Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Cahaya putih menusuk mata Galuh ketika ia membuka kelopak matanya perlahan-lahan.
Langit-langit asing berwarna putih menyambut pandangannya. Bau obat menguar, menusuk indra penciumannya.
Galuh mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa berat dan terasa remuk, perih di seluruh wajah.
"Jangan bergerak dulu." Suara berat itu datang dari sisi ranjang.
Sontak Galuh menoleh, matanya membelalak.
Seorang pria berwajah tampan duduk di kursi, mengenakan jas hitam dan celana panjang yang rapi. Tatapannya tajam, namun ada keteduhan tersembunyi di balik dinginnya iris abu-abu itu. Penampilan lelaki itu terlihat misterius tapi juga mewah.
Fokus Galuh terbagi, pada lelaki itu dan juga wajahnya yang terasa kaku. "Anda ss-siapa? Aku ada di mana dan kenapa wajahku diperban semua?" tanya Galuh dengan suara parau. Rasa perih di wajahnya membuat suaranya terbata-bata.
Lelaki itu berdeham pelan. "Namaku Shankara Birawa Valerius. Akulah yang menyelamatkanmu dari kecelakaan yang nyaris mengambil nyawamu. Kamu sekarang ada di rumah sakit, dan wajahmu rusak karena kecelakaan itu."
"Shankara Birawa Valerius ..." bisik Galuh dalam hatinya, mencoba mengingat. "T-Terima kasih, T-Tuan." Dengan susah payah, Galuh berucap demikian. Lalu ia teringat sesuatu yang sangat amat penting dalam hidupnya. "T-Tuan ... a-adik ss-saya mana? D-Dia ... baik-baik saja kan?"
Shankara Birawa Valerius menatapnya sekilas, lalu berdiri mendekat. Menepuk pundaknya pelan. "Tabahkan hatimu. Adikmu ... anak lelaki malang itu ... sudah tiada. Aku tidak berhasil menyelamatkannya."
Jantung Galuh seolah dicabut paksa dari dalam rongga dada. Seluruh tulang dalam tubuhnya seperti rontok berjatuhan. Air matanya menetes tanpa suara. Napasnya tersendat-sendat. "Tidak ... tidak mungkin?" Suaranya pecah, parau. "Tidak mungkin Galih pergi? Tidaaak!" Galuh menjerit parau.
"Aaa ... Tuhan ... kenapa Kau mengambil semua yang kupunya? Dulu Bapakku ... kemarin malam Ibuku dan sekarang ... Kau juga mengambil Galih. Satu-satunya keluarga yang kupunya ..." Sambil meracau parau ... Galuh memukul-mukul dadanya dengan tangan yang diinfus. "Kenapa Kau terus-terusan memberikan cobaan kepadaku? Apakah orang miskin seperti aku tidak pantas bahagia?" Tangis Galuh makin pecah, suaranya pun sudah hampir menghilang.
Shankara Birawa hanya bergeming, menatap Galuh lama. Ia tidak menenangkan dengan kata-kata, tapi dengan keheningan.
Hingga bermenit-menit, dia membiarkan Galuh menangis, meracau dan berteriak-teriak parau pada Tuhan.
Sampai akhirnya ia berkata pelan, "Tangisanmu tidak akan bisa mengembalikan apa pun. Semua yang mati tak akan pernah kembali."
"Bapak ... Ibu ... Galih? Kenapa kalian semua meninggalkan aku?" Galuh tak menggubris perkataan Shankara Birawa. Dia tetap meratap dengan air mata yang jatuh sangat deras.
Akhirnya ... Shankara membiarkan lagi Galuh sesenggukkan. Hingga perlahan, tangisan gadis itu berhenti dengan sendirinya.
"Ini semua salah mereka! Ini semua ulah lelaki jahanam itu!" jerit Galuh tertahan. Tangannya terkepal kuat. Dadanya terasa panas oleh amarah yang nyaris meledak dan rasa kecewa yang menggerogoti jiwa dan raganya.
Shankara menaikkan satu alisnya, menatap Galuh dengan lekat, namun dingin. "Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka dan siapa lelaki jahanam yang kamu maksud?"
Galuh menarik napas panjang, menyeka air matanya, lalu mulai bercerita.
"Aku sebenarnya malu menceritakan semua ini pada Tuan. Tapi jujur ... aku sudah tak sanggup menanggung semua ini sendirian, Tuan. Aku ... menyerah."
"Jangan malu! Cepat ceritakan kepadaku!" Suara berat Shankara Birawa mengudara.
