Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Pulang kuliah kita nonton ya,,," Ucap Erlan yang melirik Aura..
"Maaf ya kak sore nanti aku ada janji,, mungkin lain kali,," Jawab Aura sambil tersenyum menatap Erlan.
Erlan membalas senyum Aura meski terlihat guratan kekecewaan di wajahnya.
"Baiklah aku tunggu janji kamu,," Ucap Erlan.. Dia kembali fokus menyetir.
"Apa kamu ada janji dengan seseorang,,?" Tanya Erlan yang penasaran, ada sedikit" kecemasan di hatinya, cemas jika Aura memeliki janji dengan laki laki, mungkin jika itu benar maka pupuslan harapannya untuk semakin dekat dengan Aura.
"Iya kak,, aku sudah janji akan ke rumah sakit menemani boss ku" Jawaban Aura membuat Erlan menghambuskan napas leganya, karna Erlan tau boss Aura perempuan.
Merka berbincang sampai akhirnya sampai di kampus,, Erlan memarkirkan mobilnya, dia turun dan membukakan pintu untuk Aura.
Mereka berjalan beringan, Erlan mengantar Aura ke kelasnya, meskipun Aura sudah menolaknya tapi Erlan bersikeras untuk tetap mengantar Aura sampai depan kelas.
"Makasih kak,," Ucap Aura setelah mereka sampai di depan kelas.
Erlan tersenyum dan mengangguk..
Dari dalam kela, Anna dan Ditha melihat Aura dan Erlan yang berdiri di depan pintu kelasnya.
Tanpa berpikir lama, mereka langsung menghambur keluar dan menghampiri dua insan itu.
"Ekhemm... ekheem.." Anna dan Ditha sengaja berdehem di depan mereka sambil cengengesan..
Membuat Aura dan Erlan menatap ke arah Anna dan Ditha dengan tatapan kikuk..
"Makin lengket aja nih,," Goda Anna sambil senyam senyum dan menyenggol Ditha..
"Ah ya ampun,, hatiku berdebar debar An,," Timpal Ditha sambil menatap Anna..
"Gue meleh Tha.." Ucap Anna yang kembali cengengesan sambil meletakan tangan di dadanya.
Aura membulatkan matanya,, menatap tajam ke dua sahabatnya itu.. Sorot matanya menunjukan ketidak sukaannya pada ucapan kedua sahabatnya itu,, emosinya memuncak mendengar ledekan dari kedua sahabatnya.
Sedangkan Erlan menjadi kikuk dan canggung berada di posisinya saat ini. Dia tidak merespon ucapan mereka.
"Ra,, aku ke kelas dulu ya,,," Erlan pamit dengan Aura,, Erlan pun mengembangkan senyumnya untuk Aura dan kedua sahabat Aura.
"Iya kak,, sekali lagi makasih,," Ucap Aura..
Erlan menjawab dengan anggukan, lalu bergegas meninggalkan mereka.
"Awas yah kalian..!!" Ketus Aura pada Anna dan Ditha.. Anna dan Ditha saling menatap,, keduanya tertawa terbahak bahak..
"Hahahaha,,,,,"....
"Abis di anterin cowo ganteng kok marah marah sih,," Goda Ditha yang menahan ketawanya..
"Tau ah..!" Jawab Aura yang meninggalkan Anna dan Ditha begitu saja,, dia langsung masuk ke kelasnya.. Anna dan Ditha saling bertatap mata, mereka tersenyum puas.
"Sepertinya ada kemajuan,," Ucap Anna pada Ditha, mereka kembali tersenyum.
Lalu menyusul Aura masuk ke kelas.
"Ra,, kamu udah punya perassan sama kak Erlan belum,,?" Tanya Ditha yang sudah duduk di depan Aura, sedangkan Anna duduk di sebelah Aura.
Keduanya menatap Aura penuh harap, menginginkan jawaban yang memuaskan dari gadis cantik itu.
Tapi harapan mereka sirna setelah Aura menatap tajam keduanya secara bergantian. Tatapan yang menyeramkan,, seakan akan ini menerkam keduanya..
"Jangan biarkan kedua sepatuku berada di mulut kalian..!" Ketus Aura...
Anna dan Ditha saling menatap.
"Hahaha,, ok ok,, kita minta maaf,," Jawab Ditha..
"iihh attut,, haha," Ledek Anna..
Suasan menjadi sunyi setelah dosen masuk kedalam kelas..
*Di rumah sakit*
Semenjak datang ke rumah sakit, Brian tetap setia berada di samping istri tercintanya, merawat istrinya dengan penuh perhatian dan kelembutan. Selalu menyuapi istrinya, mengambilkan minum, mengantarnya ke kamar mandi, mengelap badannya,, membelikan pijatan pijatan lembut di kening dan pelipis istrinya.
"Sayang,, tidurlah.. Kamu pasti lelah dari kemarin ngurusin aku,," Perintah Linda pada suaminya,, Linda merasa kasihan padanya, bahkan semalam Brian harus tidur dengan posisi duduk di sebelah ranjang istrinya.
Brian berdiri di sebelah ranjang Linda, dia mengusap lembut rambut Linda,, mengembangkan senyum yang penuh kehangatan pada istrinya itu.
