harun datar.

“Loh… kenapa Mas Adam yang mentransfer?” Hawa semakin bingung.

Harun menghela napas. “Begini. Untuk sementara ini, urusan finansial aku dipegang oleh Adam. Kami belum sempat membahas pengeluaran dadakan seperti ini, jadi sementara biarlah Mas Adam yang mentransfer uang bulanan kamu.”

Penjelasan itu membuat kepala Hawa serasa tertindih batu besar. Ia mendengarnya, tapi sama sekali tidak benar-benar memahami.

“Oh ya, satu lagi,” lanjut Harun. “Kamu jangan bekerja lagi. Segera resign dari rumah sakit.”

“Loh, kenapa, Mas?” tanya Hawa panik.

“Patuhi saja. Nanti aku telepon lagi. Aku sedang sibuk.”

“Mas...”

Tutup.

Sambungan telepon terputus begitu saja. Hawa menatap layar ponselnya kosong, dadanya terasa sesak. Banyak pertanyaan yang belum terjawab, namun Harun memilih mengakhiri pembicaraan begitu saja.

“Hawa!”

Suara Rani memanggil dari balik pintu kamar.

“Iya, Bunda,” jawab Hawa cepat, lalu bangkit membuka pintu.

“Hawa, Bunda pamit pulang dulu, ya,” ucap Rani lembut. “Masih banyak urusan yang harus Bunda kerjakan.”

Hawa hanya mengangguk pasrah.

“Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong Bik Atun dan Pak Arga di belakang rumah. Mereka pelayan setia yang memang khusus mengurus rumah Adam,” lanjut Rani.

“Baik, Bunda.”

“Yang sabar ya. Mungkin Harun besok sudah pulang,” ucap Rani menenangkan.

Hawa memaksakan senyum. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang uang bulanan lima puluh juta itu, namun entah kenapa bibirnya tertutup rapat. Ia memilih menyimpannya sendiri.

“Yang sabar,” ulang Rani sambil memeluk menantunya dengan penuh kasih, seakan memahami kesepian yang Hawa rasakan.

Tak lama kemudian, wanita berusia lima puluh tiga tahun itu pergi, ditemani sopir dan seorang asistennya, meninggalkan Hawa kembali sendiri di rumah yang terasa semakin sunyi.

1
ρυтяσ✨
hah... siapa lelaki Raisa itu??? ayah biologis dalam kandungan'y🤔🤔
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
☠ᵏᵋᶜᶟGalangᵇᵃʰᵃ❀∂я
halaah2 raisa pinternya

yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Adam harus segera bertindak selidiki serius dong Raisa kasih ke si Harun bodoh itu
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
dh muncul tuh laki" yg ngehamilin Raisa. emang Harun yg paling ogeb keknya. kebiasaan apa" taunya beres. tinggal enaknya. gitu jadinya. otaknya entah kemana. sampai" dikadalin sama perempuan pun dia gk pernah tau. mungkin itu karma juga buat Harun karena sudah mencurangi Hawa dulu. akhirnya gantian dicurangi habis"an. kudu dijauhkan dari Raisa nih si Harun, biar gk kebablasan nyungsepnya. kasih wanita sewaan yg spek Hawa ada gk tuhh, biar gk tantrum mulu 🤣🤣🤣🏃🏃🏃
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : sepanjang jln kenangan 🤣
total 3 replies
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
benar kn firasat si Adam..
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
penasaran sama lakinya, ini siapa yaaa
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
iya kayanya enak ke club wa menghilangkan beban di pundak 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
itu yg kamu bilamg wanita baik2 Harun...🤦‍♀️
bodoh kamu Runn
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
haruunn harunnn cinta membuatmu buataa 🤦‍♀️
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
halaah diamin aja sih Run, akting doang itu Raisa jangan terpengaruh..
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
nih cowok selingkuhan Raisa kayaknya kacung si Raisa juga manut banget 😂
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
saking labilnya dibilang anak ya sama Adam 🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
kompor, ular berbisaa
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
cieee yg takut yaaa 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
mencurigakann nihh..
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
karena Adam punya andil di rumah sakit itu,Wa...klo dia macam2 bisa dilengserkan malah dianya 😂
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
rumah sakitnya ga dibeli sama Adam kann🤭🤭
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
lah makin yakin klo rumah sakit itu milik Adam nih 🤭
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
ayo dam. kirim dong ke harus kalo raisaaa bener3 resek.. dan itu bukan anak harun
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
waah gendeng benerr ini raisaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!