Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur satu ranjang
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar berdesain modern minimalis—halaman luas, tingkat tiga dan dinding batu alam yang mahal.
Selina ternganga. “I-Ini rumah siapa…?”
Adipati turun sambil mengambil koper. “Rumah kita. Ayo turun.”
Selina masih tak percaya. “Rumah kita? Mas… jangan bercanda. Katanya kamu pengangguran, malas, ditolak banyak cewek… kok rumahnya segede istana gini?”
“Ya emang rumah saya. Mau gimana lagi?” kata Adipati datar, seolah itu hal biasa.
Selina turun sambil memandang ke seluruh sudut rumah. Ini… bukan level orang nganggur… ini level sultan!
Adipati membuka pintu. “Maaf ya rumahnya baru jadi. Belum banyak perabotan. Besok kita beli-bareng.”
Ia menarik koper masuk.
Selina mengikuti sambil masih linglung. “Mas… ini besar banget. Lebih besar dari rumah Pak Kades. Kamar aku yang mana?”
“Di lantai atas. Ayo.”
Adipati naik tangga sambil membawa koper.
Selina menyusulnya sampai ke lantai dua. Hanya ada satu kamar yang sudah terpasang ranjang besar dengan seprai putih bersih.
Adipati menunjuk. “Kamar yang ini.”
Selina mendelik. “Tunggu… jadi… kita tidur seranjang ?”
Adipati menoleh santai. “Iya lah. Kamu istri aku. Masa tidur pisah?”
Selina memerah, gugup. “Aku kira… minimal… ada dua kamar dulu…”
“Belum sempat beli ranjang satunya. Nanti kita beli.”
Ia meletakkan koper Selina di sisi ranjang.
“Untuk sementara,” lanjut Adipati, “belum ada alat masak. Jadi makan dari makanan hajatan yang ibu kamu kasih aja dulu.”
Selina berdiri di tengah kamar, memeluk tasnya, akhirnya bertanya hal yang sejak tadi ia tahan:
“Mas… dari mana kamu dapat uang buat bangun rumah sebesar ini? Mobil mewah? Mahar lima miliar? Satu set berlian? Kamu kan—”
“—katanya pengangguran?” Adipati tersenyum kecil, menirukan ucapan semua orang desa.
Selina mengangguk gugup. “Iya… itu…”
Adipati mendekat dua langkah, cukup dekat membuat jantung Selina berdetak cepat.
“Kamu nggak perlu tahu dulu.”
Nadanya tenang tapi berwibawa.
“Yang penting… kamu jadi istri yang baik. Urus kebutuhan suamimu. Sisanya… biar aku yang tanggung.”
Selina terdiam, antara takut, penasaran, dan semakin bingung dengan sosok suaminya.
Selina merapikan handuk di bahunya.
“Aku mandi dulu.”
Adipati mengangguk singkat.
“Ya sudah. Aku keluar dulu.”
Ia mengambil laptop dan meninggalkan kamar. Selina membongkar koper, mengambil pakaian, lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, ia keluar — tapi kamar sudah kosong.
Selina mengerutkan dahi.
“Kemana pria itu…?”
Ia turun ke lantai bawah.
“Mas Adipati?”
Tiba-tiba pria itu muncul dari arah dapur sambil membawa dua piring.
“Sel, kamu sudah selesai mandi? Ayo makan. Mas barusan siapin makanan di meja.”
Selina mendekat, menatapnya penuh curiga.
“Kamu dari mana sih? Aku cari tadi nggak ketemu.”
Adipati menarik kursi untuknya.
“Dari ruang kerja. Tadi aku sempat kerja sebentar.”
Selina duduk pelan-pelan.
“Kerja? Mas kerja apa? Bukannya kamu bilang nganggur?”
Adipati tersenyum tipis, nada suaranya tenang tapi tegas.
“Sel, nggak semua orang kerja itu harus pakai seragam, capek-capek jadi buruh, atau pergi ke luar kota. Ada banyak cara orang cari uang.”
Selina menunduk.
“Maaf, mas… aku nggak bermaksud meremehkan.”
Adipati menatapnya lekat.
“Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun. Koas kamu, pendidikan sampai spesialis… semua mas yang bayarin. Yang penting kamu sungguh-sungguh.”
Selina buru-buru menggeleng.
“Aku cari beasiswa aja, mas. Biar nggak nyusahin.”
Adipati menatapnya lebih serius.
“Selina, itu kewajiban suami. Kalau kamu ambil beasiswa, kamu harus mengabdi pada pemerintah. Kalau kamu mandiri, nanti kamu bisa buka klinik sendiri. Mas dukung itu.”
Selina hanya terdiam. Kata-kata Adipati melayang-layang di kepalanya.
Di dalam hati ia bergumam:
“Sekaya apa sebenarnya pria ini? Nama lengkapnya saja Raden Adipati Wijaya. Cara bicaranya… wibawanya… rumah besar, mobil mewah, mahar miliaran, berlian. Tapi kenapa dia pura-pura jadi orang biasa? Untuk apa?”
Ia menatap Adipati diam-diam.
Lelaki itu tak berubah — tetap tenang, misterius, dan jelas bukan orang sembarangan.