Dengan suara bergetar, Galuh membuka luka hidupnya.
Tentang kehormatannya yang direnggut paksa oleh Lingga Buana, tentang keadilan yang tidak berpihak kepadanya, lalu rumahnya yang dibakar sehingga menyebabkan ibunya meninggal. Dan hampir semua penduduk desa Cisaat mencaci maki dirinya. Memojokkannya tanpa belas kasihan sedikitpun.
Semuanya keluar dengan air mata, dengan kemarahan, dengan luka yang menahun.
Dan sepanjang mendengarkan cerita itu, Shankara Birawa, lelaki berjas hitam itu hanya diam.
Mendengarkan.
Dengan wajah dingin, tapi dengan mata yang penuh bara.
Ketika Galuh selesai, udara di ruangan serba putih itu berubah berat.
Hening.
Tapi bukan hening yang kosong, melainkan hening yang mengandung sesuatu yang sedang tumbuh, yaitu amarah dan dendam.
Shankara Birawa melangkah ke arah jendela besar. "Zainal Buana ya?" Ia mengangguk pelan. Lalu mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, tapi tidak diisap. Hanya dibiarkan menyala di jemarinya. "Kalau mereka sudah mengambil segalanya darimu, apa yang akan kau ambil dari keluarga itu sebagai gantinya?"
Galuh menatap punggung lebar Shankara Birawa. "Aku cuma mau mereka merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan segalanya dan dibenci serta dicemooh semua orang."
Lelaki bertato unik di leher itu berbalik.
Tatapannya menembus iris hitam Galuh, dalam dan tegas. Lalu dengan suara rendah tapi jelas, ia berkata. "Kalau begitu, izinkan aku membantumu membalas dendam."
Galuh menatapnya, antara tak percaya dan takut. "K-Kenapa ... T-Tuan mau membantuku?"
Shankara Birawa tersenyum samar, tapi tidak hangat ... senyum yang menyimpan ekspresi aneh. "Karena aku iba melihat keadaanmu. Kamu masih muda, tapi sudah mengalami penderitaan yang sangat amat menyakitkan." Ia mendekat, berhenti tepat di depan Galuh. "Siapa namamu?" Setelah sekian lama mengobrol, Shankara Birawa baru menanyakan nama gadis di hadapannya.
"Galuh. Namaku Galuh Astamaya."
Shankara menyeringai. Tatapannya menancap dalam, membuat jantung Galuh berdetak tak karuan. "Galuh ..." Suaranya merendah, nyaris seperti bisikan maut, "Aku akan membantumu memberikan penderitaan yang sama, bahkan lebih kepada keluarga Buana dan semua orang yang menyakitimu, tapi ... ada syaratnya ..."
Galuh menatap lelaki itu, tubuhnya sedikit kaku. "S-Syarat apa, Tuan?"
Shankara Birawa menatap lurus ke mata Galuh. "Jadilah milikku. Turuti semua perintah dan keinginanku. Maka satu per satu ... orang-orang itu akan kuhancurkan. Bagaimana, apakah kamu setuju?"
Keheningan menelan ruangan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Galuh menatap Shankara Birawa, lama. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak tahu siapa Shankara Birawa Valerius sebenarnya. Hatinya bertanya-tanya. "Apakah Tuan Shankara benar-benar orang baik? Apakah dia tidak akan membohongiku? Apakah ... apakah ... apakah?" Banyak sekali pertanyaan yang berdatangan. Akhirnya Galuh menunduk sejenak, melihat tangannya yang diperban, wajahnya pun sama. Lalu ingatannya kembali terlempar pada ibunya, adiknya dan rumah mereka yang sudah jadi abu. Serta pada penderitaan yang telah menghancurkan kehidupannya.
Galuh menarik napas panjang, mengangkat wajah ... dan dengan suara bergetar namun mantap, Galuh berkata. "Aku setuju, Tuan."
Shankara Birawa menatapnya tajam, seperti sedang memastikan. "Kau yakin? Karena sekali terikat denganku ... maka tidak akan ada jalan kembali, Galuh."
Galuh mengangguk mantap. "Aku yakin, Tuan. Karena aku juga sudah tak punya tempat kembali."
Senyum tipis terbit di sudut bibir Shankara Birawa. Ia mematikan rokok di asbak kristal, lalu mendekat, menatap gadis itu sekali lagi ... kali ini bukan dengan iba, tapi pengakuan. "Mulai malam ini, kau bukan lagi gadis desa tanpa daya. Kau adalah milik Shankara Birawa Valerius."