Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper
Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Tinggalkan Zane!
Beatrice tidak pulang ke rumah keluarga Brooks, ia kembali ke kamar asrama kampus yang terasa sepi. Walaupun sedang cuti kuliah, Beatrice tetap tinggal di sana. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di rumah mewah keluarga Brooks. Apalagi sejak Colton dirawat di rumah sakit, semakin tidak ada alasan baginya untuk pulang ke rumah itu.
Rumah itu sudah tidak lagi terasa seperti rumah untuknya sejak Daisy dan Rosela masuk ke rumah itu.
Beatrice duduk di tepi ranjangnya, mencoba mengabaikan denyutan nyeri di pinggul dan kakinya. Ia melihat jam dinding. Ia harus segera bersiap pergi ke tempat kerjanya.
Setelah meninggalkan Alex pagi itu, ia hanya ingin kembali ke rutinitas normalnya. Beatrice sudah menganggap kejadian semalam sebagai masa lalu, kecelakaan. Beatrice merasa tidak rugi-rugi amat karena pria semalam sangat tampan, tapi jujur ia sudah tidak terlalu ingat wajahnya, bayangan wajah pria itu blur, ia hanya ingat kalau pria itu tampan.
Saat Beatrice hendak bangkit dan meraih handuk, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya membuat dahinya berkerut, Rosela.
> Beatrice, aku tahu kamu sibuk, tapi aku butuh bicara penting denganmu. Bisakah kita bertemu di Coffee Bean di dekat kampusmu? Sekitar jam sembilan.
Beatrice memutar bola matanya dengan malas setelah membacanya.
Ia sangat malas dan muak melihat ekspresi palsu Rosela.
"Apa dia tidak lelah harus terus berakting? Aku sudah bisa menebak apa yang ingin dia bicarakan", pikir Beatrice.
Coffee Bean itu memang tidak jauh dari kampus dan tempat kerja part-time Beatrice. Ia melihat jam, masih ada waktu luang sekitar satu jam sebelum ia harus mulai bekerja.
Akhirnya, Beatrice setuju. Ia membalas singkat, "Oke."
Ia segera masuk ke kamar mandi. Air hangat terasa menenangkan, tetapi saat menyentuh kulitnya, ia tidak bisa mengabaikan sensasi perih di area-area sensitif. Ia menutup matanya, berusaha menghapus gambaran pria yang kasar namun sangat intim semalam.
Setelah selesai mandi, Beatrice berpakaian sederhana dengan jeans longgar dan kaus halter neck untuk menutupi jejak pria semalam. Ia merapikan rambutnya.
(Beatrice belum tahu nama pria itu adalah Alex)
Beatrice pergi menuju kafe tempat janjian.
Beatrice melangkah masuk ke dalam Coffee Bean. Kafe itu masih sepi di jam menjelang siang ini. Ia segera masuk ke salah satu private room dan melihat Rosela sudah menunggunya. Rosela, dengan dandanan sempurna dan aura seorang sosialita.
Beatrice duduk di kursi seberang Rosela, tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menyapa. Ia hanya menatap Rosela dengan pandangan tenang sambil menyandarkan punggungnya.
Rosela tidak repot-repot berbasa-basi. Begitu Beatrice duduk, Rosela langsung meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan ekspresi yang keras.
“Aku yakin kamu sudah dengar semalam. Aku hamil anak Zane. Jadi, kamu harus pergi meninggalkan Zane, putuskan pertunangan kalian,” ujar Rosela, nadanya penuh tuntutan, seolah itu adalah perintah yang mutlak.
Beatrice hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum dingin yang tidak mencapai matanya.
“Kenapa juga aku harus mendengarkanmu, Rosela? Zane saja tidak berkata apa pun.” Beatrice mengangkat bahu, berpura-pura santai.
“Jangan-jangan Zane ingin kamu menggugurkan anak itu dan tidak mau bertanggung jawab, maka dari itu kamu mendatangiku. Ah! Atau jangan-jangan Zane ragu kalau anak itu anaknya.”
Kata-kata Beatrice menusuk Rosela.
“Kalau tidak salah, belum lama ada berita kamu keluar masuk hotel dengan Direktur John. Ada juga berita tentang kamu dan Produser Hills,” lanjut Beatrice, menyilangkan tangan di dada. “Yah, walaupun semua berita itu sudah hilang dengan cepat karena ada skandal lain yang lebih besar… Tapi aku sempat menscreenshot berita itu. Mungkin bisa aku ramaikan lagi. Aku penasaran apa yang fansmu pikirkan jika tahu kelakuanmu ini.”
Wajah Rosela langsung memerah menahan amarah dan malu. Matanya berkilat tajam.
“Itu bukan urusanmu, Beatrice! Jangan sembarangan bicara!” Rosela membanting tangannya ke meja, suaranya sedikit meninggi.
“Aku yang hamil, aku yang paling tahu ini anak siapa. Ini anak Zane! Aku cuma tidur dengan Zane!”
“Oh ya?” Beatrice menyilangkan kaki jenjangnya. “Ya kalau yakin, kamu tidak perlu sampai menggebu-gebu seperti ini hanya untuk membela diri, kan?” Beatrice tersenyum miring, ekspresi yang menunjukkan betapa muaknya ia pada drama Rosela.
Keheningan melanda sesaat. Beatrice menatap lurus ke mata Rosela, membuat Rosela menjadi gelisah.
“Dengar ya, Rosela. Kamu bisa ambil Zane,” ujar Beatrice, nadanya kini berubah menjadi datar dan penuh rasa jijik. “Aku tidak butuh laki-laki macam dia. Kalaupun dia memilihku daripada kamu, aku sudah sudi mengambilnya lagi. Bagiku dia sudah kotor.”
Beatrice berdiri. Pertemuan ini sudah menghabiskan waktunya. Ia tidak lagi peduli pada Zane, apalagi Rosela.
Saat Beatrice hendak melangkah pergi, tiba-tiba Rosela menahan tangannya. Cengkeramannya kuat.
“Ambil uang ini dan pergi sejauh mungkin dari Zane!” Rosela mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tas tangannya dan menyodorkannya ke arah Beatrice. Uang itu pasti berjumlah fantastis. “Tidak usah munafik! Kamu butuh uang untuk pengobatan Colton, kan?!”
Beatrice menatap amplop itu seolah Rosela menyodorkan sampah.
“Aku tidak sudi menerima uang kotormu. Siapa yang tahu dari mana asal uang itu, apa itu hasil jual diri?” balas Beatrice tajam, menatap tangan Rosela yang memegangi pergelangan tangan Beatrice. “Bagiku semua milikmu itu kotor. Dan jangan dekat-dekat saat bicara denganku, napasmu bau seperti sampah!”
Beatrice menepis tangan Rosela yang memegang pergelangan tangannya dengan sentakan kuat. Rosela terkejut dengan penghinaan yang begitu blak-blakan dari Beatrice.
“Kau!! Apa Zane tahu betapa beracunnya mulutmu?!” Rosela menunjuk Beatrice, bibirnya bergetar menahan amarah.
Beatrice berbalik, memutuskan untuk pergi tanpa memedulikan Rosela lagi.
Namun, saat Beatrice melangkah, tiba-tiba terdengar suara berdebum keras.
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