Masih dalam tahap revisi!
Alaska Febian seorang pria yang berumur 25tahun diumurnya masih sangat mudah dia telah sukses menjadi Ceo Perusahan Ert..
Awalnya dia tidak pernah tertarik kepada Gadis, namun entah mengapa dia tertarik dengan Gadis yang bernama Flora Aluna Zahira yang biasanya dipanggil Aluna dia berumur 20tahun..
Tanpa basa-basi apapun Alaska mengajaknya menikah, Aluna menerima tawaran itu..
Setelah usia pernikahan mereka 3tahun Alaska awal-awalnya sangat perhatian, penyayang dan selalu ada untuk Aluna..
Namun, akhir-akhir ini sifat Alaska menjadi berubah entah ada apa sebenarnya..
Pada waktu malam tepat dijam 8, Alaska kembali ke Apartemen namun kali ini dia bersama Sienna sahabat Aluna..
Aluna merasa bingung, ada apa sebenarnya dan mengapa Alaska bersama Sienna?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6-IKHLAS!
Robby masih terdiam. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Wajah pria itu terlihat pucat, matanya kosong menatap satu titik. Berita yang baru saja ia dengar benar-benar membuatnya syok, seolah dunia runtuh dalam sekejap.
Lalu, tiba-tiba:
“Aluna, ambillah ini,” ucap Aldo sambil menyodorkan sebuah ATM ke hadapan Aluna.
Seketika Aluna melepaskan pelukannya dari Emira. Wajahnya terlihat bingung saat menatap kartu ATM yang kini berada di tangan Aldo.
“Ayah tidak usah,” sahut Aluna pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, Aluna. Tolong terima,” ucap Aldo dengan suara yang terdengar berat namun tulus.
Merasa tidak enak, dan tak ingin membuat suasana semakin canggung, Aluna akhirnya mau tidak mau menerima pemberian itu.
“Makasih, Ayah,” ucap Aluna lirih.
Aldo hanya mengangguk pelan.
Kini Aluna kembali berada di dalam pelukan Emira. Robby masih diam, namun pandangannya tertuju pada Aluna. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya Aluna adalah anak sebaik ini, setulus ini… mengapa dia harus disakiti sedalam itu?
Tak lama kemudian:
“Kalau begitu kami pamit dulu. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf atas perilaku putra saya,” ucap Aldo kepada Robby dengan wajah penuh penyesalan.
Robby bangkit dari duduknya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan di dadanya untuk menerima semua kenyataan ini.
“Tidak apa-apa,” ucap Robby akhirnya, suaranya bergetar. “Awalnya saya sangat syok mendengar semua ini… tapi sekarang saya sedang belajar untuk mengikhlaskannya.”
Nada tangis tak bisa lagi ia sembunyikan.
Rossa langsung menundukkan wajahnya. Air mata jatuh begitu saja. Mereka pun sama sekali tidak menyangka semua ini akan terjadi.
Kini Emira dan Aluna ikut bangkit dari duduk mereka.
“Aluna,” ucap Rossa sambil melangkah mendekat dan memeluknya erat. “Ibu pamit ya. Sehat-sehat terus. Jangan lupa mengunjungi Ibu… Ibu sangat kesepian kalau kamu pergi.”
Rossa mengecup kening Aluna penuh kasih.
Emira dan Robby menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu, Aluna adalah menantu kesayangan Rossa dan Aldo.
“Ibu juga harus sehat-sehat, Ayah juga,” jawab Aluna dengan suara bergetar sambil tetap memeluk Rossa. “Aluna pasti akan sering mengunjungi Ibu, supaya Ibu tidak merasa kesepian.”
Aluna memang selalu merawat Rossa saat sakit. Itulah sebabnya Rossa sangat menyayanginya bahkan bisa dibilang, kasih sayangnya pada Aluna lebih besar daripada pada Alaska.
Namun saat Aluna mengungkapkan perselingkuhan Alaska, hati Rossa hancur tak bersisa.
“Baiklah, kalau begitu Ibu sama Ayah pamit dulu,” ucap Rossa.
Aluna mengangguk pelan.
Aldo dan Rossa pun berjalan menuju pintu. Setelah berpamitan sekali lagi, mereka akhirnya pergi.
Aluna yang kini berada dalam pelukan Robby merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Namun ia mencoba menerimanya, agar rasa bersalahnya pada sang ayah tidak semakin bertambah.
“Kapan kamu akan mengurusnya?” tanya Robby pelan.
“Besok, Ayah. Aluna akan mengurusnya besok,” jawab Aluna dengan senyum yang dipaksakan.
“Baiklah. Jika kamu sudah bercerai nanti, kamu harus tetap menjenguk dan menyayangi Ibu Rossa. Dia sangat menyayangimu,” ucap Robby.
Aluna mengangguk.
Robby tersenyum kecil, meski hatinya perih. Tak lama kemudian, mereka masuk ke kamar masing-masing.
Saat tiba di kamarnya, Aluna merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap
langit-langit kamar itu.
“Aku kembali lagi ke kamar ini…” gumamnya lirih dengan wajah penuh kesedihan.
**
Keesokan paginya, Aluna terbangun. Ia baru menyadari bahwa semalam ia tertidur begitu saja karena kelelahan dan tangis yang tak berhenti.
Begitu duduk, Aluna langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini, ia harus pergi ke pengadilan. Ia ingin semuanya cepat selesai perceraian itu harus segera diurus.
Beberapa menit kemudian, Aluna telah selesai mandi dan bersiap-siap. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri.
Napasnya ditarik dalam-dalam, berharap semuanya berjalan lancar dan tidak dipersulit.
Aluna keluar dari kamarnya dan melangkah ke dapur. Di sana sudah ada Emira dan Robby.
“Sarapan dulu, sayang,” ucap Emira lembut.
Aluna tersenyum dan berjalan menuju meja makan.
“Selamat pagi, Ayah,” sapa Aluna sambil mencium pipi ayahnya.
“Selamat pagi kembali, cantiknya Ayah,” jawab
Robby sambil mengelus wajah Aluna penuh kasih.
Saat itu, Aluna merasa sangat bersyukur. Di saat hatinya hancur karena disakiti, ia masih bisa kembali ke pelukan orang tuanya.
Kini mereka pun mulai menyantap sarapan bersama, dalam keheningan yang sarat dengan doa dan luka yang perlahan mencoba disembuhkan.