Sekuel dari 'Menikah Muda Denganmu' sebelumnya. Klik profil jika ingin membaca cerita yang pertama!
Sofia Putri Anggara, gadis berisik yang penuh ide gila di kepalanya. Gadis muda berusia 19 tahun ini harus extra keras meluluhkan hati seorang
duda tampan dan kaya raya bernama Dilan Danuarta.
Duda yang memiliki sikap dingin, tegas dan tak suka dibantah.
Karena sebuah surat peninggalan adik kesayangannya, Dilan terpaksa harus menikah dengan Sofia gadis pilihan sang adik yang sudah meninggal.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara gadis sembilan belas tahun dan pria beranak satu ini?
Usia yang terpaut dua belas tahun dan sikap yang bertolak belakang.
Sofia
"Abang akan jatuh cinta sama Sofi!"
Dilan
"Dalam mimpi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Membosankan
Dilan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Pria tampan ini tak pernah lelah bekerja setiap hari. Jika hari Minggu adalah hari libur bagi orang lain, tapi tidak untuk Dilan. Ia selalu menghabiskan waktu dengan bekerja. Untung saja Lano putranya bukan anak yang manja. Bocah itu tak pernah menuntut Dilan untuk menemaninya bermain.
Sebelum masuk ke kamarnya, Dilan menghampiri kamar ayahnya yang terletak di lantai satu. Melihat kondisi ayahnya sebentar dan sesekali bertanya pada perawat yang selalu siaga merawat Haris ayahnya.
Setelah memastikan kondisi kesehatan Haris baik-baik saja, Dilan kembali melangkah menuju kamar putranya Lano.
Mencium kening putranya itu. Membetulkan selimut Lano agar menutupi setengah tubuh bocah itu. "Terimakasih kamu sudah menjadi anak yang baik dan mengerti dengan Daddy." Ucap Dilan sambil mengelus rambut Lano yang sedang tertidur pulas.
Pria itu lalu masuk ke kamarnya yang terletak di sebelah kamar putranya. Ia segera membuka pakaian kerjanya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Air hangat yang mengalir dari shower membuat tubuh lelahnya sedikit segar.
Banyak sekali hal yang sudah Dilan lewatkan selama ini. Dia sadar. Dia bukan pria biasa. Sejak Dia lahir Dilan sudah di bebankan bermacam-macam tanggung jawab.
Namun dia selalu bangga dengan semua pencapaian yang sudah ia dapatkan.
Dilan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Memakai celana pendek dan kaos tipis. Lalu berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan mata agar besok ia bisa kembali dengan rutinitas yang menguras waktu, otak dan tenaga. Begitulah hari-hari yang Dilan lalui selama bertahun-tahun.
* * *
"Pagi Dad ...," sapa Lano di meja makan. Bocah itu sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Pagi juga Lano ...," balas Dilan sambil menuruni anak tangga dari lantai atas. Dilan lebih suka melewati tangga dari pada lift di rumahnya. Mungkin bosan karena di kantornya setiap hari ia naik lift.
Para pengawal dan pelayan sudah rapi dan sibuk dengan tugas masing-masing di rumah mewah dan besar itu.
"Bagaimana James? apa Lano tidak menyusahkan?" Dilan melirik pengawal pribadi putranya yang sudah siaga berdiri tak jauh dari meja makan.
"Tidak Tuan. Tuan muda sangat mandiri dan cerdas." Ucap James mantap.
Dilan tersenyum tipis. Lalu duduk di sebelah Lano untuk sarapan. Setelah sarapan kedua lelaki beda usia itu segera pamit pada Haris dan pergi dengan mobil dan sopir masing-masing. Dilan bersama Boy yang selalu siaga. Dan Lano dengan James pengawal pribadinya.
"Apa jadwal hari ini Boy?" Dilan bertanya pada Boy di dalam mobil.
"Pagi ini rapat di kantor, siang bertemu klien dari Luar negeri, sore mengunjungi proyek Mall baru dan malam ada jamuan makan malam dari CEO Axel Grup tuan.
Dilan mengangguk dan kembali menatap layar laptopnya. Kegiatan yang selalu padat setiap hari. Tanpa liburan dan tentunya tanpa wanita.
* * *
Sofia melangkah keluar dari gedung kampus. Cuaca yang lumayan panas membuat gadis ini sedikit merasa kering di tenggorokannya.
"Makan es krim enak kali ya ...." Ucapnya sambil membuka pintu mobil.
