~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
****
Cahaya matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah-celah anyaman bambu dan ukiran kayu jati kamar utama, membentuk garis-garis emas yang jatuh di atas lantai tegel. Sisa-sisa badai semalam telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh kicau burung prenjak yang bersahut-sahutan di dahan pohon sawo luar jendela. Udara pagi perbukitan yang dingin terasa kontras dengan kehangatan yang masih tertinggal di dalam kelambu sutra yang tipis.
Larasati perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Kesadarannya pulih perlahan, diiringi oleh rasa nyeri, pegal, dan linu yang seketika mendera seluruh persendiannya. Ketika ia mencoba menggeser kaki dan meluruskan punggungnya, rasa sakit yang tajam akibat posisi-posisi sulit dan menguras tenaga yang dipaksakan suaminya semalam membuat gadis itu refleks mendesis kecil.
"Nggghhh... ahhh..." rintih Larasati lirih, memejamkan mata rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya terasa begitu ringkih, seolah-olah seluruh energinya telah diperas habis hingga menjelang fajar tadi.
Ranjang jati kuno itu berderit halus saat sosok tinggi besar di sampingnya bergerak. Raden Mas Baskoro, yang ternyata sejak tadi hanya berbaring diam sambil menatap wajah tidur istrinya, langsung bangkit bertumpu pada sikunya. Gurat kecemasan dan penyesalan yang mendalam seketika melintas di wajah paruh bayanya yang biasanya kaku tak tersentuh.
"Laras... Larasati," panggil Baskoro dengan suara bariton yang teramat rendah dan serak. Tangannya yang besar dan hangat dengan sangat hati-hati mengusap dahi Larasati yang masih menyisakan sisa peluh semalam. "Apakah sangat sakit, Nduk? Maafkan aku... maafkan kegaranganku semalam. Aku benar-benar telah dikuasai setan cemburu hingga bertindak melampaui batas pada tubuh mungilmu."
Larasati membuka mata, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya. Di sana, ia tidak lagi melihat monster posesif yang semalam menuntut penaklukan total. Yang tersisa hanyalah Mas Baskoro—pria empat puluh tahun yang kini menatapnya dengan pandangan penuh bersalah dan ketulusan yang murni.
Larasati mencoba tersenyum seadanya, meski bibirnya terasa kering. "Mboten... mboten menopo-nopo, Mas. Kulo... kulo hanya sedikit terkejut dengan kekuatan Anda. Tubuh kulo yang biasa memegang cangkul pun ternyata tidak ada apa-apanya dibanding stamina Anda."
Baskoro menghela napas panjang, sebuah helaan yang sarat akan rasa sesal. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, membelakangi Larasati sejenak sambil meraup wajahnya kasar. "Aku telah berjanji di depan wedang jahe buatanmu untuk tidak menuntutmu secara paksa, Laras. Namun, begitu mendengar fitnah Darmo tentang pemuda dari masa lalumu itu, akal sehatku runtuh. Aku takut... aku teramat takut jika duniaku yang baru saja menghangat bersamamu harus kembali dingin dan sunyi."
Melihat kerapuhan tersembunyi sang penguasa joglo, Larasati mengabaikan rasa linu di punggungnya. Ia bergeser perlahan, mendekati punggung kokoh suaminya, lalu menyandarkan keningnya di bahu kekar Baskoro. "Kulo sudah katakan semalam, Mas. Raga dan jiwa kulo sudah tertanam di sini. Jangan pernah ragukan kesetiaan kulo lagi, sekalipun badai fitnah di luar sana mencoba meruntuhkan rumah ini."
Baskoro berbalik, merengkuh tubuh lemas Larasati ke dalam pelukan dadanya yang bidang dengan sangat lembut, seolah-olah takut meremukkan tulang-tulang istrinya yang sedang didera linu. "Pagi ini, aku tidak akan pergi ke perkebunan tebu ataupun menemui para mandor. Aku akan tetap di sini, bersamamu."
