Sebelum lanjut membaca, boleh mampir di season 1 nya "Membawa Lari Benih Sang Mafia"
***
Malika, gadis polos berusia 19 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Dijual oleh pamannya demi sejumlah uang, ia terpaksa memasuki kamar hotel milik mafia paling menakutkan di kota itu.
“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” perintah Alexander pada tangan kanannya.
Sejak malam itu, Alexander yang sudah memiliki tunangan justru terobsesi. Ia bersumpah akan mendapatkan Malika, meski harus menentang keluarganya dan bahkan seluruh dunia.
Akankah Alexander berhasil menemukan gadis itu ataukah justru gadis itu adalah kelemahan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?
Dan sanggupkah Malika bertahan ketika ia menjadi incaran pria paling berbahaya di Milan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Jhon mengemudi seperti orang gila. Darah segar mulai mengering di sudut bibirnya, dan rasa takutnya telah mencapai titik didih.
Ia tahu, tinggal di bawah satu atap dengan Malika berarti menantang Alexander untuk datang dan menghancurkan seluruh hidupnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk.
Malika yang baru saja terlelap karena kelelahan dan rasa takut, terlonjak kaget saat pintu kamarnya didobrak dengan kasar.
“Malika! Bangun! Dasar gadis pembawa sial!” seru Jhon terdengar seperti guntur.
Malika menyingkirkan selimut, matanya melebar melihat wajah pamannya yang penuh lebam.
“Paman, ada apa? Wajah Paman kenapa?” tanya Malika panik.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Malika. Gadis itu tersungkur ke ranjang dengan rasa sakit luar biasa dan kebingungan membuatnya diam.
“Jangan sok peduli! Semua ini karena kebodohanmu!” hardik Jhon dengan nafas memburu. Lalu, ia mencengkeram lengan Malika dan menyeretnya keluar dari kamar.
“Paman, apa salah Lika? Tolong lepaskan. Ini sakit sekali...”
Jhon tidak peduli. Ia terus menyeret Malika menuju ruang tamu.
“Salahmu adalah berani kabur dari kamar itu saat semuanya belum selesai!” Jhon meludah ke lantai dengan penih amarah.
“Kau berani sekali berurusan dengan mafia, gadis gila!”
Mata Malika melebar. “M-mafia?”
“Ya! Pria yang sedang mencarimu sekarang adalah mafia kejam kelas kakap! Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan padanya sampai dia mengerahkan semua anak buahnya untuk menemukanmu! Aku hampir mati dipukuli karena mereka tahu kau bersamaku!” ucao Jhon.
Wajah Malika memucat. Darah seolah surut dari tubuhnya. Lututnya langsung melemas. Malika tak menyangka jika pria yang barus saja ia tendang adalah seorang mafia.
Jhon mengambil tas lusuh milik Malika yang berisi beberapa helai pakaian dan dompet kosong, lalu melemparnya keluar dari pintu depan hingga tas itu mengenai tubuh Malika yang masih syok.
“Pergi dari sini! Aku muak melihat wajahmu! Kau pembawa sial! Jangan kembali lagi!” seru Jhon mendorong tubuh Malika hingga gadis itu terhuyung ke luar.
Pintu rumah tertutup rapat. Jhon mengunci pintu dari dalam, meninggalkan Malika sendirian.
Malika hanya bisa menatap pintu yang kini tertutup rapat itu dengan pandangan kosong. Rumah yang dulu menerimanya bernaung, kini bukan tempatnya lagi.
“Paman jahat...”
Tiba-tiba, hujan turun. Rintik-rintik dingin membasahi rambut, wajah, dan pipinya yang masih perih.
“Paman, apa salah Lika? Kenapa paman membuang Lika?” gumamnya.
Hujan semakin deras menelan setiap kalimat yang keluar dari bibir gadis malang itu. Ia kini benar-benar sendirian, tidak ada tempat tujuan dan tanpa perlindungan. Di tangannya hanya ada tas kain lusuh yang basah.
Malika duduk dan memeluk lututnya dengan gemetar. Dinginnya malam dan rintik hujan seolah ikut memeluk tubuh kecilnya. Ia tidak lagi peduli pada rasa takut terhadap Alex, karena rasa sakit dicampakkan pamannya sendiri jauh lebih dalam.
“Lika harus kemana sekarang?” gumam menatap ke atas langit malam.
*
*
Jhon mengintip melalui celah tirai yang sedikit tersingkap, menyaksikan Malika terduduk di luar dan meringkuk di bawah guyuran hujan.
“Dasar gadis tidak tahu diuntung! Diberikan tempat tinggal malah membuatku terancam!” decak Jhon dengan wajah sinis. Tak ada sedikitpun rasa kasihan untuk Malika.
Baginya, Malika hanyalah umpan yang gagal, dan kini gadis itu adalah penyebab dirinya menjadi buruan anak buah Alex.
Jhon cepat-cepat menuju lemari, menarik koper kecilnya yang sudah usang.
Anak buah Alexander pasti akan mencarinya lagi. Pria itu tidak pernah main-main. Ketika Alexander marah, seluruh kota akan tahu. Dan jika mereka menemukan Malika di sini, Jhon akan mati.
“Aku harus pergi sekarang. Meninggalkan kota ini,” gumam Jhon dengan penuh tekad.
Jhon melihat lagi ke luar jendela, memastikan Malika masih di sana. Keberadaan Malika di depan rumahnya adalah penangkal sementara. Dimana gadis itu bisa mengulur waktu baginya untuk kabur.
“Inilah waktunya. Selamat tinggal Milan.”
Dengan langkah tergesa, Jhon melirik jam dinding. Ia harus meninggalkan kota ini sebelum fajar menyingsing.
Mulai detik ini, Malika buka urusannya lagi.