NovelToon NovelToon
Unicorn

Unicorn

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: han sayang

"ini kisah gue dan rumit nya orang-orang di sekitar gue" - Han

Hidup Han mulai berubah setelah Yuna-Sahabat masa kecil nya- pindah ke sekolahnya. perlahan kisah cinta yang hanya sebuah rasa yg terpendam mulai bermekaran di masa SMA nya. siapa sangka teman teman nya saling berkaitan dengan kisah cintanya masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon han sayang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 [Adik Kucing]

Aw-thor PoV

Saat ini, Han sedang menjelaskan semua tentang Yuna pada teman-temannya. Berawal dari pengakuan Lino, dan ternyata mereka juga sedang nguping pembicaraan Han dan Lino di rooftop itu yang berujung ketauan karena Changbin nggak sengaja numpahin minuman Hyunjin. Ia menjelaskan alasan ia sembunyiin Yuna dari mereka selama ini dan pura-pura nggak kenal saat Yuna pindah sekolah.

"Jadi gitu, gue gak mau kalian temenan sama gue karena Yuna. Sekarang kalian udah tau, kan? Kalian boleh marah sama gue," jelas pemuda itu murung. Felix dan Hyunjin jelas kaget banget apa lagi denger cerita lama Han.

"Siapa aja yang nindas lo pas SMP? Sebutin nama sama asal sekolahnya, gue samperin sekarang," kata Changbin sudah kesal.

"Udah kagak usah itu udah masa lalu, orang nya juga gak tau kemana," jawab Han panik.

"Santai elah, emangnya udah berapa lama kita temenan? Satu setengah tahun, kalo cuma karena Yuna, gua gak ada niatan suka atau manfaatin dia." Chan menepuk bahu Pemuda itu. "Gue bangga karena lo bisa se-gentel itu lindungin sahabat lo," ucap Chan.

"Gue gak nyangka temen gue punya temen anak sultan? Anjir lo sering dijajanin ya sama dia?" tanya Changbin, Han mendengus kemudian menyikut pemuda itu. Tadi dibelain sekarang dinistain lagi, ini anak emang suka labil jiwanya.

"Nggak anjir! Mana mana mau gue!"

"Lo sama dia gak pacaran?" tanya Seungmin.

"Mana mungkin, dia udah lama sahabatan sama gue, gue sayang sama dia, dia adik yang berharga buat gue," jelas Han, mereka semua mengangguk paham.

Hyunjin mendelik menatap Han sinis, "Cuma adek, toh. Kalo dia baper sama lo gimana?"

"Ga mungkin anjir, gak semua persahabatan cewek sama cowok harus ada baper-baperan!" sanggah gue, Hyunjin menghela napas mengalah, ia tau tidak ada namanya persahabatan antara cewek dan cowok yang ngga ada salah satu yang baper, kalo ngga Yuna pasti Han atau mungkin dua-duanya.

"Yah pokoknya lo sayang sama dia, kita paham. Lo gak usah sembunyiin dia lagi, itu berat buat dia, lo gak bisa sejahat itu sama Yuna, Han. Lo udah liat kan tadi pagi? Kita sama-sama jaga dia, kalo lo anggap dia juga keluarga lo," jelas Chan.

"Gue gak minat," potong Lino. Han menghela napas pelan menatap pemuda itu.

"Maaf, tapi kalian gak perlu repot-repot jagain dia. Gue mau dia mandiri dan punya temen dengan cara dia sendiri," ucap Han.

"Yaudah lo tinggal kenalin kita doang, gak usah ribet! Yuna juga perlu tahu temen-temen lo!" Seungmin yang tak pernah ikut serta dalam pembicaraan itu pun angkat suara. Han tersentak, ia diam untuk beberapa saat.

"Lo harus percaya sama kita Kak," timpal Ayen.

"Lo semua apaan sih? Kalo Han gak mau yaudah!" ucap Lino sinis. "Dia udah ngasih tau kita kalo tuh anak baru temen dia, yaudah terus apa? Cukup tau aja kan?" lanjut Lino. Han tersentak, apa yang pemuda itu katakan ada benarnya juga, setidaknya Han sudah memberitahu mereka, selebihnya urusan mereka. Tapi ia juga tidak ingin mereka saling berselisih, melihat respon Lino dan Seungmin.

