Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Harapan di Atas Tanah Lempung
Air mata mulai menggenang di mata Raka. Luka itu masih basah bagi keluarga mereka. Valaria meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat. Ia bisa merasakan kepedihan itu merambat melalui nadinya.
"Aku tahu. Dan itu tidak akan terjadi lagi," janji Valaria. Matanya kini memancarkan ketegasan seorang pelindung. "Siapa pun aku sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga ini lagi. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Raka menatap dalam ke mata kakaknya, mencari kepastian. Yang ia temukan adalah kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Aku percaya padamu, Kak," bisik Raka lega. "Aku bersyukur kau lupa. Setidaknya, kau bisa memulai hidup yang baru."
"Aku janji, Raka. Sekarang, aku hanya peduli pada tanah dan keluarga kita. Damian tidak lebih dari debu di bawah sepatuku."
Ketegangan di antara mereka mereda, digantikan oleh ikatan persaudaraan yang semakin kuat. Valaria sadar, ia tidak hanya mewarisi tubuh ini, tetapi juga mewarisi tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan yang telah rusak.
Pagi itu datang membawa ketenangan yang damai. Di luar rumah sederhana keluarga Arjun, kicauan burung bersahutan riang, seolah sedang menyambut terbitnya matahari dengan sukacita. Angin pagi berembus perlahan, membawa hawa sejuk yang menyegarkan saat bersentuhan dengan kulit Valaria.
Di dalam rumah, aroma nasi hangat dan lauk sederhana mulai memenuhi udara, membangkitkan selera. Valaria, meski masih membawa beban memori pahit dari mimpi buruk semalam, bangkit dengan tekad yang lebih kuat. Ia tidak ingin lagi terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalu pemilik tubuh ini.
Setelah sarapan, orang tua Valaria bersiap menuju ladang. Sang ayah memanggul cangkul di pundaknya, sementara ibunya menyiapkan bekal makan siang yang dibungkus rapi dengan daun pisang.
"Kami berangkat duluan, Nak," kata Ratri lembut kepada Valaria. "Kau istirahat saja dulu di rumah. Kepalamu baru saja sembuh, jangan dipaksakan."
"Tidak, Bu. Aku ikut," jawab Valaria dengan nada mantap. Jawaban itu seketika membuat kedua orang tuanya saling pandang karena terkejut. "Aku sudah merasa jauh lebih baik. Aku ingin membantu di ladang seperti biasanya."
Raka, sang adik, yang sudah mengenakan topi caping lusuhnya, tersenyum kecil. Ada rasa bangga sekaligus lega yang menyelinap di hatinya melihat sosok kakaknya yang sekarang. Keluarga kecil itu pun melangkah keluar, berjalan beriringan menuju ladang di sebelah barat desa. Mereka tampak harmonis, potret keluarga petani yang siap menghadapi kerasnya pekerjaan hari itu.
Saat mereka melewati pemukiman, aktivitas penduduk desa sudah mulai ramai. Namun, pemandangan Valaria yang berjalan tegak menuju ladang bukan lagi berdiam diri di rumah atau melamun di pinggir jalan membuat warga terperangah. Mata mereka terpaku pada Valaria seolah-olah melihat sebuah keajaiban.
Beberapa warga mulai berbisik-bisik, tidak lagi berusaha menyembunyikan rasa penasaran mereka.
"Apa itu benar-benar Valaria? Kenapa dia tampak sangat berbeda?" tanya seorang ibu kepada temannya dengan mata melebar.
"Aku dengar dia hilang ingatan setelah jatuh malam itu," jawab yang lain sambil mengangguk penuh rahasia. "Makanya sifatnya berubah total. Dia tidak lagi mengejar-ngejar Damian. Bahkan kabarnya kemarin dia berani mengusir laki-laki itu!"
Seorang pria tua yang baru kembali dari pasar menimpali dengan suara yang cukup lantang. "Baguslah kalau dia lupa tentang dirinya yang bodoh dulu! Sekarang tidak ada lagi yang bisa memanfaatkannya. Dia bisa menjadi dirinya sendiri."
Ia menoleh ke arah orang tua Valaria yang berjalan di depan. "Ditambah lagi, keluarga Arjun sekarang bisa tenang, bukan? Tidak perlu lagi khawatir uang mereka dicuri anak sendiri. Sekarang mereka bisa fokus mengumpulkan biaya sekolah untuk Raka."
Mendengar bisikan-bisikan itu, Valaria hanya terus berjalan dengan bahu tegap. Meskipun ia berpura-pura tidak mendengar, setiap kata tentang dirinya yang 'bodoh' dan 'dimanfaatkan' terasa menusuk hati. Hal itu mengingatkannya pada betapa dalam penderitaan Valaria yang asli dan betapa besar tanggung jawab yang kini ia panggul.
