Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Ara yang melihat Sintia datang dengan muka ditekuk penasaran, ia menghampiri sahabatnya itu.
"Lo kenapa?"
Yang ditanya bukan menjawab malah sibuk melamun. Hal itu bikin Ara mendecak kesal. Ia menyetil dahi Sintia, membuat gadis itu mengaduh.
"Sakit, Ra," protesnya.
"Lagian ngapain ngelamun. Lo kenapa? Datang-datang bukannya happy malah murung begitu."
Sintia tidak menjawab, ia hanya menggeleng lemah.
Dari arah pintu Jefry datang, laki-laki itu mengambil tempat duduk disamping Sintia. Ara yang melihat langsung tidak suka.
"Hai, Sin," sapanya.
Sintia tersenyum ia membalas sapaan itu dan bertanya. "Kak Jef ngapain ke kelas aku?"
"Mau ketemu kamu lah."
Ara menyenggol bahu Sintia yang tampak asyik ngobrol dengan Jefry, padahal tadi gadis itu murung sekali.
"Ngapain sih malah ngobrol sama dia."
Ara menatap tak suka, jujur ia tidak kenal dengan Jefry namun firasat ia tentang laki-laki itu tidak enak sekali.
"Eh—sampe lupa kak, kenalin ini temenku. Ara namanya."
Sintia memperkenalkan mereka. Jefry mengulurkan tangan. Ara hanya diam saja tidak membalas membuat Sintia menyenggol gadis itu. Ara tanpa perkataan apapun menyeret tangan Sintia untuk pergi dari sana.
"Ara. Apa, sih?!"
Sintia tidak terima. Gadis itu melepas pegangan Ara tadi.
"Gak usah deket-deket dia, deh. Gue punya firasat nggak enak tentang tuh cowok."
"Apa, sih? Gue udah kenal Kak Jefry dari lama, Ra. Dia baik kok."
"Udah deh lo percaya sama gue."
Sintia menghela nafas kemudian. "Lo sama Papa lo sama aja!"
"Maksud lo?" Ara bertanya dengan nada bingung.
"Ma—maksud gue... Udah, ah gue mau ke toilet."
Jawaban ambigu dari Sintia membuat Ara makin bingung. "Ngapain dia bawa-bawa papa gue. Kayak kenal papa gue aja."
****
Sintia membuka ponsel yang sedari tadi bergetar terus. Ada ribuan misscall dari Arga dan juga beberapa chat.
Arga:
Maaf.
Aku minta maaf.
Nanti pulang kuliah aku jemput, ya?
Sintia memilih untuk tidak membalas. Ia sangat jengah dengan sikap Arga tadi. Bisa-bisanya dia bilang Sintia cuma anak muda yang tidak mengerti apa-apa. Sedang Sintia saja tiap weekend harus kerja part time demi membantu perekonomian keluarga karena ayahnya sudah meninggal sejak ia SMA.
Ada chat masuk dari Jefry membuat senyum dibibir Sintia muncul.
Jefry:
Btw, nanti pulang kuliah ngopi yuk.
****
Sintia dan Jefry berjalan beriringan ke parkiran motor. Jefry cowok itu tidak membawa mobil. Mereka sesekali melempar candaan satu sama lain. Ara hari ini pulang dulu katanya sih karena terlalu kecapekan. Dari arah kejauhan Sintia dapat melihat sosok pria yang sengaja ia hindari hari ini berdiri tidak jauh disamping mobilnya.
"Kak Jef."
"Ya. Kenapa?"
"Gandeng tangan aku,plis," pintanya.
Jefry menaikkan alisnya tapi ia langsung melakukan itu. Mereka berjalan sembari berpegangan tangan. Arga yang melihat itu mengepalkan tangan. Ia lalu berjalan mendekati kedua lawan jenis itu.
"Sintia," panggilnya.
Jefry menoleh, Sintia memilih untuk tidak merespon. Gadis itu membelakangi Arga.
"Sin, ini siapa. Om kamu?" Jefry bertanya.
"Saya—" ucapan Arga terpotong karena Sintia buru-buru menyahut.
"Iya, dia om aku, kak—" ia membalikkan badan dan melihat ke arah Arga. "Ada apa, om?"
Arga memandangi Sintia tidak suka. Tidak suka gadis itu bergandengan tangan dengan cowok lain. Dan tidak suka jika ia disebut 'om'.
"Oh, halo om." Jefry membungkukkan badan dengan sopan. Arga menggeleng keras-keras. "Nggak usah sok akrab. Dan saya bukan om kamu."
"Sintia. Kita perlu bicara." katanya lagi.
Sintia menggeleng, gadis itu menarik tangan Jefry pelan.
"Nggak. Mending om pergi aku mau jalan sama Kak Jefry."
Penolakan membuat Arga terdiam. Ia memandangi punggung Sintia yang mulai menjauh. Omongan dia tadi sudah menyakiti hati gadis itu.
****
"Makasih ya, Kak," ucapnya begitu ia turun dari motor Jefry. Gadis itu sampai rumah tepat jam 7 malam. Saat akan membuka pintu tiba-tiba suara Arga mengagetkannya.
"Kamu ngapain aja sama dia?"
Sintia tidak menggubris, gadis itu lebih memilih masuk rumah dan berpapasan dengan Mama yang sedang menghangatkan sup di dapur. Arga mengikutinya. Bahkan sampai di kamar.
"Kamu ngapain aja sama dia? Pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Arga.
"Bukan urusan kamu!"
"Jelas urusan aku. Aku ini pacar kamu."
Jawaban itu membuat Sintia bersedekah dada. "Pacar? Aku kan cuma anak muda yang gak ngerti apa-apa. Itu kan kata kamu tadi?" Kamu lupa ya? Aku bantu ingetin lagi, deh."
Arga mengusap wajah gusar. Benar. Sintia marah karena itu.
"Aku minta maaf."
Gadis itu pura-pura tidak mendengar. Arga berjalan mendekati Sintia lalu memeluk pacarnya itu.
Sintia hanya diam, tidak membalas pelukan Arga. Ia malah melepaskan.
"Pulang sana! Aku males liat kamu!"
"Kamu ngusir aku?"
"Iya, pulang sana!"
Arga sengaja diam, tidak bergerak dari tempatnya. Ia malah sibuk melihat Sintia yang berjalan kesana kemari menata buku.
"Ngapain sih masih disini?!"
Tanpa sengaja, Sintia menginjak sesuatu membuat dia oleng dan otomatis Arga segera menangkap tubuh gadis itu. Mereka bertatapan selama beberapa detik.
"Sintia ayo mak—"
Mama membuka pintu dan melihat adegan itu. Keduanya pun tersadar dan salah tingkah.
****
Selesai makan Arga meminta waktu sebentar untuk ngobrol dengan Sintia. Mama mengangguk dan pergi ke arah kamar.
"Aku minta maaf kalo aku salah," ucapnya.
Sintia menyindir. "Tuh tau kan salah. Kalo ngomong jangan cuma pake mulut lain kali, om!"
"Jangan panggil aku, Om. Aku nggak suka."
"Om!"
"Om!"
"Om!"
Detik itu juga Arga menarik Sintia dan mencium bibir gadis itu. Yang diperlakukan begitu hanya terdiam, tubuhnya seakan beku seperti es.
****
Vote+ koment ya gais. Bantu support.