NovelToon NovelToon
Pergi Untuk Melupa

Pergi Untuk Melupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Persahabatan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Been

Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.

follow ig: @rohidbee07

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita di bulan Juni

Jujur sehari saja aku ingin kembali ke masa kecilku. Menjadi anak kecil yang tak ada rasa takut menangkap belalang di ladang tetangga. Tidak pernah ada pikiran, bagaimana nanti ada hewan buas. Menangkap udang, tanpa ada rasa takut  kalau di dalam air ada ular. Berjalan di hamparan sawah, menangkap keong tanpa takut terpeleset. Menyusuri jalan malam di waktu bulan Ramadan, tanpa takut dimarahi orang tua. Namun, setelah beranjak dewasa, aku kini telah jauh dari teman kecil yang menemani tualangku dulu. Sekarang aku menjadi penakut, tidak lagi menjadi seorang pemberani seperti waktu kecilku dulu.

Andai kata tak ada Rohid dan Raka yang menemaniku. Mungkin, hariku akan lebih menakutkan lagi. Dialah teman, sekaligus sahabat atau bahkan kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Merekalah teman yang tersisa kumiliki di dunia ini. Suatu waktu, aku sempat bernostalgia dengan mereka bercerita tentang masa kecil yang masih polos, lugu dan terlalu asing dengan dunia luar sekarang ini. Dunia yang begitu kejam, untuk dilalui tanpa adanya orang terdekatku.

Beberapa kali kita menghabiskan waktu bersama-sama, di saat waktu senggang kita sebagai mahasiswa di Universitas Lampung. Saat tugas menumpuk, kita selalu nongkrong di Warung Bang Pendi. Berjam-jam kita bisa betah bertukar cerita dan membahas seputar perkuliahan, yang kian padat tugas-tugas dari dosen killer kita. Raka mengambil jurusan Akuntansi, Rohid mengambil Jurusan Pertanian dan sedangkan aku mengambil jurusan Peternakan. Semua terlalu begitu cepat, padahal aku merasa kemarin masih memakai baju kaos oblong bergambar super hero dan sekarang aku harus menjadi karakter super hero tersebut demi melanjutkan sebuah kehidupanku.

“Bro, lu pada ingat kagak zaman kita kecil dulu?” ucap Raka, memecah keheningan kita di tongkrongan.

“Ingat-ingat lupa sih, Ka. Gua ingatnya, lu ingusnya pada meler semua di hidung. Mana si Raihan kalau main, apalagi setiap abis mandi pasti mukanya dibedakin ha-ha. Persis kaya topeng monyet!” kelakar Rohid meledekku dengan candaan khasnya Betawi nyablak, sebab memang dia asli orang sana yang kini tinggal di kota ini dan dialah yang mengajarkan aku bahasa dia.

“Ah kampret lu, Hid. Emang kocak parah kalau ingat waktu kecil mah ha-ha. Kok bisa kita gitu, selucu itu dan aku anehnya aku nyaman dibedakin setebal itu sama Ibuku.”

“Ha—ha, emang pe’a si Rohid mah. Mulut sekate-kate bae! Emang bener sih si Raihan, kalau main bedak tebal kaya cabe-cabean mau mangkal,” kelakar Raka tertawa terbahak-bahak meledekku juga.

“Yaelah punya teman pada pe’a semua. Kagak sadar lu, Hid. Waktu kecil lu suka nangis, kalau enggak dibeliin mainan. Mana kalau nangis guling-guling, persis truk molen.”

“Ha-ha-ha masih bae lu, Han. Ingat aja lu, kita aja lupa semua,” sahut Raka tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja warung.

“Kampret lu, Han. Ingat bae ha-ha, gua aja berusaha kagak ingat,” ucap Rohid menepuk bahuku tak mampu menahan tawanya.

“Ya abis dari tadi lu ngatain gua mulu, Hid. Kocak dah lu pada, kira-kira lu mau balik lagi kagak jadi bocah ingusan?” ucapku melemparkan pertanyaan konyol kepada mereka, yang tertawa terbahak-bahak sedari tadi.

