Azalea gadis pendiam yang bekerja disebuah penerbitan buku. Hidupnya berubah ketika dia bertemu laki-laki bernama Ray.Pada satu malam yang tidak disengaja mereka terjebak dalam jalinan cinta yang lebih intim yang mengawali hubungan terlarang. Azalea terjebak diantara pilihan yang sulit,melanjutkan hubungan atau berpisah. tapi sanggupkah dia meninggalkan Ray, laki-laki pertama yang mengenalkannya pada dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risky Rafiyani Sembiring, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah ini cinta?
Hari mungkin bisa berlalu namun kenangan itu masih begitu jelas terlintas dalam pikiran Azalea. Apa lagi pria bersama kenangannya yang berusaha dilupakannya itu, terus muncul dihadapannya.
Siang itu, Ray sedang berdiri didepan gadis yang sedang sibuk menghitung beberapa buku yang baru saja dibawanya. Berharap ada beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya, namun gadis itu bahkan tak menoleh kearahnya sedikitpun. Ray tau itu disengaja, namun ia tak bisa berhenti begitu saja.
"kenapa terus datang kemari? "
kata-kata itu tiba-tiba terucap dari mulut Azalea seperti sebuah keajaiban yang menerpa Ray.Pria itu tersenyum dan terlihat begitu bersemangat,sekarang ia tampak kegirangan seperti seorang anak kecil yang baru saja dihadiahkan permen.
"akhirnya kamu mau bicara juga" jawab ray masih dengan ekspresi senangnya
Azalea tak segera menjawab. ia melemparkan pandangan kearah pria didepannya yang masih tersenyum riang.Pria itu masih terlihat tampan dengan setelan rapi khas kantoran, kemeja putih dengan jas senada.Tidak banyak yang diketahui Azalea tentangnya selain ia adalah pria berusia tiga puluhan yang kemarin membawanya ke rumah pribadinya dan menciumnya dengan beringas.Sekarang pria itu bahkan menguntitnya dengan berdalih membeli barang ditoko tempat Azalea bekerja. Mungkin jika tidak segera dicegah pria itu akan segera menghabiskan seluruh buku ditoko itu.
"jangan menguntitku" ucap Azalea dengan nada lirih hampir tak terdengar
Ray mengangkat alisnya sebelah
"menguntit? aku tak menguntitmu, Aku kesini untuk membeli buku" dalih ray cepat
"untuk apa membeli buku sebanyak itu setiap hari, bahkan ada beberapa buku yang sama persis dengan kemarin" ucap Azalea terlihat putus asa.
Ray tak melanjutkan ucapannya dan sekarang menatap lekat kearah gadis kecil didepannya. gadis itu buru-buru memalingkan pandangannya ketika mata mereka beradu. Ray senang karena akhirnya gadis itu mau berbicara dengannya, setidaknya ada kemajuan dalam hubungan mereka.
"Buku-buku itu aku sumbangkan" ucap Ray bersemangat setelah alasan itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Azalea menghela napas dan sekarang kembali menatap kearah pria didepannya yang masih tampak kesenangan.
"kemarin kamu mau minta maafkan, aku akan menerima permintaan maafmu jika kamu melakukan satu hal" kata Azalea pelan
"apa itu? " tanya Ray sekarang tampak serius
"jangan muncul lagi"
'Kadang kita baru merasa kehilangan setelah seseorang itu benar-benar hilang'.kata-kata itu ternyata bukan hanya sekedar omongan belaka.hal itu lah yang sedang dirasakan oleh Azalea ketika pria yang selama sebulan ini terus menguntitnya tidak pernah muncul lagi didepannya, ia tiba-tiba uring-uringan. Pria bernama Ray itu tidak lagi pernah datang ketempatnya setelah pertemuan terakhir mereka beberapa hari lalu.
Azalea meminta Ray untuk tidak lagi muncul dan pria itu benar-benar melakukan hal itu. Apakah Ray menganggap serius permintaannya kemarin.seharusnya pria itu tidak seperti itu. entahlah,namun yang pasti sekarang perasaan gelisah terus menerpa Azalea. Pikirannya tak pernah lepas dari pria itu,mulai dari awal pertemuan mereka di halte bus sampai ke malam penuh gairah itu. Terkadang hati Azalea menghangat ketika mengingat pertemuan singkat itu, Apakah semua ini seluruhnya kesalahan pria itu, tentu tidak.setelah mengingat lebih intens Azalea tahu bahwa dialah yang lebih dulu memeluk pria itu. Dia juga yang mengiyakan ajakan pria itu untuk pergi mengganti pakaiannya yang kotor, dan dia juga yang tak memberi perlawanan ketika pria itu menciumnya dan hampir melakukan hal gila. jadi semua itu bukanlah sepenuhnya kesalahan pria itu.
