Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Second Murder: Failed!
Mikayla sudah siap dengan gaun kupu-kupu biru dilengkapi hiasan swarovski yang berkilau saat tertimpa cahaya. Kesan mewah semakin kentara di saat Mikayla melangkahkan kakinya, gaun biru yang cantik itu menjuntai indah dan melambai-lambai bagai ombak laut yang ingin meminta perhatian banyak orang.
"Silahkan masuk, Nona," ucap pengawal yang membukakan pintu kereta yang akan dinaikinya. Awalnya Mikayla acuh, tapi setelah mengetahui bahwa kusirnya kali ini adalah orang yang berbeda dengan kusir saat kejadian malam itu, maka rasa penasarannya pun membumbung. Ke manakah pengkhianat itu.
"Kau tahu dimana Ephar?" tanya Mikayla dengan dinginnya. Pengawal itu menundukkan kepala dengan patuh di samping pintu kereta kuda yang terbuka lebar. Ephar, Mikayla baru ingat nama kusir itu. Kusir yang dengan beraninya meninggalkan Putri pertama Duke Stanley di dalam hutan sendirian agar mudah di bunuh. Dia termasuk orang yang terlibat dalam kasus malam itu.
"H-hamba dengar dia tak bekerja untuk nona pertama lagi. Sekarang dia bekerja untuk nona kedua," jawab pengawal berbaju tembaga, pengawal khas keluarga Stanley.
Mikayla mengangguk singkat. Tanpa banyak bicara ia pun memasuki kereta kuda. Di dalam kereta, Mikayla memikirkan banyak hal seperti Rosella. Ah, dia baru mengerti bahwa kejadian malam itu sepenuhnya bukan tanggungjawab Marquis Torand sendiri, melainkan juga ada beberapa bangsawan lain yang termasuk dalam konspirasi pembunuhannya yang terlihat seakan tragedi bunuh diri. Satu pertanyaan Mikayla telah terjawab; Rosella juga berdosa padanya. Dan Mikayla tak akan melepaskan orang-orang yang terlibat walaupun itu saudarinya sendiri.
Tak lama kemudian, kereta kuda tersebut bergerak maju menuju istana Armovin, membawa angin segar untuk menyelusup ke dalam kereta yang dinaiki putri pertama Stanley. Kereta yang kali ini disediakan untuknya jauh lebih mewah daripada yang sebelumnya. Ukurannya bahkan cukup untuk menampung setidaknya enam orang dewasa. Bagus, orang-orang kastil Stanley sudah mengetahui dirinya yang tak akan dianggap sebelah mata, dan tinggal sedikit lagi agar semua orang akan mengetahui bahwa Mikayla Stanley tidak boleh diinjak atau Mikayla sendirilah yang akan membalikkan keadaan dan menenggelamkan orang itu, kehabisan napas dengan sendirinya tanpa diketahui oleh siapapun. Ia akan berbuat mulus.
Mikayla menatap langit yang hampir malam di luar keretanya. Suasana sunyi dan senyap pasti menyimpan beribu bahaya dan Mikayla merasakannya kali ini. Ia meletakkan pedang pemberian Aidenloz seminggu lalu di balik gaun yang ia gunakan untuk berjaga-jaga. Kali ini ia tak akan lengah.
"BERHENTI!"
Kuda yang berada di baris terdepan, tepat di hadapan penjarah itu meringik keras. Kusir berusaha melawan penjarah itu namun tak berhasil. Sepertinya Mikayla lah yang harus turun tangan sendiri.
"Ada apa ini?" Mikayla keluar dari kereta miliknya dengan ekspresi datar. Dari balik topengnya, Mikayla tahu bahwa pria itu menyeringai saat melihat ke arahnya.
"N-nona, ini terlalu berbahaya. Masuklah ke dalam kereta. Biar saya yang mengurus tuan ini," ucap kusir itu khawatir. Padahal ia sendiri tak membawa senjata yang mumpuni untuk melawan orang berbahaya di hadapannya.
Ya, senjata yang tidak berarti bagi ningrat nomor enam. Mikayla tahu betul siapa yang berada di balik topeng tersebut, paman dari Amora Torand, dan satu hal yang menurut Mikayla adalah hal yang ceroboh terkesan bodoh, pria bertopeng itu menggunakan warna merah marun sebagai ikatan pedang, warna khas bangsawan kelima dan keenam. Mikayla menggelengkan kepalanya dengan geli, ceroboh sekali.
"Biarkan aku saja yang bicara dengan pria ini. Dia pasti mencariku, kan? Bukan begitu, tuan?" ucap Mikayla dengan tenangnya bak samudra lepas. Tetapi pria bertopeng itu tak akan pernah mengetahui bahwa Mikayla tidaklah sedangkal dulu.
"Benar sekali, nona," ucapnya dengan suara yang diberatkan agar identitasnya tidak dapat diendus.
"Siapa yang akan mulai duluan? Aku atau kau?" tantang Mikayla dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia tersenyum pongah. Nyatanya pelajaran berpedang dari Aidenloz sangatlah membantu dia saat darurat.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Nona rendahan. Pedangku bisa saja membunuh seseorang untuk yang kedua kalinya!"
