Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYTB 6
Waktu yang ditunggu Janice pun tiba. Setelah memastikan bibi Jane telah pergi dari villa. Janice dengan cepat mengeluarkan koper miliknya dan membawanya ke lantai dasar.
Janice menunggu ketiga sahabatnya di depan villa. Senyumnya merekah saat melihat mobil milik Jeremy. Freya dan Briant pun segera turun dari dalam obrolan dan membantu membawakan koper dan barang lainnya yang hendak dibawa Janice.
“Ayo, kita harus segera pergi dari sini. Aku takut nanti Stendy akan melihat kita, dan rencanamu akan gagal,” ajak Briant yang langsung di-iyakan oleh Janice dan Freya.
Mobil Jeremy pun melesat pergi meninggalkan villa milik Stendy. Di dalam mobil, Janice menatap bangunan yang dua tahun ia tempati bersama pria yang begitu ia cintai. Tapi, itu dulu. Kini yang tersisa hanya rasa kecewa, sakit hati dan juga benci pada sosok pria tersebut.
Janice sadar keputusannya ini terlalu kekanak-kanakan, karena pergi tanpa memberitahukan Stendy. Seharusnya ia dan Stendy berbicara berdua mengenai hubungan mereka. Akan tetapi, setelah melihat ekspresi wajah Stendy yang terlihat begitu panik saat Harisa menghubunginya. Janice semakin memiliki pemikiran yang membuatnya yakin bahwa Stendy memang tidak pernah mencintainya. Memilih mundur dan pergi dari sisi Stendy adalah keputusan yang tepat tanpa harus membicarakannya lagi dengan pria itu. Karena semuanya akan sia-sia dan rencananya pun akan gagal. Tentu hal itu tidak akan terjadi lagi, sebab Janice tidak ingin kembali mengecewakan kedua orang tuanya.
Janice sudah tiba di apartemen lamanya, ketiganya pun menaruh barang bawaan mereka juga. Kemudian mereka bertiga bergerak untuk membantu Janice membersihkan apartemen, yang memang belum sempat dibersihkan oleh Janice.
“Aku merasa tidak enak pada kalian. Seharusnya kalian tidak perlu membantuku membersihkan apartemen ini,” ucap Janice merasa bersalah pada ketiga sahabatnya.
“Hei, kita ini sahabat. Jangan sungkan seperti itu! Aku tidak suka,” protes James.
“Ya, benar apa yang dikatakan James. Kami akan selalu ada untuk kamu, Janice. Jadi jangan merasa kamu tidak enak dengan kami,” sambung Freya yang sibuk menyapu.
Briant datang dari arah dapur dan ia juga ikut menimpali ucapan kedua sahabatnya.
“Kita ini sudah seperti keluarga. Untuk kedepannya apapun yang terjadi jangan pernah lupa minta bantuan kami,” cetus Briant.
Janice yang mendengar ucapan tulus dari para sahabatnya pun begitu terharu. Bahkan matanya sudah mulai memerah dan berkaca-kaca.
Freya yang melihat itu pun langsung protes. “Jangan nangis! Aku tidak suka melihatmu menangis. Hentikan itu,” terdengar suara tegas Freya keluar dari bibirnya.
Akan tetapi matanya pun ikut berkaca-kaca. James yang tidak jauh dari Freya pun menggeleng dan menyindir Freya.
“Kamu sendiri juga sudah mau nangis. Dasar cengeng,” celetuk James.
“James!” pekik Freya yang langsung memukul James dengan sapu yang dipegangnya.
“Aduh!” James mengeluh saat tangannya kena pukul gagang sapu oleh Freya.
Briant dan Janice pun tertawa melihat keduanya mulai berdebat. Janice merasa beruntung memiliki sahabat yang menyayanginya, dan mau berteman dengannya tanpa memandang status. Janice menatap James dan Freya bergantian. Janice sangat tahu Freya adalah gadis biasa yang datang ke desa untuk mengadu nasib bersekolah di kota Jiangxi. Kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai petani. Sementara James ayahnya bekerja di sebuah lembaga kemasyarakatan. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal.