"Sofi ... Sofi," panggil seorang lelaki berkulit putih dengan lesung pipi yang terlihat jelas saat ia tersenyum. lelaki yang di ketahui sudah lama mengincar Sofia. Tetapi gadis itu tak pernah berniat membalas perasaannya.
"Eh, kak Lucas. Ada apa Kak?"
"Punya waktu?" tanya Lucas. Pria ini selalu berusaha tanpa lelah untuk mendekati gadis incarannya Sofia.
"Rencananya sih mau pulang tapi pengen makan es krim sebentar."
"Ouh ..., boleh kakak temenin? kebetulan kakak gak ada jam kuliah lagi." Lucas tersenyum. Lelaki tampan dan imut itu adalah senior Sofia di kampus. Lucas mengambil jurusan Manejemen Bisnis dan sekarang sudah semester enam.
Sofia berpikir sejenak lalu menganggukan kepala. " Boleh kak, gak enak juga makan es krim sendiri."
"Ya udah, naik mobil kakak aja yuk! nanti kakak anter lagi ke kampus."
"Oke." Jawab Sofia. Gadis itu menutup pintu mobilnya kembali.
Sofia dan Lucas keluar gedung kampus dengan mengendarai mobil Ferarri warna merah milik Lucas.
Tak lama, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam Cafe yang menjual berbagai macam es krim beraneka rasa.
Sofia dan Lucas duduk, lalu memesan es krim favorit masing-masing.
"Kamu suka es krim strawberry?" tanya Lucas karena Sofia memesan es krim rasa itu.
"Gak juga sih kak, Sofia suka semuanya. Vanila, coklat, banana kayaknya enak semua deh." Gadis ini selalu berucap dengan santai.
Sedang asik mengobrol sambil menyuap es krim ke mulutnya, Sofia tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan seorang bocah dan seorang pria yang tampan dengan setelan jas warna hitam.
" Hai Tan." Bocah itu menyapa Sofia lalu duduk di kursi kosong di dekat meja Sofia dan tentunya tanpa bertanya, apa dia di izinkan duduk atau tidak.
Sofia membulatkan matanya dan menelan salivanya. "Kenapa anak ini bisa di sini? apa dia menguntit? dan siapa ini? pengawalnya? ya Tuhan kenapa anak ini seenak jidatnya duduk tanpa permisi." Sofia membatin.
"James ... aku ingin es krim yang sama dengan Tante, eh calon Mama." Ucap Lano dengan wajah datar.
Ehhemmm ... emmm ... emm. Sofia merasa tenggorokannya semakin kering mendengar sebutan calon Mama dari mulut bocah di sebelahnya.
"Baik Tuan muda." James pergi mengambil es krim pesanan Lano.
Sementara Lano masih dengan santainya duduk sambil memainkan game di ponselnya.
"Siapa Sof?" Lucas memberanikan diri bertanya. Raut wajah lelaki itu sudah berubah saat Lano menyebut calon Mama.
"Ah ... ini, dia ... dia anak temen aku, iya anak temen aku." Jawab Sofia gugup. Sofia tidak tau harus menjawab apa. Di bilang pacar? tunangan atau calon suami? entah lah. Sebuah hubungan dadakan yang Sofia juga belum bisa pastikan.
"Anak calon suami Tan." Lagi-lagi Lano dengan santainya berucap, tetapi matanya masih tetap fokus menatap layar ponsel.
James datang membawa pesanan es krim Lano dan meletakkannya di meja. Barulah bocah itu memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam sekolahnya.
Dan menyuap sesendok besar es krim ke mulutnya.
"Jangan bermain api Tan, Daddy tidak suka dengan wanita plin plan." Masih mengoceh sambil terus menyuapkan es krim kemulutnya.
Sofia tak mampu lagi berkata-kata kali ini. Entah terbuat dari apa bocah ini." Siapa juga yang bermain api? Sofia kan cuma bermain dengan Lucas. Makan es krim dan tidak lebih."
Rasanya Sofia tidak mampu lagi menghabiskan es krim favorit nya. Gadis itu mendengkus. Meletakkan sendok es krimnya dan tak berniat memakannya lagi.
"Kak ... Kakak pulang sendiri gak apa-apa kan? Sofi bisa naik ojek ke kampus." Ucap Sofia akhirnya.
Dengan raut wajah tak mengerti dan sedikit kecewa, akhirnya Lucas pun pergi setelah membayar es krim dan pamit pada Sofia.
"Kenapa sikap ayah dan anak ini sama-sama menyebalkan." Sofia membatin lagi.
Tinggalkan jejak ya!!!😉😉