"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Vexana melangkah masuk ke dalam kamarnya, sebuah ruangan luas bernuansa minimalis mewah dengan sentuhan warna pastel dan emas yang elegan.
Jendela besar di ujung kamar menyajikan pemandangan lanskap kota Los Angeles yang mulai dihiasi kelap-kelip lampu senja. Namun, keindahan kota malaikat itu sama sekali tidak menarik perhatiannya malam ini.
Dengan gerakan perlahan, dia meletakkan tas tangan designer-nya di atas meja rias, lalu melepas blus sutra putih yang seharian ini membungkus tubuhnya.
Sebelum melangkah menuju ruang makan untuk memenuhi ajakan sang Mommy, Vexana merasa perlu membersihkan diri.
Bukan hanya untuk membasuh debu dan sisa keringat dari jalanan Los Angeles, tetapi juga untuk membasuh atmosfer pekat dari kafetaria kampus dan koridor rektorat yang seolah masih menempel di kulitnya. Dia membutuhkan air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang nyaris meledak.
Vexana berjalan masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang dilapisi marmer Italia putih berurat abu-abu.
Ruangan itu begitu luas, dilengkapi dengan bathtub berukuran besar dan cermin dinding raksasa yang mendominasi satu sisi ruangan. Dia menyalakan keran pancuran, membiarkan air dingin mulai mengalir, menciptakan suara gemercik yang konstan dan menenangkan.
Sebelum melangkah ke bawah kucuran air, Vexana berdiri mematung di depan cermin raksasa tersebut. Dia menatap pantulan dirinya sendiri.
Di dalam cermin, berdiri seorang wanita muda berusia 24 tahun yang dikagumi banyak orang karena kecantikan, keanggunan, dan ketenangannya. Namun, hanya Vexana yang tahu seberapa rapuh sosok di dalam cermin itu sebenarnya.
Perlahan, pandangan matanya turun. Jemarinya yang lentik bergerak ragu, menyentuh permukaan kulit di bagian bawah perutnya.
Di sana, tepat di atas garis pinggang, terdapat sebuah bekas luka horizontal sepanjang sepuluh sentimeter. Bekas luka itu tampak kontras dengan kulitnya yang mulus—sebuah garis pucat yang menonjol, sedikit kasar, dan mengeras.
Itu adalah bekas luka jahitan operasi besar. Sebuah tanda permanen yang ditinggalkan oleh takdir kelam dalam hidupnya.
Selama empat tahun terakhir ini, setiap kali Vexana berdiri telanjang di depan cermin ini sebelum atau sesudah membersihkan diri, ritual yang sama selalu berulang.
Dia akan menatap bekas luka itu, dan dalam keheningan kamar mandi yang dingin, pertanyaan yang sama—yang berulang kali ia tanyakan pada dirinya sendiri, pada dinding marmer yang membisu, dan pada Tuhan—akan kembali menggema di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Mengapa semuanya harus berakhir seperti ini?
Empat tahun lalu, tepat saat usianya menginjak 20 tahun, sebuah kecelakaan tragis telah menjungkirbalikkan dunianya dalam satu kedipan mata.
Kecelakaan mobil yang begitu hebat hingga menghancurkan tidak hanya fisik Vexana, tetapi juga seluruh masa depannya yang semula tertata rapi.
Vexana memejamkan matanya, membiarkan memori kelam itu kembali berputar. Dia mengingat samar suara hantaman logam yang memekakkan telinga, kilatan lampu truk yang membutakan mata di tengah kegelapan malam badai Los Angeles, dan rasa sakit yang teramat sangat yang menghantam seluruh tubuhnya sebelum segalanya menjadi hitam kelam.
Ketika dia terbangun berhari-hari kemudian di ruang ICU sebuah rumah sakit, tubuhnya dipenuhi selang. Namun, luka fisik di perutnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka di jiwanya ketika dia mendengar kabar selanjutnya.
Amara.
Nama itu melintas di benak Vexana, membawa serta rasa sesak yang menghimpit dada hingga dia sulit bernapas.
Amara adalah nama sahabat sejatinya, gadis ceria berambut panjang yang selalu bersamanya sejak masa high school.
Jika Luna Gabriel adalah teman yang hadir belakangan di masa kuliah, maka Amara adalah belahan jiwa Vexana.
Mereka berbagi segalanya—rahasia, mimpi, tawa, dan air mata. Amara adalah orang yang selalu tahu bagaimana cara membuat Vexana tersenyum saat dunia terasa berat.
Dan pada malam kecelakaan besar itu, Amara berada di dalam mobil yang sama dengan Vexana. Dia duduk di kursi kemudi, sementara Vexana berada di kursi penumpang.
Benturan keras dari arah samping kanan menghantam bagian kemudi dengan telak.
Vexana berhasil bertahan hidup setelah melewati masa kritis dan operasi besar yang menyisakan bekas luka di perutnya ini.