Sedangkan Briant, rata-rata keluarganya bekerja sebagai pegawai negeri. Mereka berteman sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ketika Janice, Briant dan James duduk di bangku kelas 11. Freya pindah ke sekolah mereka sebagai murid baru. Kebetulan sekali mereka berempat satu kelas. James yang saat itu duduk sendirian di kelas, diminta satu bangku dengan Freya yang baru bergabung di kelas tersebut.
Semenjak saat itulah James dan Freya sering berbincang dan bersenda gurau, sampai akhirnya mereka berempat bersahabat. Ketiga sahabat Janice memutuskan untuk melanjutkan sekolah mereka di kampus yang sama. Sementara Janice memilih menundanya, karena dia sangat ingin dekat dengan Stendy.
Alasan terbodoh yang Janice pilih. Hanya karena cintanya pada seorang pria, mampu membuatnya menjadi wanita bodoh dan buta akan segalanya. Akan tetapi, kini Janice sudah menyadari kesalahannya itu. Hingga ia memutuskan untuk memperbaiki semuanya.
Janice dan ketiga sahabatnya merebahkan tubuh mereka di atas karpet berbulu di depan tv. Nafas mereka sedikit terengah-engah, sebab sudah merasa lelah. Akhirnya setelah hampir dua jam mereka membereskan dan merapikan apartemen Janice. Kini waktunya mereka beristirahat dan sedikit merenggangkan otot-otot mereka.
“Ternyata membersihkan itu sangat merepotkan, ya!” keluh Briant yang pada dasarnya tidak pernah melakukan kegiatan berat seperti bersih-bersih.
James berdecak sinis. “Iya, karena kamu biasanya selalu meminta pelayanmu yang merapikan kamarmu,” celetuknya sedikit menyindir.
Namun, Briant tidak membalasnya. Karena memang itu benar, Briant hanya mengerucutkan bibirnya sambil merapikan kacamatanya.
“Kalian mau makan apa?” tanya Janice.
“Kita pesan makanan cepat saji saja,” usul James.
“Iya, lebih praktis,” sahut Briant.
“Tapi, terkadang porsi cepat saji itu tidak banyak,” keluh Freya.
“Astaga, kamu ini badan mungil tapi soal makan porsinya harus lebih,” kata James sambil geleng kepala.
Freya mendengus sambil mengerucutkan bibirnya.
“Tenang saja aku akan pesan dua porsi untuk kamu,”
Akhirnya Dewi penolong Freya bersuara. Janice memang sangat pengertian dengan dirinya. Freya pun bangun dan menatap Janice dengan senyuman bahagianya.
“Terima kasih, Janice. Kamu memang sahabat aku yang sangat pengertian denganku, kalau soal makanan. Tidak seperti orang gila yang hanya bisa menyindirku saja,” ucap Freya sambil melirik sinis ke arah James.
James yang melihat tatapan sinis dan penuh sindiran dari Freya pun ikut bangun dan duduk bersila. Membuat Briant dan Janice ikut bangun untuk menengahi keduanya. Mereka memang sudah khatam dengan sifat James dan Freya yang sering bertengkar seperti kucing dan anjing.
“Hei!… kau menyindirku?” James melotot ke arah Freya.
Freya langsung berkacak pinggang, dan tidak mau kalah dari James. “Kenapa? Mau protes?” tantang Freya yang membuat James semakin kesal pada gadis itu.
Janice dan Briant sudah bersiap untuk mengambil ancang-ancang, agar tidak terjadi pergulatan sengit. Bagaimanapun mereka tahu kalau Freya memiliki kemampuan taekwondo. Bahkan gadis itu sudah bekerja sebagai asisten instruktur taekwondo (Busabumnim).
