NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

TRING! TRING!

Bel penanda berakhirnya jam pelajaran sekolah berbunyi nyaring, menggema ke seluruh sudut kawasan SMA 09 Cimanggu.

Seketika itu juga, para siswa berhamburan keluar dari ruang kelas masing-masing. Sebagian bersorak gembira menyambut akhir pekan, sementara yang lainnya bergegas melangkah menuju gerbang keluar.

Repan melangkah keluar dari kelas dengan gestur santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya, dengan ekspresi wajah yang tenang tanpa beban.

'Hari ini gue harus kembali ke restoran itu. Menandatangani berkas akta kepemilikan resminya... setelah itu, mulailah babak renovasi besar-besaran. Gue harus segera menghabiskan saldo uang dari sistem,' batin Repan diiringi seulas senyuman tipis penuh strategi.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh menjauhi selasar kelas, sebuah suara lembut memanggil namanya dari arah belakang.

"Repan! Tunggu sebentar!"

Repan menolehkan kepalanya. Zahra, siswi berhijab yang selama ini duduk di deretan bangku belakang kelasnya, tampak berlari kecil menghampirinya.

Napasnya terdengar terengah-engah pelan, namun ukiran senyuman ramah dan hangat tetap tersungging di wajah cantiknya.

"Ada apa lagi, Zahra?" tanya Repan dengan nada vokal yang datar dan tenang.

Zahra menatap lurus ke dalam manik mata Repan sejenak, lalu berucap ragu-ragu, "Apa hari ini kamu sedang sibuk? Aku... aku ingin mengajakmu mampir ke rumah untuk menemui ayahku. Beliau ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung soal kejadian waktu itu."

Repan berpikir sejenak sebelum menarik napas pendek. "Maaf banget, Zahra. Hari ini jadwal gue beneran lagi padat. Kapan-kapan saja ya?" tolaknya secara jujur tanpa keraguan.

Langkah Zahra seketika terhenti di tempat. Ukiran senyuman di bibirnya memudar perlahan. Kepalanya menunduk lesu, memperlihatkan ekspresi kecewa yang teramat jelas.

'Sibuk...? Apa jangan-jangan dia mau pergi jalan bareng Vina?' batin Zahra, sementara dadanya terasa agak ngilu oleh gelombang kecemburuan dan rasa tidak pasti yang selama ini ia pendam sendirian.

Namun ia mencoba mengumpulkan segenap sisa keberaniannya. Suaranya agak bergetar, namun berhasil meluncur keluar.

"Apa... kamu sibuk karena ada janji mau jalan sama Vina?"

Repan kembali menatapnya lekat. Tatapannya tetap datar, namun diisi dengan intonasi yang tegas dan jujur.

"Nggak. Gue ada urusan lain yang harus diselesaikan. Dan soal Vina—kami sama sekali nggak punya hubungan apa pun."

Pernyataan itu meluncur begitu saja tanpa keraguan. "Soal ajakan ayah lo, gue pasti bakal datang lain waktu. Tapi bukan hari ini."

Zahra membelalakkan matanya lebar-lebar untuk sepersekian detik. Gelombang kejutan bercampur rasa lega yang amat besar seketika memenuhi rongga dadanya.

'Repan dan Vina... ternyata nggak ada hubungan apa-apa? Ini... kabar baik banget!'

Ia meremas jemarinya sendiri erat-erat di balik tas, lalu mendongak dengan senyuman cerah. "Janji ya, Repan! Nanti aku bakal ajak kamu lagi!"

Repan menganggukkan kepalanya pelan, lalu melambaikan tangan sekilas. 'Orang-orang di sekolah pasti bakal salah paham pas lihat gue dan Vina bareng di kant tadi siang, itu reaksi yang wajar banget.'

Namun di dalam lubuk hatinya, Repan sama sekali tidak berniat memberikan harapan palsu—ia hanya ingin meluruskan fakta apa adanya agar tidak ada salah paham yang berkepanjangan.

Begitu ia melangkah keluar menembus gerbang utama sekolah, kebisingan suara kerumunan langsung menyambut indra pendengarannya.

Puluhan siswa tampak bergerombol memenuhi sisi kanan area gerbang. Suasananya tampak riuh, mirip seperti sedang menonton sebuah tontonan menarik.

"Wah, si Jhonson bikin ulah lagi datang ke lingkungan sekolah!"

"Sial, kira-kira siapa lagi murid malang yang bakal jadi target sasaran amukannya hari ini? Ngeri banget."