"Jangan khawatirkan aku,, Cepatlah sehat dan pulang kerumah,, aku kangen,," Ucap Brian,, Brian menarik sudut bibirnya dan mengedipkan sebelah matanya setelah mengucapkan kata terakhir..
Membuat Linda tersipu malu.
"Aaawww,,, kenapa nyubit,,?" Brin memekik karna Linda mencubit perut Brian, Linda menahan senyumnya.
"Kamu genit,," Ucap Linda malu malu..
"Aku memang selalu genit pada istriku,," Jawab Brian dengan senyum dan tatapan yang menggoda..
"Sayang,, jangan buat aku malu,," Ucap Linda dengan manja.. walaupun Brian suaminya, tapi Linda merasa malu saat Brian menggodanya..
"Baiklah istriku yang menggemaskan,," Biar mencubit gemas hidung Linda.
Linda tersenyum memandang wajah tampan Brian,, dia merasa sangat bahagia memiliki suami seperti Brian, hidupnya begitu sempurna berada di samping Brian.
Kasih sayang Brian tak pernah pudar sering bertambahnya usia pernikahan mereka.
Cintanya, perhatiannya bahkah semakin bertambah.
Mereka begitu saling mencintai, saling mengisi kekurangan masing masing, bahkan Brian sangat menerima Linda apa adanya.
Sudah 4 tahun pernikahan mereka, namun Linda tak kunjung menunjukan tanda tanda kehamilan. Satu tahun pertama mereka melewatinya begitu saja tidak begitu mempikirkan tentang anak, karna mereka ingin menghabiskan waktu berdua, menikmati masa masa indah berdua sebelum kehadian anak anak yang lucu.
Namun satu tahun berlalu, Linda tak kunjung hamil. Sampai akhirnya mereka melakukan progam kehamilan.
Berbagai cara sudah mereka lalukan, tapi tidak membuahkan hasil. Linda merasa sangat bersalah akan hal ini, karna dia yang memiliki sedikit masalah pada rahimnya, yang menyebabkan dia kesulitan untuk mengandung.
Tapi Brian tidak mempermasalahkan itu,, ada ataupun tanpa anak, Brian akan tetap mencintai Linda dan tetap bersama Linda.
Sungguh sangat beruntung seorang Linda, memiliki suami yang begitu mencintainya, meskipun dia tampan, kaya, tapi tidak pernah ada niat untuk meninggalkan Linda mesti nantinya Linda tidak bisa memberikannya keturunan.
Bagi Brian,, pernikahan bukan sekedar untuk memiliki keturunan, Itu bukan tujuan Brian ketika memutuskan menikah dengan Linda.
Brian menikahi Linda karna dia sangat mencintainya, menginginkan untuk hidup bersama Linda, menghabiskan sisa umurnya bersama orang yang dia cintai, dan menua bersamanya.
"Sayang,, kamu kenapa,,?" Tanya Brian,,
Suara Brian membuyarkan lamunannya..
"Eh,, tidak apa apa mas,," Jawab Linda.
"Jangan banyak pikiran,, kamu harus cepet sembuh,," Ucap Brian dengan menggenggam tangan Linda dan mengusapnya lembut.
Linda tersenyum, menganggukan kepalanya..
"Mas,," Ucap linda,,
"Hmm,, kamu ingin sesuatu,,?" Jawab Brian.
Linda menggelengkan kepalanya.
"Tidak susah memberi tau mama dan papa,, aku tidak ingin mereka khawatir,," Ucapnya memohon,,,
Orang tua Linda tingga di luar negri karna mereka memiliki perusahaan disana..
"Baiklah,, aku tidak akan memberi tau mereka" Jawab Brian,, Linda tersenyum dan berterimakasih pada Brian.
*Di kampus*
Jam menunjukan pukul dua siang.
Aura bergegas untuk pulang,, di ikuti oleh Anna dan Ditha. Mereka jalan beringan keluar kampus.
"Ra,, kamu kerja ngga hari ini,,?" Tanya Anna..
Aura menoleh ke arah Anna dan menggelengkan kepalanya..
"Wah kebetulan,, ayo main kerumahku,, aku sendirian nih di rumah, nyokap bokap lagi ke luar kota,," Jelas Anna..
"Lain kali ya,, sore ini aku ada janji,," Jawab Aura..
Anna dan Ditha saling pandang..
"Wah,,wah,,wah,,, sepertinya ada sudah jadian,," Ucap Ditha sambil melirik Aura,, Anna memasang wajah bingung dan melirik Aura juga.
"Kenapa pada ngeliatin aku kaya gitu,,?, Terus siapa yang jadian.?" Tanya Aura yang bingung dan kesal dengan tatapan kedua sahabatnya.
"Jahat banget kamu Ra,, kamu ngga anggep kita? jadian tapi ngga bilang bilang" Ketus Anna..
"Astaga,, kalian pada kenapa sih? siapa yang jadian?!" Aura semakin kesal..
"Kamu ya Tha,,! bikin gosip aja..!" Ketus Aura.
"Bukannya kamu ada janji sama kak Erlan,, berarti kalian udah jadian kan,? kalian berduaan terus,," Ucap Ditha panjang lebar..
Aura melongo dan menepuk keningnya..
"Ya ampun,, apa yang merasukimu Tha,,?!" Ucap Aura..
Anna menahan tawa mendengan ucapan Aura.. Sedangkan Ditha mengerutkan keningnya..