Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Resmi lamaran!
Baik Rio ataupun Marisa, keduanya sama-sama gelagapan setelah pertanyaan itu dilontarkan. Ingatan mereka seakan kembali menembus pada kejadian yang tak disengaja malam itu. Dimana Marisa yang tak sengaja mabuk, berjalan ke arah parkir dibantu oleh seorang pria yang ia kira adalah kekasihnya. Ia terlalu larut dalam kerinduan saat itu sehingga yah, hal itu pun terjadi.
'Gawat, dia bakal kasih tahu gak ya, kalau gue yang inisiasi duluan?' Batin Marisa harap-harap cemas sambil melirik ke arah Rio yang sama paniknya juga kaya dia.
'Astaga, bilang apaan ya? Masa iya ngaku dibanting cewek? Harga dirilah meski dia lebih tua dari gua!' Rio malah keinget pas dia ditarik ke dalam mobil dan kena banting di tempat.
"Kenapa kalian malah diam?" Ibunda Risa yang bernama Dewi Karisma itu langsung melihat ke arah Risa dan Rio secara bergantian.
"I-iya Tante, saya yang salah, waktu itu saya benar-benar gak sadar," ucap Rio pada akhirnya mengaku meski kronologi aslinya enggak begitu sih.
"Tapi kamu hebat juga ya, anak saya sampai gak bisa melawan, padahal dia jago karate, sabuk hitam," balas wanita itu mengungkapkan satu kebenaran.
'Buset deh, sabuk hitam! Pantesan saja!' Rutuknya dalam hati. Dia gak lupa besok paginya badan dia sakit-sakit semua.
"Tapi Rio, kamu yakin mau bertanggungjawab ke anak saya? Kamu masih sangat muda, masa depan cerah dan harusnya kamu menikmati masa muda kamu 'kan." Ia seperti sedang mencari kepastian. Sebagai seorang ibu tentu dia ingin melihat kesungguhan setiap pria yang ingin dekat dengan anaknya, apalagi dalam urusan yang lebih besar seperti ini.
"Saya yakin Tante, apalagi itu anak saya, kayaknya saya gak bakal tega buat gak mengakui dia deh...." Rio menatap ke arah Risa, lebih tepatnya ke arah perut Risa.
"Memangnya kamu sudah punya penghasilan sendiri?" Tanyanya dengan nada yang sedikit terdengar tak percaya karena Rio jelas-jelas terlihat masih sangat muda yang kemungkinan dia masih sekolah.
"Saya sudah bekerja di sebuah bar, Tante. Itu tempat saya ketemu sama anak Tante," jelas Rio tanpa berusaha menutupi apapun soal pekerjaannya. "Yah, emang sih, gajinya mungkin gak seberapa, tapi saya bakal berusaha buat mencukupi kebutuhan anak saya dan Bu Risa," sambungnya dengan tekad bulat.
"Lucu kamu, masa masih panggil anak saya pakai, 'Bu'." Wanita itu tertawa melihat kecanggungan Rio.
"Soalnya bingung mau panggil apa." Rio hanya bisa cengengesan.
"Panggil namanya saja Rio, toh nanti dia bakal jadi istri kamu," balas wanita itu terkekeh.
Wajah Rio merah padam saat mendengar kata "istri", sementara Risa terlihat kesal tapi dia tidak bisa protes daripada namanya dicoret dari ahli waris oleh sang ibu.
"Boleh saya tanya sesuatu lagi padamu? Ini yang terakhir." Nada bicaranya kali ini jauh lebih serius.
"Ya Tante, silahkan." Rio mengangguk mantap.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus sekolah?" Dewi menanyakan hal yang sederhana tapi krusial.
Jelas sekali dia sedang ingin mengetahui arah tujuan hidup Rio ke depannya mau seperti apa. Dia gak ingin putrinya mengikuti laki-laki tidak jelas yang gak tentu maunya apa kaya Dion, mantan Risa terdahulu. Pria itu sudah lama menjadi kekasih Risa. Mereka sudah berpacaran sejak dibangku SMA. Tapi alih-alih melamar, dia hanya fokus mengejar karirnya sebagai aktor. Begitu ada kesempatan ke luar negeri, dia tanpa ragu membuang Risa.
"Saya ingin mendapatkan beasiswa agar bisa berkuliah di tempat yang bagus, karena dengan itu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak pasti tidak akan sulit."
Dewi, sebagai seorang ibu dia salut dengan pemikiran matang Rio. Siapapun orang-tuanya, yang jelas mereka sudah berhasil mendidik anak seperti Rio. Dia baik, sopan, memiliki tanggung-jawab dan arah hidupnya sudah jelas untuk anak seumurannya. Mungkin hanya nasibnya saja yang enggak bagus harus bertemu dengan putrinya dan terjadi hal yang seharusnya enggak terjadi.
"Tante suka sama cara kamu berpikir Rio, berjuang demi masa depan dengan kemampuan sendiri," ujarnya dengan perasaan bangga, "enggak kayak seseorang yang mencari keberuntungan dan menjadikan orang lain sebagI batu loncatan saja." Tatapannya kini beralih ke arah sang putri.
"CK, apa sih!" Risa entah mengapa terlihat kesal. Dia mendecakkan bibir dan membuang muka agar tidak melihat tatapan sang ibu.
"Bikin emosi, kenapa malah nyerempet ke Dion sih?" Wajah Risa terlihat masam.
"Kenapa suasananya jadi beda deh, itu Bu Risa kenapa juga?" Rio ngerasa heran sendiri.
"Kalau begitu Minggu depan kalian nikah." Dewi tersenyum samar.
"APA? MINGGU DEPAN?" Risa dan Rio kaget barengan sambil membelalakkan mata.
