NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan di ujung malam

Rasa takut seketika melumpuhkan seluruh tubuhku, kedua tanganku gemetar hebat tak terkendali. Aku merapatkan bajuku ke tubuhku sekuat tenaga, menatap mereka dengan pandangan yang mulai berkaca-kaca penuh ketakutan. Tatapan mereka terasa begitu tajam dan menyimpan niat jahat yang nyata, membuatku merasa sangat terancam dan tak berdaya. Aku menggenggam kedua tanganku erat di depan dadaku, berusaha melindungi diri sebaik mungkin. Salah satu pria yang berdiri di barisan paling depan maju selangkah mendekat, lalu berkata dengan nada yang penuh keangkuhan dan kejahatan, “Hai gadis cantik, mau pergi ke mana begitu tergesa-gesa? Jangan buru-buru pergi dulu. Bagaimana kalau kamu melayani kami sebentar saja?” Ia pun tertawa dengan suara yang kasar, lalu menoleh ke arah kedua temannya yang hanya mengangguk setuju sambil tersenyum jahat.

Aku melipat kedua tanganku seolah sedang memohon ampun kepada mereka, mataku mulai basah penuh air mata. “Aku mohon kepada kalian… lepaskanlah aku pergi… aku hanya ingin kembali kepada adikku…”

Pria itu hanya tersenyum sinis mendengar permohonanku. “Lihatlah dia sampai menangis begitu. Tidak apa-apa sayang, jangan takut. Kemarilah ke sini, kami pastikan kami akan bersikap cukup lembut kepadamu.” Mereka pun perlahan mulai melangkah semakin mendekat ke arahku. Aku mundur perlahan seirama dengan langkah mereka, hingga akhirnya suaraku pecah berteriak meminta pertolongan sekuat tenaga, “Tolong! Apakah ada orang di sini? Tolonglah aku!”

Aku terus mundur pelan, selangkah demi selangkah, mataku tak pernah beralih menatap mereka yang semakin lama semakin dekat. Rasanya kedua kakiku terasa sangat berat untuk digerakkan, sedangkan tanganku terasa dingin dan basah oleh keringat ketakutan. Tiba-tiba ujung kakiku tersandung batu yang tergeletak kasar di jalan itu — tubuhku pun terhuyung kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terbaring telentang di atas permukaan aspal yang keras dan terasa kasar. Kulit di bagian lututku terasa perih seketika karena luka lecet, sedangkan napasku mulai terengah-engah karena rasa takut yang memuncak.

Salah satu dari pria itu tertawa keras seolah sedang melihat hal yang sangat lucu. “Aduh sayangku, berteriaklah sepuas hatimu saja. Kamu pikir siapa yang akan datang menyelamatkanmu di tempat yang sepi ini?” Mereka kembali tertawa puas, dan langkah mereka pun semakin mendekat untuk menyentuhku. Tepat saat tangan mereka hampir menyentuh tubuhku, tiba-tiba aku teringat akan benda yang dulu diberikan Ibu kepadaku. Aku berusaha merogoh saku bajuku dengan tangan yang masih gemetar hebat untuk mengambil benda itu. Namun tepat saat jariku hampir menyentuh benda itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat dan berwibawa dari arah belakang mereka, tak jauh dari tempat kami berada.

Suaranya terdengar berat dan dingin, terselip jelas nada kesal yang tertahan kuat.

“Bajingan-bajingan ini… berani sekali mengganggu di sini.”

Pandanganku maupun ketiga orang itu serentak beralih ke arah dari mana suara itu datang. Dari balik kegelapan lorong, terdengar suara langkah kaki yang mantap dan teratur, perlahan namun pasti mendekat ke arah kami.

Tak lama kemudian sosoknya tampak keluar dari bayang-bayang gelap. Tubuhnya sangat tinggi, tegap, berisi namun tetap terlihat ramping dan luwes. Bahunya lebar dan terasa kokoh, bahkan di balik kemeja putih yang dikenakan dengan rapi, garis otot di bahu dan lengannya masih terlihat jelas terbentuk.

Wajahnya tampak seolah terukir sempurna dengan garis rahang yang tegas dan tegas. Kulitnya putih bersih, seolah memantulkan cahaya tipis meski tempat ini hanya diterangi cahaya yang sangat minim. Rambutnya berwarna pirang keemasan, bergelombang halus dan tampak sedikit berantakan secara alami. Entah bagaimana caranya, meski cahaya di sini sangat sedikit, aku masih bisa melihat setiap garis wajahnya dengan sangat jelas. Matanya berwarna biru pucat sejernih bongkahan es, memancarkan tatapan yang tajam namun tetap tenang dan tak tergoyahkan.

Pakaiannya sebagian besar berwarna hitam pekat, pas rapi menyesuaikan bentuk tubuhnya. Kancing paling atas pada kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit garis leher dan dada bidang dengan lekuk otot yang terasa tegas. Rompi yang dikenakan semakin menonjolkan bahunya yang lebar, sedangkan lengan kemejanya digulung rapi hingga mencapai siku. Di tangan kirinya tergantung sebuah jas panjang, sementara tangan kanannya terselip santai di saku celana yang potongannya lurus dan rapi. Sepatu kulit hitam yang dikenakannya melangkah mantap, memantulkan bayangan samar di permukaan aspal yang agak basah. Ia menatap lurus ke arah kami, bibirnya terkatup rapat dengan garis yang tegas, dan jakunnya terlihat jelas saat ia akhirnya berhenti melangkah. Hanya dengan berdiri diam di sana, wibawanya terasa menyelimuti seluruh penjuru lorong itu.

