Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.
Suasana mendadak berubah hening. Papi Baim menoleh perlahan ke arah Daniel, lalu memandang Zeya yang berdiri dengan kepala tertunduk. Entah mengapa, di balik situasi yang seharusnya membuat mereka marah atau kecewa, terlintas satu pikiran yang selama ini hanya disimpannya dalam hati.
Sudah sejak lama, Mami Mia, istrinya, memang mengagumi Zeya. Gadis itu sopan, cerdas, dan memiliki kepribadian yang baik. Diam-diam mereka pernah berharap, suatu hari nanti Zeya benar-benar menjadi bagian dari keluarganya. Kini, harapan yang dulu terasa mustahil justru seolah datang dengan sendirinya.
Papi Baim mengembuskan napas pelan, kemudian menatap Kepala Desa. "Kalau memang menurut adat di sini jalan keluarnya adalah pernikahan..."
Pria bersahaja itu, sejenak menghentikan ucapannya lalu kembali menoleh kepada Daniel.
"Saya setuju...!" Bukan Papi Baim yang berkata, tetapi Mami Mia yang menyela ucapan suaminya dengan wajah full senyum.
Daniel dan Zeya sama-sama terkesiap dengan netra membelalak.
"Mi...?" Daniel nyaris tak percaya, jika orangtuanya ternyata begitu kompak.
Dirinya memang menyukai Zeya. Namun, bukan cara seperti ini yang dia inginkan.
Sementara itu, Ayah Bastian masih terdiam membisu. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, membuat seluruh ruangan kembali dipenuhi ketegangan. Semua mata tertuju kepadanya. Menunggu keputusan berikutnya.
Pria kharismatik itu berdiri mematung di samping putrinya. Rahangnya mengeras, sementara pandangannya bergantian menatap Zeya dan Daniel, lalu ke arah Kepala Desa serta para Tetua Adat yang duduk di hadapannya.
Ayah Bastian menutup kedua matanya beberapa saat, seraya menarik napas panjang dan berat. Dadanya terasa sesak melihat putri semata wayangnya berdiri dengan wajah sembab di tengah pendopo Balai Desa serta mendapat tatapan intimidasi dari warga setempat.
"Cepat dong, Pak. Jangan malah diam. Kami menunggu keputusannya ini!" seru salah seorang warga yang tak sabar.
Ayah Bastian mengembuskan napas kasar seraya membuka mata. Kemudian ditatapnya kembali Kepala Desa dengan pandangan serius.
"Pak... sebelum saya mengambil keputusan, ijinkan saya berbicara dengan anak saya sebentar."
Kepala desa menganggukkan kepala. "Silakan, tapi jangan lama-lama."
"Zeya... Ayo, ikut Ayah," ajaknya sambil menyentuh bahu putrinya dengan lembut.
Zeya yang sejak tadi terus menundukkan wajahnya, mengikuti langkah sang ayah berjalan menjauh ke teras Balai Desa. Angin pegunungan berembus pelan, tetapi tidak mampu meredakan kegelisahan yang memenuhi hati mereka.
Begitu merasa tak ada lagi orang yang bisa mendengar, ayah Bastian menatap putrinya dalam-dalam.
"Jawab ayah dengan jujur, Nak," pintanya pada sang putri.
"Apa yang dikatakan mereka itu, benar?" tanyanya lembut.
Zeya mengangguk pelan. Airmatanya kembali mengalir. "Tapi demi Allah, Yah... Ze sama Daniel benar-benar nggak melakukan apa-apa."
"Kami berdua tersesat karena salah jalur. Ze sama Daniel berniat ingin kembali, tapi sudah keburu malam. Lalu kami menemukan pondok kosong. Angin malam sangat dingin membuat tubuh Ze, menggigil. Daniel cuma memeluk supaya Ze tetap hangat. Itu saja, Yah... nggak lebih."
Tangis Zeya pecah. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. "Ayah... Ze nggak mungkin bohong sama Ayah."
Melihat putrinya menangis seperti itu, hati Ayah Bastian serasa diiris. Perlahan pria kharismatik itu menarik Zeya ke dalam pelukannya.
"Maafkan Ayah..." Suaranya terdengar bergetar. "Ayah percaya sama kamu, Nak."
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Zeya semakin menjadi. "Kalau Ayah saja percaya, kenapa mereka tetap memaksa kami menikah?"
Pak Bastian mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang. "Karena nggak semua orang melihat dengan hati, Sayang. Sebagian hanya percaya pada apa yang mereka lihat."
