NovelToon NovelToon
I LOVE YOU ( Cintai Aku Tuan Muda )

I LOVE YOU ( Cintai Aku Tuan Muda )

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:691.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: taurus

"Tapi tahukah kau, bahwa semua itu adalah tipuan Georges semata. Pernikahan mu hanyalah panggung sandiwara agar dia bisa menikmati tubuhmu tanpa perlawanan." ucap Angela dengan nada menghina.

"Kau bukan wanita pertama baginya. Georges sudah banyak berhubungan dengan bayak wanita dan sebagaimana dia lari dariku, dia akan selalu kembali ke dalam pelukanku. Kau tahu kenapa? karena dia milikku."

"Pergi sebelum Georges mempermalukanmu dan hati mu semakin sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taurus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pertemuan pertama

Setelah Mandi aku berjalan kearah closet baju. Memilih diantara sekian banyak gaun yang digantung. Kuambil satu gaun berwarna kuning dan mencobanya. Hmmm... ternyata sedikit kebesaran buat ku. Apakah akan menjadi masalah apabila aku mengecilkan pakaian ini ?

Dengan mengenakan blouse dan rok aku mengendap - endap keluar kamar sambil membawa gaun yang hendak aku kecilkan. Aku bermaksud menemui bibi Elisabeth secara langsung dan menayakan peralatan menjahit.

Kembali aku terperangah melihat isi rumah dihadapanku. Tepat dibalik pintu kamarku adalah ruangan keluarga yang besar ada piano berwarna hitam yang besar di pojok ruangan. Gucci - gucci antik, lemari penuh dengan hiasan kristal. Langit - langit yang tinggi menjuntai lampu kristal yang panjang dan indah. Sofa - sofa mahal dari kulit yang empuk berwarna hitam. Ada beberapa pintu di setiap pojok ruangan. Pintu misteri bagiku. Pintu yang tidak berani aku buka.

Aku melangkahkan kakiku mengagumi setiap hiasan di ruangan itu tanpa berani menyentuhnya. Ada tangga berputar besar menuju kelantai atas. Kuurungkan niatku untuk naik ke lantai atas. Aku masih mengagumi setiap hiasan dan furniture di ruangan ini hingga tanpa aku sadari mengantarkan aku pada lorong yang dihiasi dengan beberapa lukisan . Lukisan indah walau aku tidak dapat mengerti tetntang cerita dibalik setiap lukisan.

Aku melangkah terus hingga sebuah pintu yang terkuak sedikit. Aku beranikan diri mengintip ruangan dibalik pintu itu, sebuah ruangan yang bernuansa kayu. Warna cream dengan setiap sudut cat berwarna coklat. Lemari besar berisi buku - buku yang ditata rapi, lantai berwarna coklat gelap. Ada sofa berwarna coklat gelap juga dan meja kerja dari kayu jati yang besar. Perapian yang menyala dan terdapat sofa tinggi didepan perapian .

Aku mengendap - endap masuk memeriksa setiap sudut ruangan mencari mesin jahit. Setelah benerapa saat aku sadari bahwa ruangan ini adalah ruangan kerja. Aku melangkah mendekati sofa didepan perapian yang menyala, mencoba menikmati rasa hangat dari perapian.

Dan aku terkejut ada seorang pria sedang tertidur disana. Tubuhnya tinggi dengan kulit putih kecoklatan yang telah terbakar matahari. Rambut hitam berombak yang indah. Wajah nya terlihat sangat rupawan ketika tidur. Tangannya tergeletak disisi - sisi sofa. Tanpa sadar aku sudah berdiri tepat dihadapan pria tersebut, mengamatinya.

Wajah nya benar - benar rupawan. Alisnya tebal dan bulu matanya lentik. Aku lihat ada sebuah tongkat kecil dari besi dengan bantalan tangan diatasnya disandarkan disisi sofa tempatnya duduk. Masih terpaku aku menatap wajah rupawan yang terlihat begitu damai, hingga tiba - tiba matanya terbuka.

