NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Penyesalan Sang Profesor

BAB 18: Penyesalan Sang Profesor

​Ketika semburat fajar pertama mulai menembus tirai tipis kamar tamu, Profesor Adrian terbangun dengan rasa berat yang menggelayuti dadanya. Refleks pertamanya adalah menggerakkan tangan, mencari kehangatan tubuh mungil yang semalam didekapnya erat dari belakang.

​Namun, jemarinya hanya menyentuh seprai yang sudah dingin.

​Adrian seketika membuka mata elangnya dengan sempurna. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar tamu yang sudah rapi dan sepi. Kiara sudah tidak ada di sana. Adrian bergegas keluar, memeriksa dapur, ruang tengah, hingga area depan pintu apartemen. Nihil. Sepatu flat yang biasa Kiara kenakan ke kampus sudah tidak ada di raknya.

​Gadis itu sengaja berangkat subuh-subuh. Dia melarikan diri, sengaja membangun benteng jarak yang tak kasat mata demi menghindarinya sejauh mungkin.

​Adrian menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, mengembuskan napas frustrasi yang teramat berat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Adrian Alkatiri merasa begitu kalah. Kata-kata Kiara semalam—setiap isakan dan jeritan batinnya—terus berputar di otaknya seperti kaset rusak yang tak bisa dimatikan.

​'Aku malah merasa... merasa seperti wanita penjual diri yang sengaja kamu sewa dan kamu bayar mahal hanya untuk memuaskan nafsumu...'

​"Sial," umpat Adrian rendah, memukul meja konter marmer di dapur hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Kalimat itu benar-benar menghantam ego tertingginya, meremukkan kesombongannya, dan menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat hingga membuat dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar.

​Efek dari perkataan Kiara semalam ternyata jauh lebih mengerikan dari yang Adrian bayangkan. Sepanjang hari di kampus, Profesor Adrian kehilangan wibawa tenangnya yang biasa dipuja-puja.

​Di dalam ruang kuliah semester empat siang itu, aura Adrian terasa tiga kali lipat lebih mencekam dan dingin dari biasanya. Tatapan matanya lurus menatap slide presentasi, namun pikirannya melayang entah ke mana. Ia mengajar dengan nada suara yang datar, cepat, dan mengabaikan beberapa pertanyaan mahasiswa yang biasanya ia tanggapi dengan analisis tajam.

​"Pak Adrian hari ini serem banget, ya? Auranya kayak mau makan orang," bisik salah satu mahasiswi di barisan depan kepada temannya, yang langsung diangguk-angguki ketakutan.

​Begitu kelas berakhir, Adrian bahkan tidak kembali ke ruang dosen. Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu langsung berjalan cepat menuju area parkir khusus dosen, mengabaikan beberapa staf fakultas yang menyapanya. Fokusnya hanya satu: mencari Kiara.

​Sejak subuh tadi, Adrian sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Kiara belasan kali. Namun, panggilannya selalu dialihkan, dan pesan teksnya hanya menyisakan tanda centang satu. Kiara benar-benar memblokir seluruh akses komunikasi dengannya. Gadis itu benar-benar menganggapnya tidak ada.

​Adrian berdiri di samping mobil sedan mewah hitamnya, menyadarkan tubuh tegapnya pada pintu mobil sembari melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan frustrasi. Mata elangnya bergerak liar, memindai setiap mahasiswi yang keluar dari gedung fakultas ekonomi.

​Setelah menunggu hampir setengah jam di bawah terik matahari siang yang menyengat, sosok yang dicarinya akhirnya muncul. Kiara berjalan keluar dari lobi gedung bersama dua orang teman sekelompoknya. Wajah gadis itu tampak pucat, pandangan matanya kosong, dan ia tampak begitu lelah menanggung beban batinnya sendiri.

​Begitu Kiara berpamitan dengan teman-temannya dan mulai berjalan sendirian menuju arah halte bus kampus, Adrian langsung bergerak cepat. Langkah kakinya yang lebar memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik.

​Sret.

​Sebuah tangan kekar dengan cekatan mencengkeram pergelangan tangan Kiara, menghentikan langkah gadis itu seketika di bawah bayang-bayang pohon palem parkiran yang agak sepi.

​"Kiara," panggil Adrian, suaranya terdengar begitu berat, serak, dan memendam kepanikan yang luar biasa terselubung.