Zeya menggigit bibirnya, berusaha menahan isak. "Tapi, Ze, belum siap menikah, Yah. Ze masih ingin sekolah. Ze masih ingin meraih banyak cita-cita."
Ayah Bastian memejamkan mata. Setiap ucapan putrinya bagaikan pisau yang merobek dadanya. Sebagai orangtua tentu menginginkan hal yang terbaik. Ingin melihat Zeya menyelesaikan pendidikannya, meraih impiannya, lalu menikah dengan laki-laki pilihannya pada saat yang tepat. Bukan seperti sekarang. Namun keadaan telah berubah begitu cepat.
"Zeya..." Ayah Bastian menggenggam kedua tangan putrinya lalu menciumnya. "Kita sudah lama mengenal Daniel. Dia anak baik. Selama ini ayah nggak pernah mendengar hal buruk tentang dia."
"Ayah ingin putri kesayangan ayah ini menikah bukan karena paksaan. Apalagi tekanan dari orang lain. Tapi, kalau Ayah menolak, mereka akan terus menganggapmu perempuan yang nggak baik," tutur Ayah Bastian
Airmata Zeya semakin deras mengalir. "Mungkin kita bisa membawa masalah ini ke jalur hukum, Yah," cetus Zeya.
"Tapi sebelum semuanya selesai, nama kamu akan terus menjadi bahan perbincangan, Nak."
Ayah Bastian menarik napas panjang. "Sebagai orangtua, Ayah harus membuat keputusan yang paling tepat, meskipun sedikit menyakitimu."
Zeya terdiam, saat ini mereka memang sedang berada dalam posisi yang sangat sulit. Beberapa saat kemudian, gadis itu menghapus air matanya.
"Kalau... kalau Ayah merasa itu yang terbaik..." Ia tersenyum tipis meski airmatanya terus mengalir. "...Ze akan menurut keputusan Ayah."
Mendengar jawaban itu, Pak Bastian kembali memeluk putrinya erat. "Maafkan Ayah, Nak. Maaf, karena ayah belum bisa melindungimu."
Zeya menggeleng pelan di dalam pelukan ayahnya. "Bukan salah Ayah."
Setelah menenangkan diri sejenak, keduanya kembali masuk ke dalam. Semua orang langsung memusatkan perhatian kepada mereka. Ayah Bastian berdiri tegak di hadapan Kepala Desa dan para Tetua Adat serta warga desa.
"Saya sudah berbicara dengan anak saya. Walaupun saya yakin mereka tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut."
Pria kharismatik itu berhenti sejenak, lalu mengambil napas panjang. "Tapi saya juga memahami bahwa adat di desa ini adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi."
Ruangan kembali hening. Semua mendengarkan dengan seksama. Ayah Bastian lantas memandang Daniel yang berdiri tak jauh dari Zeya.
"Daniel," panggilnya tegas.
"Iya, Om," jawab Daniel cepat.
"Saya hanya ingin bertanya satu hal." Tatapan keduanya saling bertemu.
"Kalau hari ini kamu benar-benar menjadi suami Zeya... Mampukah kamu menjaganya, menghormatinya, dan bertanggung jawab atas hidupnya, bukan hanya hari ini, tapi selamanya?" tanyanya dengan pandangan serius.
Daniel mengangguk lalu melangkah maju tanpa ragu. Remaja itu berdiri tegak di hadapan Ayah Bastian. "Saya sanggup, Om," jawabnya mantap.
"Saya sadar bahwa semua ini terjadi di luar keinginan kami. Tapi kalau akhirnya saya benar-benar menjadi suami Zeya, saya berjanji pada diri sendiri, akan menjaga dan menghormatinya. Saya akan berusaha membahagiakannya semampu saya."
Ayah Bastian menatap Daniel cukup lama. Melihat ketegasan dan ketulusan di mata pemuda itu, perlahan kepalanya mengangguk sembari tersenyum tipis. "Baiklah."
Ayah Bastian lantas menoleh ke arah Kepala Desa dan para Tetua Adat kembali. "Dengan berat hati...saya menerima keputusan ini."
Kalimat yang Ayah Bastian ucapkan seakan menjadi akhir dari seluruh perdebatan. Membuat Zeya kembali tak kuasa menahan air mata.
Sementara Daniel memejamkan mata. Remaja itu sadar, mulai detik itu, hidup mereka berdua tidak akan pernah sama lagi. Meski sebenarnya dia sangat menyayangi Zeya, bahkan ketika masih kanak-kanak. Namun, bukan cara seperti ini yang dia inginkan.
.emaknya datang😁