Dia terkejut menatapku. Aku terkejut menatapnya.

Tiba - tiba saja wajah rupawan yang tampak damai itu berubah mengerikan. Matanya memandangku tajam dengan rahang keras yang tampak jelas.

" Apa yang kau lakukan disini !" Suaranya terdengar marah dan kasar.

Aku menjadi gugup dan ketakutan hingga tidak mampu berkata - kata.

" Apa kau bisu ?! Aku bertanya apa yang kau lakukan disini !" Suaranya terderngar semakin keras.

" Sa... sa... saya... men..cari mesin ja..hit." Dengan terbata - bata akhirnya aku menyelesaikan kalimatku.

" Tidak ada mesin jahit di tempat ini !" Suaranya terdengar kesal .

" Ma..maaf tuan." Aku segera melangkah pergi dari hadapannya.

" Hei ! Belok ke kanan dari ruangan ini dan tanyalah pada Elisabeth. "

" ba..baik tuan. " Aku segera pergi dari ruangan itu dengan dada yang berdegup kencang. Setengah berlari melewati lorong yang menuju ruang makan dan dapur.

Aku merasa lega sesampainya di dapur dan aku beruntung karena ternyat bibi Elisabeth belum pulang.

" Bibi Elisabeth. " panggilku . Wanita setengah baya yang tengah sibuk memotong sayuran menoleh kepadaku.

" Hei nona Felicia apa yang kau lakukan disini ?" tanya Elisabeth heran.

" Aku... " aku menarik nafas panjang berusaha meredakan jantungku yang berdetak kencang.

" Tenanglah, apa yang terjadi ?" bibi Elisabeth menyodorkan segelas air putih dingin kepadaku.

" Aku mencari mu. Bisa kah aku mengecilkan pakaian ini ? Terlalu besar buatku. " Aku menyodorkan pakaian yang kupegang .

" Hmm.. bibi rasa tidak masalah. Nona bisa melakukannya sendiri bukan ?" tanya bibi Elisabeth memastikan. Aku mengangguk. Kemudian bibi Elisabeth membawaku ke ruangan lain.

Disana terdapat dua buah mesin jahit. Tampaknya ruangan ini adalah tempat menyimpan berbagai persiapan rumah tangga.

Untungnya pikiran dan tubuhku masih mengingat bagaimana cara nya menjahit. Dulu di panti asuhan aku belajar menjahit dan selalu menjahitkan pakaian berlubang untuk semua penghuni panti asuhan. Kami hampir tidak pernah mendapatkan pakaian baru yang layak pakai. Terkadang sumbangan dari para donatur akan dipilih dulu oleh ibu asrama dan pengurusnya, sisa nya adalah untuk kami.

Setelah itu aku tidak bisa mengingat lagi. Perasaanku mengatakan kalau aku pernah menjahit untuk seseorang. Rasa takut dan tidak percaya diri selalu menjalar di benakku ketika aku berusaha mengingat keadaanku setelah keluar dari panti asuhan hingga terdampar di kota kecil ini.

Akhirnya selesai. Aku mengagumi hasil jahitanku. Tampaknya besuk aku akan mengecilkan beberapa pakaian lagi.

Aku keluar dari ruangan tempatku menjahit dan menuju dapur. Hari sudah sore , matahari akan segera terbenam. Disana aku lihat bibi Elisabeth dan Leticia sudah bersiap akan pulang.

" Kemarilah nona Felicia. Perkenalkan ini Juan dan Ruth. Mereka tinggal di ruangan belakang dapur. Bila kau perlu sesuatu, bisa memencet bel di kamarmu atau mencari mereka disana. "

Kami berjabatan tangan. Saling memperkenalkan diri.

Aku memutuskan untuk tinggal di dapur bersama bibi Ruth yang tengah sibuk memlersiapkan makan malam.

" Apakah ini makan malam buat tuan Georges ?" tanyaku padanya.

