NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak di Permukaan

Udara sore di taman kaca Elgarth menyisakan jejak aroma melati yang menusuk, berpadu dengan sisa-sisa mana yang menguap, meninggalkan sensasi dingin yang menggelitik kulit. Aria menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang dingin itu memenuhi paru-parunya. Di jemari kanannya, pena bulu tipis—artefak yang menjadi manifestasi eksistensi Lumi—bergetar pelan. Getaran itu terasa seperti detak jantung kedua, pengingat akan dimensi naskah yang tersembunyi di balik realitas ini. Ketenangan yang menyelimuti taman itu terasa ganjil, seolah-olah dunia sendiri sedang menahan napas, menunggu langkah Aria selanjutnya.

Evelyn Roselia telah pergi. Sang protagonis asli itu meninggalkan jejak kebencian yang samar di udara, sisa dari senyum tipis yang ia pasang sebagai kedok kelembutan. Namun, di dalam dada Aria, tidak ada lagi rasa terintimidasi yang dulu kerap menghantui. Ia menatap pantulan dirinya pada permukaan meja kristal yang bersih. Sosok yang menatap balik dari permukaan kaca itu bukan lagi seorang gadis ketakutan yang menunggu eksekusi takdir, melainkan seorang ahli strategi yang mulai memahami celah-celah di balik struktur dunia ini.

“Kau melakukannya dengan sangat baik, Aria,” bisik suara Lumi di dalam benaknya. Suara itu begitu tipis, nyaris seperti embusan angin di antara daun-daun kering, namun sarat akan kebanggaan yang tulus. “Kau tidak hanya menolak racun itu, kau memanipulasi niatnya menjadi senjata yang berbalik arah.”

Aria tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang penuh perhitungan. Ia melangkah keluar dari taman kaca, meninggalkan bayang-bayang kegagalan yang sengaja dirancang Evelyn untuk menghancurkan reputasinya. Di ujung selasar yang diterangi pendar lampu kristal, sesosok pria berdiri menyandarkan bahunya pada pilar batu pualam. Duke Lucien Veritas. Tatapan matanya yang abu-abu tajam terkunci pada Aria, seolah-olah ia sedang membedah lembaran takdir yang baru saja ditulis ulang oleh gadis itu.

“Permainan yang sangat menarik,” ujar Lucien datar. Suaranya rendah, memiliki resonansi yang mampu menggetarkan udara di sekitarnya. Ia melangkah mendekat, langkah sepatunya bergema di sepanjang koridor yang kini sepi. “Kau tidak hanya menghindari jebakan, kau justru mengubah alurnya menjadi panggung milikmu sendiri. Mengingatkanku pada seseorang yang sangat lihai memainkan bidak catur di atas papan yang sedang terbakar.”

Aria berhenti tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup tenang, ritmenya stabil tanpa guncangan yang biasanya menyertai kehadiran pria berbahaya itu. Ia menatap langsung ke dalam netra Lucien, mencari kebenaran di balik topeng manipulasi yang selalu dikenakan sang Duke.

“Aku hanya tidak suka dipaksa mengikuti naskah yang ditulis oleh orang lain, Duke,” jawab Aria tenang. Suaranya rendah namun penuh penekanan, tidak ada keraguan dalam setiap suku katanya. “Dan aku lebih tidak suka jika naskah itu melibatkan nyawa orang-orang yang kusayangi.”

Lucien terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan sutra pada logam dingin. “Hati-hati, Aria. Mengubah satu kalimat dalam naskah dunia ini bukanlah hal yang sepele. Ia bisa memicu badai yang mungkin tidak siap kau hadapi. Apakah kau benar-benar siap jika takdir mulai membalas dendam atas kelancangannmu?”

“Takdir adalah sesuatu yang harus ditaklukkan, bukan ditakuti,” balas Aria. Ia melangkah melewati Lucien, namun pria itu menahan langkahnya dengan ucapan berikutnya yang terdengar seperti peringatan.

“Pangeran Kael sedang menunggumu di paviliun utara. Dia tampaknya memiliki ketertarikan yang tidak biasa terhadap apa yang baru saja terjadi hari ini. Berhati-hatilah, Aria. Tidak semua naga sudi berbagi wilayah perburuannya.”

