NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonansi Dua Artefak

Bab 10: Resonansi Dua Artefak

Getaran dari kotak kayu hitam di pinggang Ethan semakin kuat.

Denyutnya teratur, seperti detak jantung yang telah lama tertidur. Pada saat yang sama, paku batu di dasar kolam memancarkan cahaya kebiruan yang semakin terang. Rune-rune kuno yang sebelumnya redup kini menyala satu demi satu, membentuk lingkaran rumit di permukaan air.

Seluruh taman berguncang.

Retakan menjalar di tanah, sementara pohon-pohon tua bergoyang hebat meski tidak ada angin.

Pria bertopeng dari Organisasi Gerhana yang tadi hendak menyerang Ethan langsung menghentikan langkahnya. Sorot matanya berubah tajam.

"Itu... benar-benar bereaksi."

Di belakangnya, sosok berkabut bermata emas tidak lagi terlihat tenang.

"Jangan biarkan dia mendekat!"

Suara itu menggema bagai petir.

Ethan tidak segera bergerak.

Tatapannya justru mengamati perubahan sekecil apa pun.

Lima ratus tahun hidup di dunia kultivasi mengajarkannya satu hal: artefak kuno tidak pernah bereaksi tanpa sebab.

Semakin kuat resonansinya, semakin besar pula risiko yang tersembunyi.

Ia menenangkan napas.

Qi di dalam meridiannya tinggal kurang dari separuh. Bahunya yang terluka akibat tombak kabut mulai terasa kebas.

Jika bertarung sekarang, peluang menang hampir tidak ada.

Namun jika mundur...

Artefak itu pasti akan jatuh ke tangan Organisasi Gerhana.

"Itulah tujuan mereka sejak awal..." gumam Ethan dalam hati.

Bukan membunuhnya.

Melainkan mengambil dua artefak yang saling berkaitan.

Di sisi lain taman, Master Raka memaksakan diri bangkit.

Darah masih menetes dari sudut bibirnya.

Ia memandang pusaran cahaya dengan ekspresi sulit dipercaya.

"Resonansi artefak..."

Salah satu muridnya bertanya lirih,

"Guru... apa maksudnya?"

Master Raka menarik napas panjang.

"Dalam catatan kuno keluarga kami..."

"...beberapa artefak tidak pernah diciptakan sendirian."

"Mereka dibuat berpasangan."

"Jika salah satunya aktif..."

"...yang lain akan memanggil."

Ucapan itu membuat wajah Kapten Arga berubah.

"Kalau begitu..."

Master Raka mengangguk pelan.

"Selama ini kita menjaga segel yang salah."

Pria bertopeng bergerak lebih dulu.

Tubuhnya melesat seperti bayangan.

Pedang hitam di tangannya membelah udara menuju Ethan.

Gerakannya jauh lebih cepat dibanding pertarungan sebelumnya.

Namun Ethan sudah memperkirakannya.

Ia tidak memilih menangkis.

Sebaliknya, ia mundur setengah langkah sambil memutar tubuh.

Ujung pedang hanya menggores bagian depan bajunya.

Pria bertopeng sedikit terkejut.

"Kau membaca arah seranganku?"

"Tidak."

Ethan menjawab datar.

"Aku membaca niatmu."

Jawaban singkat itu membuat lawannya menyipitkan mata.

Ia belum pernah bertemu seseorang di Alam Pemurnian Tubuh yang mampu membaca ritme serangan kultivator Alam Pengumpulan Qi.

Serangan berikutnya datang tanpa jeda.

Pedang hitam berubah menjadi puluhan bayangan.

Setiap tebasan mengarah ke titik mematikan.

Leher.

Jantung.

Perut.

Pelipis.

Semua jalur pelarian tertutup.

Ethan menghindar semampunya.

Beberapa kali ujung pedang berhasil menggores lengannya.

Darah mulai menetes.

Tubuh mortal ini jelas belum mampu mengikuti pengalaman bertarung jiwanya.

"Kalau terus begini..."

"...aku akan kalah karena stamina."

Ia segera mengubah strategi.

Daripada terus menghindar, ia mulai memancing lawannya bergerak ke arah kolam.

Pria bertopeng baru menyadarinya setelah belasan jurus berlalu.

"Kau..."

"Sengaja."

Ethan tidak menjawab.

Di atas gedung.

Alya terus memperhatikan pertarungan melalui teropong spiritual kecil berbentuk kristal.

Bram berdiri di sampingnya.

"Dia kalah."

"Belum."

Bram menggeleng.

"Selisih kultivasi terlalu jauh."

Alya justru mengamati gerakan Ethan.

"Lihat kakinya."

Bram memperhatikan lebih saksama.

Barulah ia menyadari.

Jejak langkah Ethan membentuk pola tertentu.

Bukan sembarangan menghindar.

Melainkan menggambar sebuah formasi.

"Dia..."

"...sedang membuat susunan rune?"

Alya mengangguk pelan.

"Tanpa tinta."

"Tanpa kertas."

"Hanya menggunakan jejak Qi."

Bram menelan ludah.

"Monster."

Sementara itu Ethan menghitung dalam hati.