“Hmmm ... kalau gua sih mau aja, Hid, Han. Soalnya kagak ada beban hidup. Terus gua juga enggak diomelin Bokap gua yang killer, dia mah mana bisa gua nganggur dikit di rumah. Katanya jadi anak laki harus gesit sat ... set, anehkan gua mah letoy mageran parah,” balas Raka, sambil menggaruk-garuk kepalanya menahan malu.

“Ogah gua mah, Han, Ka. Pe’a lu semua masak udah dewasa kembali jadi bocah ingusan lagi, mana gua udah ganteng gini. Lah masak suruh balik lagi jadi bocah ingusan? Kebangetan begonya lu pada ha-ha. Emang lu mau abis mandi dibedakin lagi, Han? Terus si Raka lu mau kalau lagi main seru-seru disuruh pulang sama Nyokap, lu suruh makan dan tidur siang, hah?” balas Rohid merasa geli dan tidak setuju dengan ucapanku tadi.

“Hadeh kebangetan percaya diri lu, Hid. Ganteng pala lu pitak, bae-bae jatuh nyungsep ke selokan ha-ha.”

“Lah iya bener tuh kata, Raihan. Ngaca ngapa, Hid! Muka kaya pantat panci ha-ha,” kelakar Raka meledek Rohid habis-habisan.

“Pala lu pitak. Lagian ngapa sih lu pada, kagak pernah akuin kegantengan gua,” celetuk Rohid membela diri dan mimik wajahnya berubah sok cool.

“Ya deh ganteng, Hid. Cuma kok jomblo, jangan bolang lu homo?”

“Bener tuh ganteng doang kagak normal! Pantesan punya pacar kagak ha-ha,” kelakar Raka meledek Rohid tanpa ampun.

“Gigilu betatoo gua normal pe’a. Gua sebenarnya ada cewek yang gua taksir di kampus, Cuma gua kagak berani minta nomornya Ka, Han,” balas Rohid seketika raut wajahnya berubah sedikit galau.

“Hah, serius siapa, Hid?”

“Iya siapa, Hid? Kita jadi penasaran, sama cewek yang bisa buat lu jadi naksir sama dia,” timpal Raka dengan wajah penuh penasaran.

“Hmmm ... pokoknya sahabat pacar lu, Han. Jujur gua suka sama dia, Cuma gua gak ada keberanian buat minta nomornya,” balas Rohid sambil menahan dagunya dengan kedua tangannya di meja.

“Nanti dulu, siapa sih cewek yang buat kawan gua jadi begini? Lah kok gua jadi loading begini.”

“Seketika gua juga jadi bingung, masalahnya teman dekat si Andira ada dua sampai tiga orang, Han, Hid,” ucap Raka ikut kelimpungan menerka siapa di balik cewek yang ditaksir Rohid.

“Yaelah lu pada gimana sih Han, Ka? Kaya begitu aja kagak bisa nebak jelas-jelas si Ami. Kebanyakan mikir lu pada, sama kaya gua mikirin gimana caranya, buat ngumpulin keberanian buat dapetin nomor sekaligus hatinya,” balas Rohid dengan nada agak kesal dan badmood.

“Maaf deh kawan, nanti kita bantuin biar lu bisa ngomong sama si Ami!”

“I—iya, Hid. Lagian kita enggak pernah menduga, kalau lu bisa suka sama si Ami,” balas Raka, sambil menepuk bahu Rohid.

“Gua ngerasa cupu banget, Bro. Enggak ada keberanian buat dekatin si Ami,” ucap Rohid tertunduk malu dan lesu.

“Kagaklah, Hid. Lagian dekatin cewek yang kita suka itu, jauh berbeda dengan cewek yang enggak kita suka jelas rasanya berbeda.”

“Betul tuh kata Raihan, Hid. Lumrah kalau lu grogi atau ngerasa hilang percaya diri. Gua aja yang biasa dekatin cewek, tapi pas dekatin yang benaran gua suka gugup juga,” balas Raka menyemangati Rohid.