Aria tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Kael akan terlibat secepat ini. Namun, ia segera menormalkan ekspresinya. Ia mengangguk singkat pada Lucien sebelum melanjutkan langkah menuju paviliun utara. Angin malam mulai berembus, membawa hawa dingin dari arah perbatasan wilayah Kesatria Naga, sebuah pengingat bahwa Elgarth bukanlah tempat yang aman bagi mereka yang lemah.

Sesampainya di paviliun, ia mendapati Kael berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah langit malam. Sang Pangeran tidak menoleh saat Aria mendekat, namun bahunya yang tegap tampak sedikit mengendur ketika mendengar derap langkah gadis itu. Aura naga yang memancar darinya terasa berat, memberikan tekanan atmosfer yang cukup untuk membuat orang biasa berlutut.

“Kau membuat keributan di taman kaca, Baroness,” gumam Kael tanpa berpaling. Ada nada getir namun juga kilatan kekaguman yang terselip dalam suaranya. “Evelyn bukan lawan yang mudah. Mengapa kau begitu berani menantangnya di depan Duke dan para bangsawan lainnya?”

“Aku hanya melindungi apa yang menjadi hakku, Yang Mulia,” jawab Aria sambil membungkuk sopan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi istana yang tidak perlu. “Aku tidak bisa membiarkan namaku dikotori hanya untuk memuaskan ego seseorang yang merasa dirinya adalah pusat semesta.”

Kael berbalik. Netranya yang sewarna langit malam menatap Aria dengan intensitas yang nyaris membakar. Ia mendekat, setiap langkahnya terasa seperti gravitasi yang menarik Aria ke dalam medan magnetnya. “Karena aku tahu, diam saja tidak akan menyelamatkanku dari naskah yang sudah ditetapkan untukku,” sahut Aria tegas. Ia maju satu langkah, menatap Kael dengan keberanian yang membuat sang Pangeran terdiam sejenak.

Kael tertegun. Ia terbiasa dengan wanita yang tunduk atau mereka yang mencoba menggoda posisinya demi kekuasaan. Namun, Aria? Aria adalah sebuah anomali. Seseorang yang memiliki api di dalam matanya, api yang bahkan bisa membakar naskah kehidupan itu sendiri. Ia melihat dedikasi, kecerdasan, dan kelelahan yang disembunyikan di balik tatapan itu.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Aria?” tanya Kael dengan nada yang lebih lembut, nyaris seperti sebuah pengakuan batin. “Apa tujuanmu melangkah sejauh ini?”

“Aku ingin masa depan yang aku tulis sendiri,” jawab Aria mantap. Ia menatap Kael, membiarkan sang Pangeran melihat kejujuran di balik matanya. “Dan mungkin, aku butuh sekutu yang bisa membedakan mana kebenaran dan mana ilusi di antara intrik istana yang kotor ini.”

Kael terdiam. Jemarinya mengetuk pelan bingkai jendela yang dingin. Keputusan besar sedang bermain di benaknya. Ia sadar, mendukung Aria berarti mengkhianati tatanan lama yang selama ini ia jaga. Namun, melihat keteguhan hati di depan matanya, ia merasakan dorongan untuk melanggar aturan tersebut demi sesuatu yang lebih besar.

“Jika itu yang kau cari, maka kau tidak perlu mencarinya sendirian,” ucap Kael akhirnya. Ia melangkah mendekat, memberikan jarak yang cukup untuk membuat Aria merasakan aura naga yang memancar dari tubuhnya—sebuah perlindungan yang nyata.

Malam semakin larut. Di kejauhan, dentang lonceng istana bergema, menandakan perubahan waktu. Aria tahu ini adalah awal dari babak baru. Ia bukan lagi figuran. Ia adalah penulis dari takdirnya sendiri, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak akan kalah dalam permainan ini. Lumi berputar pelan di dekat bahunya, memancarkan cahaya keemasan yang menenangkan kegelisahan batinnya. Aria menghela napas, menatap Kael dengan senyum yang sulit diartikan. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi badai apa pun yang akan datang membawa perubahan bagi seluruh Elgarth."

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!