"Tetapi urusan bulak barat, Mas? Bukankah pembukuan tanah harus diselesaikan?" tanya Larasati ragu.
"Persetan dengan pembukuan itu," ucap Baskoro tegas, namun nadanya melembut saat mencium ubun-ubun Larasati. "Urusan paling penting bagiku pagi ini adalah memulihkan permaisuriku."
Baskoro bangkit dari ranjang, mengenakan kain sarung tidurnya secara canggung sebelum melangkah menuju pintu kamar. Ia membukanya sedikit, mendapati Mbok Sum yang kebetulan sedang bersiap mengantarkan air basuhan di selasar luar.
"Mbok Sum," panggil Baskoro datar namun pelan, agar tidak mengejutkan Larasati di dalam.
"Inggih, Raden Mas? Ada titah yang bisa hamba kerjakan?" jawab Mbok Sum sambil menjura takzim.
"Siapkan minyak boreh hangat sekarang juga. Racik dengan kencur, jahe, dan minyak kelapa murni yang biasa digunakan untuk meredakan salah urat dan pegal linu yang berat," perintah Baskoro. "Bawa ke sini segera, dan ingat, jangan biarkan pelayan lain mendekati selasar kamar utama pagi ini."
Mbok Sum, yang merupakan wanita tua berpengalaman, seketika memahami situasi di dalam kamar tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman haru yang penuh arti. "Sendika dawuh, Raden Mas. Hamba akan meraciknya dengan sangat baik agar linu di tubuh Gusti Nyai segera sirna."
Tidak butuh waktu lama bagi Mbok Sum untuk kembali membawa sebuah mangkuk tanah liat kecil yang mengepulkan aroma jamu hangat yang pekat—perpaduan antara wangi kencur yang segar dan minyak kelapa yang gurih. Baskoro menerima mangkuk tersebut, lalu kembali mengunci pintu jati kamar dari dalam.
Larasati yang masih berbaring miring di bawah selimut jarik sidomukti menatap suaminya dengan bingung saat melihat mangkuk hangat di tangan Baskoro. "Mas... apa itu?"
"Minyak boreh untuk tubuhmu yang pegal, Nduk," jawab Baskoro sambil duduk di sisi ranjang yang kosong. Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja kecil, lalu menyibak selimut yang menutupi punggung Larasati. "Balikkan tubuhmu, tengkuraplah. Aku yang akan membalurkannya untukmu."
Wajah Larasati seketika memerah sempurna hingga ke tengkuknya. "M-Mas Baskoro... mboten usah. Biar kulo panggil Mbok Sum saja untuk memijat kulo. Sangat mboten pantas jika seorang juragan besar seperti Anda harus melayani kulo seperti ini."
Baskoro menggelengkan kepalanya perlahan. Sepasang matanya menatap Larasati dengan ketegasan yang penuh kasih. "Semalam, raga ini yang telah membuatmu menderita dan kelelahan setengah mati karena keegoisanku. Maka pagi ini, tangan ini pula yang harus menyembuhkanmu, Laras. Di dalam kamar ini, aku bukan juragan tanahmu. Aku adalah suamimu. Patuhlah."
Tidak mampu membantah wibawa dan kelembutan kaku suaminya, Larasati akhirnya menurut. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menyembunyikan wajahnya yang panas membara di atas bantal kapuk.
Baskoro menuangkan sedikit minyak boreh hangat ke telapak tangannya yang besar dan kasar. Aroma rempah langsung menyeruak memenuhi rongga kelambu. Dengan gerakan yang diusahakannya selembut mungkin—sangat kontras dengan cengkeraman kasarnya semalam—Baskoro mulai menempelkan telapak tangannya ke punggung halus Larasati.
"Ahh..." Larasati sedikit tersentak saat rasa hangat yang cenderung panas dari minyak rempah itu menyentuh kulitnya, diikuti oleh tekanan jemari besar Baskoro yang mulai mengurai otot-otot punggungnya yang tegang.
