NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Mengikuti

Pagi datang dengan langit yang kembali cerah. Hujan semalam menyisakan embun di dedaunan, sementara sinar matahari perlahan menghangatkan halaman rumah keluarga Aluna.

Namun, ketenangan itu hanya berlangsung di permukaan.

Aluna duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir teh. Sebuah novel terbuka di pangkuannya, tetapi sejak lima belas menit terakhir, tidak satu halaman pun berhasil ia baca.

Pikirannya dipenuhi wajah pria yang baru dikenalnya dua hari lalu.

Niel.

Nama itu kembali hadir tanpa diundang.

Ia menggeleng pelan, berusaha mengalihkan pikirannya.

"Aku bahkan tidak mengenalnya."

Kalimat itu terdengar seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Celine muncul di layar.

Jangan lupa makan siang denganku nanti. Aku sudah memesan tempat.

Aluna tersenyum tipis sebelum membalas singkat.

Baik. Aku akan datang tepat waktu.

Ia menutup layar ponsel, lalu kembali menikmati udara pagi.

Dari balik pagar rumah, sebuah mobil hitam berhenti selama beberapa detik.

Kaca mobil itu gelap, membuat siapa pun tidak dapat melihat orang yang berada di dalamnya.

Mobil tersebut tidak membunyikan klakson.

Tidak pula memasuki halaman.

Hanya berhenti.

Kemudian kembali melaju perlahan.

Aluna sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

__________________________________________

"Pastikan jarak tetap aman."

Suara Niel terdengar melalui sambungan telepon.

"Jangan sampai dia merasa sedang diawasi."

"Baik, Tuan."

"Jika ada sesuatu yang mencurigakan, laporkan kepadaku."

Sambungan berakhir.

Niel meletakkan ponselnya di atas meja.

Di hadapannya berdiri Darren, pria yang sejak lama menjadi orang kepercayaannya.

"Anda yakin dengan keputusan ini?"

"Apa maksudmu?"

"Dalam dua hari terakhir, perhatian Anda terlalu banyak tertuju kepada seorang gadis yang baru dikenal."

Niel memandang Darren beberapa saat.

"Aku tidak sedang memperhatikannya."

"Lalu?"

"Aku sedang mencari jawaban."

"Jawaban tentang data masa kecilnya?"

Niel mengangguk.

"Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan seseorang yang jejaknya benar-benar menghilang."

Darren terdiam.

Ia memahami rasa penasaran Niel.

Jika seorang seperti Niel tidak mampu menemukan informasi, berarti ada kekuatan besar yang sengaja menyembunyikannya.

Dan itu bukan pertanda baik.

_________________________________________

Menjelang siang, Aluna tiba di sebuah restoran kecil yang menghadap taman kota.

Tempat itu tidak terlalu ramai.

Suasananya tenang, dipenuhi alunan musik instrumental yang lembut.

Celine sudah lebih dulu menunggu.

"Akhirnya kau datang."

"Aku tidak terlambat, bukan?"

"Belum."

Mereka mulai berbincang mengenai pekerjaan, buku, dan rencana akhir pekan.

Hingga tanpa sengaja, pandangan Celine tertuju ke arah jendela.

Ekspresinya berubah.

"Aluna."

"Hm?"

"Jangan menoleh dulu."

Aluna mengernyit.

"Ada apa?"

"Kurasa... sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan meja kita."

Senyum Aluna perlahan memudar.

"Siapa?"

"Aku tidak yakin."

"Di mana?"

"Mobil hitam di seberang jalan."

Aluna menoleh perlahan.

Mobil itu memang ada.

Terparkir tepat di bawah pohon besar.

Namun kacanya terlalu gelap untuk melihat siapa yang berada di dalam.

"Mungkin hanya orang yang sedang menunggu."

"Mungkin."

Meski berkata demikian, Celine tetap terlihat gelisah.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

Saat perhatian keduanya teralihkan, mobil hitam itu perlahan meninggalkan tempat tersebut.

_________________________________________

Di dalam mobil itu, seorang pria menurunkan alat komunikasi dari telinganya.

"Target baru saja selesai makan siang."

"Lanjutkan."

Suara dari seberang terdengar singkat.

"Apakah tim lain masih berada di sekitar rumahnya?"

"Ya."

Pria itu menghela napas.

"Ternyata bukan hanya kita yang mengawasinya."

Hening.

