Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa bahaya itu?
“Kau harus mendengarkan ku!” Kali ini nada suara itu menaik, seakan membungkam semua suara yang riuh di dalam bis.
Aku menelan ludah. Baru kali ini aku di tindih dan diajak bicara. Keringat menetes di pelipis. Aku takut jika nanti malah dilempar ke luar bis oleh jinnya sendiri.
“ada yang harus kau ke tahui dari anak ini” suara tanpa wujud itu melanjutkan.
Aku tidak bisa membalas. Tubuhku saja di tindih, mulut terasa membatu.
Lengang sejenak, kemudian suara itu menyeruak kembali “Kau harus membantu gadis ini”
Apa?! Mana mungkin saya mau. Awas saja, saya tidak akan percaya dengan jin. Suara tersebut adalah tipu muslihat dari setan.
Terdengar sebuah hembusan lembut “Sebenarnya tidak ada yang lebih baik selain menyiarkan agama Islam yang luhur”
Aku tersentak. Bagaimana dia (entah siapa) bisa mengatakan hal itu.
“Jika kau masih kurang paham berarti kau harus menuntut ilmu lebih dalam lagi. Sesungguhnya ilmu Allah itu luas” kali ini suara tanpa wujud itu terdengar sangat berwibawa. “Hal buruk akan terjadi jika kau tidak menolong gadis ini. Aku tidak bisa memastikan karena qada dan qadar hanya di tangan-Nya. Tapi kau harus menolong gadis ini. Aku adalah khodamnya. Dan alam jin jugalah luas. Aku mengetahui semuanya tentang gadis ini”
Aku terdiam. Sekarang tubuhku terasa lebih ringan. Aku mulai mengerti. Akan ada hal buruk terjadi. Tapi apa itu?.
“sesungguhnya Allah lebih mengetahui sesuatu yang ghoib. Dan kau, seperti biasa akan menghadapi ujian yang diberikan Oleh-Nya. Ingatlah sesungguhnya Allah lah tuhan yang maha esa. Aku hanya hamba-Nya yang lemah tanpa ada izin kekuatan dari-Nya”
Aku terdiam sekarang. Sudah jelas semuanya. Aku bisa menimbang keadaan. Hukum menolong Ila bisa saja wajib. Namun aku belum bisa menentukan itu sebelum mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ila. Jika dilihat dari pesan yang diberikan lewat alam ghoib ini mungkin sangat penting. Karena Ila tidak mungkin memberi tahu masalah besarnya padaku.
“Bang” suara gadis itu terdengar kali ini. Aku mulai tersadarkan. Rasanya seperti habis tidur. Sekarang Ila tampak berdiri di tengah kabin. Ya, sepertinya aku tertidur barusan.
“Bang. Mau makan ga?” Suara itu menyita lengang sejenak di dalam kabin yang sepi.
Ila menepuk pundak ku “Hey.. Malah bengong. Mau makan ga bang”
“Eh iya..” Aku mulai berdiri.
Tubuhku tiba-tiba ambruk. Membuat Ila terkejut.
“bang!?” Anak itu hendak merengkuh. Tapi aku tahan.
“Aku bisa bangkit sendiri..”
Aneh sekali. Seluruh tubuhku lemas. Untung masih bisa berdiri. Aku mulai menegakkan tubuh, bertopang pada kursi supaya seimbang.
“Ayo duluan” ucapku.
Ila menatapku sejenak. Agak mendongak, lalu berjalan. Sepatunya mengetuk lantai kabin. Aku juga mulai meniti langkahku. Ini sama rasanya ketika aku terjatuh dari lantai dua ketika masih di pondok. Semua tubuhku lemas karena syok. Bedanya, ini tanpa rasa sakit.
Lumayan Sulit untuk berjalan. Tapi aku lebih memilih bingung karena apa yang telah terjadi. Sesaat terpikirkan Ila lah yang membuatku seperti ini, Karena dia yang di bahas tadi. Tapi aku tidak bisa langsung bertanya.
Aku dan Ila sudah di luar bis. Ila memimpin di depan. Sesekali dia menengok ke belakang. Tampang wajahnya cemas melihatku berjalan lebih lambat. Ya. Memang sesulit itu. Tubuhku lemas semua. Mungkin makan bisa langsung membuatku pulih.
Ila berhenti, berbalik di depanku. “kau makan di bis saja aku yang akan mengambilkannya untukmu” wajah gadis itu terdengar serius. Dia cemas.
Aku menggeleng. “makan malam wajib dine in. Ga Bisa di bawa ke luar”
“lah kasian kamunya. Mukamu aja pucet. Ku ambilin masa gak bisa?” Balas Ila
Lah, kukira cuman lemas doang. Ternyata wajahku ikut pucat. Tapi tidaklah, aku masih cukup kuat untuk sekedar berjalan
“Ngga, gausah aneh-aneh. Ayo cepet jalan” aku kembali melangkah. Ila segera menyejajari langkah. Dia masih terlihat cemas. Pandangannya menilik seluruh tubuhku.
