NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6. pertemuan keluarga

Di pagi yang terasa begitu sunyi itu, Udara yang biasanya segar terasa seperti menekan dada Noa. Ia duduk di tepi ranjangnya, menatap keluar jendela kamar yang mulai disinari oleh matahari pagi, namun ia sendiri masih terjebak dalam gelapnya pikiran semalam.

Matanya bengkak. Wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan bahkan Ia tidak tidur  bahkan sedetik pun karena pikirannya yang kalut. Di tengah keheningan itu, ponselnya berbunyi. Tangannya bergetar ketika mengambilnya, itu pesan dari Riana.

“Noa, malam ini kau dan keluargamu diundang ke restoran Del Vierra. Ibu dan Ayahku ingin bertemu dengan kalian. Sopirku akan menjemput kalian malam nanti, Jangan menolak, ya.”

Pesan itu membuat hati Noa terjun bebas. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menekan kepalanya dengan kedua tangan.

“Restoran mewah? Pertemuan keluarga Mengapa semua ini bergerak terlalu cepat…?”Batinnya

Suara langkah kaki terdengar dari depan kamarnya, itu pasti ibunya yang bersiap memintanya untuk jawaban atas keputusan itu. Noa menegakkan bahunya, menelan rasa pahit di tenggorokan. Ia membaca kembali pesan Riana. Ada ketegasan di sana, ada harapan dan ada tekanan yang seolah halus namun terasa seperti jerat.

Noa mengetik sesuatu. Menulis. Menghapus. Menulis. Menghapus lagi. Pada akhirnya ia menyerah dan mematikan layar ponselnya. Ia tidak tahu harus membalas pesan itu bagaimana. Ia bahkan tidak yakin ia bisa menghadapi malam nanti.

Di luar kamar, suara ibunya terdengar memanggilnya lebih lembut dari semalam, tapi Noa tahu apa yang akan dibahas. Sementara itu, Noa hanya duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponselnya erat-erat. Satu bisikan keluar dari bibirnya, lirih. “Aku… harus bagaimana…?”

 

Saat Noa keluar dari kamarnyq dengan langkah lemas, ia mendapati kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu. Mereka seolah menunggunya sejak subuh, ayah duduk dengan raut wajah tegang dan ibu yang tampak tidak berhenti mondar-mandir gelisah.

Noa berdiri di ambang pintu ruang tamu, ragu ingin masuk.Ibunya yang pertama kali melihat.

“Noa…!” serunya cepat. “Duduk sini, Ibu ingin bicara.”

Nada suaranya terdengar berusaha lembut—terlalu lembut, seperti seseorang yang mencoba menutupi sesuatu. Noa tahu itu bukan ketulusan, melainkan bujukan halus menjelang tekanan. Dengan berat hati, Noa duduk. Ayahnya maju sedikit, mencondongkan tubuh.

“Apa Riana mengirim pesan lagi padamu?” tanya ayahnya tanpa basa-basi.

Noa mengangguk kecil. “Dia… mengundang kita malam ini. Ke restoran Del Vierra.” Sekejap, mata kedua orang tuanya bersinar, bukan karena bangga, tapi karena peluang.

Ibunya langsung menepuk-nepuk lutut Noa, seolah menyampaikan kabar baik.

“Bagus sekali! Itu berarti mereka serius, Noa. Lihat? Kamu tidak punya alasan lagi untuk menolaknya, kan?.” Ayahnya menyahut cepat dengan suaranya penuh antusias yang tak berusaha ia sembunyikan.

 

“Restoran Del Vierra itu tempat orang-orang kelas atas, Noa. Kalau keluarga Riana mengundang, itu artinya mereka benar-benar siap menerimamu. Kau tinggal bilang ya, dan hidup kita akan berubah.” Noa menunduk. Jantungnya terasa berat seperti batu. Ibunya duduk lebih dekat, menatap Noa dari samping dengan sorot mata mendesak.

“Noa, dengar Ibu. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali dalam hidup. Kau bisa menyelamatkan keluarga kita dari semua kesulitan. Kau akan hidup aman, terjamin, dan keluarga besar tidak akan menghinakan kita lagi.” Ayahnya mengangguk cepat. “Dan Riana sudah meminta sendiri, kan? Itu permintaan orang yang sedang sakit. Kau mau mengecewakannya di saat begini?” Perlahan, Noa merasakan tenggorokannya mengencang. Semua alasan itu adalah alasan yang tidak pernah mempertanyakan perasaannya. Tidak ada yang bertanya apa yang ia inginkan. Tidak ada yang peduli bahwa ia mencintai orang lain, dan bahkan ia bahkan belum pernah bertemu Landerik.

Ibunya kembali berbicara, suara mulai berubah menjadi tekanan halus.

“Ibu tidak mau mendengar penolakan lagi. Malam ini kita pergi. Kau harus tampil cantik. Kau harus menunjukkan bahwa kau siap menjadi bagian dari keluarga itu.”