Dan sekarang ketika ia sudah berhasil membuat pria itu tak muncul lagi,sisi lain darinya akhirnya merasa menyesal.Azalea terus bertanya -tanya dalam hati Apa sebenarnya yang dirasakannya?
"bukunya minta disusun tuh" suara yang begitu familiar mengagetkan Azalea dari lamunannya. Misel tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya dengan ekspresi yang susah ditebak. sedangkan Azalea masih berdiri didepan rak dengan sebuah buku ditangannya dan beberapa buku lagi tampak berserakan dilantai.
"ohh,maaf" jawab Azalea sedikit tergagap, gadis itu buru-buru menyusun buku-buku itu kedalam rak setelah ketahuan melamun oleh rekan kerjanya itu.
"mikirin siapa sih? " tanya misel penasaran
Azalea menggeleng pelan
"enggak mikirin apapun kok"
Misel tak melanjutkan perkataannya, wanita itu sekarang menarik kursi dibelakangnya dan sekarang duduk menghadap gadis kecil yang masih sibuk membereskan buku-buku yang berantakan.
"mikirin pak Ray ya" ucap misel terlihat ringan
Azalea tersentak sedikit, dan membuat gadis itu refleks menoleh kearah wanita dibelakangnya. Apakah ia ketahuan lagi?
Misel tertawa kecil ketika melihat ekspresi terkejut bercampur tak terima dari Azalea.
"Benar kan,Beberapa hari ini pak ray enggak pernah datang lagi, kayaknya ini ada hubungannya denganmu, lea"
Azalea menggeleng cepat
"enggak kok, kami gak ada hubungan apa-apa" protes Azalea
Misel menaikan alisnya sebelah, raut wajahnya tampak tak percaya.
"bener gak ada hubungan apa-apa? , tapi kenapa ya pria yang tak punya hubungan apa-apa itu terus sibuk mencarimu ketika kamu cuti. sepertinya konsepnya gak gitu, deh. "selidik misel masih dengan ekspresi tak percayanya.
Azalea tak menjawab dan hanya menghela napas panjang.
"Dengar-dengar Pak Ray CEO perusahaan logistik terbaik di kota ini lo.."ucap misel menerangkan.
"usia kalian sepertinya terpaut agak jauh tapi itu bukan masalah kan. pria itu tampan dan kaya, kayak gak punya kekurangan deh" lanjut misel lagi dan sekarang tampak sibuk membayangkan sesuatu.
Azalea masih terdiam sambil menyimak perkataan wanita didepannya. Bagaimana bisa wanita itu lebih mengenal pria yang mencium nya tempo lalu dibandingkan dengan dirinya sendiri. Ada perasaan tak terima didalam dirinya. Apakah sekarang dia sedang cemburu ? tidak, tidak.
Misel bangkit dari tempat duduknya setelah melihat gadis kecil didepannya kembali sibuk dengan lamunannya. Ia baru saja akan meninggalkan tempat itu ketika Azalea kembali memanggilnya.
"kak misel"
Misel menoleh cepat.
"menurut kakak jika kita terus memikirkan orang tanpa henti, artinya apa ya? " tanya Azalea dengan tatapan penuh arti
Misel tak segera menjawab, Ia melemparkan senyuman kecil kepada gadis kecil didepannya, yang tampak bingung. Gadis pendiam itu hari ini terlihat lebih berbeda,Azalea sudah lebih banyak berbicara dan itu membuat Misel sedikit lega.entah sejak kapan hubungan mereka menjadi sedekat ini , namun menurutnya itu awal yang baik.
"mungkin kamu jatuh cinta"
Azalea sedang berbaring diatas kasurnya dan kini matanya menatap lekat kearah langit-langit kamarnya.Ia disana namun pikirannya tidak benar-benar bersamanya, melaju tinggi entah kemana. namun,setiap kali ia berusaha memejamkan mata maka wajah pria itu selalu terlintas jelas dalam pikirkannya.Apa sebenarnya yang terjadi kepadanya? Benarkah ini cinta?.