" Benar. Malam ini tuan Georges memesan Rawon, empal dan tahu tempe goreng. " sahut bibi Ruth.

" Setiap malam jam 7 dia akan membunyikan bel, ketika akan menuju ke ruang makan. " paman Juan.

" Apakah tuan Georges adalah pria tinggi dengan rambut ikal ?" aku bertanya - tanya apa orang yang aku temui di ruang kerja adalah tuan muda Georges.

" Benar. Nona sudah bertemu dengan nya ?" Bibi Ruth merasa heran, karena setau dia Tuannya baru pulang menjelang sore dan langsung masuk ke ruang kerja.

" Hmm... aku tidak sengaja bertemu dengan dia ketika mencari bibi Elisabeth. Aku rasa itu ruang kerjanya. " jawabku dengan sedikit takut mengingat dia membentakku.

" Lalu apa yang terjadi ?" tanya bibi Ruth ketika melihat wajahku murung.

" Dia marah dan membentakku." Aku merasa bersalah kesan pertama yang aku berikan bagi orang yang menolong dan menampungku adalah kesalahan. Seharusnya aku mengucapkan terimakasih ketika pertama kali bertemu dengannya.

" hahahahha hahahahaha hahahahah ." bibi Ruth dan paman Juan tertawa bersamaan.

" Kenapa kalian tertawa ?" tanyaku heran.

" Aku yakin tuan Georges terkejut melihatmu. " Jawab paman Juan.

" Rumah ini bakal ramai lagi Juan " bibi Elisabeth menepuk pundak Suaminya lembut.

" Benar . Sudah lama kami tidak pernah melihat tuan muda marah ." kata paman Juan kepadaku.

Aku mengernyitkan keningku merasa heran kenapa mereka justru senang melihat Tuan Georges marah kepadaku.

" Tenang saja dia bukan pemarah. Sudah lama tuan jarang berbicara di rumah ini. Hanya sepelunya saja bahkan ketika bekerja. "

" Nona bilang dia membentak nona, Kami pun mau dibentak oleh tuan. "

Kembali mereka terbahak dan akhirnya aku pun ikut tertawa garing. Aku memutuskan untuk di ruangan itu dan makan malam bersama mereka. Kemudian kembalo ke kamarku setelah tuan Georges mengelesaikan makan malamnya.

" Jangan lupa jam 7.30 pagi tuan Georges mengundangmu sarapan di taman. " bibi Ruth mengingatkanku sebelum aku kembali kekamarku dengan langkah riang.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
like dlu
Dede Suryani
bingung bca nya,,,jadinya
Beauty JK
😍
Febri Ana
lanjuuttt
Febri Ana
aku mampir thor
Ellya Salam
lanjut terus ceritanya thoorr semangat
Sinaga wulan
😀😀😀😀😀 kasihan kau beruang es kena prank
Nani Desmiwati
Keren
cerita cinta
berasa lg baca cerita titanic cm bedanya ini sendiri c'jack nya kmn thor... 😂
TongTji Tea
settingnya aku membayangkan di Eropa abad pertengahan ,dengan Gaun2 yang cantik mengembang ,karena ceritanya,latar dan juga nama2 tokohnya .
Tapi langsung ambyar ketika relate sama makanan Thor .ini Eropa apa asia?😁
Puji Astuti
nama tokoh2nya nama asing tapi pesen makannya rawon sama tempe
Rina Asih
betuuul.kalau g kelar aku putus bc ny
Rina Asih
satukan mereka Thor.....
Rina Asih
jangan biarkan Felicia di sakitin lg Thor buat Felicia hidupny bahagia
Rina Asih
mantaaaap
Rina Asih
itu mm ny bule Jawa🤣🤣🤣🤣
🌹glory🌹
hadir thor
Windy Artika
ikutan mampir
Else Widiawati
yesss thor
Else Widiawati
Georges cerdas banget psng kamera lain, knp dr kemaren ga sadar , cpt clear kesalah pahaman inilah thor, kasian anna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!