Briant sudah memberi kode pada James untuk mengalah. Begitupun juga dengan Janice yang sudah melotot padanya. Seketika itu juga James menciut dan dengan terpaksa mengalah lagi.
“Tidak. Aku tidak protes,” jawab James dengan suara pelan tidak membentak seperti tadi.
Freya mengerjapkan matanya, dia merasa tidak enak. Namun, masih kesal dengan James yang selalu mencari keributan dengannya.
“Baguslah kalau begitu,” kesal Freya.
Janice dan Briant menghela nafas leganya.
“Sudah jangan bertengkar atau berdebat lagi. Aku akan pesankan makanan dan cemilan untuk kita,” kata Janice mencairkan suasana.
“Aku mau mandi,” cetus Freya.
“Pakai kamar mandi yang di dalam kamarku saja,” jawab Janice dan Freya pun mengangguk.
“Aku juga mau mandi,” seru James.
Freya langsung menoleh dan tatapannya pun bertemu dengan tatapan James. Tatapan Freya dan James sama-sama tajam, mungkin jika digambarkan ada kilatan kuning keluar dari kedua mata mereka. Freya langsung mendengus sinis dan membalikkan wajahnya, begitupun dengan James yang tersenyum sinis. Keduanya sama-sama bangkit dan menuju kamar mandi dengan arah berbeda.
Janice dan Brian kembali dibuat tegang, namun satu detik kemudian dapat bernafas lega.
“Ya Tuhan, kenapa mereka berdua selalu membuat aku tegang dan bersikap hati-hati,” keluh Briant sambil menyadarkan punggungnya di kaki sofa.
Janice pun berpikir demikian, dan memilih untuk memesan makanan. Namun, mendengar ucapan Briant membuatnya langsung menoleh dan menatap pria itu.
“Rasanya aku sangat ingin menjebak mereka berdua. Biar mereka berdua tidak bertengkar lagi,” celetuk Briant mengeluarkan idenya yang terdengar ambigu.
Janice mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?” tanya Janice untuk memperjelas ucapan Briant.
Briant tersenyum penuh arti sambil menekan bagian tengah kacamatanya.
“Aku ingin menyatukan mereka dengan cara menjebak keduanya,” jawab Briant.
“Jangan bilang kamu ingin…”
“Ya, sepertinya itu akan seru. Tiba-tiba mereka berdua sudah bersama dalam satu ranjang,”
Plak…
"Aaawwww…!” Pekik Briant saat kepalanya dipukul Janice.
“Dasar otak mesum!” maki Janice. “Jangan sampai kamu benar-benar melakukan hal itu pada mereka. Awas saja kau!” ancam Janice sambil menunjuk wajah Briant.
Briant pun memucat mendapat ancaman dari Janice. Kedua tangannya sudah terangkat ke atas, seakan menyerah dan takut pada Janice.
“Iya, maaf.” Briant tidak berani melawan Janice.
Janice mendesah kasar dan tidak habis pikir, jika sahabatnya memiliki pikiran licik seperti itu. Benar-benar gila, pikir Janice.
Malam pun tiba, Stendy nyatanya tidak kembali ke villa. Harisa terus menahannya di apartemen wanita itu dengan berbagai alasan. Seperti saat ini, wanita itu mengatakan kalau dirinya tidak bisa tidur. Karena rasa takutnya. Akhirnya, Stendy meminta Yohan dan Rodez untuk tinggal menemaninya. Bagaimanapun juga ia tidak ingin ada kesalahpahaman dari keluarga Harisa, jika dirinya ada di apartemen hanya berdua dengan wanita itu.
“Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Harisa. Papa kamu tidak akan mungkin berani datang kesini. Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk berjaga di depan apartemenmu,” kata Stendy kembali berusaha menenangkan Harisa.
“Yang dikatakan Stendy benar. Kamu tidak perlu khawatir,” Yohan ikut membenarkan ucapan Stendy.