Pria berzirah hitam itu maju lebih dulu. Ia mengangkat pedang kebanggaannya tinggi-tinggi, pedang yang sudah mencabut jutaan jiwa manusia bahkan mata pedang yang harusnya berwarna putih malah menjadi hitam karena kelihaian pedang itu untuk merampas kehidupan seseorang. Jutaan tetes darah menjadikan pedangnya berbisa.
Mikayla dengan sigap mengambil pedang dalam gaun lebarnya. Pedang unik dengan gagang yang terbuat dari rhodium sekilas mirip dengan perak namun pedang itu sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat besar, dihiasi permata merah darah yang mengelilingi pedang membentuk ukiran Phoenix. Pria yang melawan Mikayla lantas membelalakkan matanya dengan tak percaya. Salah satu pedang legendaris yang menjadi misteri di Benua Erosh. Pedang penjaga Kerajaan Armovin!
Pria itu tak percaya. Wanita selemah Mikayla dipercaya untuk menjaga pedang Phoenix? Bak memanah dua burung menggunakan satu anak panah, kali ini tujuannya dua, membunuh Mikayla dan merebut pedang tersebut.
Pria berzirah hitam melayangkan pedang dengan agresif, Mikayla malah berpunggung tangan seolah menghadapi hal kecil. Mikayla tak melawan, ia hanya menangkis serangan pria itu agar tak merusak dandanannya yang sudah disiapkan sejak matahari tepat di atas kepala. Memerlukan waktu yang sangat lama dengan hasil yang memuaskan.
"Lawan aku, jangan bersikap seperti ini, pengecut!" erang pria bertopeng itu yang sangat marah. Sial, menghadapi Mikayla ternyata tak semudah yang diucapkan orang itu.
"Anda memerintah saya untuk melawan, huh. Tolong berkaca dahulu. Apakah Anda bisa menghabisi saya?"
"Argh!" Pria itu menerjang Mikayla dengan berapi-api. Ia meloncat ke udara dengan pedang yang siap menusuk siapa saja yang menjadi mangsanya, Mikayla.
Mikayla bisa membaca gerak-gerik teknik berpedang seperti ini. Ia melukai punggung tangan sebelah kiri pria itu dengan luka yang cukup dalam sampai tulangnya tertumbuk mata pedang Phoenix. Mungkin memerlukan waktu tujuh hari pengobatan total. Namun pria itu sama sekali tidak menyerah, ia melawan sekuat tenaganya sampai Mikayla yang sudah bosan menusukkan pedangnya di perut bagian tengah hingga ia ambruk.
"Kau!" hardik pria itu marah besar saat mengetahui punggung tangannya meneteskan darah yang cukup banyak. Pria itu mendekap dadanya dan menyaksikan sendiri tangannya yang penuh darah dengan mata terbelalak. Tidak, jangan sampai berita kekalahannya dengan nona pertama Stanley menyebar di kerajaan Armovin.
"Anda ingin pergi dari jalan saya atau Anda ingin tetap disini? Kalau Anda tetap kekeuh, saya tak akan segan-segan untuk menancapkan pedang ini dileher Anda!" Mikayla tak pernah main-main dengan ucapannya. "Sebentar lagi acara di istana akan dimulai. Apa Anda ingin saya menyakiti keponakan tercinta Anda di sana?"
"Jika kau berani menyentuhnya, maka bersiaplah untuk masuk ke dalam neraka!" Pria itu berusaha untuk berdiri. "Aku tak akan menyerah!" Pria itu berjalan tertatih-tatih karena luka di perutnya. "Kau harus mati!"
"Lakukanlah dan sekarang lihat, siapa yang rendahan?" Mikayla berucap ringan sembari melirik pria itu yang kembali tersungkur, kali ini di dekat kakinya. "Sebaiknya Anda datang di perjamuan malam ini. Bukankah saya akan mudah menebak siapa orang yang berniat membunuh putrinya Stanley ini lagi jika Anda tidak hadir?" Mikayla memasuki kereta kudanya. "Semua bangsawan diundang. Kalau ada yang tidak berhadir, maka itu pasti dirimu."
Kereta yang dinaiki Mikayla berjalan cepat setelahnya. Kusir yang menggerakkan kuda di depannya mungkin masih tak percaya dengan kejadian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Mikayla membersihkan pedangnya yang terkena darah pria tak tahu diri itu menggunakan kain untuk mengelap peralatan makan. Pedang cantiknya tak akan ia biarkan terlalu lama dibalut darah. Tidak.
Acara di istana sepertinya sudah dimulai. Mikayla menatap penampilannya sekali lagi. Masih sempurna. Jadi ia tak perlu repot-repot membenahi diri.
Tak lama dirinya sampai di istana. Pintu kereta miliknya terbuka sesaat setelah mereka berhenti tepat di depan anak tangga. Mikayla menatap malas kepada orang yang membuka pintu keretanya, calon suami sekaligus calon raja Armovin dengan senyum palsu, Pangeran Danial.
"Aku bersyukur kau masih selamat."