"Jhonson itu emang berandalan abadi yang mustahil bisa dikeluarkan dari sekolah meskipun sering bikin onar. Bokapnya kan Ketua Ormas besar, rutin nyumbang donasi fantastis tiap tahun buat yayasan."

Bisik-bisik dan desas-desus para siswa mengalir deras bagaikan air bah.

Repan melirik sekilas ke arah pusat keributan tersebut.

Di sana, berdiri seorang remaja berpostur tinggi besar dengan seragam sekolah yang tampak kusut masai, dasi digantung asal di lengan, dialah Jhonson—satu-satunya penguasa jalur hitam independen di SMA 09 Cimanggu.

Namun yang sukses menarik perhatian Repan bukanlah kehadiran Jhonson seorang diri, melainkan...

Dua orang pria asing berjaket kulit hitam—yang tak lain adalah anak buah Geng GBA—tampak terkapar tak berdaya di atas tanah dalam kondisi babak belur.

Jhonson berdiri di atas kepala mereka sambil bersedekap dada dengan raut wajah puas, seolah-olah ia baru saja melakukan pemanasan otot ringan sebelum tidur siang.

'Geng GBA? Kenapa komplotan berandalan itu bisa sampai nyasar ke sini? Dan... kenapa si Jhonson malah menghajar mereka?' batin Repan menyipitkan mata penuh selidik.

Namun ia lantas menggelengkan kepalanya pelan.

'Bukan urusan gue. Mending gue abaikan saja.'

Ia kembali mengayunkan langkah kakinya, berniat menerobos kerumunan dan membiarkan kekacauan itu tertinggal di belakang.

Hari ini ia memiliki agenda bisnis yang jauh lebih krusial—ia sama sekali tidak punya waktu luang untuk menonton drama jalanan.

Namun baru beberapa langkah Repan menjauh dari kerumunan, sebuah suara vokal berat mendadak memanggil namanya dengan nada lantang dari arah belakang.

"Woy, Repan! Lo yang namanya Repan, kan?!" teriak Jhonson menggelegar, sukses memecah keheningan suasana sekitar.

Seketika itu juga, puluhan pasang mata siswa menoleh serempak ke arah Repan. Beberapa di antaranya bahkan menghentikan langkah kaki mereka di tengah jalan demi menyaksikan apa yang bakal terjadi selanjutnya.

'Sialan... buat apa juga dia mendadak meneriakkan nama gue?' keluh Repan dalam hati, walau ekspresi wajahnya tetap terjaga tenang.

Tanpa sudi menoleh sedikit pun, Repan terus melangkah santai seolah-olah ia tuli.

Namun suara Jhonson kembali terdengar, kali ini jaraknya makin mendekat.

"Woy, Repan! Tunggu sebentar, Sialan! Gue datang ke sini memang khusus buat nyariin lo!"

Langkah Repan akhirnya terpaku. Napasnya tertahan sejenak.

Dari pantulan kaca jendela mobil yang terparkir di dekat gerbang, ia melihat sosok berbadan besar Jhonson mulai berjalan cepat ke arahnya, meninggalkan dua anggota Geng GBA yang masih mengerang kesakitan di tanah.

'Berandalan gila itu... Dia beneran berniat mendatangi gue? Wah, urusan ini bakal panjang,' batin Repan menghembuskan napas panjang, sebelum akhirnya memutuskan memutar badannya menghadap ke belakang.

"Hahaha... Repan, Repan," tawa Jhonson bergemuruh seraya melangkah mantap mendekat. Otot-otot lengannya tampak menegang di balik seragam saat ia bersedekap dada.

"Ternyata lo jauh lebih kuat dari ekspektasi gue ya. Tiga atlet karate binaan Dendi bisa lo libas tanpa ninggalin satu goresan pun di badan lo. Kalau dari dulu lo sehebat ini, kenapa baru sekarang bakat tersembunyi lo kelihatan?"

Repan menatapnya datar tanpa ekspresi.

'Jhonson... dua tahun lalu waktu kami masih kelas sepuluh, anak ini sempat-sempatnya menghajar tiga puluh siswa kelas dua belas sendirian dalam satu malam. Lima orang masuk rumah sakit, sisanya mengalami trauma mental. Pihak sekolah nyaris mendepak dia, tapi bokapnya yang menjabat sebagai Ketua Ormas Palu Pedang menyuap pihak yayasan dengan donasi raksasa. Sejak saat itu, dia bisa bebas bolos kapan pun tapi tetap dinaikkan kelas otomatis. Dia benar-benar tipe orang gila yang hobi melampiaskan kekerasan,' batin Repan mengenali reputasi berbahaya pemuda di depannya.