"Ya, kenapa? Mau protes?" Sambar Dewi dengan wajah galak yang membuat keduanya langsung diem, gak berani protes lebih jauh.
"Tapi Tante, boleh gak ya masalah ini disembunyikan dulu? Soalnya ibu saya sedang sakit, jadi...." Rio tampak bingung untuk memberi penjelasan.
"Hal itu gak masalah, kamu bisa merahasiakannya sementara sampai kondisi ibumu membaik, setelahnya baru mencari cara untuk menjelaskannya baik-baik," sambar ibunda Risa yang sigap, paham akan situasi dan kondisi.
"Kalau begitu Ibu akan mengatur acara dan semua keperluan kalian!" Ibundanya Risa tampak antusias.
"Ahhh, gak usah Ma!"
"Gak perlu Tante!"
Keduanya berbicara disaat yang bersamaan.
"Hm, kalian kenapa? Kok panik?" Dewi mengernyit heran.
"U-untuk sementara kita adakan acara kecil saja," ucap Risa berusaha lembut agar ibunya mengerti.
"Itu benar Tante, apalagi saya 'kan masih sekolah," timpal Rio ikut membantu memberi penjelasan. Jangan sampai deh semua orang di kota mengetahuinya.
"Nah itu dia! Soalnya enggak etis masa guru nikah sama muridnya? Kalau sudah lulus sih, ya gak masalah!" Risa ikut-ikutan mencari alasan. Padahal sih dia emang gak mau ada yang tahu kalau dia nikah sama anak kecil karena jujur saja dia masih sangat mengharapkan Dion dan mereka berdua bisa kembali bersama. Dion sudah berjanji akan menikahinya kalau dia sudah berhasil jadi aktor luar negeri.
"Oh begitu, baiklah soal acara bisa ditunda sampai Rio lulus sekolah." Dewi manggut-manggut mengerti. "Nikah resmi saja dulu dan setelah itu kalian berdua tinggal di apartemen yang sudah kusiapkan sebagai hadiah pernikahan!" Wajahnya mendadak sumringah.
"Tinggal bersama di apartemen?" Lagi-lagi Risa dan Rio ngomong barengan.
"Aduh, kalian berdua kompak ya daritadi ?Gimana nanti kalau sudah nikah, pasti bakal lebih kompak!" Dewi mulai berandai-andai.
"Hadeh, mikir apaan sih ini emak-emak." Risa menepuk jidatnya pasrah.
"Pokoknya nanti semuanya bakal di siapin. Oh iya Rio, Ibu minta nomor kamu ya." Ia mengeluarkan ponsel android canggihnya yang seharga mobil di depan Rio.
"Gile, ponsel seharga 20 juta lebih! Ini serius gua nikah sama anak dia?" Dalam hati Rio masih merasa gak percaya.
"Iya Tante, ini nomor Rio...." Rio sedikit jiper waktu ngeluarin ponselnya yang sedikit jadul.
"Nomor kamu sudah Ibu simpan, nanti bakal Ibu hubungi kamu dua hari sebelum pelaksanaan nikah," ucapnya setelah memasukkan nomor Rio ke dalam daftar kontak dan memberinya nama, "Menantu kesayangan."
"Udah gak ada urusan lagi 'kan?" Sambar Risa yang enggak tahan melihat ibunya sendiri malah akrab banget sama Rio. Hal ini ga pernah terjadi sebelumnya waktu dia bawa Dion ke rumah.
"Kamu kenapa sih, Risa? Rio juga gak lagi buru-buru." Ibunya terlihat kesal.
"Rio itu lagi buru-buru! Dia harus kerjain banyak tugas di sekolah, iya 'kan?" Risa menatap tajam ke arah Rio lalu mengedipkan mata beberapa kali.
"Eh, i-iya Tante, saya lagi banyak tugas sekolah besok!" Rio mengikuti permainan Risa.
"Oh ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya, Nak Rio." Wanita itu tampaknya belum puas dan masih ingin bicara, tapi dia juga gak mau memaksa Rio untuk tinggal lebih lama.
"Terimakasih Tante, Rio pulang dulu." dengan sopan ia pun berpamitan.
Rio bergegas membalikkan tubuhnya dari kedua perempuan itu dan hendak pergi, tapi....
"Lho, Ris? Kamu gak mau antar Rio ke depan?"
Risa tak bicara apapun, ia hanya tersenyum kecut dan membuntuti Rio dari belakang ke pintu utama.
"Rio pulang dulu Tante, Bu Risa." Ia berpamitan sekali lagi saat berada di pintu utama.
"Jangan ngebut jalannya Rio, hati-hati," ucap si wanita yang malah lebih peduli dan mencemaskan Rio dibanding calon istrinya sendiri, Risa.
Rio berjalan keluar dan mengambil kembali motor kesayangannya yang terparkir di samping pos satpam
"Udah selesai urusannya, mas?" Tanya si satpam dengan ramah.
"Iya sudah, pulang dulu Pak, makasih motornya dijagain," balas Rio sambil naik ke atas motor dan memakai helm.
Si satpam langsung bergegas membuka pintu garasi saat melihat Rio yang bersiap untuk meluncur pergi setelah menyalakan mesin motor.
Setelah pintu garasi yang memiliki ukiran bunga matahari pada bagian besi pagarnya itu, Rio segera melajukan kendaraannya. Dia sempat mengangguk kepada si satpam dan akhirnya melesat keluar dari rumah mewah tersebut.
Gimana kelanjutan kisah Rio dan Risa yang nantinya harus tinggal bersama?Jadi penasaran bagaimana pernikahan mereka nanti.
.
.
.
BERSAMBUNG....