"Nanti malem nongkrong kuy di rumah gue, gue kenalin sama Yuna," ajak Han akhirnya.

"Asik bisa ngapel gebetan," seru Hyunjin yang langsung mendapat pukulan Ayen. "Gak boleh makan temen!" ucap Pemuda itu mengingatkan.

"Emang niat lo gak bener, Jin." Felix menanggapi.

"Ehh anjir bercanda, gue mau fokus sama Neng Ujin seorang, Kok. Kecuali gue ditolak, bisa lah." Han mengumpat tertahan mendengarnya. Hyunjin sudah ia tandai sebagai seseorang yang harus ia waspadai kedepannya.

"Gue gak ikut," jawab Lino, ia berdiri dan meninggalkan Chan dan yang lainnya, mereka menatap punggung Lino heran.

"Dia kenapa dah?" tanya Felix.

"Ngambek mulu kayak anak gadis," komentar Hyunjin.

"Nanti juga dia baikan lagi,"

****

Lino melangkah sambil menghela napas berat. Ia sebenarnya kesal dengan Han selain karena Han gak terbuka sama dia, dia yakin setelah ini Han bakal lebih prioritasin cewek itu daripada temen-temennya, sama seperti semua orang kalau sudah punya pacar, lupa sama temennya sendiri. Namun yang membuat perasaannya tak senang adalah saat melihat keluarga itu sangat ramah pada Yuna, Tante Yuni bahkan memasak masakan favorit gadis itu. Ia yang biasa melihat kebaikan tante Yuni dan Keluarga Han untuknya merasa sedikit cemburu saat melihat Yuna di meja makan itu dan pesan tante Yuni padanya pagi itu.

"Lino juga bantu jagain Yuna yah, anak ini emang sedikit manja tapi dia baik juga kok. Yuna sendirian di tempat ini dia pasti kesepian dan butuh temen, bantu Han jaga Yuna di sekolah juga ya, sayang."

Lino mendengus kesal, ia sangat malas untuk belajar, ia berbelok menuju taman belakang sekolah. Ada pohon besar dengan bangku panjang yang mengelilingi pohon itu. Lino membaringkan badannya di kursi itu. Ia menutup matanya dengan tangan yang disilangkan diatas kepala.

"Dalem semenit, lo tiga kali menghela napas, kenapa?"

"Jangan ganggu gue, sana ke kelas!" usir pemuda itu tak peduli.

"Tadi pagi lo gak perlu semarah itu sama Sakura, lo kenal dia?"

"Bukan urusan lo!"

Gadis itu tersenyum miring, "Yah, gue cuman aneh aja sih orang kayak lo bisa peduli sama cewek, lo kan cuma peduli sama temen-temen lo doang."

Lino membuka matanya masih menatap ke atas, "Bukan urusan lo! Dan gue gak akan pernah bosen bilang ini."

"Siapa dia? Lo suka sama dia?"

Lino bangkit dan menonjok batang pohon di samping gadis itu. "Bukan urusan lo!" ucapnya penuh penekanan, gadis itu menengguk ludah mengendalikan raut wajahnya.

"Yaudah sih, kalo lo gak mau bilang," ucapnya, dia menepis tangan pemuda itu dan menggeser posisi duduknya. Lino menghela napas dan merebahkan tubuhnya kembali di sebelah gadis itu. Suasana kembali hening, hanya ada suara dedaunan yang bergesekan karena tertiup angin dan ramainya kendaraan di jalan. Mereka bergelut dalam pemikirannya masing-masing.

"Gue mau nanya."

"Tanya aja," sahut gadis itu.

"Kalo kucing lo ternyata punya adek lo mau jaga adeknya juga atau nggak?" gadis itu mengakat alis mendengar pertanyaan aneh Pemuda itu.

"Ya iyalah, gimana sih lo! Masa mau lo buang adeknya, kalo gitu kucing lo bisa stress," jawab gadis itu tertawa.

Lino menghela napas keras, "Kalo nanti kucing itu lebih prioritasin adeknya dan ninggalin majikannya gimana?"

"Ga mungkin No."

"Lo yakin?"

"Iya, lo cukup terima adek kucing itu apa adanya dan jaga dia kayak lo jaga kucing lo! Kalo akur kan jadi makin rame dan asik!"

Kalo akur, jadi makin rame dan asik

Lino mendecih, "gue gengsi, adeknya cewek!" Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Ada yah makhluk ajaib seperti Lino yang gengsi sama adik kucing.

"Lo kenapa ketawa?" tanya Lino.

"Yah jawaban lo konyol! Lo ini manusia asli kan? Bukan siluman kucing? Soalnya setiap kita ketemu di sini lo nanya nya kucing mulu," jawab gadis dengan rambut panjang yang di kuncir satu itu.

"Ikutin kata hati lo aja kalo gitu," tambah gadis itu.

"Thanks," gumam Lino. "Gue laper, lo bawa makanan gak?" tanya pemuda itu.

Gadis itu mengambil kotak bekalnya, "niat gue bolos karena mau makan bekel gue, tadi gak sempet soalnya ada kumpulan sama anak dance," jawabnya tersenyum riang mengangkat kotak bekalnya ke depan wajah Lino.

"Mau?" tawar gadis itu. Ia membuka bekalnya, ada empat roti lapis dan sosis juga nugget di dalamnya. Lino mengerutkan dahinya, sejak kapan gadis ini suka sosis dan nugget?

"Lo makan sosisnya sama nuggetnya aja. Nyokap gue bikin buat lo," jawab gadis itu gugup. Lino mengangguk dan langsung mencomot sosis besar dan beberapa nugget disana. Mereka makan dalam diam. "Han pasti tau kalo lo di sini, tumben dia gak ikutan?" tanya gadis itu.

"Dia mau ada rapat pulang sekolah, Lo juga kan? hari ini juga dia remed bareng Changbin, gue gak mau ngajak dia bolos," jawab Lino masih anteng mengunyah makanannya.

"Han sama Changbin emang suka banget remedial bareng di kelas kita," ucap gadis itu tertawa geli mengingat teman kelasnya yang selalu heboh saat pembagian nilai ujian dan akhirnya harus ikut remedial.

"Gue seneng lo akhirnya punya temen setelah 5 tahun hidup urak-urakan sampe bapak lo mau mesantrenin lo." gadis itu terkekeh mengingat masa lalu mereka. Lino tak menanggapi, ia terdiam dan merenung. Sejak kecil, ia tak punya teman. Sifatnya yang kasar itu membuatnya dijauhi dan teman-temannya tak ingin cari ribut dengannya karena bapaknya yang seorang polisi. Hidup penuh aturan dan kekangan membuat pemuda itu ingin hidup bebas dan bergaul dengan teman sebayanya. Ia hanya tahu prihal memukul dan dipukul saat sekolah, Lino kurang pandai bergaul dan bicara tanpa emosi pada seseorang. Setidaknya tidak terlalu parah saat ia menginjak SMA, ia bertemu dengan Han dan yang lainnya, yang membuat masa SMA nya setidaknya sangat berkesan.

"Pulang sekolah lo ada rapat sama panitia acara Festival kan?" tanya Lino pada gadis di sebelahnya yang baru saja membereskan kotak bekalnya. Gadis itu mengangguk sambil menenggak minumannya.

"Tanyain ke Han, martabak keju atau telor," ucap pemuda itu, Lino kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur lelap setelah makan.

"Lo mau ngapelin dia ntar malem?" tanya gadis itu membulatkan matanya tak percaya.

"Gak cuma gue, kita-kita mau main ke rumahnya. Kata lo kan, gak sopan kalo mampir ke rumah temen malem-malem tanpa bawa apa-apa."

"Gak salah juga sih, tapi kenapa harus martabak?" tanya gadis itu.

"Lo juga kalo gue maen ke rumah lo selalu nyuruh bawa martabak," jawab Lino, gadis itu meringis, Lino ini emang polos dan tidak peka rupanya.