"Sakit, Nduk?" tanya Baskoro parau, menahan gerakannya sejenak.
"Mboten, Mas... hanya... terasa sangat hangat dan nyaman," bisik Larasati dari balik bantal, matanya terpejam menikmati sentuhan yang kini terasa begitu protektif.
Baskoro melanjutkan pijatannya dengan ritme yang teratur. Tangan besarnya bergerak perlahan dari pundak, menyusuri tulang belakang, hingga ke pinggang mungil Larasati yang semalam ia tahan dengan kekuatan penuh. Setiap kali jemarinya menemukan otot yang kaku, Baskoro memberikan tekanan yang pas, membuat Larasati berulang kali mendesah lega karena rasa linu yang perlahan menguap.
"Laras..." ucap Baskoro di tengah keheningan kamar, memecah kesunyian dengan suara yang sarat akan janji batin. "Malam seperti semalam... tidak akan pernah terulang lagi. Aku bersumpah demi leluhurku. Aku tidak akan membiarkan amarah buta merusak apa yang sudah kita bangun dengan air mata dan kesabaran."
Larasati membalikkan kepalanya sedikit ke samping, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak begitu serius di bawah cahaya pagi. "Kulo tahu, Mas. Kulo tidak marah... kulo hanya ingin Anda tahu bahwa di dunia ini, setelah Ibu meninggal, hanya ada Ayah dan sekarang... hanya ada Anda tempat kulo bersandar. Kulo mboten memiliki alasan sedikit pun untuk berpaling."
Genggaman tangan Baskoro di pinggang Larasati berhenti sejenak. Pria empat puluh tahun itu menundukkan wajahnya, mengecup bahu Larasati yang licin oleh minyak rempah dengan kelembutan yang teramat dalam. "Mendengar itu dari bibirmu... membuatku merasa menjadi pria paling beruntung, Laras. Rumah joglo yang selama belasan tahun terasa seperti kuburan jati yang megah, kini benar-benar memiliki kehidupan karena kehadiranmu."
Baskoro melanjutkan membalurkan minyak boreh ke bagian kaki Larasati yang semalam gemetar hebat menahan posisinya. Telaten, sabar, dan penuh pengabdian. Seorang penguasa perbukitan yang ditakuti seluruh distrik kini bersujud di atas ranjang hanya untuk merawat luka dan linu dari seorang gadis desa berusia tujuh belas tahun.
Setelah seluruh tubuh Larasati selesai dibalur minyak hangat, Baskoro menarik kembali selimut jarik sidomukti hingga sebatas dada istrinya. Ia lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Larasati, menarik kepala gadis itu agar bersandar di dada bidangnya yang kini terasa begitu meneduhkan.
Larasati memejamkan mata dengan rasa kantuk dan kenyamanan yang luar biasa setelah otot-ototnya rileks oleh minyak boreh. Ia menghirup dalam-dalam aroma rempah dan cendana yang kini menyatu di tubuh mereka.
"Tidurlah kembali, Nduk. Istirahatlah sampai tubuhmu benar-benar bertenaga," bisik Baskoro lembut, tangannya mengusap rambut panjang Larasati yang terurai bebas di atas kasur.
"Inggih, Mas Baskoro... matur nuwun," gumam Larasati lirih, sebelum akhirnya ia kembali terbuai ke dalam tidur yang lelap di dalam dekapan yang kokoh.
Di bawah kehangatan fajar yang kian meninggi di perbukitan Joglo, ikatan di antara pria paruh baya dan istri kecilnya itu tidak lagi sekadar terikat oleh secarik kertas sewa tanah ataupun noda merah di seprai sutra. Melalui sentuhan minyak boreh dan janji fajar yang tulus, jiwa mereka telah melebur seutuhnya menjadi satu takdir yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh fitnah dan badai mana pun.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat