Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Menenangkan Diri
Walaupun ditengah rasa cemas, akhirnya Sofia berhasil melewati masa-masa kehamilan awal yang menyakitkan itu. Dan kondisi kehamilannya cukup stabil.
Namun karena stress berat yang dia alami dia harus tetap menjaga kondisi kandungannya lebih hati-hati.
"Nyonya Sofia, tolong jaga ketenangan emosi Nona, jika anda terus emosional ini juga tidak baik untuk kandungan anda."
"Baik Terimakasih Dokter, saya akan mencoba mengusahakannya."
"Owh, tumben hari ini tidak di antarkan oleh Suami Nyonya?"
Ketika ditanya itu, Sofia sedikit terdiam, tentu sebelumnya dia akan pergi dengan Suaminya Evan. Jadwal kontrol ini sudah dijadwalkan sejak Minggu lalu dan Suaminya Evan berjanji untuk mengantarnya.
Namun sepertinya Suaminya melupakan janji penting ini, dan ternyata malah merencanakan jatwal bertemu klien perusahaan sore ini. Padahal harusnya jatwalnya bisa kemarin atau besok, tapi Evan malah lupa janji penting ini.
'Maaf ya sayang, namun ini meeting penting, Aku sudah terlanjur menjadwalkan hari ini, tidak enak dong kalau di tunda, terlebih Aku yang memang memilih hari ini. Sungguh, Aku benar-benar minta maaf, berikutnya pasti akan aku antar.'
Kata-kata Evan yang masih Sofia ingat, tentu Sofia kecewa namun tidak ada hal yang bisa dia lakukan.
"Suamiku hanya sedang sibuk Dok."
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya Sofia kelaur dari Rumah Sakit. Namun jika dipikir, dia ingat nasehat Dokter untuk menjaga stabilan emosinya yaitu untuk melakukan hal-hal yang dia suka.
Ada di Rumah bersama dengan Ibu Mertuanya jelas bukan hal yang baik untuknya.
"Apakah sebaiknya belajar ke Perpustakaan?"
Sofia memang suka belajar dan membaca, akhirnya memutuskan hal itu. Malam itu, Sofia sempat minta ijin pada Suaminya.
"Mas Evan, apakah Aku boleh pergi ke Perpustakaan Kota jika siang?"
"Loh? Kenapa tiba-tiba? Jika ingin membaca buku kenapa tidak beli dan baca di rumah saja?"
Sofia tentu tidak bisa jujur jika ini karena dia tidak nyaman dengan Ibu Evan, atau Evan nanti mungkin akan marah.
"Hanya ingin ganti suasana saja."
"Hah, kamu ini. Baiklah, asal kamu pulang tepat waktu, dan jaga dirimu ingat kamu saat ini sedang hamil."
"Tentu saja."
Dengan itu, hari-hari hampa Sofia berada di rumah terus akhirnya terselesaikan dengan dia pergi ke perpustakaan kota. Hal yang tidak dia duga adalah di sana kebetulan dia bertemu dengan salah satu teman lamanya.
"Eh? Kak Theo?"
Seorang pemuda tampan saat ini sedang mencari buku di rak-rakan.
"Kamu Sofia?"
"Iya, Kak. Lama tidak jumpa."
Mereka lalu mulai berbasa-basi ringan menanyakan kabar satu sama lain. Baru setelah itu, Sofia mulai bertanya,
"Kakak sedang apa di Perpustakaan?"
"Biasalah, mengurus Tugas Akhir,"
"Kak Theo lanjut kuliah dimana?"
"Universitas A, dekat sini."
"Astaga, benar-benar masuk ke Universitas Favorit Kakak ya."
Keduanya mulai mengobrol akrab dan duduk di salah satu sudut perpustakaan.
"Jadi kamu sudah menikah? Aku kira kamu lanjut Kuliah."
Sofia tidak mau bercerita tentang masalah pribadinya walaupun, Theo adalah teman baiknya.
"Yah, beberapa hal terjadi."
Theo yang tahu batasannya itu tidak bertanya lebih banyak. Keduanya lalu mulai menghabiskan kegiatan hari itu di perpustakaan. Sofia yang membaca buku, dan Theo yang mengerjakan tugas akhirnya di sana.
Hari-hari berikutnya, tentu saja mereka sekali lagi bertemu. Yah karena memang Theo juga menyukai suasana perpustakaan di sana yang sangat nyaman untuk mengerjakan tugas akhir juga bahan-bahan materi untuk tugasnya hanya ada di perpustakaan itu.
Sofia juga senang dan nyaman disana, tidak perlu lagi mendengar omelan dari Ibu Mertuanya. Terlebih ada teman yang bisa diajak bicara.