“emang mimpi apa sih. Ketindihan kah?” Tanya Ila
Jujur, aku kurang berkenan. Tapi kubiarkan saja. Ila bisa-bisanya tidak malu melakukan hal itu, padahal beberapa sorot mata mulai melirik. Ya.. Antaranya pasti laki-laki. Ila sangat memikat ketika di public. Wajar, dia sangat cantik. Tapi ntahlah.. Malah mikir ini.
Aku coba memegang keningku. Hangat. “ngga. Aku ga ke tindihan. Perut kosong. Pasti mulai demam gara-gara masuk angin. Kan, di bis pakai AC” Aku mencari alasan lain. Belum saatnya aku menceritakan semua yang telah terjad ketika di bis.
Ila masih menilik wajahku.
“santai saja. Aku bisa sembuh dengan cepat. Lihat nanti habis makan” aku coba menyeringai. Agak canggung.
Lanjut jalan.
Aku sudah berhasil ke tempat makan. Tempatnya di dalam sebuah bangunan besar yang ramai dengan penumpang bis lainnya. Bau lezat makanan tercium dari meja prasmanan dari salah satu sisi tembok. Di sana terpapar banyak lauk di dalam panci dan nampan besar.
Aku sudah mengambil nasi, di tengah antrian orang yang ingin mengambil makanan. Tinggal lauk-pauk. Aku berjalan lagi, dengan sangat konsentrasi. Tubuhku sangat lemas. Tersenggol sedikit bisa ambruk aku.
Akhirnya semua berlalu. Sedikit lega. Aku mulai menarik kursi di meja kosong. Secara bersamaan Ila juga melakukannya. Dia sudah di depanku –sebelumnya dia pergi ke meja prasmanan lain, mengambil lauk.
Aku agak keberatan. Aku tidak mau di soroti orang terus. (Emang Siapa yang mau melihat diriku)
“kita ga harus satu meja juga kan?” Aku bertanya datar, mulai menyendok suapan pertama.
Alis Ila terangkat “kenapa?”
Aku menelan makanan. “Aku cuma gak mau kita berdua kelihatan mencolok” to the point saja. Aku tahu haram mendekati zina. Tapi rumit masalahnya jika dalam bis. Untuk sekarang tidak.
Ila terdiam sejenak. Seketika pupil matanya melirik ke segala arah. “Yaudah dehh.. Padahal mau ngobrol” Ila kembali meletakkan sendok dan garpu di atas makanannya, lalu beranjak.
Ila pergi menuju pojok bangunan. Di sana dia duduk dengan seorang wanita paruh baya yang sendirian. Ila mulai mengulaskan senyum, menyapa. Si nenek juga menyambut ramah.
Aku kembali melanjutkan makan. Suara piring dan sendok memenuhi udara lengang di dalam ruangan. Orang-orang sibuk berbincang dan menghabiskan makanannya. Suasana pun ramai.
Lima menit berlalu. Perut sudah ke nyang. Aku masih lemas, tapi kali ini rasanya lebih baik. Waktunya kembali ke dalam bis. Penumpang yang satu bis denganku juga mulai masuk ke dalamnya.
Aku berjalan perlahan seperti sebelumnya. Masih belum bisa cepat. Kaki agak gemetar menaiki tangga. Dan untungnya aku berhasil. Aku langsung menghempaskan diri begitu sampai di kursi.
Ila belum datang. Tapi aku malah teringat ke jadian sebelum aku turun dari bis. Kapan aku bisa bertanya ke pada Ila? Bukan itu. Kapan aku bisa mengetahui apa pun itu yang terjadi akan terjadi?
Penumpang lain mulai memenuhi kabin. Dan tentu saja Ila ada di antar nya dan mulai naik. Anak itu membawa sesuatu yang di bungkus plastik.
“misi bang..” Ila melewati depan ku. Lalu menghempaskan tubuh ke kursinya di samping jendela bis.
“dapet nih..” Ila membuka kantong plastiknya.
Aku hanya menilik sekilas. Ketebak. Ila membeli jenang. Dari bungkus nya saja sudah ke lihatan. Anak itu tampak kegirangan sekarang.
“Mau bang” Ila mencomot satu. Lalu Menjulurkan kotak karton berisi jenang.
Aku menggeleng.
“Ah gapapa. Makan aja” Ila tersenyum.
“Makasih.. Tapi aku udah kenyang” balasku.
“lah.. Aku beli kemasan besar biar bisa bagi-bagi loh” Ucap Ila terdengar kecewa.
“Yelah-yelah” aku ikut mencomot satu.
Ntah kapan tenagaku bisa pulih lagi. Aku tidak heran apa yang telah atau sedang terjadi padaku ini. Jujur saja, aku sepanjang hidup sering mengalami peristiwa-peristiwa yang menurutku aneh. Seperti saat di pondok. Banyak sekali aku mendapati gangguan dari makhluk supranatural.
Tapi baru kali ini ada jin yang meminta bantuan ku atas nama Allah. Dan baru kali ini aku seperti sedang terkena santet. Lemas semua tubuhku