​Kiara tersentak kaku. Ia mendongak, menatap wajah tampan Adrian yang kini tampak sedikit berantakan dengan rambut yang tidak lagi serapi biasanya. Namun, alih-alih memekik marah atau memberontak kasar seperti kemarin, Kiara justru menampilkan reaksi yang paling Adrian takuti.

​Mati rasa.

​Pandangan mata Kiara begitu datar, kosong, dan tidak memancarkan emosi apa pun. Seolah-olah pria yang sedang mencengkeram tangannya saat ini hanyalah seonggok batu tak berarti.

​"Lepaskan saya, Pak Adrian. Ini di area parkir kampus, banyak mahasiswa yang melihat," ucap Kiara dengan nada suara yang teramat tenang, dingin, dan formal. Sangat formal hingga membuat dada Adrian berdenyut perih.

​"Ikut aku masuk ke mobil. Kita perlu bicara, Kiara," perintah Adrian, mencoba mempertahankan sisa-sisa nada dominannya, meskipun tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Kiara justru sedikit bergetar.

​"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak. Urusan kontrak kita sudah jelas. Tugas saya melayani Anda di apartemen, bukan di sini," balas Kiara sinis, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian tanpa rasa takut sedikit pun.

​Mendengar penolakan dingin itu, rasa frustrasi Adrian akhirnya mencapai puncaknya. Gengsi tinggi yang selama ini ia agung-agungkan runtuh sepenuhnya di parkiran siang itu. Tanpa memedulikan tatapan beberapa mahasiswa di kejauhan, Adrian menarik paksa tubuh mungil Kiara menuju pintu penumpang mobilnya, membukanya, dan mendorong Kiara masuk dengan tegas sebelum ia sendiri ikut menyusup masuk dan mengunci seluruh pintu dari dalam.

​Klik.

​Suasana di dalam kabin mobil seketika menjadi kedap udara dan sunyi. Kiara langsung membuang mukanya ke arah jendela samping, enggan menatap Adrian yang kini duduk di kursi kemudi di sebelahnya.

​Adrian tidak langsung menyalakan mesin mobil. Pria itu memutar tubuh tegapnya menghadap Kiara, menatap lekat-lekat profil samping wajah istri kontraknya yang tampak mengeras menahan tangis.

​"Kiara, tatap aku," lirih Adrian, suaranya mendadak merendah, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai seorang profesor.

​Kiara tetap bergeming, enggan bergeser satu milimeter pun.

​Adrian mengembuskan napas kasar. Ia memajukan tubuhnya, kedua tangan besarnya bergerak menangkup lembut kedua sisi wajah Kiara, memaksa gadis itu secara perlahan untuk memutar kepalanya dan menatap langsung ke arahnya. Jarak mereka begitu dekat hingga napas mint Adrian yang memburu menerpa permukaan kulit wajah Kiara yang pucat.

​Mata elang Adrian berkilat gelisah, memancarkan rasa penyesalan yang teramat dalam dan frustrasi yang menyiksa isi kepalanya sejak semalam.

​"Jangan pernah sebut dirimu dengan sebutan menjijikkan itu lagi, Kiara," bisik Adrian dengan suara yang teramat dalam, serak, dan sarat akan emosi batin yang menuntut. Ibu jarinya bergerak mengusap lembut bibir ranum Kiara yang terkatup rapat. "Kamu bukan wanita penjual diri. Dan aku tidak pernah menganggap hubungan kita sehina itu."

​Kiara tersenyum sinis di bawah tangkupan tangan Adrian, air matanya perlahan kembali menggenang di pelupuk mata. "Lalu apa bedanya, Adrian? Di depan wanita pilihan keluargamu, posisiku tetap saja sekadar pembantu riset yang tidak berharga."

​"Aku terpaksa melakukannya demi melindungimu, Kiara! Kamu tidak tahu seberapa kejamnya ibuku jika dia tahu tentang pernikahan kontrak ini!" potong Adrian cepat, suaranya meninggi karena frustrasi yang memuncak sebelum kembali merendah menjadi bisikan seksi yang putus asa tepat di depan bibir Kiara. "Kata-katamu semalam... benar-benar menghancurkan seluruh isi kepalaku hari ini. Jadi tolong... jangan tatap aku dengan pandangan kosong itu lagi, Mahasiswaku. Aku bisa gila jika kamu terus mengabaikanku seperti ini."

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!