Satu...

Dua...

Tiga puluh dua langkah.

Begitu langkah terakhir selesai...

Ia menghentakkan kaki.

"Bangkit."

Qi tipis yang tersisa mengalir ke tanah.

Rune-rune tak kasat mata langsung menyala.

Lingkaran cahaya muncul tepat di bawah kaki pria bertopeng.

Wajah pria itu berubah.

"Formasi?"

Ledakan cahaya biru meletus.

BOOM!

Tubuh pria bertopeng terpental beberapa meter.

Meski tidak terluka parah, keseimbangannya hilang.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Ethan.

Ia langsung melompat menuju kolam.

Kotak kayu hitam terlepas sendiri dari pinggangnya.

Artefak itu melayang.

Di dasar kolam, paku batu juga mulai bergetar.

Keduanya saling memancarkan sinar.

Rune-rune kuno berputar membentuk cincin besar.

Seketika...

Sebuah suara tua terdengar di benak Ethan.

"Pewaris..."

Suara itu sangat lemah.

Seolah berasal dari masa yang sangat jauh.

"Temukan tujuh simpul..."

"Sebelum gerbang dibuka..."

Lalu semuanya menghilang.

Hanya tiga kalimat.

Tidak lebih.

Namun wajah Ethan berubah serius.

"Tujuh simpul..."

Berarti yang selama ini ia temukan baru dua.

Masih ada lima lagi.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh...

Kabut hitam tiba-tiba mengamuk.

Sosok bermata emas mengangkat kedua tangannya.

"Diam!"

Seluruh energi hitam berkumpul menjadi tombak raksasa sepanjang belasan meter.

Tekanan mengerikan menyelimuti taman.

Master Raka membelalak.

"Itu bukan serangan yang bisa ditahan Alam Pengumpulan Qi!"

Kapten Arga berteriak,

"Semuanya mundur!"

Namun Ethan justru tetap berdiri.

Ia tahu...

Target serangan itu bukan dirinya.

Melainkan artefak yang sedang beresonansi.

Tepat ketika tombak hitam hendak meluncur...

Langit malam berubah.

Awan gelap terbelah.

Sebuah cahaya keemasan turun dari angkasa seperti meteor.

DUARRR!

Cahaya itu menghantam tombak hitam hingga hancur berkeping-keping.

Gelombang kejut menyapu seluruh taman.

Kabut hitam mundur beberapa langkah.

Untuk pertama kalinya...

Sosok bermata emas terlihat marah.

"Siapa yang berani ikut campur?"

Dari dalam cahaya keemasan, muncul seorang pria tua berambut putih mengenakan jas sederhana.

Penampilannya seperti dosen universitas biasa.

Namun setiap langkahnya membuat Qi langit bergetar.

Ia memegang tongkat kayu tua yang dipenuhi ukiran naga.

Tatapannya tenang.

"Aku hanya tidak suka melihat orang tua mengganggu anak muda."

Pria bertopeng langsung mundur satu langkah.

Nada suaranya berubah tegang.

"Tetua..."

"Kau masih hidup?"

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Itu pertanyaan yang buruk."

Ethan mengamati pendatang baru itu.

Aura pria tua tersebut disembunyikan dengan sangat sempurna.

Namun justru karena terlalu sempurna...

Ethan semakin waspada.

Orang ini jauh lebih berbahaya dibanding pria bertopeng.

Pria tua itu kemudian menoleh kepada Ethan.

Tatapan mereka bertemu.

Selama beberapa detik...

Tak satu pun berbicara.

Lalu pria tua itu tersenyum tipis.

"Akhirnya..."

"...aku menemukanmu."

Kalimat sederhana itu membuat Ethan langsung meningkatkan kewaspadaan.

Ia tidak mengenal orang ini.

Namun nada bicaranya seolah sudah mencarinya sejak lama.

Sosok bermata emas tiba-tiba tertawa pelan.

"Ternyata kau juga mengincarnya."

Pria tua menggeleng.

"Bukan."

"Aku mengincar masa depan."

Kabut hitam mulai berputar semakin liar.

Retakan pada pusaran di tengah kolam semakin melebar.

Dari dalamnya terdengar suara raungan yang jauh lebih mengerikan dibanding Binatang Bayangan sebelumnya.

Tanah kembali bergetar.

Air kolam berubah menjadi merah kehitaman.

Wajah pria tua yang sejak tadi tenang akhirnya berubah serius.

Ia menatap langsung ke dasar kolam.

"Lima puluh tahun..."

"...ternyata segelnya melemah secepat ini."

Sebelum siapa pun sempat bertanya apa maksud ucapannya...

Sebuah tangan raksasa bersisik hitam perlahan muncul dari dalam pusaran, mencengkeram bibir kolam hingga batu-batu retak dan hancur.

Seluruh taman langsung dipenuhi aura buas yang membuat para kultivator gemetar.

Pria tua itu menggenggam tongkatnya erat.

Sementara Ethan menatap makhluk yang perlahan bangkit dari balik segel dengan sorot mata dingin.

Ia mengenali aura itu.

Aura yang seharusnya...

Tidak mungkin ada di dunia modern.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!