Ia tidak berniat membela diri. Biarkan warga berpikir ia hilang ingatan; itu adalah perisai terbaiknya untuk memulai hidup baru.
Setibanya di ladang, mereka segera berbagi tugas. Ayah mulai mencangkul tanah, sementara Ibu membersihkan gulma yang mengganggu tanaman. Valaria membantu memangkas daun-daun singkong yang terlalu lebat agar nutrisi tanaman terfokus pada umbi.
Di dekatnya, Raka sedang berusaha mencabut singkong yang sudah siap panen. Itu adalah pekerjaan berat yang membutuhkan teknik agar umbi tidak patah di dalam tanah. Melihat adiknya bekerja begitu keras, Valaria teringat ucapan warga tentang biaya sekolah Raka. Rasa sayang seorang kakak bercampur dengan tekad seorang ilmuwan membuncah di dadanya.
"Raka," panggil Valaria lembut.
Raka tersentak. Ia melepaskan cengkeramannya pada batang singkong dan berbalik. Ada sisa-sisa rasa takut di matanya sebuah trauma lama karena Valaria yang dulu sering memarahinya. "Ya, Kak?"
"Aku dengar... kau ingin sekali sekolah, ya?" tanya Valaria tanpa nada menghakimi.
Raka terdiam, tampak ragu dan takut. Ia khawatir jika kakaknya akan marah karena ia membicarakan keinginan sekolah kepada orang lain, atau takut kakaknya akan meminta uang lagi untuk Damian. Ia melangkah mundur satu langkah.
Melihat reaksi adiknya, hati Valaria terasa perih. Seburuk itukah perlakuan Valaria asli hingga adiknya sendiri merasa terancam? Valaria segera merendahkan suaranya, memancarkan ketenangan.
"Hei, aku tidak akan marah," katanya sambil merentangkan tangan dengan telapak terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak berbahaya. "Sekolah itu sangat bagus, Raka. Belajar itu penting untuk masa depanmu."
Valaria tersenyum tulus. "Bagaimana kalau sekarang Kakak ajarkan kau sedikit berhitung? Sebagai persiapan sebelum kau masuk sekolah nanti, sambil kita mengumpulkan uang untuk biayanya."
Raka berhenti mundur. Ia menatap wajah kakaknya dengan saksama. Valaria memang tidak tampak seperti kakaknya yang lama; matanya kini penuh kecerdasan dan kehangatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sambil menunggu jawaban Raka, Valaria berjongkok dan mulai membantu mencabut singkong. Dengan teknik pusat gravitasi yang ia pahami dan kekuatan tubuh yang sudah terbiasa bekerja, ia berhasil mencabut singkong besar itu dengan sekali tarikan yang efisien. Akar-akar singkong yang besar dan bersih mencuat dari tanah.
Ia mengambil segenggam tanah dari lubang galian tanah lempung yang remah, kaya humus, dan berwarna gelap. Ia merasakan kesuburan yang luar biasa di bawah jarinya. Valaria tersenyum puas, sebuah kepuasan seorang petani sekaligus ilmuwan yang memverifikasi data alam.
Raka terpaku melihat senyum itu. Senyum yang tenang dan nyata, yang tidak ada hubungannya dengan laki-laki atau drama cinta yang sia-sia.
"Apa Kakak benar-benar baik-baik saja?" tanya Raka dengan suara kecil yang penuh kekhawatiran tulus.
Valaria menoleh, menatap mata adiknya. "Aku sangat baik, Raka. Memangnya ada apa denganku?" tanyanya balik, menyiratkan bahwa perubahan ini adalah dirinya yang sebenarnya.
Valaria kemudian duduk berjongkok di depan Raka. Menggunakan jari tangannya yang kotor oleh tanah sebagai alat peraga, ia mulai menggambar angka satu sampai sepuluh di atas tanah yang kering. Dengan bahasa yang sederhana, ia mengajari Raka cara menjumlahkan hasil panen, menghitung berapa banyak yang bisa dijual dan berapa banyak yang harus disimpan untuk makan.
Raka yang tadinya takut kini mendekat. Matanya berbinar penuh minat. Kakaknya yang sekarang tidak lagi mengomel atau menangis; kakaknya sekarang adalah seorang guru.
"Kita akan belajar setiap hari setelah pulang dari ladang atau pasar, setuju?" janji Valaria.
Di bawah langit Desa Panda yang cerah, di tengah hamparan ladang singkong, Valaria telah menetapkan arah baru bagi hidupnya. Ia akan menggunakan seluruh pengetahuannya untuk memastikan Raka mendapatkan kesempatan yang layak. Ia akan menjahit kembali setiap luka yang ditinggalkan oleh masa lalu, helai demi helai, hingga keluarga mereka utuh dan kuat kembali.