Sedangkan Rodez hanya diam dan sibuk dengan ponselnya. Pria itu sibuk bertukar kabar dengan Janice. Rodez jengah melihat drama yang dibuat Harisa. Sebenarnya ia sangat ingin pergi dari apartemen itu, akan tetapi Stendy seakan mencegah dirinya pergi dan harus tetap tinggal di sana. Rodez mendesah dan bangkit dari posisi duduknya. Lalu ia membuka pintu balkon apartemen Harisa, dan duduk sana sambil mengeluarkan rokok.
Melihat Rodez yang memilih untuk merokok di balkon, Stendy pun meminta Harisa untuk beristirahat.
“Sebaiknya kamu istirahat saja, ini sudah malam.” Stendy membujuk Harisa dan wanita itu pun mengangguk patuh.
Harisa pun segera masuk ke dalam kamarnya, ia sengaja tidak mengunci pintu. Stendy yang melihat Harisa sudah masuk pun, segera menuju balkon. Yohan pun ikut nimbrung di sana.
“Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Stendy yang membuat alis Rodez mengernyit.
Yohan menyimak apa yang sedang keduanya obrolkan. Akan tetapi, jika terjadi perdebatan di antara Rodez dan Stendy. Yohan sudah siap untuk menengahinya.
Rodez menghembuskan asap rokoknya, dan menjawab pertanyaan Stendy dengan sinis.
“Bukan aku yang punya masalah, tapi kau. Kau yang akan mendapat masalah, Stendy.”
Stendy menatap tajam pada Rodez, “Apa maksudmu? Apa kau masih tidak senang jika aku bersama Harisa dan menemaninya malam ini?” tanya Stendy dengan suara sedikit meninggi. Entah mengapa ia merasa, kalau Rodez menyukai Harisa.
Yohan sudah pasang badan, dan ia memperingatkan Stendy untuk tidak bersuara keras.
“Kecilkan suaramu, Stendy. Jangan sampai Harisa mendengar pembicaraan kalian,” Yohan mencoba memperingati Stendy.
Rodez hanya tersenyum sinis, sementara Stendy sudah mengatupkan bibirnya.
Rodez mematikan rokoknya dan membuat puntung rokoknya ke dalam asbak kecil yang ada di atas meja. Ia kembali menatap Stendy dengan tatapan dingin.
“Apa kau sudah memberitahukan Janice, kalau kau tidak pulang malam ini? Jangan sampai kau lupa untuk mengabarinya. Karena dia adalah calon istrimu,” Rodez memperingati Stendy dengan menekankan kata ‘calon istri’.
Stendy diam mendengar pertanyaan Rodez, bahkan ia baru teringat kalau dirinya sudah berjanji akan segera kembali ke villa. Tapi kenyataannya dirinya malah memilih untuk tetap di apartemen Harisa untuk menemani wanita itu.
Namun, sisi keegoisan Stendy membenarkan akan sikapnya. Baginya Harisa lebih membutuhkan dirinya ketimbang Janice. Janice kesepian masih bisa berkumpul dengan teman-temannya. Sedangkan Harisa, dia tidak bisa. Karena Harisa tidak memiliki teman.
Hanya satu orang yang dulu sangat dekat dengan Harisa. Namun, entah mengapa hubungan mereka renggang dan temannya Harisa itu memilih pergi dan menjauh dari Harisa.
“Sepertinya itu tidak perlu. Bahkan dirinya juga sudah tahu, kalau dia tidak sepenting itu di dalam hidupku.”
Rodez mengepalkan tangannya mendengar jawaban Stendy. Ingin rasanya ia menghajar habis-habisan wajah Stendy. Akan tetapi ia teringat pada pesan Janice yang sempat dikirim olehnya tadi.
Rodez tertawa sinis dan mengangguk seolah paham dengan apa yang dimaksud oleh Stendy.