Noa menggenggam jemari sendiri yang gemetaran. “Ayah… Ibu… aku…” suaranya pecah, “aku belum siap.” Kedua orang tuanya saling bertatapan penuh frustrasi. Ayahnya mengembuskan napas keras.

Ibunya memejamkan mata, lalu berkata lirih namun mematikan “Noa… jangan buat kami kecewa lagi.” Keheningan menggantung di ruang tamu. Noa merasa seperti seorang tawanan yang telah dijatuhi vonis.

Di luar, angin pagi berhembus lewat jendela terbuka, seperti satu-satunya yang masih mengingatkan bahwa dunia di luar rumah ini jauh lebih luas daripada pilihan sempit yang orang tuanya paksa padanya.

...♡...

Lampu kristal restoran Del Vierra memantulkan cahaya hangat yang membuat seluruh ruangan tampak seperti berkilau keemasan. Malam itu benar-benar terasa megah,pelayan-pelayan berjas hitam mondar-mandir dengan gerakan anggun, meja-meja dihiasi mawar putih dan lilin tipis yang menyala tenang.

Noa melangkah masuk perlahan di antara kedua orang tuanya. Gaun biru gelap yang ibunya pilih membuat kulit putih susu Noa semakin bersinar. Surai coklat panjangnya dibiarkan tergerai lembut, sedikit bergelombang di ujung. Hiasan mutiara kecil di telinganya tampak berkilau setiap kali ia bergerak. Namun terlihat Noa nampak menunduk bukan karena ia malu, tapi karena kecemasan yang berat di dadanya. Ibunya menggenggam lengannya sedikit terlalu kuat, seolah memastikan Noa tidak bisa mundur lagi.

“Kau cantik sekali malam ini,” bisik ibunya sebelum turun dari mobil sebelumnya, mengecup kening Noa dan memeluknya erat.

“Kau harapan kami satu-satunya, Nak. Ibu sangat mencintaimu.” Kata-kata itu masih menggantung di pikiran Noa, berat dan penuh tuntutan, saat mereka memasuki restoran.

Begitu keluarga Noa terlihat, Riana langsung berdiri dari kursinya. Senyum lebarnya membuat wajah pucat dan kurus itu seolah bercahaya.

“Noa!” serunya, lalu ia setengah berlari, memeluk Noa dengan hangat. “Noa kau cantik sekali. Terima kasih sudah datang.”

Pelukannya begitu kuat, seperti seseorang yang takut kehilangan. Noa membalasnya—pelan, namun tulus.

“Riana, kau terlihat lebih baik malam ini,” ucap Noa lembut. Riana tertawa kecil, mata berkaca-kaca.

“Hanya untuk malam ini. Aku ingin malam ini jadi indah.” Namun di belakang mereka, suasana berbeda terjadi.

Ayah dan ibu Riana berdiri tapi tidak mendekat. Wajah mereka kaku, senyum mereka tidak mencapai mata. Ayah Riana melirik ayah Noa dengan tatapan dingin, padahal mereka itu saudara. Mata mereka menyapu dari ujung kepala sampai kaki, menilai, meremehkan, seperti biasa.

Ibu Riana bahkan tidak menyembunyikan rasa enggannya, hanya mengangguk kecil tanpa bicara.

“Selamat malam,” ucap ayah Noa dengan senyum kaku, mencoba ramah.

“Ya. Malam,” jawab ayah Riana datar. Ibunya Riana menambahkan, “Kami sudah menunggu cukup lama.”

Nada suaranya halus, tapi membuat udara sekeliling langsung terasa dingin. Ibu Noa menunduk sedikit, menahan diri untuk tidak menjawab. Ayah Noa hanya menghela napas dalam, menahan perasaan yang sudah ia kenal sepanjang hidup, direndahkan, dianggap lebih rendah.

Noa melihat semuanya dan hatinya yang menciut. Malam baru saja dimulai, namun rasa tegangnya sudah begitu kuat. Riana segera menyadari ketegangan itu dan menarik tangan Noa.

“Ayo… duduk. Makan malam kita akan segera disajikan.”

Ia mencoba mencairkan suasana dengan tawa kecil, tapi  Noa bisa melihat senyum Riana sedikit bergetar.

...♡...

Beberapa langkah menuju meja besar itu, Noa merasakan dadanya semakin berat.

Bukan hanya karena suasana keluarga yang tidak akur, tetapi karena seseorang sudah duduk di ujung meja. Seseorang yang belum ia kenal.

Seseorang dengan aura tenang, mata yang tajam namun dalam, dan rambut coklat gelap tersisir rapi ke belakang, cahaya lilin memantul lembut di garis rahangnya.

Landerik Van Bodden.

Pria yang diminta Riana untuk menikahi Noa. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

To Be Countinue...

...visual Character...

...◇...

■ Landerik Van Bodden

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!