Namun, Amara tidak seberuntung itu. Sahabat terbaiknya, gadis yang memiliki masa depan begitu cerah, mengembuskan napas terakhirnya di tempat kejadian. Amara meninggal dunia dalam pelukan puing-puing logam yang ringsek.
"Amara..." bisik Vexana lirih, suaranya bergetar di tengah keheningan kamar mandi.
Setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, mengalir membasahi pipinya, bercampur dengan uap air yang mulai naik dari pancuran. "Semoga kau tenang di sana..."
Setiap kali mengingat Amara, Vexana selalu merasakan rasa bersalah yang teramat sangat.
Mengapa dia yang harus selamat? Mengapa Amara yang harus pergi? Dan yang paling menyiksa adalah, ingatan Vexana tentang jam-jam sebelum kecelakaan itu terjadi seolah terhapus sebagian.
Trauma psikologis akibat benturan keras dan syok emosional membuat otaknya memblokir detail-detail penting yang terjadi di malam itu.
Dia hanya ingat bahwa malam itu, hubungan empat tahunnya dengan Landon Desmon baru saja hancur berantakan.
Dia mengingat pertengkaran hebat mereka, kata-kata kejam yang saling mereka lemparkan, dan bagaimana dia berlari keluar dari apartemen Landon dalam kondisi menangis histeris.
Amara, sebagai sahabat yang selalu siaga, datang menjemputnya dengan mobil di tengah badai malam itu untuk menenangkannya.
Dan setelah itu... ingatan Vexana kabur, langsung melompat ke momen hantaman truk gila yang menerobos lampu merah di persimpangan jalanan Los Angeles.
Peristiwa itu adalah alasan sebenarnya mengapa hubungan Vexana dan Landon berakhir dengan kebencian yang begitu pekat.
Bagi Vexana, keputusan Landon Desmon untuk memutuskan hubungan mereka malam itu adalah pemicu utama yang membawa Vexana ke dalam mobil Amara.
Secara tidak langsung, Vexana menyalahkan Landon atas kematian Amara. Jika saja Landon tidak egois, jika saja Landon tidak menghancurkan hatinya malam itu, Vexana tidak akan menangis, Amara tidak perlu menjemputnya di tengah badai, dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.
Sebaliknya, Vexana juga tahu bahwa Landon memendam kebencian yang sama besarnya.
Landon menyalahkan Vexana karena menganggap kecerobohan emosional Vexana-lah yang menyebabkan kecelakaan maut itu terjadi, yang merenggut nyawa Amara—gadis yang juga merupakan teman baik mereka sejak high school.
Putusnya hubungan mereka tertutup oleh debu kematian dan darah, meninggalkan misteri dan rasa saling menyalahkan yang tak pernah meluruskan benang kusut di antara mereka selama empat tahun ini.
Vexana mengembuskan napas panjang, melepaskan cengkeraman jemarinya dari bekas luka di perutnya.
Dia melangkah ke bawah kucuran air dingin. Air dingin yang mengguyur kepalanya seolah membasuh paksa air mata dan kenangan pahit itu dari wajahnya. Dia membiarkan tubuhnya menggigil sejenak, menggunakan rasa dingin fisik itu untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya.
Dia tidak boleh larut dalam kesedihan malam ini. Di luar kamar ini, ada keluarganya yang sedang menunggu. Ada sang Mommy yang sudah memasak hidangan spesial, ada sang Daddy yang selalu mengkhawatirkannya, dan ada AJ, adik kecilnya yang polos, yang membutuhkan sosok kakak yang kuat dan ceria.
Aku harus kuat, batin Vexana, meremas jemarinya di bawah kucuran air.
Untuk Amara yang sudah tiada, dan untuk diriku sendiri yang harus terus berjalan. Luna dan Brain boleh mengkhianatiku, Landon boleh membenciku, tapi mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan seorang Vexana Valerio.
Setelah beberapa menit menenangkan diri di bawah guyuran air, Vexana mematikan keran.
Dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu mengenakan gaun rumah kasual berwarna krem yang longgar namun tetap terlihat anggun.
Dia menyisir rambut cokelatnya yang basah, mengeringkannya dengan cepat, dan memulas sedikit lip balm pada bibirnya yang pucat untuk memberikan kesan segar.
Saat dia menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin sebelum keluar dari kamar mandi, matanya tampak lebih jernih dan tegas.
Topeng keanggunan itu telah kembali terpasang dengan sempurna. Bekas luka di perutnya kembali tertutup oleh pakaian mewah, tersembunyi rapat dari pandangan dunia, sama seperti rahasia kelam dan rasa sakit yang dia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya.
Vexana membuka pintu kamar mandi, melangkah keluar menuju kamarnya, dan bersiap untuk turun ke ruang makan.
Badai di luar sana mungkin sedang mengintai untuk menghancurkan reputasinya esok hari, namun malam ini, di dalam benteng Valerio, dia akan menjadi putri yang sempurna untuk keluarganya.
...----------------...
Mohon Dukungannya Ya Kak 🫶🏻😍 Tinggalkan Komentar 🌷