"Lo mau apa? Martabak Coklat kacang?"

"Lah ngapain nanya gue?"

"Sekalian nanti gue mampir, sebelum ke rumah Han, kalian satu komplek kan?"

"I-iya sih," jawab gadis sedikit gugup. "Mau martabak telor, soalnya paling mahal hehehehe ... jangan pake daun bawang." gadis itu tersenyum.

Lino mendengus, "beli sendiri aja sono! Ribet lo."

"Gimana sih, katanya nawarin!" dengus gadis itu. "Dasar pelit!"

"Ck, yaudah. Tapi, jangan gak pake acar! Nanti lo sakit perut!"

"Siap bos!"

****

Pemuda itu berjalan keluar dari kelas nya, ia menyalakan ponselnya yang baru di cas penuh dan melihat notifikasi pesan Whatsapp yang masuk. Pemuda itu membaca satu persatu pesan yang belum sempat ia baca dan membalas beberapa yang penting. Tangannya terhenti di salah satu chat yang belum ia buka.

Ayah : Hari ini kamu pulang sama Lia kita ada makan malam bisnis sama keluarga itu.

Ayah : kemarin ayah dapat laporan kalau kamu main sama temen-temen kamu dan ngga jemput Lia di tempet lesnya. Kamu mau ayah marahi?! Jangan di ulangi.

Chan mendengus kasar membaca chat dari ayahnya itu. Orang tua-nya selalu begitu memanfaatkan nya untuk mendekati Lia dan membangun bisnis dengan keluarga itu, yang membuat ia semakin muak adalah karena belakangan ini ia merasa dikekang dengan gadis itu. mungkin ayah gadis itu tahu kalau Lia ada perasaan dengan Chan sehingga orang tua mereka seakan-akan menjodohkan ia dengan gadis itu. Lia juga selalu menjadi alasan Chan mengikuti sesuatu. Gadis itu ingin ikut OSIS, orang tua mereka menyuruh Chan juga ikut dan menjadi ketua OSIS agar Lia tidak terlalu capek, Gadis itu ingin les bahas inggris Chan juga harus ikut. Sampai ia harus sekelas dengan Lia selama SMA ini. Memangnya apa yang harus mereka khawatirkan, Lia hidup dengan baik dengan teman-temannya, kenapa Chan juga tidak boleh?

Tapi suka tidak suka ia harus mengikuti perintah orang tuanya. Pemuda itu memencet fitur panggilan pada kontak nya.

"Lo dimana?" tanya nya to the point.

"Udah di ruang OSIS." Jawab gadis dibalik telepon itu.

"Udah makan?"

"Belom kayaknya, gue lupa."

"Nanti gue bawain roti, pulang sama gue. Kata bokap gue ada dinner nanti malem."

"Lo juga anter gue ke salon?" tanya gadis itu ragu-ragu.

Chan terdiam, "Iya, tapi gue gak ikut dinner, ada ngumpul bareng anak-anak di rumah Han."

"Oh ... oke, cepetan ke ruang OSIS Jaebum udah nanyain lo," jawab gadis itu dengan nada yang sedikit kecewa. Chan menutup panggilannya. Ia melangkah berat menuju ruang OSIS. Chan tahu gadis itu berbohong mengakatakan belum makan, karena Ryujin baru bersamanya makan siang tadi, Chan juga tahu nada suara Lia yang sedikit kecewa saat ia mengatakan tidak ikut makan malam itu. Namun, mau bagaimana lagi pemuda itu tidak ingin memberi harapan untuk gadis itu lebih dalam, ia tidak ingin melukai perasaan gadis itu jika tahu kebenaran kedekatan mereka.

****

1
Sasa Sdr
keren 👍
Sasa Sdr
suka
Sasa Sdr
keren 👍. suka dengan cerita nyq
Daina :)
Kejutan demi kejutan membuat saya takjub. 😲
∠?oq╄uetry┆
Bagus banget alur ceritanya, tidak monoton dan bikin penasaran.
⸸ ℒ𝓊𝒸𝒾𝒻ℯ𝓇 ⸸
Dialog yang autentik memberikan kehidupan pada cerita.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!