Ketiga pria itu langsung melangkah melewatiku begitu saja seolah aku tak ada, berjalan lurus menuju sosok yang baru saja muncul itu. Wajah mereka penuh senyum ejekan, tampak berani dan sombong seolah tak ada satu pun yang mampu melawan mereka di tempat ini.

“Lihatlah, dari mana datangnya pahlawan dadakan ini,” ucap pria yang berdiri di tengah sambil tertawa sinis, menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan jari yang tampak kotor.

Temannya di sebelahnya segera menyahut, matanya menyipit menilai pakaian pria itu dari atas ke bawah. “Sepertinya dia anak orang kaya ya. Pakaiannya rapi sekali, pasti harganya sangat mahal.”

Pria yang ketiga tertawa lebih keras lagi sambil menepuk bahu temannya. “Anak orang kaya? Minggir sana kau! Di sini tidak ada ayah atau ibumu yang bisa memeluk atau melindungimu! Pergilah sebelum kau sendiri yang terluka!” Mereka kembali tertawa puas, saling menepuk bahu seolah baru saja melontarkan lelucon yang paling lucu sedunia.

Tanpa menunggu jawaban lebih dulu, salah satu dari mereka tiba-tiba melangkah cepat dan melayangkan pukulan yang sangat keras lurus ke arah wajah pria itu. Aku tak sadar menahan napas seketika karena cemas. Namun pria itu sama sekali tidak bergerak mundur sedikit pun — tangan kanannya terangkat dengan santai, lalu menangkis pukulan itu begitu saja seolah hanya sedang menepis seekor lalat yang lewat.

Hanya satu gerakan balasan yang cepat dan tak terlihat jelas, dan orang yang memukul tadi langsung terhempas keras ke permukaan jalan, hingga tak mampu bangun dalam sekejap.

Kedua temannya terbelalak kaget, wajah sombong yang tadi terpampang jelas kini seketika berubah menjadi kepanikan yang nyata. Mereka serentak maju menyerang bersama-sama, namun pria itu bergerak begitu luwes, tenang, dan pasti — seolah hal yang dilakukannya ini adalah sesuatu yang biasa ia lakukan setiap hari, sesuatu yang sudah ia latih selama bertahun-tahun lamanya. Hanya dalam hitungan detik dengan beberapa gerakan yang sangat cepat, kedua orang itu pun roboh jatuh terguling ke tanah.

Ketiganya berusaha merangkak bangun dengan susah payah, seluruh tubuh mereka tampak gemetar karena rasa takut yang mendalam. Tak ada satu pun yang berani kembali menatap mata pria itu. Mereka saling bertatapan sebentar dengan wajah pucat, lalu berteriak serentak: “Lari!”

Segera setelah itu mereka bangkit berdiri dengan tergopoh-gopoh, lalu berlari sekencang mungkin tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun, menghilang secepat kilat ke dalam kegelapan ujung lorong itu.

Aku masih tetap terbaring di tempatku semula, perlahan menarik tubuhku mundur menyusuri dinding lorong yang dingin. Seluruh tubuhku masih gemetar hebat, dan air mata tak henti-hentinya jatuh membasahi pipiku. Mataku tak pernah beralih menatap sosok yang menjulang tinggi itu.

Namun saat ia hendak melangkah melewatiku untuk pergi, tiba-tiba kakinya terasa lemas tak berdaya. Ia jatuh berlutut di atas aspal kasar itu, tangan kanannya segera mencengkeram erat lengan kirinya sekuat tenaga, seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa hebatnya.

Niatku untuk segera menjauh seketika terhenti begitu saja. Aku menatapnya dengan penuh kebingungan. Bukannya tadi ia tampak begitu kuat, kokoh, dan tak tersentuh sedikit pun? Atau mungkin memang sejak awal ia sudah terluka, hanya saja ia berhasil menyembunyikannya dengan sangat baik di hadapan orang-orang itu? Perlahan rasa takutku mulai berkurang meski hati masih terasa ragu. Aku pun berbalik perlahan, melangkah gontai mendekat ke arahnya hingga akhirnya berdiri tak jauh dari tempat ia berlutut.

“Terima kasih banyak,” ucapku dengan suara yang sangat pelan.

Ia sama sekali tidak menoleh ke arahku, dan tak ada satu pun jawaban yang keluar dari bibirnya.

Aku pun ikut duduk berlutut di atas aspal yang terasa kasar dan kotor itu, berusaha mendekat sedikit lagi. Dari sela-sela jari tangannya yang menekan kuat pada lengan, aku melihat ada darah segar yang mulai merembes keluar membasahi kulit dan kain bajunya.

“Maafkan saya… sepertinya saya bisa sedikit membantu mengobati lukamu itu,” kataku kali ini dengan sedikit lebih berani.

Wajahnya tampak berubah menjadi dingin dan penuh keengganan. “Pergi kau dari sini!” suaranya terdengar serak berat seolah sedang menahan rasa sakit yang sangat tajam.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!