“Iya, kawan. Terima kasih banyak, besok-besok gua bakal kumpulin nyali dulu buat dekatin si Ami,” balas Rohid dengan wajah mulai semringah.

Terkadang memang perasaan tidak pernah bisa berhasil, untuk kita kendalikan sepenuhnya. Perasaan itu, muncul tiba-tiba tidak pernah memikirkan risiko yang akan terjadi nantinya. Kita berusaha menolak, akan tetapi kita selalu gagal dan enggan menge—sampingkan sikap ketidakpedulian terhadap rasa itu. Begitupun yang kini dialami Rohid, aku sebetulnya sudah mengetahui dia memang sudah lama menyukai Ami semasa SMA dahulu. Tapi, setiap kali dia ingin mendekati Ami nyalinya pun makin kendur.

Setiap kali ada kesempatan mereka bertemu, Rohid selalu gagal dan salah tingkah dibuatnya. Sebenarnya dari sorot kedua mata mereka ada banyak sekali saling ketertarikan satu sama lain. Mungkin waktu belum tepat, untuk mereka bersama. Aku juga mendekati Andira lidahku selalu kelu, keringat dingin mengucur deras akibat grogi dan di saat berbicara selalu terbata-bata karenanya. Padahal aku selalu memberikan saran kepada Rohid jika di tongkrongan, tapi dia malah memilih tidur serta tidak peduli nasihat kawan-kawannya.

Memang di antara kita Rohid yang paling payah soal mendekati cewek. Belum apa-apa sudah memberikan stigma kepada semua cewek yang ada di muka Bumi ini. Bagi dia semua cewek itu sama memandang fisik, harta bahkan strata sosial. Walaupun, ada benar juga pendapat si Rohid, Cuma aku dengan Raka tidak menyamaratakan itu. Aku yakin di belahan bumi mana pun ada wanita yang tulus menerima segala kurang-kurangnya kita. Barangkali, dugaan Rohid timbul akibat patah hati yang sempat dia alami di masa lalu, makanya dia membuat stigma itu bahwa semua cewek sama pemikiran dan kriterianya. Tapi, aku berusaha menepis keraguan terhadap Andira, aku yakin dialah wanita yang tepat untuk aku cintai hingga saat ini.

 

“Saat sebagian orang di sekitarmu mengatakan, bahwasanya aku beruntung memilikimu dan di kala itulah hatiku berbicara. Aku tidak sama sekali senang, hanya saja keberuntungan memihakku dengan sangat baik.”

 

-Rohid Bachtiar

 

 

1
Cita Anastasya
Impian anak ingin membahagiakan ortunya thorrr
Cita Anastasya
raihan bucin parah sama alinda wkwkwk 😁
Penulis Buku
Semangat updatenya ceritanya bagus;(
Penulis Buku
👍👍👍
Penulis Buku
semangat berimijansi!!!!!!!
Penulis Buku
Rekomendasi buat yang diksi puitis😅
Penulis Buku
lega jika di utarakan ⚡🔨
Penulis Buku
mantap ceritanya😀
Penulis Buku
nicee
Penulis Buku
sendu
Penulis Buku
Keren thor
Penulis Buku
keren diksinya, thorr
Cita Anastasya
quotesnya bgs!
Cita Anastasya
semangat Thor ceritanya kerennnn!
Cita Anastasya: Sama-sama
total 2 replies
Cita Anastasya
Yuhu bahagaia ending.
Cita Anastasya: hehe iya kk
total 2 replies
Bintun Arief
benaaaar, alangkah mengerikannya menjadi dewasa. Andaaaiiii waktu bisa berhenti saat aku masih bersama ayah dan kakak laki2ku thor, alahai jadi curhat 🤣
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?
Rohid Bee: ada sdkit Kak hhe
total 1 replies
Cita Anastasya
😉😉😉
Rohid Bee: /Smile/
total 1 replies
Cita Anastasya
😔😔
Rohid Bee: /Chuckle/
total 1 replies
Cita Anastasya
✍😂
Rohid Bee: /Applaud/
total 1 replies
Cita Anastasya
next ⚡🔨
Rohid Bee: 👌ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!