"Ada perlu apa lo nyariin gue, Jhonson?" tanya Repan dengan intonasi suara dingin.

"Tentu saja... ngajak lo duel adu jotos!" seru Jhonson menyeringai lebar. Sorot matanya menyala-nyala penuh antusiasme, persis seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan favoritnya.

Repan mendengus malas, lalu berbalik badan melangkah pergi. "Gue nggak tertarik. Cari orang lain aja buat disikat."

"Heh, apa lo takut? Mau kabur begitu saja kayak pengecut culun?!"

"Ya. Anggap saja emang begitu," jawab Repan santai tanpa sudi menoleh lagi.

Reaksi itu sontak menyulut kejengkelan di wajah Jhonson. Sorot matanya berubah tajam.

"Lo memang kuat, tapi nyali lo ciut jadi pengecut? Sialan... Ayo kita bertarung sekarang! Kita buktikan siapa yang paling berkuasa di sekolah ini!"

"Gue bilang, gue nggak ada waktu buat meladeni lo. Pergi sana. Lo bikin risih," cetus Repan tenang namun menohok tajam.

"Bangsat! Jangan seenaknya menolak! Gue udah capek-capek datang jauh ke sini cuma buat—"

"Nggak." Repan memotong cepat.

"Cuma lima pukulan aja! Kita tuntaskan semuanya dalam lima—"

"Nggak."

"Tiga pukulan deh! Ayo kita selesaikan lewat tiga pukulan!"

"Nggak." Repan konsisten menolak mentah-mentah.

"SATU pukulan terakhir! Ayolah! Kita buktikan semuanya dalam sekali pukul!" Jhonson terus mengekor di belakang, vokalnya terdengar merengek mirip anak kecil yang memaksa dibelikan mainan baru.

Namun, tepat sebelum Repan sempat melontarkan penolakan kesekian kalinya, suara gemuruh mesin kendaraan yang luar biasa bising mendadak memecah keheningan dari ujung jalan raya.

Brem! Brem! Brem!

Raungan knalpot ratusan sepeda motor RX-King meraung garang membelah aspal jalanan. Formasi konvoi motor dalam jumlah masif mendadak menutup seluruh badan jalan di depan area sekolah.

Arus lalu lintas seketika lumpuh total. Sejumlah pengendara mobil panik memutar balik arah kendaraan mereka. Atmosfer di sekitar gerbang sekolah berubah menjadi sangat mencekam dalam hitungan detik.

Repan memicingkan matanya tajam, menatap lurus ke arah lautan pengendara motor yang memenuhi jalan raya. Seluruh anggota rombongan itu mengenakan jaket kulit serba gelap dengan emblem khas terpampang di bagian punggung: Geng GBA.

'Mereka datang... dan target utama mereka adalah gue. Jumlah personelnya bahkan lebih dari seratus orang. Ini benar-benar pembalasan skala besar.'

Gerombolan motor itu berhenti serempak di depan gerbang, membentuk barisan pagar betis laksana dinding besi yang kokoh.

Seluruh mata tertuju lurus pada sosok Repan yang berdiri seorang diri di pinggir jalan.

Namun Repan tetap mempertahankan ketenangannya. Ia melangkah maju satu langkah ke depan, lalu melirik sekilas ke arah Jhonson tanpa menoleh sepenuhnya.

"Jhonson..." panggil Repan pelan namun berbobot, "Gimana kalau kita buktikan siapa yang terkuat bukan dengan saling menghajar satu sama lain... tapi lewat cara yang jauh lebih seru?"

Jhonson menyeringai lebar penuh rasa penasaran, "Cara apa maksud lo?"

Repan menatap lurus ke arah barisan ratusan anggota geng motor di depannya, sorot matanya dingin menyimpan tantangan mutlak.

"Kita lihat... siapa di antara kita berdua yang sanggup merobohkan anggota Geng GBA paling banyak."

Ukiran senyuman di bibir Jhonson makin melebar hingga hampir merobek pipinya. Sorot matanya membara penuh darah pertempuran.

"Heh... ide yang brilian! Mulai detik ini omongan lo resmi gue setujui, Kawan!"

Hembusan angin sore bertiup pelan, membawa serta aroma pekat asap knalpot dan ketegangan luar biasa yang membakar udara kota.

Dua monster terkuat dari lingkungan sekolah elit Repan si pemuda misterius dan Jhonson si berandalan ugal-ugalan kini bersiap menyambut badai ratusan musuh yang datang menerjang.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!