"Wah, kamu rajin sekali Sofia. Sekarang sedang membaca Buku Ekonomi? Apakah kamu berminat untuk mengikuti ujian masuk Universitas tahun ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Sofia segera menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Ti--Tidak..."
"Aku kira kamu di sini untuk belajar Ujian, padahal kamu kan pintar, Dulu selalu Kuara Kelas. Kamu bilang ingin masuk Fakultas Bisnis."
"Kakak masih ingat itu?"
"Tentu saja."
Sofia belum memikirkannya lagi sejak menikah, namun jika dipikir-pikir sebenarnya ada sedikit keinginan untuk melanjutkan Kuliah. Namun...
Sofia mencoba mengalihkan pikirannya, dan ingat soal bayi yang ada di perutnya. Tidak boleh meminta hal-hal yang lebih, bisa membaca bebas seperti ini saja sudah senang.
Mood Sofia benar-benar cukup bagus belakangan, rasa stress yang dia alami akhir-akhir ini juga mulai menghilang setelah sering pergi ke Perpustakaan. Tentu selain ada Theo, dia juga mulai berkenalan dengan beberapa orang baru di sana.
"Moodmu terlihat bagus belakangan ini, apakah membaca di Perpustakaan benar-benar menyenangkan?" Tanya Evan yang melihat Sofia tersenyum senang itu saat menyiapkan mandi untuknya.
"Benar, cukup menyenangkan disana, ada banyak orang baik yang bisa diajak ngobrol juga."
"Baguslah kalau begitu, Aku senang mendengarnya. Mau sekali-kali Aku antar?"
Sofia tentu saja tidak keberatan, dan tidak mengira hubungannya dengan Evan menjadi sedikit membaik. Sofia juga merasa, mungkin karena tekanan yang begitu besar dan begitu banyak hal yang dia alami selama ini membuatnya benar-benar sangat stress. Dan sekarang, Sofia juga benar-benar mulai mencoba memaafkan Evan dari hatinya.
Evan juga sempat beberapa kali mengantarkan Sofia ke Perpustakaan.
Sayangnya, hari-hari indah itu tidak berlangsung lama. Di mulai dari, Kakak Ipar Suaminya, Olivia yang pemasaran semala ini Sofia kemana, apalagi melihat Sofia terlihat bahagia belakang membuat Olivia terganggu.
"Keluyuran terosss..." Sindir Olivia yang melihat Sofia sudah memakai baju rapi dan terlihat ingin pergi keluar.
"Selamat pagi Kak Olivia. Aku sudah dapat ijin Kok dari Suamiku."
"Bukan berati kamu bisa keluyuran terus seperti itu dong."
Sofia yang malas menanggapinya segera melarikan diri.
"Maaf, Kak. Taksi yang Aku pesan sepertinya sudah datang, Aku pergi dulu ya."
Olivia yang tidak senang dengan itu, akhirnya diam-diam membuntuti Sofia. Dan melihat hal yang tidak terduga.
Dimana, Sofia yang naik taksi itu kebetulan bertemu dengan Theo di depan. Theo tentu saja menyapanya dengan ramah.
"Selamat Pagi, Sofia, kamu pagi banget datang? Tumben,"
"Enggak papa lagi pengen aja."
"Eh, Awas, Sofia...."
Sofia sedikit ceroboh dan hampir tergelincir, untung saja Theo menangkapnya agar Sofia tidak jatuh.
Sayangnya, adegan itu bisa menjadi salah paham untuk orang lain.
"Sialan! Jadi selama ini Sofia itu malah Selingkuh dengan Pria lain selama ini? Hah, pintar sekali mencari alasan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku ternyata malah diam-diam berkencan dengan pria lain, hah Evan musti tahu ini, jangan bilang anak yang Sofia miliki itu sama selingkuhannya lagi, Dasar tidak tahu diri!"
Olivia yang sudah mengambil foto adegan sebelumnya segera mengirimkan pesan dan foto itu pada Evan.
'Lihat itu, Evan kelakuan Istrimu di belakangmu! Dia malah selingkuh sama cowok lain!'
Evan yang menerima pesan itu, dan melihat adegan di mana Sofia dipeluk pria lain itu jelas sekali menjadi marah terutama Setelah dia mengzoom foto itu, dan tahu wajah Pria yang bersama Sofia.
"Inikan Theo, Kakak tingkat Sofia dulu? Aku dengar dulu mereka memang sempat dekat, apa mantan Pacar Sofia? Cih, beraninya Sofia itu main-main di belakangku!"
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