Kemudian suara di seberang kembali terdengar.

"Itu berarti permainan sudah dimulai."

_________________________________________

Sore harinya, Niel berdiri di balkon ruang kerjanya.

Angin berembus pelan, menggerakkan dedaunan yang tumbuh di halaman.

Darren datang membawa sebuah amplop cokelat.

"Tuan."

Niel menerimanya.

"Apa ini?"

"Hasil pemeriksaan kamera pengawas di lokasi kecelakaan dua hari lalu."

Niel membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa foto hasil cetakan.

Foto pertama memperlihatkan mobilnya yang kehilangan kendali.

Foto kedua menunjukkan Aluna berlari menghampirinya.

Namun saat membuka foto ketiga...

Tatapan Niel berubah.

Di belakang Aluna, sekitar lima puluh meter dari lokasi kecelakaan...

Terlihat seorang pria bertopi hitam sedang berdiri sambil memperhatikan mereka.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi satu hal menarik perhatian Niel.

Di pergelangan tangan pria itu terdapat sebuah gelang logam berukir simbol yang sangat dikenalnya.

Simbol yang selama bertahun-tahun tidak pernah muncul lagi.

Niel menatap foto itu tanpa berkedip.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...

raut wajahnya kehilangan ketenangan.

Ia mengenali simbol tersebut.

Dan jika firasatnya benar...

Maka pertemuannya dengan Aluna memang bukan sebuah kebetulan.

Melainkan awal dari rencana yang telah disusun jauh sebelum mereka saling mengenal.

_______________________________________

Niel tetap memandangi foto itu cukup lama.

Ruangan yang semula sunyi terasa semakin hening. Darren memperhatikan perubahan ekspresi atasannya dengan saksama. Selama bertahun-tahun bekerja bersamanya, ia hampir tidak pernah melihat Niel kehilangan ketenangan hanya karena sebuah foto.

"Ada yang Anda kenali?" tanyanya hati-hati.

Niel tidak segera menjawab.

Ujung jarinya menyentuh simbol kecil pada gelang logam yang terlihat samar di pergelangan tangan pria bertopi hitam itu.

"Aku pernah melihat lambang ini."

"Dari mana?"

"Sudah lama sekali."

Ingatan Niel kembali pada sebuah malam bertahun-tahun silam. Malam yang dipenuhi suara tembakan dan kobaran api. Ia masih terlalu muda saat itu, tetapi satu hal tetap melekat di benaknya—simbol yang sama pernah berada di lengan seseorang yang memimpin penyerangan terhadap keluarganya.

Sejak malam itu, simbol tersebut menghilang tanpa jejak.

Hingga kini.

"Darren."

"Ya, Tuan."

"Cari semua informasi tentang organisasi yang pernah menggunakan lambang ini."

"Kami sudah melakukannya beberapa tahun lalu."

"Lakukan lagi."

Nada suara Niel tetap tenang, tetapi Darren memahami arti di balik perintah itu.

Tidak ada ruang untuk kesalahan.

"Aku ingin laporan sebelum besok pagi."

"Baik."

Darren mengambil kembali foto-foto yang berserakan di atas meja. Namun sebelum ia berbalik, Niel kembali berbicara.

"Dan satu hal lagi."

"Silakan."

"Jangan biarkan Aluna mengetahui bahwa ada orang yang mengawasinya."

Darren mengangguk pelan.

"Saya mengerti."

___________________________________________

Di tempat yang berbeda, Aluna baru saja tiba di rumah.

Ia membuka jendela kamarnya, membiarkan angin sore mengalir masuk. Pandangannya tertuju pada taman yang mulai diterangi lampu-lampu kecil.

Perasaannya jauh lebih tenang dibanding siang tadi.

Mungkin Celine hanya terlalu khawatir.

Mungkin mobil hitam itu memang tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Tanpa ia sadari, tepat di luar pagar rumah, sebuah sedan berwarna gelap berhenti selama beberapa detik.

Seseorang di dalam mobil mengangkat kamera berlensa panjang.

Kilatan cahaya yang sangat singkat muncul.

Satu foto berhasil diambil.

Lalu mobil itu pergi, menghilang bersama senja yang perlahan berubah menjadi malam.

Aluna menutup jendela tanpa pernah menyadari bahwa, sejak pertemuannya dengan Niel, setiap langkahnya mulai dicatat oleh seseorang yang belum memperlihatkan wajahnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!