“Ya, dia memang sangat tidak penting bagimu. Tapi, kita lihat saja nanti. Suatu saat kau akan menyesal telah berkata seperti itu,” Rodez seolah sedang menantang atasan sekaligus sahabatnya itu.
Yohan yang memahami kondisi mulai memanas pun memilih untuk menengahinya.
“Hei, sudahlah! Rodez sebaiknya kamu istirahat saja. Dan, kamu Stendy sebaiknya kita bersantai sambil main game saja. Bagaimana?” tegur Yohan dengan usaha memberi usulan.
Rodez yang sudah merasa jengah di apartemen Harisa pun memilih untuk pergi.
“Sebaiknya aku beristirahat di rumahku saja. Disana lebih nyaman daripada apartemen ini,” Rodez segera pergi meninggalkan Stendy dan Yohan begitu saja.
Stendy masih diam dengan tatapan kesal, sedangkan Yohan hanya bingung mau berbuat apa. Akhirnya Yohan memilih diam sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Rodez mengendarai mobilnya dan menuju ke sebuah tempat, bukan rumahnya melainkan apartemen Janice. Tadi Janice sudah mengirim pesan dimana alamat apartemen wanita itu.
Disinilah Rodez yang sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Janice. Rodez menekan bel dan tidak lama pintu pun terbuka. Alangkah terkejutnya Rodez saat melihat siapa yang membuka pintu.
Briant membenarkan posisi kacamatanya dengan tatapan dingin menatap Rodez.
“Cari siapa?” tanya Briant dengan nada bicara kurang bersahabat.
“Benarkah ini apartemen milik Janice? Aku Rodez dan ingin bertemu dengannya,” jawab Rodez yang tidak kalah dinginnya saat berbicara.
Briant berdehem, “Oh, kalau begitu masuklah. Janice sudah menunggumu,” Briant pun membuka pintu lebih lebar sedikit, agar Rodez bisa masuk ke dalam.
Rodez masuk dan kembali dibuat terkejut saat mendengar suara berisik dari dua orang yang sedang asyik bermain Playstation.
Freya dan James menoleh saat melihat sosok Rodez. Tidak lama Janice keluar dari dalam kamarnya.
“Oh, kamu sudah sampai. Ayo, silakan duduk,” Janice mempersilahkan Rodez untuk duduk.
“Ah, ya kamu masih ingat mereka, kan?” tanya Janice pada Rodez sambil menunjuk ke arah Freya, James dan Briant.
“Eum, ingat. Tapi aku lupa nama mereka, aku hanya tahu kalau mereka adalah sahabatmu,”
Wajar jika Rodez tidak begitu mengenal ketiga sahabat Janice. Sebab sejak dulu hidupnya hanya fokus pada pekerjaan dan juga Stendy. Untuk kehidupan Janice sendiri, Rodez tidak begitu mengetahuinya. Pria itu hanya mengenal begitu saja sekedar say hai. Bahkan untuk berbincang pun tidak seperti saat ini.
“Itu Freya, James dan yang berdiri ini adalah Briant.” Janice menunjuk satu persatu sahabatnya untuk dikenalkan oleh Rodez.
“Salam kenal kembali Tuan Rodez,” sapa Freya yang tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya.
Rodez mengangguk dan juga tersenyum canggung. “Iya, salam kenal kembali semuanya,” jawab Rodez agak kaku.
Janice yang menyadari kalau Rodez sedikit canggung pun, mengajaknya untuk duduk di kursi meja makan.
“Kita duduk disini saja, ya?” ujar Janice.
“Tidak apa-apa. Dimanapun aku tidak masalah,” jawab Rodez.
Janice hanya mengangguk dan langsung duduk di kursi, begitupun dengan Rodez.
“Ini,” Rodez menyodorkan sebuah amplop coklat pada Janice.
Janice tersenyum tipis, dan mengambil amplop tersebut. Setelahnya ia membukanya dan senyumnya pun kembali melebar.
“Dan, ini juga…”